
ketiga anak mami ara dan papi dylan tengah duduk di sofa dengan di dampingi pasangan masing-masing
"gimana proses perceraian kamu askar? " tanya papi dylan
"pengacara kita sudah bicara dengan pihak syakia, katanya proses perceraian bisa di lanjutkan setelah tes DNA di lakukan" balas askar
papi dylan menoleh ke arah jenny "kamu gimana jen, ada yang mau di sampaikan" papi dylan bicara dengan nada serendah mungkin
jenny tersenyum pada papi dylan"semua sudah jenny bicarain sama kakak pih" balas jenny
eila menatap tak percaya ke arah jenny "bisa ya askar punya istri sesabar kamu, dan sepengertian kamu. kalau itu aku, pasti aku gak akan sanggup" sahut eila
daren menggenggam tangan eila "aku gak akan gitu sayang" timpal daren
eila mengusap pipi daren "aku tahu itu sayang" balas eila
"kalau memang anak itu anak kamu, kamu tetap harus tanggung jawab sama anak itu. walaupun arka nantinya gak masalah bertanggung jawab pada anak itu" ucap papi dylan
"iya pih" balas askar
mami aira menatap ketiga anaknya "kalian baik-baik ya, ada masalah dalam pernikahan itu pasti, tapi sebisa mungkin bicarakan dan jangan ada kata perpisahan" nasehat mami aira
"iya mih" serempak anak dan menantu itu menjawab
"oh ya jenny, kata askar kamu gak mau cuti kuliah" tanya mami aira
"iya mih, tanggung kuliah jenny kan jenny sudah semester 6. nanti kalau jenny lahiran bisa di urus mommy dulu" balas jenny
"mami mah terserah kamu dan askar saja" sahut mami aira
"maaf semua kalau jenny tetap memaksakan lanjut kuliah. jenny gak mau menunda kuliah jenny. jenny pengen cepat selesai kuliah biar konsen urus anak jenny nanti" ucap jenny menyampaikan keinginannya
"kami gak masalah dengan itu jenny, yang penting kamu bisa menjalani kesibukan itu saja" sahut papi dylan
"bisa kok pih" balas jenny
"iya pih jenny pasti bisa dan askar dukung keinginan jenny untuk kuliah. secara permintaan dia hanya itu ke askar. gak di ganggu gugat masalah pendidikannya " jelas askar
"pendidikan memang penting, walaupun mungkin jenny di rumah dan tak bekerja tapi nanti kan dia akan mendidik anak-anaknya jadi penting juga kalau kita sebagai wanita punya pendidikan tinggi" ucap mami aira
***
viko duduk sembari mengawasi Gilang yang sedang belajar berjalan sembari mengusap perut buncit istrinya
"perutmu makin besar, apakah berat? " tanya viko
"lumayan sih mas, hamil kali ini jauh lebih berat ketimbang saat hamil Gilang dulu" balas ara
viko mengecup kening istrinya "maafin mas ya, sebenarnya mas gak pengen kamu hamil lagi, pikir mas dengan kamu kb sudah aman tapi ternyata tetap kebobolan padahal belum juga asi esklusifmu selesai kamu sudah hamil lagi" ucap viko merasa bersalah pada istrinya yang tak bisa menahan hasratnya
"jangan ngomong gitu mas, aku seneng bisa hamil anak kamu kok mas. aku bahagia jadi ibu anak-anak kamu" ucap ara menyandarkan kepalanya di dada bidang sangat suami
"mas juga bahagia bisa memiliki anak dari kamu sayang" balas viko mengecup dalam kening ara
"lihat deh anak kita" tunjuk ara pada anak pertama mereka yang sedang sibuk bermain di dalam tempat bermainnya yang sudah diberi pembatas dengan pagar buatan agar menjaga Gilang agar tidak keluar wilayah bermainnya
***
"kakak" teriak jenny dengan suara melengking beberapa oktaf
askar berlari dengan tergopoh-gopoh menghampiri jenny yang sedang berada di kamar mereka
"ada apa sayang? " tanya askar dengan raut wajah cemas nya menghampiri jenny
"ketubanku sudah pecah kak" tunjuk jenny pada ranjangnya yang sudah basah
