
askar masih membungkuk ke arah dokter ken dan keluarganya "aku benar-benar minta maaf dok" ucap askar dengan rasa penuh penyesalan
dokter ken menghela nafas panjang "aku tahu ini bukan kesalahanmu askar tapi anakku sedang mengandung anakmu walupun aku tahu dia hamil bukan karena kau menyentuhnya" terlihat jelas raut bingung dokter ken "sekarang jadi aku harus apa? " tanya dokter ken bingung apa yang harus ia lakukan selanjutnya
askar menoleh ke arah maminya "maafkan askar mih, maaf jika membuat mami menangis karena memikirkan askar " ucap askar yang merasa bersalah pada wanita yang melahirkannya, mami nya harus menangis akibat ulah istrinya
"ini bukan kesalahan kamu askar, tapi gara-gara ketakutan berlebihan istri kamu itu. padahal kamu maupun keluarga kita tak ada yang pernah menuntut dia memberikanmu keturunan. berkali-kali kita kasih dia pengertian bahwa tak masalah jika tak punya anak tapi dia hanya sibuk dengan ketakutannya sendiri" amarah mami aira yang tertahan sedari tadi meluap begitu saja karena saking kesalnya pada tingkah syakia yang bukan hanya menyakiti satu orang tapi 3 keluarga sekaligus
papi frans menatap keluarga besannya dengan tatapan penuh penyesalan "maafkan perbuatan putriku ra, maaf" ucap papi frans menyesali perbuatan putrinya
askar berjalan ke arah jeni dan berjongkok di hadapan jeni "maaf karena sudah merusak masa depanmu jeni" ucap askar meraih tangan jeni
tangis jeni makin pecah " jeni belum siap punya anak kak, jeni masih 20 tahun dan masih kuliah kak" ucap jeni dengan suara sesenggukan
"maunya kamu gimana? " tanya askar mengeratkan genggamannya pada jeni membuat hati syakia teriris saat melihatnya tapi ia bisa apa
"jeni gak tahu kak" balas jeni menunduk
"gugurkan saja kandungannya, mumpung masih jalan 5 minggu" celetuk dokter ken
"membunuh nyawa yang tak bersalah itu bukan solusi kak" sahut papi dylan tak ingin menghilangkan nyawa tak bersalah walaupun itu baru sebesar biji kacang
"terus harus apa? jeni melahirkan tanpa suami atau jeni jadi istri kedua askar hah?! " ucap dokter ken kesal
"mana mungkin anakku punya madu" sahut mami gisela tak Terima jika suami anaknya punya dua istri
"terus anakku harus melahirkan tanpa suami? karena perbuatan anak kamu itu" kesal aunty riska menatap tajam mami gisela
askar menarik nafas dalam "kamu gimana jeny? " tanya askar lirih
"gak tahu kak" sahut jeni yang memang bingung harus apa
askar menoleh ke arah syakia dengan masih posisi berjongkok "karena kamu yang memulainya jadi kamu yang memutuskan harus bagaimana, aku akan menuruti keinginanmu sebagai seorang suami yang punya tanggung jawab membimbing mu" ucap askar
syakia menatap manik mata askar dengan isak tangis "kamu nikahi jenny, aku siap di madu" tangis syakia langsung pecah setelah berucap itu dan langsung memeluk maminya erat untuk menyalurkan sakit hatinya harus berbagi suami
"kamu yakin mau di madu? " tanya askar dengan menahan sesak di dadanya
syakia mengangguk tanpa suara dalam pelukan mami gisela
sebenarnya hatinya sungguh tak rela tapi apa daya jika ini adalah kesalahannya bukan kesalahan suaminya
askar menoleh ke arah papi dylan "bisa minta tolong pih untuk urus ini" pinta askar dan di balas anggukan oleh papi dylan
askar kembali menoleh ke arah jenny "karena kau hamil anakku akan bertanggung jawab penuh dengan menikahi mu" ucap askar menoleh ke arah dokter ken yang tepat di sebelah jenny "sekali lagi maafkan saya dokter, saya akan bertanggung jawab penuh pada jenny" ucap askar
askar berdiri dengan tubuh yang sudah lelah "aku mohon maaf semuanya, hari ini aku begitu lelah jadi ingin beristirahat" askar berjalan ke arah kamar tamu yang ada di lantai bawah
"askar, kamar kita kan di atas" teriak syakia melihat langkah kaki suaminya
askar terdiam sejenak " kamu pikir aku akan sanggup melihatmu sekarang " askar kembali melanjutkan langkahnya kembali menuju kamar tamu
" gak pi, suamiku di sini" balas syakia tak ingin pergi meninggalkan suaminya
papi dylan melirik besannya itu "ini sudah menjelang pagi frans, lebih baik kalian semua menginap di sini, kami masih punya banyak kamar kosong, nanti biar pembantu di rumah ini akan menyiapkannya" ucap papi dylan
dokter ken melirik papi dylan "kapan kau menikahkan jeni dan askar? " tanya dokter ken
"besok" balas papi dylan dengan tegas
***
askar dan jeni kini benar-benar sudah sah sebagai suami istri di mata hukum dan negara.
pernikahan pasangan itu tanpa memakai gaun pengantin, tanpa pesta ataupun kebahagiaan yang ada hanya linangan air mata kesedihan saat askar mengucap janji suci itu
askar menatap kedua orang tua syakia dan juga kedua orang tua jeni "saya berjanji pada kalian akan berusaha adil untuk keduanya tapi jika menurut kalian saya tak adil kalian bisa mengingatkan saya sebagai menantu kalian" ucap askar berusaha bijak
"aku tak ingin memaksakan kau mencintai putriku askar, setelah jeni melahirkan nanti kalian bercerai saja, nanti kalian bisa merawat anak itu bersama-sama" balas dokter ken tak ingin memaksakan pernikahan anaknya untuk bertahan lama karena pernikahan terpaksa itu
"kita bicarakan itu nanti yandok, untuk sekarang aku akan menjaganya sebagai istri dan ibu dari anakku tapi aku janji tidak akan memaksakan kehendak pada jenny aku akan menyerahkan semua keputusan di tangan jenny" ucap askar
mata syakia berlinang begitu saja mendengar kata ibu dari anakku dari mulut suaminya.
anak dengan wanita lain yang sekarang jadi istri sah suaminya
mami gisela mengusap bahu anaknya "sabar sayang, ini adalah jalan yang kamu ambil jadi kamu harus Terima" ucap mami gisela
"iya syakia" sahut papi frans
" aku tahu itu, tapi rasanya begitu sakit melihat suamiku menikahi wanita lain" balas syakia masih terisak
*
askar berjalan masuk dalam kamarnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri setelah menjalani sesi obrolan setelah acara pernikahan dadakannya
"askar" panggil syakia saat melihat askar melewati dirinya
" aku ingin bebersih dulu" ucap askar masuk kamar mandi melewati syakia begitu saja
syakia kembali menangis "maafkan aku askar" ucap syakia masih terisak
askar menyandarkan punggungnya di pintu mendengar setiap ucapan syakia yang begitu memilukan bagi askar
"aku tak tahu harus apa syakia" gumam askar
"kau membuatku tak bisa berucap apapun. aku benar-benar bingung" gumam askar kembali terisak
entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah dari keduanya akibat kesalahan syakia yang membuat suaminya sendiri menghamili anak gadis orang lain