
***
Riska memegang 2 buah buku kecil di tangannya dan menatap foto yang ada di dalamnya dengan tatapan datar
“ada apa kau melihatnya terus?” Tanya dokter ken melirik riska yang terus melirik foro di buku nikah mereka, yang baru saja mereka dapatkan dari kantor urusan Agama
“lucu saja, kita menikah setelah lebih dari 20 tahun kita saling mengenal” balas riska terkekeh melihat foto dirinya bersandingan dengan foto dokter ken dalam buku nikah mereka
Dokter ken tersenyum “oh ya, mama sama ayah sedang diperjalanan ke rumahmu, orang tuamu tahu kan kalu kita datang?” Tanya dokter ken
“iya, aku sudah kasih kabar sama mama kalau kita akan datang sama mama katrina dan ayah Benjamin” balas riska yang sudah dari kecil memanggil kedua orang tua dokter ken dengan sebutan mama dan ayah
Riska memang cukup dekat dengan mama katrina dan ayah benjamin semenjak ia jadi pasien dokter ken, bahkan mungkin kedekatan Riska dengan kedua orang tua dokter ken jauh lebih dekat dari pada dengan orang tua kandungnya sendiri
“ya sudah” dokter ken melajukan mobilnya menuju rumah orang tua riska
Tak sampai 30 menit mereka pun sampai di kediaman riska berbarengan dengan orang tua dokter ken yang juga baru sampai di halaman
Riska keluar langsung menyalami orang tua dokter ken dan memeluk mereka “ayah, mama” sapa riska memeluk kedua mertuanya secara bergantian
Mama Katrina menggenggam erat tangan riska “terima kasih ya sayang, sudah mau kasih mama cucu” ucap mama Katrina senang dengan kehamilan riska, dan kenyataan sekarang riska jadi menantu mama katrina
Riska tersenyum “iya mah” balas riska senang mendapati mama katrina yang ikut bahagia dengan kehamilannya
“ayah seneng banget kalian nikah, ayah pikir kalian akan bersama tanpa setatus selamanya” keluh ayah Benjamin yang tahu betul hubungan Riska dan ken seperti apa
“maaf yah” ucap dokter ken menunduk merasa bersalah pada kedua orang tuanya itu
“sudah mah, yah" Riska melirik ayah dan mama mertuanya bergantian "ayuk masuk dulu” ajak riska untuk masuk ke rumah orang tuanya
riska menggandeng tangan mama mertuanya masuk ke dalam rumah orang tuanya yang di sana
sudah ada orang tua riska dan juga kakaknya duduk di sofa ruang tamu
“riska” panggil kak Jonas ingin memeluk adiknya
Riska dengan reflek mundur menjauhi kakaknya “maaf” ucap riska lirih tak ingin dipeluk kakaknya
Jonas menurunkan tangannya sedih, sudaah 17 tahun Riska menjaga jarak dari kakaknya, dan hal itu membuat hatinya begitu tersiksa dan merasa bersalah “kamu masih saja marah pada kakakmu?” Tanya mama Claudia ketus
Mama karina menggenggam tangan riska mencoba menguatkan hati menantunya itu, yang ia hafal betul hubungan riska dengan mamanya yang kurang baik
“mah” ucap Jonas seolah meminta mamanya agar bersikap lembut pada Riska
ayah john melirik tatapan mata istri dan anak perempuannya itu, yang ia rasa akan makin memanas jika terus di biarkan “silahkan duduk tuan dan nyonya arselo” pinta ayah john sopan pada besannya itu
Kedua orang tua dokter ken dan ken duduk di sofa panjang hadapan orang tua riska, bersebelahan dengan Riska yang ada di samping mama katrina
ayah benjamin menatap ayah john “begini john, saya dan keluarga datang kesini untuk melamar riska untuk anak kami ken” ucap ayah Benjamin
Mama Claudia menatap tak suka kearah risksa “bagaimana bisa kamu menikah dengan pria tua dan seorang duda itu?” Tanya mama Claudia dengan nada ketus
“mah” Jonas tak suka dengan ucapan mamanya yang selalu memojokkan adiknya
"benar kan apa yang mama bilang, kalau orang itu" mama claudia menatap tak suka dokter ken "pria tua dan seorang duda, usia kau dengannya saja cukup jauh, aplagi dengan adikmu" balas mama claudia
merasa mulut mama claudia yang memang tak bisa diam, ayah john menatapnya tajam “diam kamu mah” pinta ayah john tegas
“iya yah” balas riska mengangguk
