Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
ciuman pertama



Sesuai jadwal zeta melakukan wawancara di Mahardika Group pada jam 3 sore sampai jam 6 sore


Zeta cukup lancar dalam wawancara karena memang dirinya yang sudah pernah magang di perusahaan besar tak membuatnya kesulitan dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan pewawancara untuknya


“baik wawancara hari ini sudah cukup, kita akhiri sampai di sini saja . Kami akan menyampaikan hasil wawancara hari ini melalui email kalian” ucap salah satu manager yang menangani penerimaan pegawai baru di perusahaan Mahardika Group


“iya pak” balas semua peserta wawancara termasuk zeta menunduk memberi hormat


Wawancara zeta selesai pukul 7 malam karena setelah selesai wawancara beberapa peserta wawancara saling mengobrol dan saling bercanda gurau “kami pulang dulu ya” ucap para peserta wawancara yang lain melambaikan tangan kearah zeta, Zeta pun membalasnya dengan ramah


Zeta berjalan kearah halte bus dekat kantor, untuk pulang ke rumah dengan berjalan kaki  “tin tin tin” rino membunyikan klakson mobilnya mendekat ke arah zeta


“Ayo pulang" ajak rino membuka kaca jendelanya agar zeta tahu kalau dirinya yang memanggil


zeta melihat ke arah rino mengedarkan pandangannya ke sekeliling “iya mas” balas zeta masuk ke dalam mobil rino


“mas sudah selesai kerjanya?” Tanya zeta saat memasang sabuk pengaman


“sudah. Kalau belum mana mungkin mas mengantarmu pulang” balas rino


“ya kirain belum, kan biasanya mas pulang kerja  di atas jam 8 malam, ini masih jam 7 malam ” balas zeta melirik jam tangannya


rino menautkan kedua alisnya “kok kamu tahu kalau mas biasa pulang di atas jam 8 malam?” tanya rino yang memang baru menikah 3 hari dengan zeta jadi bagaimana bisa zeta tahu kebiasaan ia pulang kantor dalam kurun waktu 3 hari


“ah, itu ibu yang cerita ke Zeta ” balas zeta


“kamu ketemu ibu?” tanya rino terkejut dengan penuturan istrinya


“iya, kemarin ibu nemenin zeta belanja keperluan rumah, jadi sekalian cerita banyak hal tentang mas rino” balas zeta


“kenapa kalian malah nyeritain mas? Bukannya ceritain hal lain?” tanya rino tak ingin dirinya di bahas dalam obrolan anak menantu dan ibu mertua itu


“ya kan sekarang zeta istrinya mas rino jadi harus lebih tahu tentang mas rino, biar bisa mengurus mas rino dengan baik” balas zeta


Rino menyunggingkan senyummnya samar “gitu ya?” tanya rino


zeta menoleh ke arah zeta “oh ya mas nanti mau manasin makanan yang tadi atau masak yang lain untuk makan malam?” tanya zeta


“emang kamu gak capek kalau masak malam-malam gini?” tanya rino


“gak sih mas, kalau masakannya yang gak terlalu ribet” balas zeta


“bagaimana kalau kita makan ikan bakar saja, sepertinya di kulkas ada ikan gurami?” tanya rino mengingat ada ikan gurami di kulkas saat mengambil minum dari kulkas


“boleh, nanti setelah bebersih sebentar, zeta akan bikinin ikan bakar buat mas rino” balas zeta


“oke” balas rino


***


Rino dan zeta keluar bersamaan setelah membersihkan diri karena seharian berada di luar rumah membuat mereka berkeringat banyak “mas sudah selesai mandinya?” tanya zeta melihat rino keluar kamar berbarengan dengannya


“iya sudah selesai" balas Rino ikutt berjalan menuruni anak tangga


"mas nyantai saja dulu, nanti Zeta masaknya cepet kok" ucap Zeta


"gak ah, mau bantuin kamu masak saja ” balas rino ingin membantu zeta memasak


zeta menautkan kedua alisnya “emang mas rino bisa masak?” tanya zeta


rino menggelengkan kepalanya “ ya enggak” balas rino


“terus ngapain mau bantu masak?” kekeh zeta


“bantuin kan bukan berarti harus bisa masak, kan bisa bantu apa gitu” balas rino


“mas rino bisa bikin api gak?” tanya zeta


“bisa sih, emang kenapa?” tanya rino


“gimana kalau kita bakar ikannya di luar?” tawar zeta


“ya sudah, mas bikin apinya dulu, zeta bakal siapin bumbunya sama makanan pendamping lainnya” balas zeta


