Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Kontak batin (season)



askar sudah memakai pakaian tidur dan berjalan menghampiri syakia "karena ini malam pertamaku dengan jeni setelah kita menikah jadi aku akan tidur dengannya" ucap askar bergegas keluar kamarnya


"apakah kau harus mengingatkanku bahwa suamiku baru menikah dengan wanita lain ? " tanya syakia lirih


askar menghentikan langkahnya "ini adalah jalan yang kau pilih bukan aku jadi jangan coba menuntut apapun" balas askar datar keluar kamar dan menutup pintu kamarnya dan syakia dengan pelan


askar berjalan ke lantai bawah yang ada keluarganya sedang makan malam " keluarga dokter ken mana? " tanya askar


"mereka sudah pulang, dan jenny ada di kamarnya" mami aira melirik kamar di lantai bawah yang sekarang jadi kamar pribadi jenny


"aku panggil dia untuk makan ya mi" ucap askar


"iya" balas mami aira


viko menghampiri mami aira dan mengusap lengan mami aira "jangan terlalu bersedih mam, kita dampingi askar saja biar dia kuat menjalani ini semua" ucap viko


"iya sayang" balas mami aira


"tok tok tok" askar mengetuk pintu sebelum masuk kamar jeni


"masuk saja, tidak di kunci" ucap jenny mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk


"ini sudah jam makan malam jenny, ayo makan" ajak askar


"gak lapar kak" balas jeni


askar menghampiri jeni dan duduk di sebelahnya " sekarang ada nyawa di sini yang juga butuh makan" askar mengusap perut jeni


ada rasa hangat yang jeni rasa saat askar mengusap perutnya "makan ya" ajak askar lagi


jeni akhirnya mengangguk "iya kak" balas jeni


askar membawa jenny duduk di kursi paling ujung, dekat dengannya dan di sisi sebelahnya sudah ada syakia di sana


"selamat datang di keluarga mahardika jeni" ucap papi dylan menyambut jenny yang sekarang jadi bagian keluarga besarnya, istri dari anak bungsunya


"iya om" balas jeni


"sekarang kamu istri askar jadi jangan panggil om tapi panggil papi sama seperti syakia" ucap eila melirik tajam syakia


syakia berusaha tersenyum "iya jeni, sekarang kan posisi kita sama sebagai menantu jadi panggil dengan sebutan papi" sahut syakia berusaha ramah dengan madunya


"baik lah. papi" sahut jeni


askar membantu jeni mengambil makanan dan mempersilahkan jeni makan "ayo di makan jen, ini kan makanan kesukaan kamu" ucap askar yang tahu betul makanan kesukaan jenny


"iya kak" jeni menyuapkan makanan ke mulutnya


"hoek hoek " jeni menutup mulutnya "maaf" jeni langsung berlari masuk kembali ke kamarnya


askar melirik pembantunya " bik nanti bawain makanan saya dan jenny ke kamar ya" ucap askar pada pembantunya


"baik tuan muda" balas pembantu keluarga askar


"maaf semuanya sepertinya aku makan di kamar saja" ucap askar menyusul jenny ke dalam kamar


"iya nak, temani jeni ya" balas mami aira


air mata syakia tumpah begitu saja kala melihat suaminya pergi menyusul madunya


"oma tahu pasti sakit rasanya, tapi ini adalah hasil perbuatanmu" ucap oma diana mengingatkan


"oma" ara menggenggam tangan syakia menguatkan dan meminta oma diana agar tidak memojokkan syakia lagi


syakia memanggil bibi yang baru keluar kamar jeni "bi bawain makanan aku ke atas ya" pinta syakia


"maaf semuanya, aku makan di atas saja" ucap syakia bergegas naik ke kamarnya


"ya aku harus gimana ara? " balas eila merasa tak bersalah


"aku tahu kalian kecewa dengan sikap syakia tapi harusnya kalian tahu dia selama ini tertekan karena tak bisa hamil-hamil dan sekarang dia harus merelakan suaminya menikahi wanita lain. itu adalah hal yang berat eila" ucap ara


"aku tahu itu ara, tapi aku mengenal jenny sejak jenny masih di dalam perut ibunya jadi bagaimana bisa aku bisa diam saat ada yang melukainya" balas eila


"tapi gak gitu eila" sahut ara


eila merasa tak suka saat di tegur kakak iparnya "oke" eila menarik daren "ayo kita pulang" ajak eila pada daren


"maaf semuanya" ucap daren pamit pulang


"mih nanti aku, ara dan Gilang juga ikut pulang ya, kabari kami jika terjadi apa-apa" ucap viko berpamitan pada mami nya


*


askar masih setia memijit tengkuk jeni yang harus memuntahkan semua isi perutnya, padahal ia belum makan dari siang karena terlalu gugup setelah menikah dengan askar tadi pagi


"sudah" tanya askar pada jenny yang menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar mandi


"sepertinya sudah kak" askar membantu jenny untuk berjalan masuk kamar dan mendudukkan di tepi ranjang dan menyandarkan tubuh jeni di sandaran ranjang


"apa kau sering seperti ini? " tanya askar


"baru seminggu ini kak" balas jeni memejamkan matanya


jeni memijit sela di antara alisnya untuk mengurangi rasa pusing yang mendera tubuhnya


"sini aku bantu" askar mengambil alih untuk memijit kepala jenny


"kakak makan saja, tadi kan belum makan" ucap jeni


"nanti kita makan bareng saja" balas askar


jeni menggeser tangan askar " maaf ya kak, udah ngerepotin" ucap jeni merasa bersalah karena mengganggu makan askar


"enggak jeni, kamu kan kaya gini karena sedang hamil anak kakak" balas askar


askar mengambil piring berisi makanan di atas nakas "ya sudah, kakak suapi ya" askar nyuapi jeni makan


"jadi keinget kakak dulu sering suapin jenny makan" ucap jeni mengingat masa kecilnya yang sering di suapi askar


askar tersenyum "iya dulu waktu kamu kecil kan selalu minta di suapin kakak atau kak viko ketimbang kakak kamu sendiri si rafa" balas askar


"kamu kalau pagi sering mual? " tanya askar lagi


"sepertinya tidak" balas jeni menggelengkan kepalanya


"mungkin kita gantian kali mualnya, soalnya kakak setiap pagi mual jadi malas makan kalau pagi" balas askar


"masa sih kak" sahut jeni


askar ikut menyuapkan makanan ke mulutnya setelah menyuapi jeni "iya, kalau gak percaya coba tanya mami, hampir tiap pagi mami kerokin kakak karena di kira masuk angin tapi tentu gak merah sama sekali " kekeh askar mengingat hampir setiap pagi meminta mami aira mengerok nya karena syakia yang tak bisa melakukannyap


"kok bisa gitu? " tanya jenn


askar mengusap perut jeni "mungkin kontak batin anak dan ayahnya kuat" ucap askar


"bisa gitu ya kak" tanya jeni


jeni dan askar yang memang akrab sedari kecil bisa bicara dengan santai dan tanpa beban sedikitpun walaupun masalah besar yang sedang mereka alami


di lantai bawah askar dan jenny terus mengobrol banyak hal berbeda dengan lantai atas kamar syakia berada, dirinya benar-benar merasa kosong, hanya dirinya yang berada di lantai atas karena anak mami aira yang lain tak ada yang menginap jadi kamar atas kosong tak ada penghuni selain dirinya. Syakia menangis sesenggukan seorang diri