Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Ayo Kita Menikah



***


Riska mengerutkan keningnya


setelah mendapat panggilan telpon, dokter ken yang melihatnya pun bertanya “ada apa sayang, apa ada masalah?” Tanya dokter ken


“tadi ada telpon dari pengurus


vila di puncak” balas riska menyimpan ponselnya di atas nakas


“terus kenapa reaksimu gitu?”


Tanya dokter ken


“ah itu mas, riska Cuma agak terkejut saja denger cerita penjaga disana kalau tyo kesana” balas riska


“dia bawa pria kesana?” tebak


dokter ken melihat raut wajah istrinya


“bukan” riska menggeleng


“dia bawa perempuan, dan tidur di


vila kamu?” tebak dokter ken dengan wajah bahagia


“dia emang bawa perempuan kesana, tapi kata penjaga di sana mereka Cuma makan abis itu pulang, makanya aku heran


mas.  Mana kata penjaga perempuannya masih sangat muda” balas riska


“siapa?” gumam dokter ken


penasaran


Rika mengedikkan kedua bahunya “ah sudah lah mas biarkan adikmu


mengurus urusan pribadinya sendiri kita doakan saja kalau wanita yang dia bawa tyo adalah jodohnya” ucap risksa menyelipkan sebuah doa


“amiin” sahut dokter ken


4 tahun Kemudian


“ra bisa minta tolong gak?” Tanya


prastyo yang sedang duduk di kursi depan meja kerja aira


“apa kak?” Tanya aira mendongak menghentikan aktifitasnya sesaat


“bantu kakak cari hadiah” balas


prastyo


Aira menautkan kedua alisnya


“buat wanita muda yang tempo hari kakak ceritain ke aira" balas aira


“iya ra, minggu depan adalah


acara kelulusannya jadi kakak mau kasih hadiah tapi kakak gak bisa milih hadiah apa, kamu kan tahu sendiri aku gak dekat dengan wanita manapun, mau nanya


mama takut dikepoin” balas prastyo


aira tersenyum mendengar penuturan prastyo “ya sudah nanti aira temenin, tapi aira minta izin sama suami aira dulu ya?” balas aira


“ya ra” prastyo tersenyum


mendapat bantuan dari adik kesayanagnnya itu


***


Di mall aira mulai memilih barang


yang mungkin wanita yang dekat dengan prastyo akan suka setelah mendengar ciri-ciri wanita tersebut dari prastyo


“kak, kenapa setelah denger


cerita kakak kok rasanya aira agak familiar gitu?” Tanya aira merasa wanita tersebut mirip dengan seseorang yang ia kenal tapi ia belum menemukan siapa gerangan


“masa sih ra?” Tanya prastyo


“kakak sudah kenal dia selam 4


tahun, dia dari Australia ya, anaknya cantik, ramah, menyenangkan, mudah di


ajak ngobrol, rambutnya sebahu tinggal di daerah jaksel” gumam aira


“iya” balas prastyo


Aira menggelengkan kepalanya


“pasti bukan” batin aira menebak siapa gerangan wanita tersebut tapi aira coba menepisnya


“aku pilihin 3 barang saja ya


kak, aku pilih yang gak terlalu mahal, takut dia salah paham dengan niat kakak”


ucap aira memilihkan 3 barang untuk wanita yang dekat dengan prastyo


“terima kasih ya ra” ucap prastyo


dengan senyum mengembang


Aira melihat jelas raut bahagia


yang terpampang jelas dari wajah prastyo “kakak yakin hanya berteman dengannya


dan bukannya pacaran?” Tanya aira penuh selidik


“bukan ra, kakak Cuma temenan kok sama dia, kakak kasih hadiah karena dia adalah teman cerita yang baik buat kakak” balas prastyo


tetap saja aira meragukan ucapan prastyo “gak ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan kak di tambah kalian yang sama-sama single” balas aira tak percaya jika prastyo tidak menaruh rasa apapun pada wanita yang dekat dengan prastyo selama 4 tahun


“terserah gimana kamu mikirnya”


ucap prastyo berjalan ke arah kasir untuk membayar belanjaan miliknya


***


Sita melambaikan tangannya ke arah prastyo yang sedang memindai setiap sudut ruangan  “om” panggil sita


Melihat orang yang di carinya


prastyo menghampiri sita “sudah lama ya?” Tanya prastyo menarik kursi dan duduk di hadapan sita


