Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
tersenyumlah selalu



“iya tadi aku ke sekolah aira untuk inspeksi” ucap kak david memaksakan senyumnya


Dylan mengangguk paham “kamu kapan pulang ke indonesia?” Dylan duduk di samping aira berhadapan dengan kak david


“belum lama ini” balas kak david


“aku dengar perusahaanmu ada masalah?” tanya Dylan berhati-hati agar tidak menyinggung kak david


Kak david mengangguk “kau tahu?” tanya kak david langsung mengernyitkan dahinya. bagaimana bisa dylan tahu perihal masalh perusahaannya


“tentu saja aku tahu,laporan penyelewengan dana perusahaanmu sudah masuk ke kantor” balas Dylan yang mengetahui dalam perusahaan kak david terdapat masalah penyelewengan dana perusahaan


David menyipitkan matanya “kok bisa ada laporan di kantormu?” tanya kak david


Dylan mengedikan bahunya “entahlah” balas dylan


“padahal aku sudah mewanti-wanti untuk tidak bocor keluar” kak david mengambil ponselnya berjalan


keluar untuk menelfon


Aira melirik Dylan suaminya “apa masalah perusahaannya serius?” tanya aira


Dylan mengedikkan bahunya “gak tahu ra, abang Cuma dengar sedikit saja, itu kan bukan bagian abang” balas Dylan yang memang tak bertugas di devisi yang mengurus penyelewengan dana (korupsi)


Aira mengangguk paham maksud dylan


Kak david masuk dalam rumah dengan terburu-buru “maaf ra, kakak harus ke kantor . kita ngobrol lain kali saja” ucap kak david berpamitan pada aira dan dylan


“iya kak” balas aira


kak david langsung bergegas pergi  dengan langkah cepat


dylan dan aira memperhatikan kepergian kak david “ viko mana?” tanya Dylan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumahnya


“viko tempat kak dino, dia nginep sana soalnya ibu sama ayah lagi pergi acara reuni gak bisa jaga viko, makanya pulang sekolah tadi viko pulang ke sana”balas aira


Dylan menggerlingkan matanya ke arah aira “berarti kita berdua doang dong?” tanya Dylan dengan


senyum nakalnya


“ya engga lah bang, kan ada bi inah” balas aira datar


Aira berjalan ke arah dapur untuk memanaskan makanan yang sudah ia masak tadi pagi


“yak kan bi inah nanti sore pulang ra” balas Dylan mengikuti langkah aira


Aira mengangguk “kalau itu iya, bi inah pulang nanti sore” balas aira mengambil piring di lemari untuk menaruh masakan yang baru ia panaskan dan  menatanya di atas meja


“kita makan apa ra?” tanya Dylan memeluk aira dari belakang


“makanan yang tadi pagi bang, aira capek kalau mau masak lagi, nanti pas makan malam lah aira masak


lagi” balas aira


“gak papa kok ra, masakanmu enak kok walaupun sudah di panasin berkali-kali ” balas Dylan mencium pipi aira gemas


Aira mencubit pinggang Dylan “abang, malu! nanti kalau bi inah masuk gimana?” aira melirik bi inah yang sedang menyetrika di ruangan tak jauh dari dapur


“ya gak papa sih ra, abang kangen semalem gak di temenin bobo” balas Dylan manja


“ya sudah makan dulu yuk” aira mengajak Dylan makan bersama di meja makan


***


Dylan dan aira berjalan menuju kamarnya setelah selesai makan “abang capek ra” keluh Dylan menempelkan dagunya di pundak aira


Aira mengelus kepala Dylan lembut “nanti aira pijitin deh biar capeknya ilang” balas aira


Dylan membukakan pintu kamarnya dan menutupnya kembali tak lupa mengunci pintu kamar “gak usah, kamu juga pasti lelah abis kerja” balas Dylan


“tapi kan abang nginep di luar semalem badannnya pasti sakit dan pegal-pegal” aira memposisikan dirinya memijat pundak Dylan


Dylan menangkap tangan aira yang berada di pundaknya,  menarik aira jatuh di atas pangkuannya “abang apaan sih? Kan aira mau mijit abang biar gak capek lagi” ucap aira


