
Rino menatap tajam kearah zeta membuat zeta menelan Saliva nya kasar akibat tatapan mata Rino padanya yang seperti sinar laser untuknya “kembali konsen nyetir saja mas, jangan lihat zeta kaya gitu” ucap zeta yang mulai gugup mendapat tatapan tajam dari Rino
Rino kembali melajukan mobilnya dan focus kearah depan untuk menyetir mobilnya agar tak terjadi hal yang tak di inginkan, tapi tanpa menghilangkan tatapan tajamnya akibat ucapan zeta tadi
kenapa rino tak suka mendengar nama yama, sebenarnya karena Rino cukup mengenal baik yama, karena yama yang memang pernah kuliah beberapa semester di Indonesia, walaupun setelah itu yama memutuskan pindah ke jepang untuk menyelesaikan pendidikannya di sana mengikuti ayahnya yang memang asli orang jepang. hubungan yama dan Rino terbilang tak baik, mereka selalu berdebat setiap bertemu bahkan terkadang hanya karena masalah sepele. mereka adalah orang yang mempunyai prinsip berbeda dan saling bertentangan. tapi di balik perdebatannya itu, mereka sempat menajdi teman baik
“itu Cuma ucapan asal saja dari yama kok mas, bukan hal yang serius. Lagian dulu zeta juga bilang kalau gak ada niatan pacaran sama orang jepang” ucap zeta menjelaskan tentang ucapannya
“walaupun dia orang jepang, tapi dia kan ada keturunan Indonesia dan dia juga fasih berbahasa Indonesia” balas rino
zeta menautkan kedua alisnya "mas kenal baik sama yama ya? soalnya setahuku dia akan berbicara bahasa inggris jika bertemu orang yang belum di kenalnya, wajahnya juga oriental jepang, dia orang yang tak terlalu suka memakai bahasa Indonesia walaupun sebenarnya dia fasih berbahasa Indonesia dan sedang berada di Indonesia" tanya zeta
rino menaikkan sebelah alisnya "bagaimana kau tahu tentang hal itu?" tanya rino tanpa menjawab pertanyaan zeta sebelumnya
"aku dulu cukup lama bekerja dengannya jadi aku tahu hal itu, karena saat magang dulu, aku yang menanganinya secara langsung. kata atasanku dia yang minta aku untuk mengurus kerjasama perusahaan" balas zeta
"oh" balas rino sekenanya
zeta menoleh ke arah rino “mas jangan khawatir, zeta kan sekarang sudah menikah jadi zeta tahu batasan yang gak boleh dilewati oleh seorang wanita yang sudah menikah. zeta akan menjaga nama baik mas rino sebagai suami zeta” balas zeta ingin menjelaskan bahwa dirinya tak akan melewati batasan sebagai seorang istri
Harusnya Rino senang dengan jawaban zeta yang tahu betul posisinya sebagai seorang istri tapi entah kenapa, kata-kata zeta masih terasa kurang sesuai di telinga Rino dan tak mengurangi rasa dongkol yang sedang ia rasakan karena mendengar nama pria yang ia tak suka
“hemmmm” balas rino sekenanya
***
Zeta dan rino duduk di meja restoran yang sudah ia pesan sebelumnya
rino memindai setiap sudut restoran “pelayan” panggil rino pada pelayan restoran yang ia lihat tak jauh dari tempat ia duduk
Pelayan tersebut menghampiri rino “mau pesan apa pak?” Tanya pelayan menyerahkan buku menu pada rino dan zeta
"kami lihat-lihat dulu, nanti kami panggil lagi" ucap rino mempersilahkan pelayan pergi terlebih dahulu
zeta mendekat ke arah rino “apa gak sebaiknya kita nunggu yama datang dulu mas?” Tanya zeta lirih
rino berencana memesan makanan terlebih dahulu, padahal menurut zeta mereka bisa memesan makanan setelah yama datang
Rino menatap tajam ke arah zeta membuat zeta menelan Saliva nya kasar “maksud zeta, apa gak sebaiknya kita nunggu pak yama datang? kan tujuan kita kesini untuk membahas kerjasama dengan perusahaan pak yama”
Tanya zeta
Rino melirik arloji miliknya “kita sudah datang tepat waktu, tidak lebih cepat ataupun telat jadi biarin saja kalau kita pesan makanan lebih dulu, lagian kau belum makan siang kan?” tanya rino
“baiklah” balas zeta patuh
"kamu mau makan apa?” Tanya rino melirik buku menu di tangannya
zeta bingung sendiri mau memilih apa “zeta ngikut mas saja, zeta bukan pemilih dalam hal makanan” balas zeta
***
Rino dan zeta makan berdua dengan suara tenang dan hanya ada suara sendok saling bertautan karena memang keadaan restoran yang juga cukup sepi.
