
"kau berani meremehkan keluargaku hah! " kesal viko maju menemani papi dylan
"jangan lupa, kalau kami di besarkan di bekali ilmu beladiri yang mumpuni" kesal askar ikut mendampingi papi dan kakaknya
Brandon terkekeh menatap 3 orang yang berani menantangnya " apa kalian pikir bisa melawan anak buahku dengan jumlah kalian" ledek Brandon
Daren menggeser tubuh eila Dan ikut maju ke depan " jangan lupakan aku" sahut daren ikut berjejer di samping calon ipar serta mertuanya
"hahahaha" tawa Brandon
"wah, dia nantangin kita" uncle prastyo menggulung lengan bajunya sampai siku diikuti dokter ken, uncle yama, dan ke empat kakak mami aira, serta Rafa anak dokter ken
"kau pikir kami yang sudah tua ini tak sanggup menghadapi anak bau kencur kaya kalian hah!" kesal uncle prastyo menatap tajam brandon
brandon mulai sedikit gusar, tentu dia tahu perangai orang-orang yang ada di hadapannya sewaktu muda. tua bukan berarti bisa di remehkan begitu saja tapi karena brandon yang sudah terlanjur menantang untuk mengambil eila, ia harus maju karena gengsinya
Dan terjadilah baku hantam antara para tamu undangan pria dan para anak buah Brandon yang begitu banyak.
Tapi yang Brandon tak perbitungkan dengan benar bahwa semua tamu undangan yang ada di sana adalah petarung handal, walaupun usia mereka yang sudah tak lagi muda bukan berarti mereka akan kalah dengan anak muda yang di bawa Brandon
“plang” papi dylan menendang bawahan Brandon yang tersisa di hadapan Brandon
“lihat” tunjuk papi dylan pada para anak buah Brandon “mereka bukan apa-apa untukku” sahut papi dylan lantang
Papi dylan berniat menghajar Brandon tapi daren menahannya “boleh saya saja yang memberinya pelajaran” ucap daren meminta izin
Papi dylan menengok ke arah daren “terserah kau saja” balas papi dylan datar
Daren menoleh ke arah eila “tutup kembali mata kamu dan telinga kamu, jangan sampai apa yang kau lihat dan dengar mempengaruhi pertumbuhan anak kita” ucap daren mengulang perintahnya karena eila kembali membuka mata dan telinganya yang sempat daren minta untuk di tutup agar tak mempengaruhi perkembangan anaknya jika mendengar perkelahian
Eila mengangguk “iya”
Brandon yang merasa terpojok bergegas berlari ke luar rumah keluarga mahardika. Daren
hanya berjalan santai mengikuti Brandon yang sedang ketakutan berlari menuju gerbang rumah keluarga mahardika
“brak brak brak” Brandon mencoba membuka pagar rumah keluarga mahardika yang tekunci
“sial” umpat Brandon kesal karena pacarnya terkunci
“bagaimana? Masih mau lari?” ejek daren yang sudah berada di hadapan Brandon
Brandon menatap tajam daren “kau pikir aku takut denganmu” teriak Brandon
“bagus kalau tidak takut denganku” daren menghampiri brandon dengan tersenyum devil
“bugh bugh bugh” terjadilah baku hantam antara Brandon dan daren
“kau pikir, kau itu siapa bisa menghina istriku hah!” daren terus memukuli Brandon dengan membabi buta untuk meluapkan amarahnya
“kau bilang cinta pada eila, tapi berani-beraninya kau membuatnya menangis hah!" Brandon di buat babak belur oleh daren ”bugh bugh” daren kembali meninju perut Brandon “kau membuat eilaku ketakutan hah!” umpat daren meninju wajah brandon
Daren ingin kembali menghajar Brandon tapi harus terhenti “daren stop!” teriak papi dylan
Daren menoleh ke arah papi dylan “sudah jangan di teruskan kalau dia mati nanti kita repot urus di