“ya sudah” balas rino mengerjakan hal yang di minta zeta


***


Zeta membawa ikan bakar yang sudah di bumbui pada Rino agar bisa segera di bakar “mas bakar dulu ya, zeta mau keluarin makanan yang lain dulu” pinta zeta


“kita mau makan disini?” tanya rino melirik pelataran halaman luas rumahnya


“iya mas, kita cari suasana baru saja. Nanti zeta yang beresin tempat makannya” balas zeta  dengan tersenyum


Rino memandangi punggung zeta yang makin menjauh dan tersenyum kearah zeta


Zeta mulai membentangkan kain besar di atas halaman tak jauh dari tempat rino membakar ikan.


Zeta menata piring dan makanan pendamping ikan bakar dengan lengkap mulai dari lalapan, cah kangkung, dan sambal terasi juga kerupuk


“sudah selesai mas?” tanya zeta pada rino yang bertugas membakar ikan


“begini sudah matang belum ya?” tanya rino yang memang tidak tahu apakah ikannya sudah matang atau belum


Zeta berjalan ke arah rino “coba zeta lihat mas” zeta duduk disamping rino, melihat ikan bakar yang dibakar rino


“sudah cukup kok mas, ayo angkat dan bawa ke sana” ucap zeta tersenyum


Zeta dan rino membawa ikan bakar di tempat yang sudah di tata oleh zeta “kamu sampai sudah siapin obat nyamuk segala?” tanya rino yang melihat ada obat nyambuk di sana


“iya, kita kan yang mau makan, bukan yang kasih makan nyamuk” balas zeta


Rino mengusap kepala zeta “kamu bisa aja” ucap rino


Zeta mulai menata makanan di piring rino dan memberikan pada rino


“ngomong-ngomong, kapan pengumuman hasil wawancaranya diberikan?” tanya rino


“itu aku gak tahu mas” balas zeta jujur


“oh ya mas, ngomong-ngomong kalau zeta kerja di sana, gimana zeta harus ngomong ke orang-orang tentang hubungan kita?” tanya zeta


“ya mau bilang apa? Kan kamu istriku ya tinggal bilang istriku” balas rino datar


“tapi zeta gak enak mas, masa baru datang kerja sudah bilang kalau istri bos” balas zeta


“terus maunya gimana?” tanya rino


“boleh gak kita rahasiain hubungan kita dulu?” tanya zeta yang di hadiahi tatapan tajam dari rino


“bukan rahasian sih mas, Cuma jangan bilang dulu kalau kita menikah. Tapi zeta tetap akan bilang ke orang-orang kalau zeta sudah menikah kok” tambah zeta


Rino menghela nafas “terserah kamu saja” balas rino akhirnya menyetujui keinginan zeta


“terima kasih” zeta langsung mengecup pipi rino karena senang


Rino membelalakkan matanya lebar menatap zeta yang mengecup pipinya tiba-tiba


Zeta takut-takut melihat raut wajah rino “maaf mas, aku kelewatan ya? Aku minta maaf ya, gak akan zeta  ulangi lagi deh” ucap zeta menunduk


Rino mengangkat dagu zeta agar menatap matanya, ia menarik tengkuk zeta melahap bibir ranum milik zeta,  membuat zeta diam mematung


Rino mengusap bibir zeta yang basah dengan ibu jarinya “kamu tadi yang mulai loh” ucap rino dengan senyum simpul


“ah” zeta kembali ke kesadarannya


“makan dulu mas” ajak zeta dengan wajah merona merah karena malu tapi ia coba bersikap biasa saja


Rino hanya tersenyum melihat tingkah zeta “ternyata aku yang pertama mengambil ciumanmu” batin rino yang merasa zeta begitu kaku menandakan zeta belum pernah berciuman dengan siapapun