
***
Andre tengah menunggu bela yang sedang berganti pakaian di ruang ganti butik sembari memainkan ponselnya
“yuk ndre, cepetan nanti kita telat “ ajak bela
“yang lama itu siapa?” Tanya andre mendongak
Andre begitu takjub dengan penampilan bela “ayok cepetan, malah bengong” bela menghampiri andre dan menepuk bahu andre agar tersadar
“ah ya” andre berjalan mengikuti bela yang berjalan dengan cepat
“tenang bel, telat sedikit juga gak masalah” balas andre menenangkan bela
“gak bisa gitu ndre, kita itu di tugasin ke sana untuk cari klien sebanyak-banyaknya” balas bela langsung membuka pintu mobil dan duduk di dalam mobil dan memasang sabuk pengaman dengan cepat
Andre mengikuti bela masuk ke mobil duduk di kursi kemudi “di sana ada banyak orang besar bel, jangan terlalu mengiklankan perusahaan kita” pinta andre saat memasang sabuk pengaman
bela menyipitkan matanya “kenapa memangnya jika aku mengiklankan perusahaan?” Tanya bela
Andre melajukan mobilnya “tidak salah sih bel kalau kamu mengiklankan perusahaan. Tapi caramu yang berlebihan itu terkadang kurang nyaman buat orang lain” balas andre yang tahu betul bagaimana bela mempromosikan perusahaannya
“begitu kah?” Tanya bela
“iya” balas andre
“ok, aku akan berusaha menahannya” balas bela
***
Bela dan andre masuk ke dalam aula gedung yang dijadikan tempat pesta klien perusahaan mahardika group
Andre dan bela turun dari mobil, bela langsung menghampiri andre dan menggandeng lengan andre memasuki aula pesta
“ayok” ajak bela
“ayok” balas andre membawa bela masuk
Andre dan bela masuk ke dalam pesta sebagai perwakilan Mahardika Group
“wah pestanya meriah ya” ucap bela dengan takjub melihat pemandangan pesta yang begitu ramai dan banyak kalangan atas di sana
“biasa saja bel, kita juga kan gak pertama kali ke acara begini semenjak jadi bawahan tuan rino” ucap andre
“iya sih, tapi tetap saja aku gak bisa menghilangkan rasa takjubku begitu saja” balas bela
Bela dan andre bercakap-cakap dengan orang-orang yang dikenal dan para klien perusahaan mereka
“hai bela” sapa yama menghampiri bela
Bela menoleh “ah tuan yama” balas bela menunduk sopan pada yama
Yama mengedarkan pandangannya ke sekeliling “kalian hanya berdua?” Tanya yama yang tak melihat keberadaan rino maupun zeta
“iya tuan, tuan rino sedang ada pertemuan dengan pemilik perusahaan” balas bela ramah
“cih” yama berdecih kesal “paling juga dia alesan gak kesini” ucap yama seolah tahu penyebab rino tidak datang
“emangnya, kenapa tuan rino alesan gak kesini?” Tanya andre penasaran
“ah, kalian gak akan paham” balas yama
yama melirik bela “bel, mau dansa sama aku gak?” Tanya yama
“ah, dansa?” bela Nampak kebingungan saat di Tanya yama
Andre menggenggam tangan bela dan berdiri di depannya menghadap yama “maaf tuan, bela datang sama saya kalau anda ngajak dia dansa nanti saya sama siapa?” andre berusaha mencegah bela dansa dengan yama
Yama mendengus kesal “kalau gak boleh, ya sudah .jangan memberikan tatapan seperti itu” kesal yama
“hai, yama” sapa seorang wanita berpakaian seksi dan serba minim itu
Yama mendengus kesal “ketemu lagi” balas yama kesal
“kenapa sih? Aku kan gak ngapa-ngapain” balas riska tersenyum
“sekarang emang kamu gak ngapa-ngapain. Tapi gara-gara kamu dulu rino membenciku dan selalu ketus padaku” kesal yama