“gak kok om, sita juga barusan


sampai” balas sita


“semua keperluan untuk acara


kelulusanmu sudah beres?” Tanya prastyo


“sudah om, semua sudah di urus


mommy, sita mah tinggal terima beresnya” balas sita terkekeh


Prastyo mencubit hidung sita


gemas “dasar putri manja, semua selalu di urus mommy kamu” ledek prastyo


“biarin aja, toh aku anak mereka


satu-satunya jadi gak masalah kalau sita manja, nanti kalau sita gak manja, mereka bingung  lagi mau manjain siapa” balas sita dengan polosnya


“ya sudah yuk, katanya pingin


main ke puncak lagi” ajak prastyo berdiri


“ayo om” sita menggandeng lengan


prastyo tanpa canggung karena ini adalah hal yang biasa lakukan sepanjang kedekatan mereka selama 4 tahun ini


Sepanjang perjalanan ke puncak


prastyo dan sita terus bergandengan tangan sambil bercanda dan bertukar cerita tentang kegiatan sehari-hari mereka dan hal-hal kecil yang mereka alami


“keponakan om yang sulung selalu


cemburu sama adiknya yang masih berusia 2 tahun karena selalu memonopoli om?”


Tanya sita


Prastyo masih terkekeh


menceritakan kelakuan kedua ponakannya itu “mereka selalu berdebat jika om datang, mereka selalu berebutan untuk bermain dengan om, dan itu membuat kepala orangtuanya pusing karena tidak ada yang mau mengalah” balas prastyo


“terus gimana om ngatasinnya?”


Tanya prastyo


“om kasih saja ke mamanya, dan om alasan ingin juga di manja sama kakak om” balas prastyo mengingat dirinya yang selalu bermanja dengan dokter ken di depan keluarganya


“lucu banget sih keponakan om,


jadi pengen ketemu” sahut sita


“kalau kamu pengen ketemu, boleh


kapan-kapan om ajak kamu ke rumah orang tua om” balas prastyo mencoba meredam tawanya


Sita tertawa simpul “iya om”


balas sita


dengan lembut, ia kembali konsentrasi dengan kemudinya untuk melihat jalanan


Sita memandangi wajah prastyo


dengan tersenyum simpul tanpa di sadari prastyo


“sudah sampai” ucap prastyo


melepas sabuk pengamannya menoleh ke arah sita


“tidur ternyata” gumam prastyo


melihat sita yang tertidur menghadap dirinya


“jadi gak tega bangunin” gumam


prastyo melihat wajah tidur sita yang begitu damai


“eughhhh”sita membuka mata dan


meregangkan otot tubuhnya karena posisi tidurnya yang kurang nyaman


“nyaman sekali putri tidur kita


ini” gumam prastyo menghadap ke arah sita


Sita terkejut dengan suara


prastyo “ah om” sita membenarkan posisi tidurnya  “kita sampai dari tadi ya om?” Tanya sita melirik sekitarnya


“iya sekitar 2 jam lalu” balas


prastyo melihat jam tangan di pergelangan tangannya


Mata sita langsung terbelalak


lebar “kok om gak bangunin sita?” Tanya sita


“gak tega banguninnya, kayanya


nyaman banget tidurnya” balas prastyo


“tapi  kan kasian om nungguin sita yang tidur” sahut sita merasa bersalah karena prastyo menunggunya sampai dua jam lamanya


“gak masalah” ucap prastyo


mengusap kepala sita


“ya sudah ayok turun, kayanya


cuacanya bagus buat liat danau di sore hari” ajak prastyo yang memang mereka tadi sampai jam 3 sore dan karena sita tertidur sampai 2 jam lamanya sekarang sudah jam 5 sore saja


Sita turun dari mobil menunggu


prastyo menghampirinya “ayok” ajak prastyo menengadahkan tamgannya agar di sambut sita


“yok om” sita meraih tangan


prastyo dan melingkarkan tangannya di lengan prastyo


Mereka berjalan menuju saung yang biasa mereka singgahi untuk bersantai “setelah lulus apa rencana kamu?” Tanya


prastyo setelah mereka duduk di saung


“rencana apa?” Tanya sita


mengerutkan keningnya


“ya rencana kamu, mau kuliah lagi


atau langsung kerja?” Tanya prastyo


“gak tahu om, belum sita pikirin”


balas sita


Prastyo mengajak sita duduk di


pinggiran saung tepi danau “apa mau nikah saja?” Tanya prastyo


Sita terkekeh “ nikah? Ada-ada


saja om ini, pacar saja gak punya gimana mau nikah coba?”  balas sita


“ya kali saja ada yang sudah


lamar kamu, secara kan kamu cantik banget pasti banyak yang ngejar kamu dan pengen jadiin kamu istri” balas prastyo


