Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Mengintai



***


Zaskia pulang dengan membawa beberapa kantong belanjaanb berisi pakaian sertaaksesoris pendukungnya  yang diberikan Yama, awalnya yama ingin masuk dan menyapa orang tua zaskia tapi lagi-lagi zaskia melarangnya dengan alasan lelah dan ingin langsung tidur, sehingga mau tak mau Yama memutuskan untuk pulang ke rumahnya


Zaskia membawa kantong-kantong  tersebut menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai atas


“apa yang kau bawa?” Tanya tuan zahid dari balik sofa yang tak jauh dari anak tangga


“pakaian sama tas yah” balas zaskia datar


Zahid tak menanggapi hal tersebut karena dalam pikirannya zaskia yang beli itu semua dan sah-sah saja zaskia membelinya karena uang saku dari orang tuanya saja cukup banyak apa lagi uang warisan zaskia yang tidak sedikit


“tadi ayah lihat kamu sama yama, kamu kenal dia?” Tanya tuan zahid penuh selidik


Zaskia mencoba mengatur ritme jantungnya saat ayahnya bertanya tentang Yama “iya yah, dia kenalan zaskia, juga uncle Rio” balas zaskia berusaha bersikap datar


“jangan terlalu dekat dengannya zaskia, ayah tahu latar belakang keluarganya, dia bukan muslim seperti kita. Ayah gak masalah jika kau berteman dengan yang berbeda dengan kita” zahid menatap tajam zaskia “tapi


tidak dengan hubungan melebihi persahabatan” tegas ayah zahid yang tak ingin di bantah oleh zaskia sama sekali


Zaskia menghela nafas “sudah berapa kali zaskia tegaskan yah, kalau zaskia tahu batasan zaskia dalam mengambil pasangan hidup yang seiman dengan zaskia jadi tolong jangan terlalu mengatur zaskia” balas zaskia risih akan peringatan yang sering di lontarkan sang ayah padanya


“aku ini ayahmu zaskia jadi wajar jika ayah selalu mengingatkanmu ” ucap tuan zahid


zaskia mendengus “iya anda adalah ayahku, ayah yang hanya ingin mengatur anaknya tanpa benar-benar perduli pada anaknya ” ucap zaskia melangkahkan kakinya kembali menuju kamarnya tak memperdulikan ayahnya yang masih kesal


“zaskia!” teriak ayah zahid kesal tapi zaskia sama sekali tak perduli


***


Prastyo menemani sita untuk periksa kandungan di rumah sakit dokter ken. Awalnya sita periksa kandungan di rumah sakit tempat teman daddy Nicole , karena kebetulan sekalian periksa  daddy Nicole yang di rawat di sana. Tapi karena prastyo yang tak suka dengan vino membuat prastyo meminta sita untuk pindah ke rumah sakit kakaknya saja dengan alasan lebih mudah jika ingin periksa dadakan dan pasti akan mendapat pelayanan lebih baik


“apa kita sudah bisa lihat jenis kelamin anak kita?” Tanya prastyo mengusap perut sita yang sudah mulai membuncit itu


“sepertinya belum hubby, ini kan masih bulan ketiga, katanya bulan keempat baru bisa lihat itupun kalau bayi kita lagi gak malu-malu dan sembunyi “ jelas sita yang tahu hal itu dari orang-orang terdekatanya yang sudah lebih punya pengalaman hamil serta melahirkan


Sita dan prastyo memasuki ruangan dokter kandungan untuk melihat tumbuh kembang janin mereka. Setelah  selesai memeriksakan kandungan sita, prastyo ke apotik untuk mengambil obat yang di resepkan dokter saat pemeriksaan


“tunggu sini ya sayang, aku mau ambil obat dulu” ucap prastyo meminta sita agar duduk di kursi tunggu tak jauh daru apotik rumah sakit


