Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Istri merangkap sekertaris handal



Aira menggandeng tangan mami Diana masuk ke dalam kamar mami Diana


mami diana menepuk tangan aira lembut “kamu pasti sadar ada yang salah ya?” tanya mami Diana


Aira membawa mami Diana duduk di tepi ranjang, kemudian duduk di samping mami Diana “apa mami mau cerita?’ tanya aira


Mami Diana menunduk tak mampu menjawab pertanyaan aira  “kalau mami gak siap bicara, aira gak maksa. Tapi mami tentu tahu bagaimana sifat suami aira, anak mami itu kan?” ucap aira


“tentu mami tahu” balas mami Diana menganggukan kepala


“dia tipikal orang yang menyimpan lukanya, dan susah untuk melupakannya. Rasa bencinya pada papi itu karena kecewa dengan perbuatannya pada mami. Dan kalau sampai dia tahu kalau ada penyebab lain yang membuat papi sampai  berbuat seperti itu. Takutnya dia bukan hanya membenci papi tapi juga mami” balas aira


Mami Diana mendongak “ maksud kamu?” tanya mamiDiana


“aira mengenal keluarga kak david sejak lama mam, aira juga kenal tante lyra. Tante lyra dulu sering cerita kekecewaanya pada om bagas ke ibu. Dan juga tante lyra yang selalu iri pada mami” aira menggenggam


tangan mami Diana “perasaan om bagas ke mami terlihat sangat jelas. Dan mungkin abang sudah mulai merasakan tapi ia selalu menepisnya karena mami, mami yang tetap memepertahankan pernikahan mami walaupun papi gunawan menghianati mami di depan mata mami” jelas aira


Mami Diana memeluk aira “mami harus bagaimana ra? Mami sudah menjauhinya tapi dia tetap tak mau. Mami juga sudah minta cerai dari papinya Dylan dia juga gak mau” balas mami Diana


“ada saatnya kita harus menghadapi semua yang tertunda mi. tinggal bagaimana mami mau memilih. Apapun keputusan mami selagi itu untuk kebahagiaan mami, abang pasti mendukung” ucap aira mengelus punggung mami Diana


“akan mami pikirkan ra “ balas  mami Diana melerai pelukannya


setelah selesai bercerita Aira meninggalkan mami Diana menghampiri suaminya yang sedang menonton TV di ruang keluarga


“bang” aira duduk  di samping Dylan sambil memeluk lengan dylan menyandarkan kepalanya di lengan suaminya


“iya sayang” Dylan mengusap kepala  aira erat mengecup kening aira lembut, kembali menonton film yang sejak tadi ia tonton


“kalau mami sampai cerai dari papi gimana?” tanya aira


dylan menyantap camilannya sambil tetap menonton “ya gak gimana-gimana, dari dulu kan abang sudah


minta mereka cerai tapi mereka yang gak mau bercerai walaupun mereka hidup terpisah” balas Dylan


Aira mengambil camilannya lalu menyuapi cemilan itu  untuk Dylan “kalau mami bercerai dan menikah lagi gimana?” tanya aira lirih


Dylan menoleh kearah aira “kenapa kau bertanya seperti itu?” apa ada sesuatu yang abang lewatkan?” tanya Dylan


“bukan begitu bang” aira mengeratkan pelukannya membuat dylan kembali melakukan aktivitasnya menonton film


“mami sama papi kan sudah lama pisah rumah, mami sendirian selama ini. Jadi kalau misalnya nanti mami benar-benar pisah sama papi, kan gak menutup kemungkinan kalau mami menikah lagi” balas aira


Dylan menyandarkan dagunya ke kepala aira “entah lah, abang belum pernah berpikir sampai situ” balas Dylan


“kalau boleh aira berpendapat ya bang, mendingan abang izinin mama nikah lagi itupun kalau cerai ya bang. Tapi kalau mami memutuskan untuk tetap bersama dengan papi ya biarkan saja” ucap aira


“kenapa memangnya?” tanya Dylan


“selama ini kan mami sendirian  merawat abang, dia juga butuh seseorang yang jadi sandaran “ balas aira


“tapi ya ra, selama ini dia itu gak benar-benar sendiri. Kalau untuk materi dia selalu di bantu om bagas, kalau hal lain selalu di bantu tante jenny. Palingan soal tidur saja yang memang dia benar-benar sendiri” elak  Dylan


