
***
Anggota keluarga mahardika berdiri berbaris menyambut kedatangan viko dan ara yang di kabarkan sudah dekat
“mih itu mereka” tunjuk eila pada mobil yang di tugaskan menjemput ara dan viko di bandara
Mami aira dan papi dylan tersenyum saat mobil berhenti di depannya
“ara sayang” mami aira menghambur memeluk ara saat ara turun dari mobil
“tante” ara tersenyum senang bertemu kembali dengan mami viko
“kok tante sih, sekarang kamu istri viko jadi kamu harus manggil mami sama seperti viko” ralat mami aira membenarkan panggilan ara untuk dirinya
“iya mih” ara beralih mencium punggung tangan papi dylan “selamat datang di keluarga besar mahardika ara” papi dylan mengusap lembut kepala ara
Ara beralih memeluk oma Diana “oma apa kabar?” Tanya ara
“oma baik sayang, kamu gimana?” Tanya oma Diana balik
“ara baik oma” balas ara
“hai kakak ipar” eila memeluk ara erat “eila senang sekarang punya saudara perempuan, hanya punya saudara laki-laki benar-benar melelahkan” ucap eila yang di balas senyuman oleh ara
Askar melirik ara “selamat datang di keluarga kami ya kakak ipar” askar berniat memeluk ara tapi tiba-tiba ia mendapat lirikan tajam dari seseorang
“jangan macam-macam ya” viko menggantikan posisi ara untuk memeluk askar dengan gerakan cepat
“ya ampun kak, sama adik sendiri saja segitunya” kesal askar
“biarin, ara tuh Cuma milik kakak doang” balas viko masih menatap tajam askar
“idiiiih, dinginnya mesin pendingin kakak kemana? Kenapa jadi bucin gitu?” ledek askar
“sudah-sudah mereka pasti capek biarin masuk dulu” lerai papi dylan
“kalian ingin makan dulu atau bebersih dulu?” Tanya mami aira saat melangkah ke dalam rumah
“bebersih dulu lah mih, rasanya badan kita lengket lagian makan malam masih agak lama” balas viko
“ya sudah istirahat dulu sana” ucap mami aira mempersilahkan anak dan menantunya untuk beristirahat
***
Ara dan viko sudah membersihkan diri dan berganti pakaian casual “capek mas” keluh ara memijit kakinya
Viko yang baru selesai memakai pakaiannya setelah mandi, datang menghampiri ara dan memijit kaki ara “apa capek banget?” Tanya viko
“ini gara-gara mas sih jadi ara capek banget”kesal ara mengerucutkan bibirnya
“kok gara-gara mas sih” Tanya viko
“ya iya lah gara-gara mas. Berapa kali coba mas minta gitu di pesawat” ara menatap tajam viko
Viko terkekeh “abis lupa diri, lagian kamu juga mendesah terus dan bilang terus-terus ya sudah mas lanjutin saja” balas viko dengan tatapan mesum
“cih, mas paling bisa jawabnya” ara tersenyum malu membenarkan apa yang di ucapkan suaminya bahwa dirinya merasa tak berdaya di bawah kungkungan sang suami
Viko terus memijit kaki ara dengan telaten, dan tak mengeluh lelah sama sekali “ini sudah waktu makan malam mas, kita turun yuk, ara laper” ucap ara
“iya sayang kita turun” viko menggandeng tangan ara keluar kamar mereka
Ara dan viko berjalan di anak tangga dengan saling lempar senyum
“idih idih penganten baru pamer kemesraan terus” ledek askar
viko menarik kursi untuk eila duduk, lalu beralih menarik kursi untuk dirinya duduk “sikap kalian itu bikin kita gak nyangka loh dulu kalian pacaran bohongan, abis kaya nyata gitu” ucap eila melihat kemesraan ara dan viko yang hampir sama seperti dulu, bedanya mungkin sekarang mereka sudah resmi dan viko lebih terang-terangan mengungkapkan rasa cintanya pada ara
Ara menunduk “maafin ara ya semua, ara dulu sudah bohongin semua orang padahal kalian baik sekali dengan ara” ucap ara merasa bersalah karena sudah berbohong
“ini bukan kesalahan kamu ara, kami tahu itu akal bulus viko buat jerat kamu” sanggah papi dylan
“papi tahu.... bener” balas viko terkekeh mendengar ucapan papi dylan yang memang benar
“iya dong kamu kan anak papi jadi mirip lah kita, dulu papi juga bikin trik biar mami kamu mau nikah dengan papi” balas papi dylan membanggakan dirinya yang bisa menikahi mami aira dulu
“ih pasti trik papa licik, lebih licik dari kakak ya” tebak askar
“idih ngehina papi kamu” kesal papi dylan
“papi kalian tuh gak bikin trik licik buat mami, tapi papi memberikan kasih sayang dan cinta yang tulus buat mami” aira melirik viko “bahkan dia menerima dan menyayangi bagian dari diri mami yang lain dan menganggap hal itu juga bagian dari dirinya” jelas mami aira
“iiiiiih merinding aku” kelakar askar membuat semua orang tertawa bahagia