kantor polisi, bukannya kau mau menikah” ucap papi dylan mengingatkan
“iya pih” balas daren mengangguk patuh
Brandon di urus anak buah daren yang sudah menunggu di depan gerbang untuk di urus di kantor polisi sedangkan yang lain
kembali melanjutkan acara pernikahan yang tertunda
karena penampilan para undangan yang cukup berantakan viko mempersilahkan untuk berganti pakaian dengan pakaian miliknya, ataupun askar dan papi dylan yang masih baru, sedangkan eila harus di rias kembali karena wajahnya yang kusut karena terlalu banyak menangis
Papi dylan menggandeng tangan eila menghampiri daren yang sedang menunggu di altar
“aku serahkan anaku padamu untuk kau jaga dan cintai, ya walaupun kau sudah nyolong
star duluan tapi apalah daya karena sudah terlanjur ” ucap papi dylan sedikit menatap kesal ke arah daren
“saya pegang janji kamu, awas saja jika kau berani menyakiti
putriku! “ ancam papi dylan
“baik pih” balas daren
Acara pernikahan di gelar dengan khidmat dan isak tangis bahagia
mendengar kata-demi kata yang di ucapkan daren saat upacara pernikahan selesai di adakan
Daren memegang mic dan mendekatkan ke wajahnya “sebelumnya maafkan
aku Raina Eila Mahardika” ucap daren membuat dahi eila berkerut
“maaf karena sudah membuatmu berkali-kali menangis karena menolak cintamu dulu” ucap daren membuat eila menunduk malu
“biarin aja dia usaha ngejar pria, biasakan dia yang nolak-nolak pria”
sahut askar yang langsung mendapat pukulan keras dari syakia
Daren tersenyum ke arah eila “ tapi eila satu yang mungkin kau
belum tahu dan aku ingin menyampaikan ini padamu" dahi eila mengkerut mendengar penuturan daren
daren menghela napas panjang "aku jatuh cinta padamu dari awal kita bertemu di saat usiamu masih
16 tahun saat itu” mata eila berkaca-kaca mendengar penuturan daren
“kau pasti merasakan sakit saat aku menolakmu tapi percayalah hatiku jauh lebih sakit saat menolakmu” daren menghela nafas panjang “aku ingin
menjagamu sebaik-baiknya dan selalu membuatmu bahagia sayang” daren menggenggam
erat tangan eila “tapi saat kau bilang mencintaiku, aku punya ketakutan tersendiri terhadap cinta. Bukan karena aku takut tersakiti sayang tapi aku jauh lebih takut menyakitimu. Aku sangat
takut menyakitimu” ucap daren
“menolakku sudah menyakitiku tahu” sahut eila
“untuk itu aku minta maaf” balas daren
“iya aku maafin” balas eila
“terima kasih, terima kasih sudah memaafkanku dan terima kasih
sudah mencintai diriku yang banyak kekurangan ini” sahut daren
Eila mengangguk “ sama-sama sayang, aku juga berterima kasih
mendapat cinta yang begitu besar darimu
Daren mengusap perut eila yang sudah sedikit menyembul karena eila berganti dengan gaun yang lebih nyaman untuknya yang tadinya menutupi bagian perutnya yang membuncit “ dan terima kasih sudah memberikanku kado
pernikahan yang begitu indah” ucap daren
“iya kamu enak dapat kado pernikahan, kita semua kena spot jantung gara-gara kado kalian” seru viko dan sorakan semua para undangan
Eila dan daren menggaruk tengkuk mereka yang tak gatal “ya maaf,
kebablasan sih” sahut eila
“uhhhh giliran enak-enak aja kalian semangat” sahut askar
“askar” ucap mami aira melirik ke arah anak-anak yang belum
menikah, dan itu kurang pantas di ucapkan di depan umum
Askar menunduk pada orang tua yang memiliki anak belum menikah
“maaf, kebiasaan berkata seenaknya sama eila” kekeh askar