Dylan mendekat kewajah aira "ada hal lain yang bisa kamu lakukan untuk ngurangin lelah abang” ucap Dylan


menggerlingkan matanya


Aira mengangkat sebelah alisnya “maksud abang?” tanya aira bingung


“cup” Dylan ******* bibir aira


Dylan membaringkan tubuh aira dengan cepat “ini jauh lebih bisa ngurangin lelah abang” Dylan ******* kembali


benda kenyal aira dengan gairah “abang kangen kamu ra”Dylan mengecup leher jenjang aira meninggalkan tanda-tanda kepemilikan  di sepanjang kulit putih mulus tersebut


“aaaahhhhh” racau aira saat Dylan mulai membuka kancing bajunya, memberikan sentuhan-sentuhan


memabukkan disana


Dylan melucuti pakaian aira menyisakan benda berbentuk segitiga itu Dylan melepas bajunya membuat ia polos seperti bayi, tak lupa ia menarik benda segitiga itu dan melemparnya ke sembarang arah “I love you aira” ucap Dylan dengan suara memburu


“I love you more” balas aira


Dylan menghujam tubuh aira, membuatnya menjerit nikmat di bawah kungkungannya “aaaaahhhhh” seru


mereka berdua saat pelepasan


Dylan jatuh di atas tubuh aira mengecup kening aira cukup lama “terima kasih” ucap Dylan


Aira tersenyum mengangguk “iya, sama-sama abang” balas aira


Dylan turun ke bawah mengecup perut rata aira


“semoga kau cepat hadir, adik viko” gumam Dylan membuat aira terkekeh


Dylan membaringkan tubuhnya di samping aira memeluk istrinya erat “kenapa ketawa? Emang ada yang


lucu?” tanya Dylan


“enggak kok bang, Cuma lucu aja sama sikap abang” balas aira


Dylan tersenyum “abang senang melihatmu tertawa seperti ini ra” ucap Dylan


Aira menatap Dylan lekat “tetaplah seperti ini ya ra, tersenyum dan jangan pernah bersedih ataupun


terluka” ucap Dylan


Aira memeluk Dylan erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Dylan “ya abang buat aira selalu tersenyum terus ya” balas aira


“tentu, abang akan selalu buat kamu tersenyum bahagia” balas Dylan


****


1 bulan kemudian


Aira, Dylan dan viko mengantar keberangkatan razi ke bandara.


Dylan menemani viko, agar mengucapkan salam perpisahan pada ayah kandungnya itu,  tapi mereka berdua


sama-sama membuang muka tak mau bertegur sapa, ya mungkin karena mereka ayah


dan anak jadi punya tabiat sifat yang sama “terima kasih ya nak Dylan, sudah mau repot anter viko kesini” ucap mama rania


“gak masalah tan, biar gimanapun razi kan tetap ayah viko jadi viko harus nganter dia” balas Dylan tersenyum ramah


“aku gak butuh anak ini mengantarku, yang aku inginkan aira yang mengantarku” ucap razi


Dylan mengeratkan rahangya kesal pada razi “kau fikir setelah perbuatanmu padanya ? Di sudih


bertemu denganmu!” kesal Dylan memberikan tatapan tajam pada pria yang terkesan tidak tahu diri itu


Razi membuang mukanya kasar tak mau berdebat dengan Dylan mengingat nasehat mamanya yang selalu mengingatkan razi untuk berterima kasih pada dylan karena mau melepaskan razi dan mau membesarkan anak kandung razi seperti anak kandungnya sendiri.


Mami rania tak enak hati pada dylan “ya sudah kami pamit dulu ya dylan, tolong jaga viko ya nak Dylan” ucap mama rania menatap viko “jaga baik-baik dirimu ya sayang” ucap mama rania memeluk viko cucu satu-satunya yang ia miliki tapi harus terpisah jarak karena perbuatan anaknya


“iya nek” balas viko sopan dan memeluk neneknya erat


Melihat razi dan mamanya sudah memasuki area penerbangan, aira menghampiri Dylan dan viko “pulang yuk”ajak aira


“kita jalan-jalan dulu yuk”balas Dylan


“emang, abang gak balik kantor?” tanya aira


Dylan terkekeh “tugas abang kan nganter razi hari ini, dan dia sudah pergi, jadi gak papa lah kalau


bersantai sebentar” Dylan hari ini memang mendapat tugas mengantarkan razi sampai bandara untuk terbang ke luar negeri


“kakak ini” ucap aira menggelengkan kepalanya


“yuk viko” Dylan menggedong tubuh viko sambil sebelah tangannya merangkul pinggang aira