
Dylan melaju dengan kencang mengendarai mobilnya menuju kantornya sampai-sampai ia sampai hanya 10 menit saja padahal ia biasa berkendara selama 30 menit itupun kalau tidak macet dan jalanan lancar
sesampainya di kantor polisi dylan langsung berjalan masuk tanpa memperdulikan orang yang menyapanya
"lacak kode GPS ini, sekarang! " teriak dylan memberikan ponselnya yang terdapat koordinat lokasi seseorang pada salah satu koleganya
orang diperintah dylan mengernyitkan dahinya menatap dylan "kamu kenapa sih, datang-datang langsung teriak gitu, kan bisa minta tolong baik-baik" balas kolega dylan dari divisi cyber dengan mulut bersungut tapi tetap mengambil ponsel dylan untuk melihat kode GPS yang dimaksud
"punya siapa sih dylan, sampai segitunya kamu nyuruh kita. apa punya penjahat kakap? " tanya kolega dylan sambil mengetikkan sesuatu ke komputernya
" bukan punya penjahat, itu punya istriku" balas dylan tak mengalihkan pandangan dari layar komputer dihadapannya
"ya ampun dylan segitu rindunya kamu sama istrimu apa? telfon kan bisa gak perlu dilacak" balas kolega kerjanya terkekeh mengira dyllan yang begitu merindukan istrinya karena orang-orang tahu kalau dylan baru dinas di luar kota
"kalau bisa di telfon ngapain repot-repot kesini" balas dylan dengan tatapan tajam
"ya kan aku hanya ngasih solusi gak usah garang gitu ngomongnya " balas koleganya
saat tengah fokus dengan pencarian melalui kecanggihan alat modern saat ini, Tiba-tiba ada yang datang dengan suara memburu karena berlari
"tuan, saya sudah sampai. apa perlu saya panggil haris kesini?" tanya ferdi langsung bertanya hal penting pada dylan
"tidak perlu biarkan dia menjaga viko saja" balas dylan
"ada apaan sih, kok kayanya kalian ngobrol tegang gitu? terus tumben banget kamu sewa bodyguard macam ferdi dan haris pula? " tanya teman sejawat dylan yang lain yang kebetulan tahu kalau haris dan ferdi adalah bodyguard dengan pelatihan militer khusus yang kadang diminta untuk membantu kepolisian menangkap penjahat kakap
"istriku diculik, jadi aku harus segera menemukannya untuk menyelamatkannya dari orang gak waras" balas dylan
"apa? diculik? " teriak teman-teman dylan bersamaan
hal itu membuat kolega bisnisnya bergerak lebih cepat untuk menemukan koordinat keberadaan aira " dapat" ucap kolega kerjanya
" dia berada di jalan xxx sampai saat ini, nanti akan aku kabari lagi saat ia berpindah tempat" ucap koleganya
"ok Terima kasih" balas dylan menepuk bahu koleganya bergegas keluar
"kami ikut dylan, pasti kamu butuh bantuan kami" tawar salah satu teman dylan saat dylan akan keluar pintu
"tidak, ini adalah urusan pribadiku kalian lanjut kerja saja, dengan ferdi menemaniku saja sudah cukup" balas dylan tak enak hati
"jangan bicara seperti itu, yang terjadi pada istrimu termasuk tindak kriminal, dan yang ikut hanya yang sedang tidak ada tugas" ucap teman dylan
"Terima kasih" balas dylan tersenyum
"sudah cepat berangkat, surat izin penangkapan biar kami disini yang urus agar tak ada masalah nantinya" balas teman yang lain
dylan, ferdi dan ke 3 teman dylan akhirnya berangkat menuju lokasi aira dibawa
***
aira di bawa ke sebuah vila tua yang cukup sepi dan jauh dari pemukiman, dan dekat pantai
aira ketakutan melihat begitu sepinya tempat itu
"untuk apa mas bawa aira kesini? " tanya aira takut-takut
razi tak menjawab hanya memberhentikan mobilnya lalu memaksa aira keluar dari mobil dengan kasar " sakit mas, jangan seperti ini" ucap aira memohon agar dilepaskan
"kamu gak akan pernah menjadi milik orang lain, kamu hanya akan jadi milikku seorang" teriak razi
"mas tenang ya... berfikir lah baik-baik. apa mas gak kasian sama viko dia sendirian di rumah mas pasti dia nungguin aira" ucap aira mencoba menenangkan razi
aira mendelik mendengar penuturan razi "mas dia anak kita, kalau dia sampai tahu perbuatan ayahnya seperti ini, viko bakal tambah benci sama mas" ucap aira memperingati
" aku sama sekali gak peduli dengan anak itu, hanya kamu yang mas perduli kan di dunia ini" balas razi dengan suara meninggi