ayah john tahu betul kondisi anaknya, dan bagaimana hubungannya dengan dokter ken. ayah john memanglah seorang player tapi bukan berarti ia adalah seorang ayah yang tak peduli dengan anak-anaknya, ia bahkan selalu memantau kondisi anak-anaknya melalui anak buah yang emmang ia tugaskan untuk mengawasi anak-anaknya dari jauh tanpa mereka sadari “ya sudah, menikahlah, ayah mengijinkanmu menikah
dengannya” balas ayah john tersenyum ke arah Riska
mama claudia menoleh ke arah suaminya, tak percaya jawaban suaminya “apa-apaan sih ayah ini, masa riska menikah sama laki-laki tua itu sih, sama anak sulung kita aja usianya jauh” balas mama Claudia kesal dengan keputusan suaminya
“maaf tante kalau usiaku jadi masalah, tapi aku janji akan membahagiakan riska dan mencukupi segala kebutuhannya dengan baik” balas dokter ken dengan nada tenang menanggapi hinaan mertuanya itu
Mama Claudia mendengus “ bahagia apa? Jika dengan lelaki tua” balas mama Claudia meremehkan dokter ken
Riska mendongak ke arah mama claudia “memangnya mama tahu apa yang membuatku bahagia?” Tanya riska menaikkan sebelah alisnya
“tentu saja mama tahu, mama kan mama kamu” balas mama Claudia
Riska berdecih “yang selama ini ada untukku bukan mama tapi dokter ken dan keluarganya, bahkan ayah dan kakak saja selalu membuatku muak” kesal riska melirik tajam keluarganya
ayah john dan jonas menatap sendu riska karena ucapannya yang begitu menusuk hati mereka
“riska!” teriak mama Claudia tak terima ucapan anak bungsunya itu
Mama Katrin mengusap punggung tangan riska membantu meredam emosi menantunya yang ia tahu betul sulit dikontrol “tenang sayang, jangan marah itu gak baik untuk kandunganmu” pinta mama katrina mengingatkan riska
mama claudia menajamkan telinganya menoleh ke arah Riska “kamu hamil?” Tanya mama Claudia
“iya” balas riska datar
“oh” mama Claudia menatap tajam dokter ken “jadi kau memaksanya menikah dengan menghamilimu?” Tanya mama Claudia meremehkan dokter ken
“cukup mah” pinta riska kesal
Riska menoleh kearah ayahnya “aku datang hanya memberitahu ayah mengenai pernikahnku bukan berniat meminta izin pada kalian, aku dan suamiku akan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan pernikahan kami, aku harap ayah dan keluarga bisa datang, walaupun tak datang juga tak masalah untukku” ucap riska mengajak keluarga barunya untuk bergegas pergi dari rumah keluarga andrian
“iy sayang, ayah akan datang” balas ayah john menghentikan langkah anak perempuannya
riska menghentikan langkah kakinya menoleh kearah ayahnya "terima kasih yah" ucap Riska tulus dari hatinya, setidaknya sekian lama menjadi anaknya, baru kali ini Riska benar-benar berterima kasih pada ayahnya
mama claudia berdecih “kecil-kecilan? Bagaimana seorang andrian menikah dengan acara sederhana? Suamimu tak mampu memberikan pesta besar?" ejek mama Claudia
riska menatap tajam mama claudia “cukup ya mah, aku yang menikah jadi aku yang memutuskan bagaimana acara pernikahan yang aku inginkan, kalau aku mau acara pernikahanku diadakan besar-besaran suamiku sangat mampu memberikannya tapi aku tak suka berpoya-poya seperti mama” teriak riska kesal
“kamu sudah berani bentak mama?” Tanya mama Claudia
Riska memegang perutnya yang sedikit keram karena terus kesal dengan mamanya “sudah sayang, tenangkan
hatimu, gak baik buat kandunganmu” ucap dokter ken melihat emosi riska yang terus meluap dan itu tak baik bagi kondisi riska yang sedang hamil muda
dokter ken melirik keluarga istrinys “maaf semuanya, saya akan bawa riska karena kondisinya yang kurang baik” ucap dokter ken menggandeng tangan riska
ayah john mengangguk “iya, jaga dia baik-baik” pinta ayah john
Dokter ken mengangguk dan membawa riska keluar dari kediaman keluarga riska
Tanpa mereka semua sadari ada tatapan sinis mengarah kearah riska dan dokter ken yang keluar rumah keluarga andrian