“kalau yang ngejar sih banyak,


tapi yang bikin sita tertarik untuk berhubungan belum ada” balas sita


“emangnya kriteria pria impian


kamu gimana, kali saja om bisa bantu cari” balas prastyo


“emmm” sita menaruh telunjuknya


di dagu “yang kaya om misalnya” balas sita memandang wajah prastyo lekat


“huk uhuk uhuk” pastyo terbatuk


batuk mendengar penuturan sita


“ada-ada saja kamu sita” prastyo


menggelengkan kepalanya tak percaya dengan ucapan sita yang menjadikan dirinya sebagai contoh


“kau kan tahu sendiri bagaimana


om dulu, kan om sudah ceritakan semua masalalu om sama kamu jadi mana mungkin selera kamu kaya om. Kamu masih mau dekat sama om dan jadi teman om saja om sudah sangat bersyukur” balas prastyo terkekeh


"bukannya om sudah tak tertarik dengan pria lagi? " tanya sita


prastyo nampak berpikir "sepertinya tidak, sekarang om hanya biasa saja jika berdekatan dengan pria tampan dan berotot" prastyo menatap sita lekat "karena wajahmu yang selalu muncul di otakku" batin prastyo


Sita menatap hamparan danau


dengan siluet sinar jingga dari matahari yang akan terbenam “justru karena sita tau semua tentang om tyo, sita  merasa om


benar-benar berubah jadi orang yang lebih baik. Biasanya orang yang pernah melakukan hal yang kurang baik seperti itu dan berubah maka orang itu tidak akan


melakukan kesalahan lagi karena sudah bersusah payah untuk berubah” sita menoleh ke arah prastyo “ dan selama 4 tahun sita kenal om, om adalah orang


yang paling baik yang sita kenal, dan walaupun om sudah jahat sama kakak ipar om tapi keluarga om masih menerima om dan kalian berhubungan baik sekarang, dan kakak ipar om juga tak masalah lagi dengan kehadiran om itu tandanya om adalah orang


yang baik” balas sita


“glek” prastyo menelan salivanya


kasar


“jangan bercanda sita” kekeh


prastyo


“sita gak bercanda, sita selama


ini gak dekat sama orang lain karena berharap sama om, tapi om tyo gak peka sama sekali” gumam sita mengerucutkan bibirnya


“om ini 43 tahun sita dan kau


masih 22 tahun, masih sangat muda. Aku saja sudah pantas jadi ayahmu” balas prastyo mengingatkan sita perihal usia prastyo


Sita terkekeh “ om tyo gak


mungkin jadi ayahku karena  daddy sanagt cinta dengan mommy mana mungkin dia melepaskan mommy untuk om” sita menatap manik mata prastyo dalam “emang kenapa kalau usia kita jauh beda? Seumuran bukan berarti


membuat kita nyaman dan hubungan menjadi lancar ataupun langgeng. Bagi sita dengan om di dekat sita sangat membuat sita nyaman dan bahagia” ucap sita dengan mengembangkan senyumnya


“kalau gitu kita nikah saja” ucap


prastyo dengan suara gemetar


“hah?” sita begitu terkejut


dengan ajakan prastyo yang begitu tiba-tiba


Prastyo meraih tangannya yang


gemetar agar tak terlihat sekali tangannya yang bergetar karena gugup “Ayo kita menikah” ajak prastyo menatap sita dengan wajah serius


Sita tersenyum ke arah prastyo


“ayo om, ayo kita menikah” balas sita yang begitu bahagia karena ini lah yang ia tunggu selama ini, pertanyaan yang selalu ia bawa dalam alam mimpinya


Prastyo tersenyum mencoba


mengendalikan hatinya yang rasanya akan melompat karena begitu bahagia dengan jawaban


sita


Sita memeluk prastyo


menyembunyikan wajahnya di dada bidang prastyo “datang ke rumah sita untuk melamar sita” ucap sita


Prastyo membals pelukan sita “aku


pasti akan segera melamar kamu” balas prastyo  mengeratkan pelukannya