“bukannya dulu kamu menikmatinya juga? Aku masih ingat suara ******* nikamat dari mulutmu saat berada di atas tubuhku” balas riska tanpa malu
Bela dan andre yang mendengar ungkapan absurd itu hanya menutup mulut tak percaya dengan keberanian wanita di hadapannya membahas hal intim secara gamblang di hadapan orang tak dikenalnya
Yama menoleh kearah bela dan andre “dia aneh kan?” Tanya yama meminta persetujuan bela dan andre
Andre dan bela bingung harus menjawab apa, sehingga mereka hanya diam saja dan saling bertukar pandangan
“oh ya, katanya perusahaan rino dapat undangan juga, kok aku gak lihat dia ada di sini?” Tanya riska
“dia gak datang” yama melirik bela dan andre “mereka yang menjadi perwakilan perusahaan tempat rino bekerja” balas yama
“apa dia masih menghindariku? Ah mungkin dia masih sedih mengingat kita bermain kuda-kudaan di depannya” gumam riska tersenyum senang tak merasa bersalah sekali, dan berpikir kalau rino masih mengharapkannya
“hentikan pandangan mata seperti itu riska, dia gak datang bukan karena masih mencintaimu. Tapi karena dia tak ingin istrinya marah karena kamu yang suka nemplok kaya cicak itu” ejek yama
“menikah!” seru andre, bela dan riska serentak
“iya dia sudah menikah, emang gak ada orang yang tau kalau dia sudah nikah, karena dia belum ngadain resepsi pernikahannya” jelas yama dengan wajah lesu
“tuan menikah kapan? Dengan siapa? Kok kita gak tahu?” Tanya andre
“dia itu orang yang paling tak suka membagi kehidupan pribadinya di hadapan public, dan jika kalian ingin tahu siapa istrinya nanti perlahan juga kalian semua tahu” balas yama
“gak mungkin dia sudah menikah!” teriak riska
Yama menatap jengah riska “jangan kau pikir dia masih mencintaimu setelah kita main kuda-kudaan di depannya. Jangan mimpi!” balas yama setengah berteriak
“gak mungkin dia menikah dengan orang lain, dia itu cinta banget sama aku. Buktinya dia gak punya kekasih setelah denganku” balas riska
“ih, males bicara sama orang muka tebal kaya kamu” yama bergegas meninggalkan riska yang masih mengolah ucapan yama
Riska menatap tajam andre dan bela “berikan nomor telpon rino padaku!” teriak riska meminta nomor ponsel yama
“maaf nona, kami tak bisa memberikan nomor ponseltuan rino pada anda begitu saja” balas andre
“kalian memang menyebalkan” balas riska berjalan meninggalkan andre dan bela
Bela masih diam mematung “tuan rino sudah menikah? Aku gak nyangka loh kalau dia sudah nikah” gumam bela
Andre yang mendengarnya ikut menyahut “aku juga gak nyangka tuan rino sudah nikah”
“baru beberapa hari lalu aku di buat terkejut sama zeta yang bilang sudah menikah padahal dia masih muda, jauh di bawahku sekarang tuan rino yang membuatku terkejut” tambah bela yang belum lama ini mengetahui
zeta sudah menikah saat menolak yama terus menerus dengan berkata zeta sudah menikah
Andre menoleh kearah bela “zeta sudah menikah?” Tanya andre tak percaya
“iya, dia sudah menikah. Aku dengar sendiri dari mulut zeta kalau dia sudah menikah saat menolak pak yama dan menunjukkan cincin yang tersemat di tangannya. Bahkan aku sempat melihat inisial di cincinya” bela Nampak mengingat inisial yang ia lihat “R&Z ah itu inisial yang aku lihat” tambah bela
“aku sudah kalah sebelum mulai?” batin andre
“pulang yuk ndre, aku capek” ajak bela
“iya” balas andre
“untung besok akhir pekan ya ndre, jadi kita bisa istirahat” ucap bela
“iya, untung saja” balas andre memaksakan senyumnya