
Rino berjalan menuruni tangga menuju dapur untuk minum
“kau masak?” tanya rino melihat sudah ada makanan di atas meja
“iya, makan dulu mas” pinta zeta
rino menarik kursi dan duduk di hadapan zeta “mas mau makan apa? Mau di ambilin atau ambil sendiri?” tanya zeta
“ah sendiri saja” balas rino mengambil makanan untuk dirinya
“kau sudah rapih? Mau pergi?” tanya rino memindai zeta yang sudah rapih berpakaian
“ah mau beli beberapa keperluan rumah, sama sekalian beli pakaian untuk wawancara besok” balas zeta
“kau sudah dapat panggilan wawancara yang kedua?” tanya rino
“sudah, besok jam 2 wawancaranya” balas zeta
Rino mengambil dompetnya, dan mengambil salah satu kartu miliknya “nih ambil” rino menyerahkan salah satu
kredit card miliknya
Zeta melirik kartu yang diserahkan padanya “buat apa?” tanya zeta
“ya buat beli keperluanmu lah” balas rino
“aku punya kartu sendiri kok mas, jadi gak perlu” balas zeta tak enak hati menerima uang rino
“sudah ambil saja, lagian ayahmu pasti sudah membekukan kartu milikmu. Secara rumah dan saham sekarang atas namaku jadi pasti dia kesal padamu” balas rino mengingat semua aset yang dimiliki keluarga zeta sudah pindah tangan atas namanya
“ya sudah, terima kasih mas” zeta mengambil kartu yang diberikan rino
Rino menyuapkan makanan masakan zeta ke mulutnya “kamu masak sendiri?” tanya rino
“iya, kenapa mas? gak enak ya?” tanya zeta
“lumayan kok” balas rino kembali menyuapkan makanan ke mulutnya
“oh ya tadi kakakmu menelpon, katanya barang-barang kamu akan ia kirim ke rumah sore nanti. Jadi kamu pulang sebelum kakakmu datang ya” pinta rino
“iya mas” balas zeta mengangguk
“dan soal pembantu, mungkin minggu depan baru bisa datang kesini” tambah rino
“iya, gak masalah mas” balas zeta
rino menyudahi makannya “ ya sudah, mas kerja dulu ya” pamit rino
Zeta berdiri dan menghampiri rino dan mencium punggung tangan rino “hati-hati ya mas” ucap zeta tersenyum
“ya” rino bergegas berjalan keluar rumah dengan diikuti zeta yang mengantarkan
“oh ya, kau gak punya mobil?” tanya rino yang hanya melihat mobilnya di rumah
“tidak, kemarin sebelum kita menikah ayah menariknya” balas zeta
“ya sudah, besok aku belikan yang baru untukmu” ucap rino
“gak usah mas, aku masih bisa
pakai kendaraan umum kok” balas zeta
Rino mengangkat tangannya “jangan membantah” ucap rino bergegas masuk mobilnya
***
Zeta menuju rumah keluarga rino dengan beberapa bingkisan di tangannya
“permisi” ucap zeta pada satpam rumah keluarga mailans
“pak subrata dan ibu mardiana ada?” tanya zeta sopan
“ada nona, anda siapa ya? Dan ada perlu apa?” tanya pak satpam
“saya zeta pak, ada perlu sama pak subrata dan ibu mardiana” balas zeta
“ya sudah, tunggu dulu ya nona, saya tanya tuan dulu” balas pak satpam bergegas masuk rumah untuk bertanya kepada pemilik rumah
“tuan” panggil pak satpam
“iya pak, ada apa?” balas ayah subrata
“itu tadi ada orang yang cari tuan dan nyonya” balas
pak satpam
“siapa?” tanya ayah subrata
“katanya sih namanya zeta” balas pak satpam
“ya ampun, itu istrinya rino. Suruh dia masuk” ucap ayah subrata
“baik tuan” balas pak satpam segera berlari ke luar
“bu bu bu” panggil ayah subrata
“ada apa sih yah? teriak-teriak” tanya ibu mardiana yang berlari karena teriakan ayah subrata
“itu zeta datang kemari” ucap ibu subrata
“kirain ada apa?” balas ibu mardiana bergegas pergi
“bu” ayah subrata menahan tangan ibu mardiana yang akan pergi
“ya ibu harus gimana yah, ayah juga gak pernah mau