aira mencoba mencari akal lain untuk mengalihkan razi "mas jangan gitu, mas gak ingat kalau ibu mas yang mendampingi mas selama ini? selama mas sakit. kalau sampai ibu tahu kalau mas berbuat seperti ini dia pasti sangat kecewa mas. aira tahu mas sangat menyayangi ibu kan?" ucap aira dengan suara lirih
razi tampak berpikir sejenak dengan tatapan kosong memikirkan ibunya yang merawat ia seorang diri sejak kecil
aira melihat ada sela dan mencoba melepas pegangan tangan razi padanya dengan sekuat tenaga
mata razi menatap tajam aira "jangan banyak tingkah kamu ya, kamu tahu aku seperti apa jadi jangan macam-macam denganku! " bentak razi yang tiba-tiba tersadar dari lamunannya lalu menatap tajam aira yang tengah berlari
"aku emang sayang sama ibu, tapi dia sudah tega membohongiku bahwa kau sudah meninggal dan membantumu untuk memproses perceraian kita" tambah razi kesal
"itu kamu tahu kalau kita sudah bercerai jadi lepaskan aku" ucap aira berniat pergi keluar dengan terus meronta agar tangannya di lepaskan
tapi razi menarik paksa aira menuju lantai atas dan mendorongnya ke dalam sebuah kamar yang cukup gelap hanya lampu luar lah dan cahaya bulan yang menerangi
" untuk apa mas bawa aira ke sini? " tanya aira ketakutan
razi tersenyum smerk mendorong aira ke atas ranjang "sekarang kamu layani aku" pinta razi membuka kancing kemejanya satu persatu
aira menutup tubuh bagian atas dengan kedua tangannya "aku gak mau mas, aku bukan istrimu jadi aku tak ada kewajiban sama sekali untuk melayani mu! " teriak aira
mendengar kata bukan istri razi merasa naik pitam mukanya merah padam dan mengeratkan giginya karena kesal
razi berjalan mendekati aira "kau selamanya akan jadi istriku hanya istriku dan hanya milikku! " balas razi berteriak
aira berangsur mundur kebelakang" tidak tidak tidak, jangan mas" ucap aira ketakutan
razi melangkah perlahan menghapiri aira "kalau kau gak mau melayaniku aku bisa menyiksamu jadi cukup patuh padaku saja maka aku tak akan melukaimu" bentak razi
" walaupun kau membunuhku pun aku tak sudi melayani mu! " teriak aira
razi makin kesal mendengar ucapan aira "kau lebih mencintai pria itu hah?!" teriak razi mulai kehilangan akal memukuli aira berulang-ulang kali dan juga merobek paksa pakaian bagian atas aira sampai terpampang gunung kembar aira yang tertutup kain berenda itu
dengan sisa kekuatannya aira meronta untuk dilepaskan, saat aira bisa lari ia sadar tak bisa lari jauh. ia mengambil gelas dihadapannya dan memecahkannya, mengacungkannya ke arah razi yang terus mendekatinya
"jangan mendekat! " ancam aira sambil menunjuk dengan pecahan gelas yang ia pegang
"apa kau ingin membunuhku? " razi tersenyum kecut melihat aira
"kau gak akan bisa" tambah razi mengejek aira
aira nampak berpikir kuat, harus apa, tentu aira tak punya keberanian melukai seseorang "aku memang gak bisa bunuh kamu mas karena aku bukan kamu yang sanggup membunuhku walaupun kau bilang kau mencintaiku tapi aku sanggup membunuh diriku" ucap aira mengarahkan pecahan gelas itu ke lehernya dengan menekannya perlahan
razi cemas melihat aira benar-benar menusuk lehernya, membuat darah mulai menetes dari leher aira "jangan ra kamu bisa terluka" ucap razi
"bukankah kau sudah melukaiku, lihat aku baik-baik mas" tunjuk aira pada bekas luka di tubuhnya yang terlihat cukup jelas karena razi merobek pakaian atasnya dan aira yang berdiri dekat pintu sehingga tersorot cahaya lampu dari luar ruangan
razi melihatnya dengan seksama dan "deg" jantung razi seakan berhenti melihat begitu banyak luka di tubuh aira, di bagian tangan dada di di bagian perut aira
"apa aku yang melakukannya? " tanya razi gemetar sambil mendekat ke arah aira, mengarahkan tangannya ke arah aira
"sudah ku bilang jangan mendekat" aira makin memperdalam pecahan gelas itu sampai darah segar mengalir dari leher aira lebih banyak
"lebih baik aku mati dari pada kau menyentuh ku" ucap aira mencoba menusuk gelas itu semakin dalam