
aunty riska datang ke rumah keluarga mahardika dengan berjalan santai
"aira" panggil aunty riska memeluk mami aira
"Hai kak" sapa mami aira balas memeluk aunty riska
"jenny mana? " tanya aunty riska
"ada di kamarnya, tunggu aku panggil ya" ucap mami aira berniat ke kamar jenny untuk memanggil jenny
aunty riska menahan tangan mami aira " tidak usah, dia tahu kok kalau aku mau datang soalnya tadi kan dia minta temenin ke mall" balas aunty riska
"oh, pantesan tadi aku tawarin untuk nemenin dia, dia gak mau ternyata sama kakak" balas mami aira paham kenapa jenny tidak mau di temani mami aira
aunty riska tersenyum "katanya takut ngerepotin kamu, soalnya biasanya Gilang di titip di sini kalau ara nyusul viko ke kantor untuk antar makan siang" balas aunty riska
"eh tapi tumben jenny minta temenin, biasanya juga di kemana-mana sendiri. dia kan paling sebel kalau suami kakak suruh orang ikutin dia? " tanya mami aira yang tahu betul kebiasaan jenny
"bilangnya sih gak di izinin suaminya pergi kalau sendiri" kekeh aunty riska
mami aira haru mendengar jenny yang patuh pada askar padahal pernikahan mereka terpaksa terjadi tetapi jenny dan askar berusaha menjalani pernikahan sebagaimana mestinya "kakak emang gak salah didik jenny dia bener-bener jadi istri yang penurut setelah nikah dia juga berusaha ngurus askar dengan baik" ucap mami aira
"kau kan tahu bagaimana masa laluku dulu ra" aunty riska menerawang masa lalunya yang cukup kelam "aku selalu kasih pengertian sama jenny untuk menjaga dirinya untuk suaminya dan harus menomor satukan suaminya nanti, kakak gak tahu aja kejadian pernikahan anakku jadi begini" balas aunty riska menyedihkan pernikahan anaknya
ada rasa bersalah di relung hati mami aira "aku tahu perasaan kakak, gak pernah ada di bayangan kakak kalau jenny akan jadi istri kedua tapi kak aku jamin kalau askar akan berusaha adil untuk syakia maupun jenny. aku gak bisa bilang askar akan cinta sama jenny tapi aku yakin askar sayang sama jenny. mereka kan tumbuh dari kecil bersama " jelas mami aira
"iya ra aku tahu itu, aku juga tenang jenny di sini setidaknya ada kamu yang akan jaga anakku" balas aunty riska
"mom" jeni keluar dari kamarnya dan menghampiri mommy nya dan memeluknya erat
"Hai sayang" aunty riska balas memeluk jenny
" yuk jalan" ajak jenny
jenny menoleh ke arah mami aira " mih aku pergi dulu sama mami ya" pamit jenny
"kamu sudah kabarin askar kalau pergi ? " tanya mami aira basa basi padahal jelas mami aira tahu jenny sudah minta izin dari mulut aunty riska
"sudah mam, katanya gak papa yang penting jangan pulang malam" balas jenny
mami aira mengusap kepala jenny "ya sudah hati-hati" balas mami aira
*
askar meletakan ponselnya di atas meja.
ia menyandarkan tubuhnya yang lelah di kursi kebesarannya karena lelah setelah bertemu klien di luar
"ceklek" syakia membuka pintu menghampiri suaminya
"sudah selesai pertemuannta? " tanya syakia
askar mendongak "sudah selesai, makanya aku lelah" balas askar
"tadi kak joff ke sini? " tanya askar
syakia menyerahkan map yang ia bawa tadi saat masuk ruangan askar "ini dia bawa ini untuk kamu pelajarin" balas syakia
askar mengambil map tersebut "iya nanti aku pelajarin" balas askar meletakan map tersebut di atas meja kerjanya
"tuing" ponsel askar berbunyi dan askar menyunggingkan senyumnya saat membuka ponselnya
"siapa? " tanya saskia melihat gelagat askar yang langsung senyum saat membaca pesan
askar mendongak "ah, si jenny minta izin hanya untuk beli susu hamil padahal kan aku kasih kartu ke dia untuk kebutuhan dia jadi gak harus sedetil itu minta izinnya" askar meletakan kembali ponselnya
"kamu ngebolehin dia pergi sendiri? kita kan belum kasih dia supir untuk antar dia ke mana-mana. dia sedang hamil loh askar" tanya syakia dengan nada khawatir
askar kembali melakukan aktivitas pekerjaannya dan syakia memutuskan kembali ke meja kerjanya
syakia duduk dengan melamun di meja kerjanya "kenapa rasanya sesak sekali berbagi suami" batin syakia terisak sembari memegang dadanya yang serasa sakit saat suaminya tersenyum karena pesan wanita lain
eits istri kedua suaminya
arka yang sudah mendengar kabar pernikahan askar dan jenny dari viko menghampiri syakia
"dek" panggil arka lirih
syakia mendongak "kakak" syakia langsung memeluk arka dengan terisak
"yang sabar dek" ucap arka mengusap punggung syakia
"aku tahu aku yang salah kak, tapi kenapa rasanya sakit banget berbagi suami" ucap syakia
"kakak tadi sudah izin ajak kamu liburan sama viko kita jalan-jalan ya" ucap arka ingin menghibur adiknya dengan ber jalan-jalan keluar
"iya kak" balas syakia dengan terisak
"nanti kita temui dokter dulu ya" ucap arka melonggarkan pelukannya menatap syakia lekat
"kakak izin sama suami kamu dulu ya" ucap arka
syakia mengangguk "iya kak" balas syakia
arka langsung menuju ruangan askar untuk meminta izin perihal niatannya membawa syakia jalan-jalan
"bisa kita bicara askar" pinta arka
askar menunjuk kursi di hadapannya "silahkan" balas askar
arka duduk di hadapan askar "boleh aku ajak syakia jalan-jalan untuk menenangkan pikirannya" tanya arka
"boleh saja" balas askar datar
"aku akan membawanya ke luar negeri dan mungkin cukup lama" tambah arka
"gak masalah, tapi dia kan punya phobia terhadap pesawat jadi konsul ke dokter dulu" balas askar
"tentu saja aku akan konsul dulu pada dokter dulu" balas arka
arka melihat raut wajah askar yang hanya biasa saja saat dirinya mengajak istrinya jalan-jalan keluar "kamu yakin memperbolehkannya" tanya arka memastikan
"yakin, lagian mungkin kita butuh ruang masing-masing setelah kejadian kemarin" timpal askar
"baiklah kalau kau mengizinkannya, aku akan menjaga istrimu dengan baik" balas arka
"aku tahu itu. kau pasti akan menjaganya dengan baik" balas askar menatap arka dengan tatapan yang sulit di artikan
*
"semoga kamu bisa ceria lagi setelah kita pergi" ucap arka lirih menatap sekilas syakia yang ada di sebelahnya
syakia memutuskan pulang ke rumah orang tuanya, dan akan berangkat bepergian dari sana. toh di rumah orang tuanya semua yang ia butuhkan ada jadi tak perlu mengambil dari rumah mertuanya lagi
"semoga saja kak" balas syakia masih tetap memandang jalanan
sebelah tangan arka menggenggam erat tangan syakia dan sebelah lagi masih tetap di alat kendali mobil
"kakak pasti akan buat kamu lupain masalah kamu, kakak janji" ucap arka
"hmmm" balas singkat syakia