askar jadi panik sendiri "terus gimana sayang?" tanya askar
"panggil mami atau oma kak" balas jenny berusaha mengatur nafasnya
"ah iya" askar berlari mencari keberadaan mami ataupun omanya
"mami" teriak askar mencari keberadaan maminya
"kamu ngapa teriak-teriak " tanya papi dylan yang sedang duduk menyesap kopinya
"di belakang paling, emang kenapa?" tanya papi dylan
askar tak menjawab pertanyaan papi dylan dan berlari menuju taman belakang
"mami!" askar berlari menghampiri maminya
"ada apa askar, teriak-teriak kaya di hutan saja" kesal mami aira mendengar teriakan askar
"jenny mau lahiran mih" ucap askar
"ah lahiran" mami aira langsung bergegas menuju kamar jenny dan askar
papi dylan yang melihat raut khawatir dari wajah istri dan anaknya pun berjalan mengikuti arah langkah kaki mereka
"huuuuuuuhhhhh" jenny sedang mengatur nafas
mami aira berjalan menghampiri jenny "sejak kapan ketubanmu pecah jen?" tanya mami aira
"tadi mih" balas jenny dengan menahan sakit yang teramat sakit
mami aira melirik askar "ya sudah mobil yang di siapain untuk lahiran keluarin kita ke rumah sakit" ucap mami aira
"iya mih" askar berlari mencari sopir rumahnya untuk mengeluarkan mobil
jenny menahan tangan mami aira yang akan beranjak "gak keburu mih, mending telpon daddy buat minta dokter di rumah sakitnya datang kesini" ucap jenny
"gak keburu gimana jen?" mami aira nampak khawatir
jenny terus mengatur nafasnya "kayanya kepalanya sudah di ujung mih" ucap jenny
"haaa" mami aira langsung melirik papi dylan
"keluar pih" pinta mami aira
"ah iya" papi dylan langsung keluar kamar syakia
mami aira bergegas melepas pakaian yang melekat di bagian tubuh bawah jenny
"ya ampun, bener udah mau keluar" mami aira langsung berlari keluar memanggil suaminya
"pih suruh bibi bawain air panas, sama telpon dokter ken jenny gak keburu di bawa ke rumah sakit suruh orang kesini" ucap mami aira kembali masuk kamarnya
"haaa"bayangan masa lalu saat proses kelahiran askar kembali teringat
papi dylan langsung mengabari dokter ken mengabari jenny yang tak kuat untuk di bawa ke rumah sakit dan akan lahiran di rumah karena bayinya sudah akan segera keluar
askar langsung berlari masuk kamarnya "mi sudah siap sopirnya" ucap askar
"jenny sudah gak kuat lagi, bayinya sudah mau keluar. sini bantu mami buat bantu jenny lahiran" ucap mami aira yang sedang membantu jenny mengatur nafasnya
"emang mami bisa bantu jenny lahiran?" tanya askar dengan muka paniknya
"jangan bikin mami nambah panik, mami sebenarnya gak bisa askar tapi mau gimana lagi, nunggu dokter kelamaan. kepalanya sudah kelihatan" balas mami aira dengan muka paniknya
"duh, kok gak sabaran banget" gumam askar yang sedang panik
"gak sabaran, itu sama kaya kakak. kakak aja gak pernah sabaran" kesal jenny menahan sakit saat kepala bayinya sudah di ujung jalan tapi belum juga keluar
"plak" mami aira memukul lengan askar "sudah pegang tangan jenny pasti dia kesakitan banget" ucap mami aira
"iya mih" askar menghampiri jenny dan ikut panik saat jenny terus mengeluh sakit dan menangis karena akan melahirkan
jenny mencengkeram kuat lengan askar bahkan sampai menggigitnya "kakak jahat, kakak yang salah bikin jeni sakit gini" tangis jenny makin pecah
"sabar sayang, kakak salah kakak minta maaf " ucap askar yang ikut panik
"oek oek oek" tangis bayi pun terdengar
"mih, bayi askar lahir" ucap askar takjub saat bayi merah ada di tangan mami aira
"iya askar, ternyata gini rasanya papi kamu saat kamu dan eila lahir" ucap mami aira lega dengan lahirnya anak askar dan jenny