Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Berpisah sementara



***


setelah mengantar kepulangan  Riska, dan mengurus beberapa hal di kantor, agar tak ada masalah nantinya tentang Rino karena menculik Riska.


Setelah lembur semalaman di kantor pagi harinya dylan memutuskan pulang ke rumah untuk istirahat karena ia merasa begitu lelah mengurus masalah Rino yang begitu menyita waktu dan pikirannya


Dylan berjalan dengan langkah lesu dan wajah ditekuk masuk  ke dalam rumah


“sayang” panggil dylan mencari keberadaan istrinya ke setiap penjuru ruangan di rumahnya


mendengar suara suaminya, Aira bergegas menghampiri dylan “loh abang pulang? Aira kira abang masih nginep di tempat papi” ucap aira bingung dengan kepulangan dylan yang tanpa pemberitahuan


“abang gak jadi nginep sana kok ra” dylan melirik sekeliling “emang mami belum pulang?” Tanya dylan tak mendapati keberadaan mami diana


Aira menggeleng “belum, emang abang gak bareng mami?” Tanya aira


“gak, abang dapat kabar penting jadi abang  langsung pulang ke Jakarta kemarin sore” balas dylan


aira menautkan kedua alisnya “emang ada apa bang?” Tanya aira


Dylan menepuk jidatnya “ya ampun abang sampai lupa kasih tahu ya. Zeta masuk rumah sakit kemarin, dan kritis tapi untung saja semalam dia mulai sadar dan berangsur membaik” balas dylan yang lupa menceritakan pada aira kakak iparnya masuk rumah sakit


“kok abang baru kasih tahu aira sih ” protes aira kesal


“maafin abang ya ra, abang lupa gara-gara harus cari kakakmu sampai muter-muter Jakarta” balas dylan yang memang benar-benar lupa memberitahu aira karena kelimpungan mencari keberadaan Rino


“kenapa gak di telpon aja kakak, malah abang muter-muter cari kak rino ” tanya aira


“kalau bisa di telpon, mana mungkin abang nyariin dia sampai muter-muter sayang” balas dylan


“tapi sekarang sudah ketemu kan?” Tanya aira memastikan


“sudah, dia juga sudah nunggu zeta di rumah sakit” balas dylan


Aira memindai tubuh dylan “itu darah apa?” Tanya aira melirik ada noda darah di pakaian suaminya yang kebetulan berwarna krem sehingga terlihat jelas ada noda darah di pakaiannya


dylan melirik pakaiannya “ah tadi, nolongin orang luka jadi kena cipratan darahnya” balas dylan melihat arah tatapan mata aira


dylan tak tak berbohong tapi juga tak ingin menceritakan kejadian yang menimpa kakaknya karena takut aira akan khawatir dan cemas mengingat kondisi aira yang sedang hamil dan tak boleh stres


“parah?” Tanya aira


“gak juga sih, buktinya dia minta pulang ke rumah bukannya ke rumah sakit” balas dylan


“abang nganterin sampai rumahnya” Tanya aira


“lebih tepatnya nyampai lobi apartemennya sih” balas dylan


“ya sudah, abang sudah makan belum?” Tanya aira tak ingin menanyakan lebih lanjut


“belum sayang, laper banget dari semalam belum makan ” keluh dylan mengusap perutnya


yang sudah meronta-ronta minta jatah makan


“ya sudah makan dulu yuk" ajak aira


***


Rino mengemasi pakaian zeta, yang sudah di perbolehkan pulang oleh dokter


“yuk nak sama ibu, biar pakaian kotor kamu di bawa


sama rino” ajak ibu mardiana menggandeng tangan zeta untuk keluar ruangan


“iya bu” balas zeta menggandeng tangan ibu mardiana


“ibu sudah masakin banyak makanan buat kamu, nanti


makan yang banyak ya”pinta ibu mardiana


zeta mengangguk “iya bu, nanti zeta pasti makan yang banyak” balas zeta tersenyum