Mereka sudah menyelesaikan makan mereka tapi orang yang di tunggu tak kunjung datang “ah basi” gumam rino melirik arlojinya kesal karena yama yang melenceng 1 jam lebih dari janji mereka
zian mendongak ke arah zeta “kita pulang saja yuk” ajak rino meraih tangan zeta dan menggandengnya
Zeta yang sudah berdiri menahan tangan rino “kok malah pulang mas? Kan orangnya belum datang” Tanya zeta
“gak perlu nunggu orang yang gak bisa menepati janji” balas rino kembali menarik tangan zeta
seorang pria muda yang memakai setelan rapih berwarna biru dongker, berkulit ptih, tinggi dan terlihat gagah itu, berdiri di belakang Rino dan tersenyum miring ke arah Rino “wah wah wah, nunggu sebentar saja sudah langsung marah?” seru seorang pria menyela langkah rino yang ingin menarik zeta menjauh
Rino menoleh ke belakang dan menatap tajam pada yama yang baru datang “saya merasa gak perlu lagi berurusan dengan orang yang gak tahu waktu dan tidak konsekuen dengan ucapannya ” balas rino kesal pada yama yang tak menepati janji yang ia buat
“ternyata kau masih seperti dulu “ yama terkekeh ke arah Rino “angkuh” ucap yama langsung merubah raut wajahnya serius dan menatap tajam Rino
Kedua pria tersebut saling menatap dengan tatapan tajam bagai saling menghundus pedang yang kasap mata. Zeta yang bingung dengan kedua orang di hadapannya yang sedari tadi hanya saling menatap tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, dengan takut-takut Zeta memutuskan untuk bertanya “jadi gimana pak? Mau pulang atau tetap disini?” Tanya zeta menggoyang lengan rino yang sejak tadi menggandeng tangannya
Yama menoleh ke arah zeta, menyipitkan matanya ke arah zeta “zeta” sapa yama tersenyum senang melihat zeta yang sudah lama tak ia temui
Zeta tersenyum kaku “hai” sapa zeta melambaikan tangannya ke arah yama
Rino menatap tajam ke arah zeta membuat zeta langsung menunduk takut
yama langsung menggeser tubuh rino kasar, agar bisa berhadapan langsung dengan zeta “kenapa kau ada di sini?” Tanya yama
“dia sekertarisku” ucap rino menarik tubuh zeta, dan membawa tubuh zeta kebelakangnya
Yama melipat tangannya di dada menatap rino dengan tatapan tajam “ok kalau begitu ayo kita tanda tangan
kontrak kerjasama kita” ajak yama langsung pada intinya
Rino berdecih “kenapa aku harus bekerjasama dengan orang macam kau” ucap rino meremehkan yama
“harusnya kau paham betul dengan kondisi perusahaan Mahardika group. Jika kamu bekerja sama denganku maka itu akan membantu arus modal perusahaan kalian agar kembali normal” balas yama yang sudah tahu betul bagaimana kondisi perusahaan tempat rino bekerja
“tapi aku tak suka bekerja dengan orang macam kau” balas rino
“apa kau tak takut perusahaan tempat kau bekerja bangkrut?” Tanya yama
“kenapa aku harus takut, toh bukan perusahaanku juga” balas rino dengan entengnya
yama memajukan tubuhnya, tepat berada di dekat wajah Rino “tapi aku tahu betul kalau kau sangat menyayangi adikmu itu, dan pasti kau tak ingin membuat adikmu sedih jika perusahaan itu bangkrut bukan? ” tanya yama tersenyum miring ke arah Rino
“cih” rino berdecih menatap tajam kearah yama