
Askar sedang mengajak putranya raditya untuk berjemur di halaman depan
"sehat-sehat anak ayah" askar sedang menimang anaknya yang sudah berusia 3 bulan dengan sangat telaten sebelum berangkat bekerja
"kak" jenny menghampiri askar dengan membawa dot raditya pada ayahnya yang sedang menimang anak mereka
"nih kak susunya di minumin dulu" askar menerima dot yang di bawa jenny
"kamu ngampus hari ini?" tanya askar saat dirinya sibuk memberikan dot susu raditya
"iya kak, ada kuliah sekalian mau kasih judul ke dospem aku" jenny mengusap punggung putranya sedangkan askar yang memberikan dot pada raditya
"mau bareng, atau bawa mobil sendiri?" tanya askar lagi
"sama kakak saja, lagi males bawa mobil" jenny bermanja di lengan sang suami dengan muka manisnya
"iya kakak antar dan nanti kakak juga yang jemput" askar tentu sudah paham maksud tatapan mata istrinya yang sedang bermuka manis dan penuh harap itu
"makasih sayang" jenny mengecup pipi askar
jenny mengambil raditya dari tangan askar "kakak siap-siap dulu gih, tadi pakaian kakak sudah jenny siapin di atas ranjang. biar raditya aku kasih ke mommy dulu " ucap jenny
askar mengecup kening jenny "iya sayang, tunggu bentar ya" askar berjalan ke dalam rumah menuju kamarnya untuk berganti pakaian kerja, karena dirinya yang memang sudah mandi tadi pagi saat menggendong raditya
"duh anak bunda, tambah gemuk nih kebanyak minum cucu" gumam jenny menirukan suara anak kecil pada puteranya
"jenny" panggil seorang pria paruh baya
jenny menoleh ke arah sumber suara "uncle yama" sapa jenny ramah
"mommy sama daddy kamu ada?" tanya uncle yama
"ada, di dalam mereka uncle" balas jenny
uncle yama menoleh ke arah putrinya "ayo zifana" ajak uncle yama menggandeng tangan zifana
zifana melepas genggaman tangan ayahnya "iya sih" zifana berjalan mendahului ayahnya masuk ke dalam rumah keluarga arsello
"kenapa lagi zifana uncle?" tanya jenny melihat raut muka zifana yang kurang baik
"biasa" balas uncle yama dengan kekehan
jenny tersenyum mengerti kenapa zifana ngambek " mau di tinggal ke luar negeri lagi ya" tebak jenny
"iya, jadi mau di titipin di sini. kamu kan tahu kakek dan neneknya semua sudah gak ada jadi hanya bisa di titipin di sini yang deket rumah, biar pulangnya gampang" kekeh uncle yama
"ya sudah, ayo masuk uncle" jenny masuk ke dalam rumah mencari mommy nya
"mom, titip raditya ya" jenny memberikan raditya pada mommy riska
"iya sayang, sudah minum susu kan" tanya mommy riska
"sudah mom" balas jenny
mommy riska melirik yama "mau di tinggal berapa lama kali ini" tanya aunty riska yang sudah hafal betul kelakuan yama yang selalu menitipkan zifana jika keluar negeri urusan pekerjaan
"sekitar 1 bulan" kekeh uncle yama
aunty riska menghela nafas " boleh saja nitip zifana, tapi jangan lupa oleh-olehnya" kekeh mommy riska yang tak maslah sama sekali di titpi zifana. zifana anak pintar dan tak terlalu susah di atur jadi tak maslah bagi mommy riska di titipi zifana
"jangan khawatir pasti aku bawakan oleh-oleh buat kamu dan juga raditya" balas yama
"oh ya, sekalian minta tolong antar jemput zifana ke sekolah ya" pinta uncle yama dengan kekehan
daddy ken yang barusan datang ke meja makan melirik uncle yama "kenapa lagi sopir kamu?" tanya dokter ken yang sempat mendengar permintaan uncle yama
