
mata mami aira menatap tajam syakia yang berucap tanpa ada rem “jangan nuduh anak mami syakia! mana mungkin anak mami berbuat kurang ajar seperti itu. Walaupun mungkin dia melakukannya mana mungkin dia lari dari tanggung jawab” mami aira berdiri menatap tajam syakia benar-benar tersinggung dengan ucapan syakia yang mengatakan jeni hamil anak askar yang itu artinya syakia meragukan didikannya terhadap anaknya yang tidak diperbolehkan menyakiti hati wanita
“askar memang gak pernah sentuh jeni mih” balas syakia dengan terisak
“kalau dia gak pernah sentuh jeni kenapa kamu bilang dia ayah anak yang di kandung jeni” kesal mami aira
“ini kesalahan syakia mih” sahut syakia makin terisak
Ara menatap semua orang “biar aku yang bicara ya” ara meminta pengertian semua orang agar ia bisa bicara pada syakia
ara memegang kedua bahu syakia “coba jelasin apa yang kamu maksud?” Tanya ara
Syakia menatap manik mata ara “kamu ingat aku pernah ajak askar ke dokter untuk kasih spermanya karena aku ingin coba cara inseminasi buatan” ucap syakia
“iya” ara mengangguk mengiyakan karena memang ia tahu rencana syakia tentang ingin melakukan inseminasi buatan karena dirinya yang tak kunjung hamil
“nah waktu aku akan melakukan inseminasi buatan itu, aku sedang datang bulan” syakia kembali terisak
Aunty sita membelalakkan matanya lebar “jeni kan nemenin kamu” sahut aunty sita mengingat jeni menemani syakia karena kebetulan aunty sita bertemu dengan jeni dan syakia di rumah sakit dokter ken
“iya tante, saat itu aku bilang sama jeni untuk menemani aku, dan dia tak sengaja di suntik bius oleh perawat. Saat itu perawat salah kira aku pakai ibu pengganti karena aku sedang datang bulan saat itu” syakia makin menangis histeris “dan perawat itu menanamkan
benih askar di Rahim jeni” tangis syakia makin kencang
“astaga…....Syakia!” teriak mami aira
“maaf mami” sahut syakia merasa bersalah pada mami aira
Eila kembali mengingat dirinya saat berkunjung ke rumah orang tuanya saat akhir pekan kemarin “apa mungkin askar mual-mualp karena jeni hamil” tebak eila yang mengingat mendapati askar mual-mual di pagi hari dan saat mencium bau nasi ataupun parfum ia merasa mual dan saat menjelang siang dia akan baik-baik saja
“awalnya aku kira tak mungkin jadi, tapi saat aku mendapati perbedaan askar, aku meminta jeni untuk periksa ke dokter dengan alasan menemaniku tapi ternyata benar dia hamil makanya dokter ken sangat marah pada jeni karena dokter di rumah sakit yang mengenal jeni langsung kasih tahu dokter ken tentang kehamilannya” jelas syakia
“ya ampun syakia” umpat viko tak percaya dengan kelakuan adik iparnya itu
“maafkan aku, aku benar-benar tak ada niat untuk melakukan itu” ucap syakia mengatup kan kedua tangannya di depan semua orang
“kalau kamu gak ada niat kenapa saat tahu jeni yang melakukan inseminasi, kamu gak ngomong ke dokter, kalau dari awal kamu bilang itu suatu kesalahan pihak rumah
sakit kan bisa melakukan pencegahan agar jeni tak hamil” Tanya eila
“itu….”syakia Nampak bingung akan menjawab apa
“mami bener-bener kecewa sama kamu syakia” ucap mami aira
***
“eh bro aku pulang dulu ya, takut syakia nunggu kepulanganku” ucap askar pamit pada teman-teman seangkatannya
“kok pulang sih, ini masih jam berapa” sahabat askar melirik arloji miliknya yang menunjukkan pukul 11 malam
“ya sekarang kan aku sudah ada istri, gak kaya kalian yang masih lajang” sahut askar pada teman-temannya yang kebanyakan masih lajang
