
aira dan viko datang ke ruang tamu. viko langsung berlari memeluk neneknya
" nenek viko mau jalan-jalan sama mami" ucap viko girang karena akan ikut dengan maminya pergi keluar
"apa kau sesenang itu jalan-jalan sama mami" tanya ibu mardiana
"tentu saja senang nek, sudah lama sekali viko gak jalan-jalan sama mami, terakhir kan waktu mami mau masuk rumah sakit" balas viko sedih mengingat dirinya pergi saat ulang tahunnya tapi malamnya tragedi itu terjadi
ibu mardiana mencoba mengalihkan kesedihan viko "oh ya, ini om dylan yang mau ngajak kamu dan mami jalan-jalan" ucap ibu mardiana menunjuk dylan
dylan tersenyum " Hai viko" sapa dylan melambaikan tangannya
"eh ternyata om yang ngajak kita jalan-jalan" ucap viko tersenyum pada dylan
aira mengusap kepala viko "kamu kenal dengannya nak? "tanya aira
" iya mi, tadi viko ketemu di sekolah dan kami berkenalan, om dylan bilang sih kalau dia teman mami " balas viko
"ya sudah ceritanya di jalan saja, lebih baik kita jalan sekarang biar gak kemalaman" ajak dylan
"tante, kak rino kita pergi dulu ya, dan nanti aku pasti membawa pulang aira dengan selamat" ucap dylan tersenyum
"iya" balas ibu mardiana dan kak rino serempak
dylan, viko dan aira menuju parkiran dimana mobil dylan berada, pandangan itu tak lepas dari penglihatan ibu mardiana dan kak rino
"semoga adikmu bisa lupa dengan kesedihannya dengan adanya dylan ya nak" ucap ibu mardiana
" iya bu, semoga saja. aku tahu bagaimana dylan sangat menyayangi adikku cuma sedikit kesalahannya saja dulu sampai mereka berpisah " balas Kak rino
sesampainya di restoran dylan menggandeng viko dan aira masuk dalam restoran. mereka berjalan seolah pasangan suami istri yang sedang mengajak anak mereka makan
" ayo kita makan" ucap dylan tersenyum pada viko
"mas" panggil dylan pada pelayan restoran
pelayan memberikan menu pada dylan " silahkan memilih menu apa" ucap pelayan
"viko mau makan apa? " tanya dylan memberikan buku menu pada viko
" viko mau ini, ini, ini, ini" tunjuk viko pada menu restoran itu
" ya sudah" dylan menginstruksikan menu apa saja yang akan di pesan pada pelayan
" kok om gak tanya mami mau makan apa? " tanya viko saat melihat pelayan pergi tanpa bertanya pada aira
" karena om tau semua makanan kesukaan mami kamu" balas dylan tersenyum ramah
dylan beralih menatap aira " masih sama seperti dulu kan? " tanya dylan pada aira
" iya" balas aira mengangguk
pelayan membawakan semua makanan pesanan dylan ke meja makan membuat aira memicingkan matanya
"abang gak salah pesan sebanyak ini? " tanya aira melihat banyaknya pesanan dylan
" gak, lagian kan ini semua masakan kesukaan kamu" balas dylan
" tapi gak mungkin juga kita bertiga bisa habisin ini semua bang" ucap aira merasa pesanan dylan terlalu banyak
"ya tinggal di bungkus, terus bawa pulang" balas dylan enteng
"emang abang gak sayang sama uang gajian abang yang abis buat makan kita berdua" balas aira
" gak, lagian jarang-jarang juga abang beliin kamu makanan. mau kamu minta beliin makanan tiap hari juga boleh" ucap dylan tersenyum
"makasih ya om, diajak makan makanan enak kaya gini, terus nanti om jadi bawa viko jalan-jalan kan? " tanya viko semangat
" viko senang banget sih mau jalan-jalan? " tanya dylan mengelus kepala viko
" abis viko sudah lama banget gak jalan-jalan. soalnya setiap mami ngajak viko jalan-jalan pasti mami di marahin ayah" balas viko sedih
"lah emang ayah viko gak pernah ngajak jalan-jalan? " tanya dylan