Acara makan malam keluarga di iringi dengan gelak tawa semua anggota keluarga besar. Setelah selai makan mereka berkumpul di ruang keluarga untuk saling berbincang
“oh ya mih, nanti setelah pembangunan rumah viko selesai mungkin viko akan pindah dari sini, gak papa kan?” Tanya viko
“gak papa nak, kamu kan sudah berkeluarga jadi sudah sewajarnya punya rumah sendiri” balas aira
“rumah hadiah dari ayah razi ya kak?” Tanya eila yang mengenal ayah kandung viko
Eila dan askar di biasakan memanggil ayah razi dengan sebutan ayah agar sama dengan viko agar tak terlihat membedakan . Walaupun ayah razi tinggal di luar negeri dan tak akan kembali tapi setidaknya hubungan mereka sudah jauh lebih baik, dan saat keluarga viko datang berkunjung ke Negara tempat ayah kandung viko tinggal
mereka semua menyempatkan mampir untuk bertegur sapa
“iya, itu hadiah pernikahan dari ayah, ayah mulai bangunnya sih dari sewaktu kakak kabarin kalau sudah nikah jadi masih butuh waktu lama buat jadi” balas viko
“ayahmu nyuruh siapa buat urus bangun rumah kamu viko?” Tanya papi dylan
“katanya sih suruh om bagas adiknya ayah” balas viko
“adik ayahmu yang seumuran sama askar itu?” Tanya papi dylan yang tahu kalau kakek viko dari pihak ayahnya kala itu menikah kembali dengan perempuan muda dan melahirkan anak seusia askar dan eila
“gak nyangka ya ayah razi punya adik seusia adik anaknya” kekeh eila
“jangan lupakan ayah juga punya anak usia 10 tahun sama dengan anak dari adik ayah yang dari istri kakek sebelum istri yang ini” kekeh viko merasa lucu dengan urutan silsilah keluarga ayahnya
“husssh gak boleh gitu ngomongnya, hidup itu ada jalannya masing-masing. Mana tahu kakek viko bakal nikah 3 kali dan punya 3 anak dari wanita yang berbeda” ucap mami aira
“iya sih mih, ayah juga gitu punya anak berbeda dari wanita berbeda” sahut viko
“kita doakan saja pernikahan ayahmu yang ini terjalin sampai maut memisahkan” ucap mami aira
“iya mih, amiiiin” balas viko
Sedari tadi ara hanya mendengarkan mencoba menangkap obrolan keluarga viko “jadi ayah kandung mas namanya razi?” Tanya ara dengan nada berbisik
“iya sayang, nanti kapan-kapan kita mampir ke new york buat bertemu beliau” ucap viko
“iya mas” balas ara
"oh ya viko, kapan rencana pesta pernikahan kamu di gelar? mami sudah mulai siapin acaranya loh, tinggal komunikasiin sama ara, cocok atau tidak" tanya mami aira
"mungkin 2 bulan lagi mih, biar kondisi ayah membaik dulu, jadi saat dia mengantarkan ara ke altar dalam kondisi prima" ucap viko
"oke, kalau gitu. semua rincian pesta pernikahan sudah mami siapkan, katalognya ada di kamar kamu, kamu pilih-pilih saja, atau kalau kamu ada usul lain bilang saja" ucap mami aira
"iya mih" balas ara tersenyum
Mami aira melirik ara “oh ya ara, perusahaan kita kan dapat undangan dari perusahaan R.A untuk acara ulang tahun perusahaannya, kamu mau ikut tidak?” Tanya mami aira lirih
Ara tentu paham dengan nama perusahaan itu, matanya membelalak lebar kala menyadari sesuatu “mami tahu?” Tanya ara melihat tatapan mata mama aira padanya yang memiliki arti
mami aira menghela nafas “dia datang menemui mami saat hubungan asmara kalian tercium media kemarin” jelas mami aira
Ketiga anak mami aira menatap bingung berbeda dengan para sepuh yang sudah lebih tahu dulu perihal perusahaan R,A
“jadi bagaimana ara?” ulang mami aira
“kalau viko ikut ya harusnya ara ikut lah mih, masa viko datang sendiri” balas viko yang belum tahu duduk permasalahannya
"diam viko” ucap mami aira memperingati
“lihat nanti saja mih” balas ara memaksakan senyumnya
“iya sayang, jangan paksakan kalau kamu gak bisa datang, jangan datang” ucap mami aira
“iya mih” balas ara
Viko merasa ada yang berbeda dari istrinya “sayang sepertinya kamu lelah istirahat saja dulu di atas, mas masih mau ngobrol sama keluarga, masih kangen” ucap viko meminta istrinya naik ke atas untuk beristirahat
“iya mas” ara berjalan menaiki anak tangga perlahan
Melihat ara yang sudah hilang dari pandangannya, viko langsung melirik mami aira “tolong kasih tahu viko ada apa?” Tanya viko langsung pada intinya
Mami aira menghela nafas panjang “perusahaan itu milik ibu kandungnya” ucap mami aira
“hah? Viko menganga lebar tak percaya bahwa pemimpin perusahaan R.A adalah Ibu kandung ara