
***
Sepulang ara dari rumah sakit, mami aira meminta bantuan orang-orang terdekatnya untuk berkumpul di rumahnya, setidaknya menghibur ara agar ara merasa tidak sendiri, walaupun dia punya nenek yang menyebalkan setidaknya ada orang-orang yang begitu menyayanginya walaupun mereka semua tak ada hubungan darah, hal itu karena ara yang begitu baik dan orang yang mudah bergaul menyebabkan ara begitu di sukai orang-orang
“kakak” seru zifana berlari ke arah ara
“eits, hati-hati zifana” ucap viko mengingatkan zifana agar tak berlari karena takut akan melukai ara nantinya
Zifana memberengut ke arah viko “iya sih kak” zifana menoleh ke arah ara “terima kasih kakak sudah kasih adik buat zifana, zifana nunggu dari mama sama ayah gak dapet-dapet, sekarang bisa dapat adik dari kak ara zifana jadi seneng banget ” ucap zifana tersenyum senang
“nanti kalau sudah lahir kita ajak main ya kak” pinta jeni
rafa yang duduk di samping jeni menimpali “main sama kakak dulu lah” sahut rafa
“harusnya sama faro dong mainnya” kesal faro ikut berebutan anak yang di dilahirkan saja belum tapi sudah menjadi rebutan banyak orang
askar berkacak pinggang menatap para sahabat keluarga mereka “heh, itu keponakan aku ya, kenapa kalian main asal rebutan gitu” kesal askar ikut rebutan
“iya juga, dia kan keponakan aku sama askar kenapa kalian yang main rebutan” tambah eila ikutan berkacak pinggang
Mereka semua terus berdebat membuat ramai ruangan, walaupun terkesan berisik tapi membuat senyum ara terbit dengan indahnya membuat viko yang melihatnya tersenyum lega, setidaknya walaupun ia kesal dengan keributan mereka semua ada hal baik dari mereka yang bisa memberikan kebahagiaan untuk istri tercintanya
“tapi maaf ya semuanya , biasanya kakak masakin banyak makanan untuk kalian semua tapi sekarang kakak gak bisa” ara melirik ke arah viko “gak di bolehin banyak gerak sama pak bos” ucap ara dengan kekehan
Viko merangkul pundak ara "mereka juga pasti ngerti sayang dengan kondisi kamu sekarang, lagian biar sekalian mereka semua belajar masak saja jadi bisa masakin untuk kamu nantinya” usul viko
“emang mereka mau?” Tanya ara penuh harap
Semua anak muda yang masih lajang itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal “eh masakan mami aira kan enak, biar dia saja yang masak nanti kalau kita yang masak, anak kakak mabok nanti karena masakan kita ” ucap eila tak ingin belajar memasak membuat ara terkekeh
“kamu ngidam di masakin mereka gantian saja ara, pasti mereka akan masakin buat kamu dan mereka pasti berusaha belajar” usul uncle prastyo
“bisa gitu ya uncle?” Tanya ara
“tentu saja, katanya mereka pengen cepet anak kamu lahir jadi harusnya buat anak kamu yang masih dalam perut bahagia dong” sahut dokter ken
“iya juga, anak-anak kita pasti mau masak kalau kamu yang minta” sahut aunty riska
“usul bagus itu” sahut aunty zaskia
“kayanya boleh di coba deh” balas ara dengan kekehan
“tidak!”teriak semua anak muda mengangkat satu tangannya ke arah ara membuat ara tertawa bahagia
“untuk hari ini biar para ibu-ibu yang masak deh” usul aunty sita mengajak, mami aira, aunty riska, aunty zaskia untuk memasak di dapur
“senang sayang?” bisik viko di telinga ara
Viko mengusap lembut kepala ara, ternyata ide maminya memang manjur
***
Di perusahaan mahardika sedang terjadi keributan yang mengundang cukup perhatian banyak orang “dimana bos kalian?” Tanya nyonya gayatri yang sedang datang ke perusahaan mahardika group
Perusahaan R.A milik keluarga nenenk gayatri terancam bangkrut karena banyak klien perusahaan mereka yang mengundurkan diri akibat kabar penghinaan nyonya gayatri pada menantu keluarga Mahardika. tentu semua orang tahu sebesar apa perusahaan mahardika dan bagaimana pengaruhnya dan itu benar-benar membuat orang berusah menghindari perusahaan R.A takut menyinggung keluarga Mahardika . Ya walaupun
acara resepsi mereka belum sempat di gelar tapi kabar pernikahan mereka sudah cukup tersebar luas di telinga para pebisnis besar maupun kecil
“maaf nyonya, pemilik perusahaan hari ini tidak ada yang hadir karena mereka sedang mengadakan acara keluarga” balas levi sopan
“cih, sombong banget keluarga ini, main acara keluarga semuanya gak datang ke kantor” kesal nenek gayatri pada keluarga mahardika yang terlihat begitu santai sampai semua keluarga besarnya tidak hadir di kantor
Kali ini arka yang maju kedepan menghalau nenek tua yang tahu tempat untuk bicara itu
“emang masalahnya apa? Toh kami bawahannya bekerja dengan cukup kompeten mengurus perusahaan ini dengan baik walaupun pemilik perusahaan tidak bisa hadir” ucap arka dengan nada lirih namun tetap dengan nada tegas
“saya mau betemu dengan pemilik perusahaan ini, panggil dia kesini sekarang?” kesal nenek gayatri
Arka melirik nenek gayatri dari atas sampai bawah “lah anda siapa? Berani nyuruh-nyuruh saya ganggu acara bos saya?” Tanya arka mencibir nenek gayatri
“kamu gak tahu saya”nenek gayatri menunjuk dirinya “saya pemilik perusahaan R.A” ucap nenek gayatri dengan bangga dengan nama perusahaannya
“oh, perusahaan yang mau bangkrut itu?” Tanya arka dengan nada menghina
"kau!" kesal nenek gayatri menunjuk arka yang mengatakan perusahaannya akan bangkrut
“dengar ya nenek tua, saya gak peduli siapa anda" tunjuk arka pada nenenk gayatri " yang jelas anda mengganggu ketertiban para pegawai di sini, saya di beri amanah oleh pemilik perusahaan untuk mengatur jalannya perusahaan jadi segera anda enyah dari sini selagi saya masih bertutur kata dengan baik “ arka menunjuk nenek gayatri dengan tatapan sinis " jika anda tak segera angkat kaki maka saya bisa melempar anda
keluar” bentak arka tak ingin bersabar dengan nenek gayatri lagi
Arka memang jarang bicara, tapi sekalinya bicara ia bisa begitu pedas, apalagi ia adalah orang kepercayaan viko yang diberi amanat besar oleh bosnya untuk menjaga perusahaan selagi sang pemilik tak ada di tempat
“cihh!” nenek gayatri melangkah pergi dengan kesal, kesal karena niatannya tak bisa terlaksana untuk mengomel-omel keluarga mahardika
Sebenarnya bisa saja nenek gayatri menghampiri ara ke rumah keluarga mahardika dengan bertanya pada nyonya ralins di mana rumahnya, tapi tentu saja nyonya ralins tak ingin memberi tahu diamana keluarga mahardika tinggal, ia tahu betul bagaiaman mulut mamanya yang lebih pedas dari pada cabe setan
Syakia bertepuk tangan ke arah arka “kakak hebat” ucap syakia mengacungkan kedua jempolnya ke arah arka
“biasa saja” balas arka tersipu mendapat pujian dari syakia
"tapi memang kakak the best” timpal levi mengacungkan jempolnya ke arah arka
“sudah ah, yuk kerja” ajak arka