tanya pendapat ibu, ayah mutuskan semuanya seorang diri” balas ibu mardiana yang masih kesal
“ayah minta maaf bu” balas ayah subrata
Zeta yang baru masuk rumah tak sengaja mendengar pertengkaran mertuanya itu
“maafin zeta ya yah, bu” zeta menatap ayah subrata
dan ibu mardiana secara bergantian
Ayah subrata menghampiri zeta “kamu gak salah nak”
ucap ayah subrata tak enak dengan zeta dan mengajaknya duduk
“ini zeta bawa buah tangan untuk ayah dan ibu” ucap zeta menyerahkan bingkisan pada ibu mardiana dan ayah subrata
“kok repot-repot sih? Ngomong-ngomong kamu kesini
sama siapa? Rino antar kamu?” tanya ayah subrata
“zeta kesini naik taksi yah” balas zeta
“dasar anak itu, kenapa biarin istrinya naik taksi”
ucap ayah subrata kesal
“mas rino gak tahu kalau zeta datang kesini makanya
dia gak ngantar. Lagian dia sibuk kerja jadi zeta gak mau ganggu kerjaan mas rino” balas zeta
“bagus deh kalau kamu sadar” ucap ibu mardiana lirih
“jangan gitu bu” ucap ayah subrata
“ya kenapa? Emang ibu ngomong apa?” tanya ibu mardiana kesal
“zeta minta maaf kalau zeta bikin ibu kesal. Zeta gak ada maksud maksa mas rino nikahin zeta” ucap zeta lirih
Ibu mardiana menghela nafas panjang “saya kesal bukan karena kamu sebenernya tapi karena ayahnya rino yang suka buat keputusan sendiri tanpa bertanya pada saya yang jelas-jelas istrinya” balas ibu mardiana tak enak
hati pada zeta
“maaf bu" balas zeta menunduk
Ibu mardiana menggenggam tangan zeta “sudahlah, toh
sekarang kamu sudah jadi istri rino, cukup jadi istri yang baik dan bisa mengurus suamimu dengan baik saja” ucap ibu mardiana
“iya bu, zeta janji akan jadi istri yang baik buat mas rino” ucap zeta yakin
“kamu bawa apa?” tanya ibu mardiana melirik bawaan
zeta
“ah ini zeta nanya sama mba aira katanya mama suka makanan di tempat ini, jadi zeta kesana pagi-pagi untuk membelinya” balas zeta menunjukkan kue yang lapis legit yang di sukai ibu mardiana
Ibu mardiana membukanya “wah sudah lama banget ibu gak makan ini. Biasanya cepat habis jadi ibu jarang bisa beli kesana” ucap ibu
mardiana
“iya tadi abis mas rino kerja, zeta langsung kesana jadi masih sempet beli buat ibu” balas zeta tersenyum ke arah
“rino bikin kamu repot gak?” tanya ibu mardiana
Zeta menggeleng “enggak” balas zeta bingung
“rino itu suka pilih-pilih makanan, jadi takut ngerepotin kamu, soalnya biasanya dia gak suka masakan bibi hanya suka masakan ibu” balas ibu mardiana
“tadi sih mas rino makanya lumayan banyak sih bu,
tapi zeta gak tahu masakan zeta enak enggak. Soalnya biasanya zeta masak buat kakak-kakak zeta saja” balas zeta
“kamu masak sendiri di rumah?” tanya ayah subrata
“iya yah, kata ayah zeta, dia gak suka masakan pembantu jadi
biasanya zeta yang masak” balas zeta
“kamu nginep sini, apa pulang?” tanya ibu mardiana
“kayanya pulang deh bu, soalnya zeta mau belanja keperluan rumah dan mas rino pesennya sore zeta harus sudah di rumah” balas
zeta
“ya sudah kita belanja bareng saja, kebetulan ibu juga mau beli baju buat cucu-cucu ibu,
kebetulan bentar lagi ulang tahun ayah jadi pasti mereka semua kumpul disini”
ucap ibu mardiana
“iya bu” balas zeta mengangguk
ayah subrata menggenggam tangan ibu mardiana "Terima kasih ya bu sudah menerima anak diandra" ucap ayah subrata
"diandra juga sudah aku anggap adik sendiri jadi ibu gak pernah benci anak-anak yang. ibu hanya gak suka cara ayah kemarin yang terlalu tergesa-gesa" balas ibu mardiana
"iya bu, maaf" balas ayah subrata