"biasa, abis di kerjain sama tuh" uncle yama melirik zifana yang sedang duduk di meja makan sambil menyesap susu yang sempat di berikan mommy riska padanya
"di kerjain apa lagi?" tanya daddy ken yang sudah hafal kebiasaan zifana yang selalu membuat pekerja di rumahnya tak betah
daddy ken menatap tajam uncle yama "kamu sih sibuk terus, dia kan pengen di antar kamu bukan sopir" ucap daddy ken
"tanggung jawabku kan besar kak, banyak keluarga yang bergantung hidup dari perusahaanku" balas uncle yama
"tapi tetap saja...." dokter ken sempat akan protes tapi terhenti
"biar zifana sekolah sama rafa, biasa juga dia di antar rafa" sahut rafa yang baru turun dari kamarnya
"malas sama kakak, pacarnya kakak banyak banget. risih zifana kak" sahut zifana merasa risih dengan kehadiran kekasih-kekasih rafa
rafa memicingkan matanya ke arah zifana "mana ada kakak punya pacar" elak rafa yang memang tak pernah pacaran dengan seseorang, hanya hubungan timbal balik saja
mommy riska menatap tajam rafa, anak sulungnya itu yang jelas mommy riska siapa wanita-wanita yang di maksud zifana
daddy ken melirik zifana "berapa banyak wanita yang kak rafa bawa saat ada kamu" tanya dokter ken
"buaaaanyak" balas zifana membuat bundaran besar dengan tangan mungilnya
"rafa!" bentak mommy riska kesal dengan kelakuan puteranya yang tidak berubah sama sekali
"rafa gak gitu lagi kok mom, ini serius kerja kok" rafa takut akan tatapan mata mommy nya
"berani kamu kaya gitu lagi, mommy ambil semua fasilitas kamu dan mami keluarin kamu dari kk" kesal aunty riska
rafa menelan salivanya kasar, rafa tentu lebih takut pada mommy nya karena mommy nya lah pemegang kendali keuangan. saat mommy nya sudah memutuskan daddy tak akan bisa berkutik apapun
zifana menjadi semangat sendiri akan ancaman mommy riska "aunty, biar aku yang awasin kakak kalau dia macam-macam biar aku laporin ke aunty" ucap zifana semangat
mommy riska menoleh ke arah zifana "oke, aunty kasih kerjaan itu ke kamu nanti bayarannya bisa di bicarakan" balas mommy riska
"ya sudah aku tinggal ya kak, titip anakku" ucap uncle yama pamit pada daddy ken
"iya" balas daddy ken
"hari ini kamu gak sekolah?" tanya rafa
"gak, ini kan hari sabtu kak jadi zifana gak sekolah mau main sama raditya saja" balas zifana
"ya sudah, kakak kerja dulu ya" rafa mengacak-ngacak rambut zifana gemas dan mencium pipi zifana
"ihhhh kebiasaan cium-cium" zifana mengusap pipinya yang di cium rafa dengan kesal
"kenapa?" rafa menautkan alisnya
"zifana sudah gede kali, jadi gak boleh asal cium" zifana berkacak pinggang ke arah rafa
rafa terkekeh "sudah gede ya? ya sudah nikah yuk" kekeh rafa mengajak nikah zifana dengan asal
"rafa!" teriak dokter ken
"apaan sih dad, cuma bercanda doang" sahut rafa memberengutkan mulutnya karena di bentak daddy ken
"hati-hati sama candaan kamu. kamu gak lihat jarak usia daddy sama mommy kamu? jarak kita cukup jauh jadi bukan gak mungkin zifana bisa jadi istri kamu" ucap dokter ken mengingatkan rafa
"hiiiii" zifana bergidik ngeri
sedangkan rafa menatap tak percaya ke arah zifana "tapi cantik sih" batin rafa
rafa buru menggelengkan kepalanya "rafa bukan pedofil" rafa langsung berlari keluar untuk ke kantor
"tunggu kak, katanya antar zifa" zifana berlari mengejar rafa yang keluar rumah terlebih dahulu
askar yang baru keluar kamar menatap heran rafa "kenapa tuh kakak ipar?" tanya askar
jenny mengedikkan bahunya "gak tahu, yuk berangkat kak" ajak jenny