
***
Ara menghampiri viko yang sedang bergelut dengan berkas berkas yang ada di meja kerjanya “mas, ini jadwal mas hari ini” ara menyerahkan tablet berisi jadwal viko hari ini
Viko mendongak dan mengambil tablet yang di berikan ara “terima kasih sayang” viko mulai mengecek jadwalnya untuk hari ini
“mas, hari ini ara sampai siang aja di kantornya, boleh?” Tanya ara
Viko mengerutkan keningnya “kenapa? Apa kamu sakit?” Tanya viko
ara menggelengkan kepalanya “enggak mas, rasanya capek saja pengen tidur, Pinggang ara sekarang cepet pegal” balas ara yang mulai merasa kesulitan dengan kehamilannya yang sudah makin membesar
“ya sudah, nanti di antar arka pulang ya” ucap viko
“iya mas” balas ara
“oh ya sayang, gimana kabar ayah kamu, sudah selesai belum jalan-jalannya?” Tanya viko
“belum tahu mas, ayah gak ada kabar. Katanya jangan telpon terus nanti kalau sudah selesai ketemu teman-temannya ayah bakal kabarin ara” balas ara
“ya sudah, gak papa, mungkin ayah masih kangen sama teman-temannya” balas viko
“tapi ara bingung deh, teman ayah yang mana? Perasaan ara ayah kan di Indonesia dulu Cuma 3 tahun, itu gak lama. Jadi teman yang mana” bingung ara dengan siapa teman ayahnya karena ayah ara tak pernah cerita perihal teman ayahnya pada ara
“kan gak semua teman ayah kamu tahu sayang" sahut viko
***
Di waktu yang sama tapi di tempat yeng berbeda ada seseorang yang sedang sibuk dengan mesin jahitnya, membuat pakaian yang sudah terlebih dahulu dipotong sesuai pola
“selamat pagi ibu” sapa seorang pria paruh baya dengan senyum mengembang pada wanita yang sedang menjahit
Wanita yang sedang menjahit pun mendongak “eh ayah datang” sapa wanita tersebut yang tak lain adalah nyonya ralins, ibu kandung ara
“iya, ayah datang bawa ini” pria baruh baya yang tak lain adalah ayah damian datang dengan membawa bingkisan berisi makanan untuk nyonya ralins
“bawa apa yah?” Tanya nyonya ralins
“makanan” balas ayah damian
Ayah damian dan nyonya ralins tak sengaja bertemu saat ayah damian bertemu salah satu temannya yang bekerja di bandung. Saat itu nyonya ralins yang memulai usaha menjahit setelah pergi dari rumah orang tuanya sedang mengantar pakaian pesanan pelanggannya dan tanpa sengaja bertemu ayah damians yang ternya sahabat ayah damian adalah suami pelanggan nyonya ralins.
mereka tetap memanggil sebutan ayah dan ibu karena mereka pikir masih nyaman dengan panggilan itu
makanan sudah di sajikan di meja tamu dan mereka sedang menikmati makanan yang di bawa ayah damians “ayah belum ketemu ara?” Tanya nyonya ralins menyuapkan makanan ke dalam mulutnya
“nanti saja, toh dia baik-baik saja. Suaminya kan sangat menyayanginya jadi bisa menjaga anak kita dengan baik” balas ayah damian
“ibu bersyukur yah, anak kita dapat pasangan yang baik dan keluarga yang baik juga” balas nyonya ralins mengenal bagaimana keluarga viko yang menyayangi ara dan memperlakukan ara dengan baik
“iya bu, ayah juga bersyukur. Sebenarnya ayah ngerasa bersalah banget sama dia karena harus kerja banting tulang untuk ngehidupin ayah waktu ayah sakit” balas ayah damian
“maaf ya yah, karena orang tua ibu, ayah jadi susah dan harus jatuh miskin ” balas nyonya ralins
"sudah jangan di pikirin lagi" ayah damians mengenggam tangan nyonya ralins dan tersenyum manis pada nyonya ralins
“tapi beneran kamu gak akan pulang ke rumah kamu lagi?” Tanya ayah damians
“iya, ibu kan punya keponakan yang bisa dia minta urus perusahaan jadi tanpa ralins ibu pasti baik-baik saja” balas nyonya ralins
“bu” panggil ayah damians lirih membuat nyonya ralins mendongak menatap manik mata ayah damians
“mau gak, kalau kita balik kaya dulu” Tanya ayah damians
“apa yah” Tanya nyonya ralins