"ayah ngajak mami doang om, tapi kalau ayah gak mau ngajak viko, mami gak mau pergi jadi mereka pasti berantem jadi viko bilang ke mami gak papa kalau di rumah saja dan gak perlu jalan-jalan" balas viko
" ya sudah gak usah diinget lagi, makan yang banyak dan nanti puas-puasin jalan-jalan sama om" ucap dylan mengelus kepala viko
"makasih ya om, berasa punya ayah deh kaya temen-temen viko" ucap viko tersenyum polos
"ya sudah, anggap om seperti ayah viko saja" balas dylan merasa mendapat angin segar
"apa boleh? " tanya viko semangat
mendengar itu aira jadi tak enak hati pada dylan " jangan abang, abang kan belum nikah nanti kalau ada yang salah paham mengira viko anak abang karena viko manggil abang ayah" tegur aira
" gak masalah aira, soal menikah mah gampang" balas dylan cuek
"viko panggil ayah, eh papi saja kayanya lebih bagus, gak usah dengerin mami kamu" ucap dylan
" makasih ya papi" balas viko
" viko! " bentak aira
viko pun menangis sesenggukan karena bentakan aira yang cukup keras
dylan menghampiri viko memeluknya erat " sudah jangan dengerin mami kamu, kan yang di panggil papi sama kamu saya, dan saya gak keberatan kalau mau panggil papi 100 kali sehari juga boleh" ucap dylan mengelus punggung viko
viko langsung berhenti menangis " beneran? " tanya viko memastikan
"tentu saja" balas dylan mengangguk
" abang jangan manjain viko kaya gini bang" pinta aira berlinang air mata
dylan mendekat ke aira menghapus air mata aira " jangan menangis ra, sedikit pengertian lah dengan anakmu, dia hanya butuh sosok ayah yang tak pernah ia dapat. dan abang gak masalah dia manggil abang papi. jangan buat anakmu terus bersedih karena rasa tak enak hatimu itu" ucap dylan
aira berhenti menangis, dan sejenak berpikir " makasih ya bang" ucap aira tersenyum
"Sama-sama" balas dylan tersenyum pada aira
" oh ya bang kenapa abang nyuruh viko manggil abang papi kenapa gak ayah saja kan lebih gampang? " tanya aira penasaran
" lebih keren papi kayanya. lagian juga dia kan sudah punya ayah, ya walaupun ayahnya gak suka dia, tapi tetap saja abang gak bisa sembarangan menggeser posisi ayahnya tapi abang bisa jadi papi yang terbaik buat viko kok" ucap dylan tersenyum
mereka melanjutkan makan dengan canda tawa, dylan begitu telaten menyuapi viko makan
aira melihat hal itu pun terharu. setelah selesai makan mereka pun mulai berbincang-bincang
" pi viko pengen pipis" ucap viko menarik baju dylan
" sama mami saja ya" ucap aira pada viko
" sudah gak papa" balas dylan menggandeng tangan viko menuju toilet
setelah selesai dari toilet mereka pun menuju tempat duduknya
" viko bisa ke sana sendiri kan? papi mau bayar dulu ke kasir " ucap dylan
viko mengangguk lalu berlari menuju tempat mami nya berada
saat tengah berlari viko bertabrakan dengan seorang anak sebayanya dan tak sengaja terjatuh
seorang anak laki-laki mengibaskan bajunya yang kotor karena terjatuh bertabrakan dengan viko
" eh anak gak punya ayah datang kesini toh? " ledek dika teman semasa TK viko
viko mendongak melihat lawan bicaranya " aku punya papi" teriak viko langsung berdiri menatap tajam dika
" eh jangan bohong deh, kalau kau punya papi mana mungkin kamu selalu berangkat sekolah dengan mami mu dan tak pernah bersama papi mu" ucap dika mengejek
"aku datang kesini bersama papi jadi aku punya papi" balas viko kesal
" bohong! " ucap dika mendorong viko
melihat itu dengan sigap dylan menangkap tubuh viko yang akan terjatuh
" kau tak apa sayang? " tanya dylan mengecek tubuh viko