“iya hubby” balas sita


Saat sita membuka ponselnya sembari menunggu prastyo tiba-tiba ada yang memanggilnya


“sita” panggil seseorang yang ia kenal


Sita mengerutkan keningnya “kak vino” heran sita dengan keberadaan vino di rumah sakit milik kakak iparnya karena setahu sita vino bekerja di rumah sakit salah satu teman mertuanya


“kakak kok di sini?” Tanya sita


“ah, aku ada panggilan buat operasi di rumah sakit ini” balas vino


“ah, ini rumah sakit milik kakak iparku jadi aku putusin periksa di sini saja biar lebih gampang kalau ada apa-apa” balas sita


“kau adik ipar dokter ken?” Tanya vino dengan wajah seolah terkejut


“iya kak” balas sita tersenyum


vino mengangguk “oh ya sita, boleh gak kapan-kapan aku ajak kamu makan?” Tanya vino


Sita mengerutkan keningnya “untuk?” Tanya sita


“mengobrol saja, kan kita sudah lama gak ngobrol dan kita bisa mengenang masa lalu kita di Australia” balas vino


“sepertinya hal itu kurang nyaman deh kak, aku kan sekarang sudah berkeluarga. Kalau kakak ingin mengajaku makan kakak datang ke rumahku saja, tapi pas suamiku ada di rumah ya kak” ucap sita dan memberitahu  koridor-koridor pertemanan mereka dengan cara yang halus


vino kurang suka dengan penuturan sita, tapi ia coba menutupi itu semua dari sita “ah, iya” balas vino


“sayang” panggil prastyo menghampiri sita


“sudah selesai hubby?” Tanya sita berdiri menyambut suaminya


“sudah sayang” balas prastyo melingkarkan lengannya di pinggang sang istri seolah menunjukkan pada orang lain bahwa sita adlah miliknya dan hanya miliknya


Prastyo menoleh ke arah vino “wah dokter disini?” Tanya prastyo berusaha tersenyum ramah


vino memaksakan senyumnya “iya, kebetulan aku diminta ke sini untuk operasi salah satu pasien disini” balas vino


“karena kami sudah selesai, kami pamit dulu ya” ucap prastyo memaksakan senyumnya pada vino


“iya” balas vino


Prastyo membawa sita menjauhi vino dengan tetap melingkarkan tangannya di pinggang sita sebagai tanda bahwa sita miliknya


sita melirik tatapan prastyo yang terasa kurang nyaman “hubby marah ya?” Tanya sita lirih


Prastyo menoleh ke arah istrinya dan tersenyum lembut “tidak, aku tidak marah. lagian untuk apa aku marah” balas prastyo


“ya kali saja hubby marah sama sita. tapi tadi sita gak sengaja papasan dengan dengan kak vino, sita gak enak kalau menghindarinya” ucap sita dengan wajah menunduk


Prastyo mengusap perut istrinya lembut “aku tidak marah denganmu sayang, aku memang tidak suka kau dekat dengannya tapi kau kan tak tahu jika akan bertemu dengannya di sini, lagian obrolan kalian tadi kan hanya menunjukkan kesopanan kamu saja ” balas prastyo mengecup kening istrinya


Sita melingkarkan tangannya di lengan prastyo, senang jika suaminya percaya padanya “sita hanya cinta denganmu hubby, tak ada yang lain jadi jangan ragukan cinta sita ya ” pinta sita menyandarkan kepalanya di dada prastyo


“aku tahu itu, aku juga hanya mencintaimu sayang” balas prastyo mengusap kepala sita lembut


Saat mobil prastyo dan sita meninggalkan rumah sakit ada seorang pria yang menatapnya dengan senyum getir


“kali ini kau bisa berbahagia sebentar, saat anak itu lahir aku pasti akan merebutnya darimu baik dengan cara halus maupun paksaan” gumam pria tersebut dengan senyum licik yang terpampang jelas di wajahnya