“plak” aira memukul lengan Dylan gemas “aira itu serius bang, malah di ajak bercanda" kesal aira


Dylan terkekeh mengusap lengannya yang di tabok aira “yakan emang benar kali ra, Cuma hal tidur saja yang mami benar-benar sendiri. Kan gak mungkin abang yang nemenin. kan saat mami pisah rumah dengannya,  abang sudah remaja.” Balas Dylan


Dylan buru-buru mematikan TV nya “tunggu ra, kita barengan ke kamarnya” ucap Dylan setengah berteriak karena aira yang sudah makin menjauh


***


“aira” sapa kak rino saat memasuki rumah Dylan suami dari adiknya


“eh kakak, ayok masuk “ ajak aira saat melihat kakaknya memasuki rumah


“kakak sudah sarapan?” tanya aira


Rino berjalan beriringan dengan aira  “belum, tapi mama sudah buatkan bekal” balas Rino


aira menoleh ke arah kakaknya  “kakak ada perlu apa? Pagi-pagi gini ke rumah?” tanya aira


rino mengambil berkas dalam tas yang ia bawa “ada berkas yang perlu tanda tangan Dylan jadi kakak ke sini “ balas rino


Dylan yang mendengar ucapan kakak iparnya pun berucap dengan setengah berteriak karena meja makan dengan posisi kak rino cukup jauh “kenapa gak kakak saja yang tanda tangan, Dylan gak ngerti kak, lagian kan kakak sudah ada surat kuasa dari Dylan buat ambil keputusan apapun tentang perusahaan” ucap Dylan


airan dan rino berjalan menghampiri dylan “gak bisa gitu Dylan, ini hal menyangkut keputusan penting soal jabatan adikmu jadi harus butuh tanda tanganmu” balas kak rino


dylan berdecih “aku anak tunggal kak, jadi gak punya adik” balas Dylan kesal dengan kata adik yang terlontar dari mulut kakak iparnya


“ooppps” kak rino menutup mulutnya “maaf lupa” kekeh  rino


“ya sudah biar aira yang periksa kak” ucap aira meminta berkas yang di bawa kakakknya


rino memberikan berkas yang ia bawa pada aira dan menatap jengah dylan “setidaknya belajar sedikit Dylan agar kau lebih paham tentang perusahaan. Emangnya kau gak takut kalau aku menipumu? Dan mengambil perusahaanmu” ucap rino menakuti dylan


“kalau kamu ambil perusahaanku, nanti aku tinggal numpang hidup sama aira. Kamu kan gak mungkin tega lihat adikmu hidup susah” balas Dylan terkekeh


“dasar adik ipar kurang ajar” kak rino menghadiahi lemparan serbet yang ada di atas meja makan kepada Dylan yang dengan mudah di tangkap Dylan


“nanti aku belajar, tapi nanti kalau aku sudah ingin” balas Dylan ambigu


“abang mau melimpahkan beberapa proyek dengan direktur yang lain?” tanya aira setelah memeriksa berkas yang di bawa kakakknya


“iya, untuk saat ini abang gak bisa langsung ambil sendiri, pasti mereka akan menentangnya. Jadi lebih baik kita bagi kekuasaanya.  Kakak juga ada pembicaraan kerja sama bisnis yang baru dengan beberapa perusahaan dan itu nanti bisa kakak tangani secara langsung jadi kekuasaannya pada perusahaan bisa berkurang” jelas  kak rino


“ok kalau gitu?” aira berjalan kearah Dylan


“gak ada masalah bang sama dokumennya, abang bisa tanda tangan” pinta aira menyerahakn berkas pada Dylan


“iya sayang”  Dylan mendandatangani dokumen tersebut dengan tersenyum pada aira


rino menatap jengah adik iparnya itu “enak ya jadi kamu Dylan. Duit banyak, punya istri merangkap sekertaris pribadi pula. Terus masih bisa melakukan aktivitas yang kamu suka” ucap kak rino iri pada dylan yang punya harta dan juga istri yang selalu mendukung dylan dari segi apapun


“iya dong” balas Dylan tersenyum bangga


dylan melingkarkan tangannya di pinggang aira menatap penuh cinta pada aira "tentu saja aku bahagia,bahagia punya istri sebaik dan secantik dia dan di juga selalu ada untukku" ucap dylan


"iiiiiihhhhh" aira mencubit pelan pipi dylan


rino hanya membuang muka seolah ingin muntah "pasangan menggelikan" cicit rino