Rino berjalan mengikuti istri dan ibunya di belakang dengan wajah di tekuk


ayah subrata yang menunggu di lobi setelah mengurus administrasi, segera mengikuti langkah kaki keluarganya “sudah, jangan manyun terus tuh bibir” ucap ayah subrata merangkul bahu anaknya


“gak bisa ya yah kalau rino ikut tinggal di rumah” pinta rino


dengan tatapan iba


“gak bisa, saat kamu datang konsul sama dokter ken, dia kan


sudah kasih tahu kamu kemungkinan kamu yang akan kumat mendadak karena kamu


“rino bisa mengontrol emosi rino kok yah” balas rino dengan wajah memohon


“control apa? Kemarin zeta minta dibeliin bubur ayam jam 11 malam aja kamu kesal, menatap zeta sampai mata kamu mau keluar gitu” ucap ayah subrata mengingat rino yang kesal karena zeta yang sedang ngidam


makan bubur ayam jam 11 malam saat menunggunya di rumah sakit sehabis pulang bekerja jam 10 malam


Rino menunduk “iya deh” balas rino pasrah dengan keputusan ayahnya


***


Rino menggandeng tangan zeta menuju kamarnya agar


bisa segera istirahat


“istirahat dulu ya sayang, nanti kalau ibu sudah selesai panasin sayurnya, mas panggil kamu” ucap rino beranjak keluar kamar


“mas”zeta menahan langkah rino


Rino menoleh “ada apa sayang?” Tanya rino


“emang beneran ya, mas mau tinggal di rumah sana


dulu?” Tanya zeta lirih


Rino duduk di tepi ranjang, mengusap tangan zeta


lembut “iya sayang, mas kan di sana mau ngawasin rumah kita yang sedang di renovasi” ucap rino


Rumah zeta dan rino memang sedang di renovasi tapi


tentang rino yang harus tinggal di sana untuk melihat jalannya renovasi rumah adalah sebuah kebohongan, ya semua keluarga rino berbohong tentang hal itu agar


tak ada pikiran yang tidak-tidak dari zeta saat Rino akan menjalani pengobatan


“di sini kamu kan ada ibu sama ayah jadi tenang saja, mas juga akan sering kesini Cuma gak bisa nginap” balas rino menenangkan


zeta


“kalau gak zeta ikut ke sana aja ya mas ” pinta zeta yang tega membiarkan suaminya sendirian


“jangan sayang, di sana banyak material berbahaya, mas gak pengen kamu dan anak kita kenapa-napa" balas rino mengusap perut zeta


“tapi zeta gak mau jauh dari mas Rino” ucap zeta melingkarkan tangannya di lengan rino dan menyandarkan kepalanya di sana


“sabar ya sayang, setelah rumah kita selesai di renovasi, kita juga akan tinggal serumah lagi” balas rino mengusap kepala zeta


lembut


“tok tok tok”suara ketukan di pintu kamar rino


“iya, masuk” balas rino


Ibu mardiana membuka pintu “makan dulu yuk zeta, ibu


sudah selesai panasin makanannya”ajak ibu mardiana


“iya bu” balas zeta


Rino menggandeng tangan zeta menuju tempat makan


“silahkan duduk istriku” rino menarik kursi untuk zeta duduk


“oh ya no, gimana rumahmu? Sudah jalan renovasinya?”


Tanya ayah subrata


“sudah yah” balas rino


“ya sudah, kamu awasin bener-bener kerjaan mereka ya”


pinta ayah subrata


“iya yah” balas rino


Ibu mardiana menatap zeta “kamu yang sabar ya sayang, pisah dari suamimu sebentar, mama pengennya rumah itu renovasinya


jalannya yang bener jadi harus di awasin tiap hari” ucap ibu mardiana


“iya bu, zeta ngerti kok” balas zeta memaksakan senyumnya