
***
Eila tengah terpaku dengan kegiatannya menggores kuasnya di atas kanvas, ia begitu hanyut dalam dunianya
“ah, kenapa juga kebayang dia” kesal eila yang merasa lukisannya terkontaminasi oleh pikiran eila yang teralihkan oleh seorang
pria dingin yang membuat ia begitu kesal karena terus menerus mengganggunya untuk meminta lukisan yang terpajang di dinding galeri tempat eila bekerja
Janet menghampiri eila yang sedang menggerutu tak jelas, seolah mengajak kuas yang di gunakan untuk melukis sebagai lawan bicaranya “kenapa nona?” Tanya janet
“lihat deh lukisanku jelek” tunjuk eila pada lukisan pemandangan hutan, tapi hutan tersebut Nampak awan gelap dengan sebuah
kupu-kupu yang berlarian
Janet memperhatikan lukisan eila dengan seksama “walaupun nuansanya gelap tapi bagus kok nona, terkesan banyak cerita di dalamnya” ucap janet mengomentari lukisan eila yang menurutnya cukup bagus
“ah tetap saja jelek” kesal eila meninggalkan lukisannya begitu saja
Janet membawa lukisan eila ke area yang lebih teduh di dekat jendela ruangan yang di jadikan eila sebagai tempat melukis dan penyimpanan lukisan yang baru masuk galeri
Janet mulai melaksanakan pekerjaannya untuk memeriksa setiap detail lukisan yang ada di dalam galeri
“dimana nona mu itu?” Tanya seorang pria
Janet menoleh “nona sedang ada di ruangannya” balas janet
“kalau gitu panggil dia” ucap pria tersebut yang Tak lain adalah daren
“maaf tuan saya tidak berani mengganggu nona saat ini, nanti saya kena semprot lagi, tadi mood nona saya sedang tidak baik karena hasil lukisannya kurang memuaskan dirinya” balas janet
daren mengerutkan keningnya “memang lukisannya seperti apa?” Tanya daren
Janet membungkuk “ maaf tuan, itu bukan kapasitas saya untuk menjawab” balas janet sopan
"dasar wanita itu. Mentang-mentang ada orang-orang
besar di sekelilingnya jadi sombong dia" kesal daren berlalu pergi
Daren keluar ruangan, dan entah ada angin apa ia memilih berjalan lewat samping galeri padahal untuk sampai parkiran, melewati jalan itu akan menjadi jalan
memutar
“tuing” sebuah pesan masuk
Daren mengambil ponselnya yang berada di saku celananya untuk mengecek pesan tersebut “tuan, apa tidak bisa anda menaruh lukisan anda di galeri saya?” isi
pesan tersebut
Daren langsung membalas “tidak” daren menyimpan kembali ponselnya dan melanjutkan kembali langkahnya
Langkahnya terhenti, matanya tertuju pada sebuah lukisan “kenapa perasaanku familiar dengan lukisan itu” gumam daren memicingkan matanya ke arah lukisan eila yang belum rampung itu
daren menggelengkan kepalanya, mengalihkan pikiran yang mendera kepalanya "ah, sudah lah” gumam daren bergegas pergi
***
Syakia tengah sibuk berkutat dengan layar komputernya dan begitu fokus
levi mengetuk meja kerja syakia “syakia, tuan askar belum makan” ucap levi
Syakia mendongak ke atas “ah iya kak akan aku pesankan” syakia
langsung bergerak secepat kilat untuk membeli makanan yang sekiranya askar sukai
“tok tok tok” syakia mengetuk pintu ruangan askar
“masuk” ucap askar
“pak, ni makanannya saya taro meja atau saya langsung saya hidangkan di piring" Tanya syakia
Askar mendongak “kok kamu yang beli, levi mana?” Tanya
askar
“lagi bantu kak arka” balas syakia
askar berjalan ke arah sofa, dan syakia langsung menyajikannya di meja
“gimana pekerjaanmu sudah beres? ingat ya 2 jam lagi batas terakhirnya” ucap askar
syakia menunjuk map merah yang ada di atas meja kerja askar “itu ada di meja bapak” jawab syakia tersenyum
askar nampak memicingkan matanya “jangan lupa janji dengan pak hartono” tambah askar