“baru punya istri satu saja kamu gak sempet ngobrol sama kita gimana kalau punya istri dua” kekeh para sahabat askar
“punya istri dua” kekeh askar membayangkan punya istri dua “bisa di gorok aku sama
papinya syakia” askar tertawa lantang dengan para sahabatnya
Askar bergegas pulang ke rumahnya karena hari makin larut
Sesampainya di rumah, askar terheran-heran dengan pintu rumah yang masih terbuka lebar dan
berjalan masuk ke dalam rumah dan bingung dengan keadaan rumah yang cukup ramai
“ini pada ngapain, kok ngumpul rame gini, padahal sudah jam satu, emang gak pada ngantuk?” Tanya askar pada seluruh anggota keluarganya
“ada aunty sita dan uncle tyo” askar mengedarkan pandangannya ke sisi sebelahnya “ada aunty riska sama dokter ken, rafa juga” mata askar memicing melihat jeni yang
menangis
“kamu kenapa nangis jeni?” Tanya askar menghampiri jeni dan berjongkok di hadapan jeni
“coba bilang sama kakak, siapa yang bikin kamu nangis, cepat bilang sama kakak nanti biar kakak bikin pelajaran sama dia” ucap askar yang khawatir pada jenny karena askar mengenal Jenny dari jenny masih kecil dan askar sudah menganggap jenny seperti adiknya sendiri
Jeni mendongak menatap askar “jeni hamil kak” balas jeni dengan isak tangis
“hamil?” askar begitu terkejut mendengar kabar kehamilan jeni padahal ia tahu betul jeni tak pacaran dengan siapapun karena keluarganya yang begitu menjaga jeni
“siapa yang hamilin kamu, siapa? Coba bilang sama kakak siapa ayah anak kamu?” tanya
askar dengan nada penuntutan
Jeni melirik syakia yang tepat berada di belakang askar “ayah anak ini, kakak” balas jeni tanpa menatap askar
“kakak? Kakak siapa?” Tanya askar bingung dengan jawaban jeni
“ayah anak ini kak askar” jeni menatap manik mata askar lekat ada rasa tak tega mengucap kata ayah anaknya pada askar
askar langsung berdiri “jangan mengada-ngada jeni, kakak mana pernah menyentuh kamu jadi bagaimana bisa kamu punya anak dari kakak?” Tanya askar dengan nada meninggi pada jeni
Jeni menunjuk syakia yang sudah di apit kedua orang tuanya “coba kakak Tanya sama istri kakak itu, bagaimana bisa jeni punya anak dari kakak!”teriak jeni kesal setiap melihat syakia
Aunty riska mengusap punggung jeni “tenang sayang, kamu sedang hamil, gak baik buat kondisi tubuh kamu kalau marah-marah” ucap aunty riska mengingatkan
jeni hanya memeluk orang tuanya dan terisak
Askar menoleh ke arah syakia “apa maksudnya ini syakia?” Tanya askar meminta penjelasan pada istrinya
“itu” syakia tergagap tak mampu menjawab
“jawab syakia!” teriak askar
Syakia makin terisak dan mulai menceritakan kejadian bagaimana bisa jeni hamil anak askar
*
askar benar-benar tak percaya pada syakia, jantungnya serasa melompat keluar, dirinya seakan lupa untuk bernapas. bagaimana bisa dia sampai berbuat seperti ini
"maafkan aku askar" ucap syakia dengan isak tangis
mata askar sudah berkaca-kaca mendengar kata demi kata penjelasan dari syakia
askar mendongak "bagaimana bisa kau seperti ini? " tanya askar dengan suara lirih
"maaf askar" ucap syakia menggenggam tangan askar
askar memejamkan matanya membuat air mata itu harus tumpah ke dasar bumi
askar melirik keluarga besarnya di sana. askar berjalan ke depan keluarga jeni dan membungkukkan tubuhnya ke arah keluarga besar Arsello "maafkan aku dok, aunty. maafkan aku yang tak bisa membimbing istriku dengan baik" askar meminta maaf atas nama istrinya
"apa dengan kata maaf bisa menyelesaikan ini semua. bagaimana nasib anak gadisku hah?" tanya dokter ken dengan raut wajah kesal pada askar