Ayah damians makin mengeratkan genggaman tangannya ke tangan nyonya ralins “ayah masih cinta sama ibu sampai sekarang, ayah pengen kita kembali lagi kaya dulu” ucap ayah damians
nyonya ralins agak mendorong tangan ayah damians “apaan sih yah”wajah nyonya ralin merah merona mendengar penuturan ayah damians
“kita ini udah tua ayah usia ibu saja sudah 42 tahun bentar lagi kita juga mau punya cucu, masa kita mau nikah lagi” sahut nyonya ralins terkekeh
“yang ayah Tanya, ibu mau enggak” ulang ayah damians
Nyonya ralins menatap lekat ayah damians “mau sih yah” nyonya ralins berucap lirih
Ayah damians tersenyum, ia merogoh sakunya dan mengambil buku berwarna merah “nih” ayah damians memberikan 2 buah buku itu pada nyonya ralins
Nyonya ralins mengerutkan keningnya “apa ini yah” nyonya ralins membuka buku tersebut
“ini apa yah” nyonya ralin membuka buku tersebut dan menunujukan pada ayah damians
“sebenarnya waktu kamu kasih surat cerai itu, ayah gak pernah setorin ke kantor catatan sipil di Inggris” ucap ayah damians
“terus” Tanya nyonya ralins menuntut penjelasan lebih pada ayah damians
“ibu masih istri ayah, secara hukum inggris, dan kemarin ayah sudah minta tolong sama teman ayah yang kerja di kantor catatan sipil di inggris, pernikahan kita masih terdaftar” balas ayah damians menunjuk buku nikah mereka " buktinya ayah masih bisa minta buku nikah kita di keluarin lagi, ayah alasnya kita sempat kebakaran jadi buku nikahnya kebakar, dan untung saja emang rumah kita yang di inggris pernah kebakaran "tambah ayah damians
“ayah” nyonya ralins menutup mulutnya tak percaya dengan penjelasan ayah damians
“maaf ya bu dulu ayah gak sanggup urus perceraian kita jadi ayah biarin saja” sahut ayah damian
“terus ayah nikah sama istri ayah yang kemarin gimana kalau pernikahan kita masih tercatat?” Tanya nyonya ralins
“sebenarnya kita nikah Cuma di gereja saja, gak secara hukum, makanya dia dengan gampangnya pergi” balas ayah damians
Nyonya ralins memeluk ayah damians erat “ya ampun yah, ternyata kita masih terikat pernikahan” ucap bahagia nyonya ralins
“aku bersyukur dengan sangat kamu masih sendiri, mungkin kalau kau memutuskan menikah, aku sudah kehilanganmu” balas ayah damians
Ayah damian mengurai pelukannya “ara pasti bahagia tau kita masih menikah” ucap ayah damians
“apa iya yah, ara dulu benci banget sama ibu, pasti dia gak akan terima ibu” balas nyonya ralins
“dia tuh sayang banget sama kamu bu, Cuma karena kakek dan neneknya saja dia benci sama kamu karena kamu yang gak pernah berani melawan orang tua kamu” balas ayah damians
“iya yah" sahut nyonya ralins
“ikut ayah ya ketemu ara” ajak ayah damians
“toko jahit ibu gimana?” Tanya nyonya ralins
“kamu titipkan saja sama pegawai ibu, ibu kan punya pegawai. Nanti kita bisa balik ke sini setelah ketemu ara” balas ayah damians
“ayah mau tinggal di sini?” Tanya nyonya ralins
“iya, ayah pengen menghabiskan masa tua di sini sama ibu, ayah juga bisa buka toko sekalian bantu ibu disini” balas ayah damians
“beneran yah?” Tanya nyonya ralins
“iya, disini kan gak terlalu jauh dari rumah ara, Cuma butuh 2 jam saja jadi dia bisa sering berkunjung nemui kita” balas ayah damians
“makasih yah” ibu ralins memeluk ayah damians erat
“bu, boleh ayah buka puasa gak?” bisik ayah damians
nyonya ralins mengurai pelukannya “maksudnya?” Tanya nyonya ralins
“delapan tahun bu, ayah sudah puasa jadi izinin ayah buka puasa ya” pinta ayah damians lirih
“ayah......” ibu ralins memukul gemas ayah damians, menegrti dengan apa yang di maksud ayah damians
“ayolah bu” ajak ayah damians
“ya sudah, ayok” ibu ralins berjalan masuk ke dalam kamarnya
“ayok bu” ayah damians menutup pintu rumah tak lupa mengunci pintu dan mengikuti ibu ralins untuk masuk dalam kamar