“sudah beres pak, jam 4 nanti sudah janji di restoran xxx dan sudah saya booking" balas
syakia cepat
Askar menghela nafas panjang, dia selalu berusaha mencari
kesalahan syakia tapi pekerjaan syakia begitu yang begitu sempurna membuat askar tak
mempunyai celah untuk memecat syakia
“ya sudah kau keluar sana” pinta askar
“aku pengen lihat kamu makan” balas syakia
“kamu sudah dua minggu di sini, apa kamu tak lelah?” dua minggu syakia bekerja bersama askar dan kegiatan syakia selalu menunggu askar makan padahal askar tak mempersilahkan syakia duduk ataupun sekedar basa-basi mengajak syakia makan
“tidak bosan” balas syakia datar
“aku tuh gak bakal suka kamu syakia jadi stop usaha buat dekati aku” balas askar
“gak ada salahnya berusaha sampai titik penghabisan” balas syakia
“terserah kamu deh” balas askar yang sudah lelah berdebat dengan syakia
“jangan sedih askar, 2 minggu lagi aku di sini, setelah itu kau tak perlu melihatku” ucap syakia tersenyum pada askar
Senyum manis yang selalu di abaikan askar sejak
bertahun-tahun yang lalu
Setelah selesai menunggu askar makan syakia keluar ruangan askar untuk membuang sampah makanan askar
“kamu abis makan syakia?” Tanya arka lirih
“tidak, ini makanan sisa pak askar” balas syakia menunjuk kantong keresek yang ia bawa
“kau belum makan? Ini jam 2 loh?” Tanya levi
“belum sempat” balas syakia
“kebiasaan kamu nih selalu nunggu tuan makan” tambah levi
Arka langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi tuannya “tuan saya izin 1 jam
boleh?” Tanya arka
“untuk apa?” Tanya viko dari seberang telpon
“makan tuan, saya belum sempat makan tadi sibuk ngobrol kerjaan sama levi” balas arka
“ya sudah, makan dulu jangan sampai kau sakit” balas viko mengakhiri telponnya
Arka menoleh ke arah levi “aku ajak syakia makan dulu ya, jangan bilang kalau kita sudah makan” ucap arka
“ya kak” balas levi
Arka menggandeng tangan syakia menuju lift dengan sedikit memaksa “aku gak lapar kak” rajuk syakia
“sudah, jangan ngeyel” balas arka tak ingin di bantah sama sekali membuat syakia terpaksa menurut
“ting” syakia dan arka memasuki pintu lift
Bertepatan dengan askar yang keluar ruangannya “kemana
tuh syakia” Tanya askar melirik ke arah lift
“makan tuan” balas levi
“cih, gak tahu waktu makan apa jam segini kok baru keluar makan” ledek askar
“kayanya tadi nungguin tuan makan deh, sampai syakia lupa makan, tuan juga gak sekalian ajak syakia makan padahal makanannya tadi kayanya banyak“ sahut levi
“kamu nyalahin saya?” Tanya askar dengan raut wajah kesal
“ya gak gitu tuan, syakia kan manusia juga butuh makan jadi biarin dia makan, gak sampai satu jam juga dia balik, dia itu makan
gak pernah lewat setengah jam, katanya terlalu takut kehilangan momen dengan tuan” ucap levi bergegas menuju ruangannya
"mas sih” gumam askar
Dan entah dorongan dari mana, askar menunggu di meja sekertaris dengan melihat arlojinya untuk menghitung mundur waktu
“ah palingan levi yang melebih-lebihkan” gumam askar
melirik jamnya yang 2 menit lagi tepat 30 menit syakia pergi
Viko beranjak dari duduknya dan terdengar “ting” bunyi pintu lift
Askar menoleh ke arah lift dan benar saja itu syakia
“bapak ada perlu?” Tanya syakia
Askar menggelengkan kepalanya “tidak” balas viko kembali ke ruangannya
Viko menutup pintu kasar dan menyadarkan tubuhnya di pintu, askar memegang dadanya “kenapa ini” gumam askar merasa
debaran jantungnya yang begitu cepat
“enggak, enggak askar, itu hanya karena kamu kaget saja” gumam askar mengangguk membenarkan ucapannya sendiri