Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
kena karma (season 2)



***


Askar bolak-balik seperti setrikaan kusut di depan gerbang  rumah yang entah milik siapa


“ngapain kamu disini?’ Tanya ketus sang pemilik rumah yang tak lain adalah papi frans


“eh om, apa kabar?” Tanya askar berusaha ramah pada papi frans


“untuk apa kamu disini? Tanya ayah frans


“mau ketemu syakia om” balas askar


“ngapain kamu ketemu syakia? Bukannya syakia sudah


berhenti kerja di sana? jadi sepertinya gak ada urusan lagi deh kamu sama anak saya" Tanya papi frans dengan nada penuh intimidasi


“saya ada perlu om” balas askar


Ayah frans berkacak pinggang "perlu apa? Mau sakiti anak saya lagi hah?” Tanya ayah frans yang tahu betul askar selalu menolak syakia selama bertahun-tahun


“enggak kok om" sahut askar


“alah, ujung-ujungnya Cuma mau nyakitin putri saya kan” papi frans menunjuk askar “dengar ya denger Yashaskar Virendra mahardika,


jangan mentang-mentang kamu anak dylan dan aira kamu jadi belagu. Anak saya adalah anak yang pintar dan cantik dia pasti akan dapat jodoh yang jauh ...jauh...lebih baik dari kamu" papi frans menunjuk-nunjuk askar "Yang perlu kamu tahu orang yang antri untuk lamar anak saya ada


dari sini sampai sepanjang jalan ke bandung” kelakar papi frans membanggakan anaknya


Askar menelan salivanya kasar “gila serem amat nih bokap orang” batin askar


“om tenang ya, saya hanya mau bicara dengan syakia sebentar saja” pinta askar


“syakia lagi sibuk, kan besok dia harus berangkat ke amerika” balas papi frans ketus


askar mengatup kan kedua tangannya di dada “saya mohon om, biarkan saya bicara dengannya


sebentar saja” pinta askar


“tidak” papi frans masuk rumah dan meninggalkan askar begitu saja


Askar hanya bisa pasrah karena di larang masuk ke rumah keluarga syakia untuk menemui syakia


Askar menggusar rambutnya kasar “gini amat nasib” kesal askar karena perjuangannya berakhir sia-sia


Tanpa sepengetahuan askar ada senyum menyungging dari balik jendela “rasain kamu” ucap seorang wanita paruh baya melihat wajah kusut askar


“mih biarin syakia keluar dong, kasihan askar disitu dari tadi” mohon syakia


wanita paruh baya itu menatao tajam syakia “diam kamu” bentak mami  Gisela, mami syakia


“kasihan dia mih” rengek syakia menarik tangan maminya


“segitu itu bukan apa-apa syakia” sahut papi frans


papi syakila memasuki rumahnya dengan langkah tegap menghampiri istri dan anaknya


“tapi pih” bantah syakia


“kamu sudah janji sykia” peringat papi frans


“tapi kan askar bilang tertarik sama syakia sebelum batas perjanjian kita berakhir pih“ sanggah syakia


“jadi wanita harus punya harga diri tinggi syakia jangan sampai dia menginjak-injak kamu karena kamu yang ngejar-ngejar dia, sudah cukup selama ini dia menghina kamu padahal kamu sudah nempel


kaya perangko padanya, sampai-sampai kamu hafal semua teman serta keluarganya


sedangkan kamu” tunjuk papi frans “kamu hanya tahu keluarga adik kurang ajar itu” kesal papi frans mengingat keluarga adik satu-satunya


“yakan mami anak tunggal pih dan keluarga mami di belanda semua, dan papi hanya punya adik papi itu saja jadi ya Cuma itu yang syakia tahu” balas syakia


“ngeles saja kamu” balas papi frans


“biarin dia berjuang untuk kamu syakia, kalau memang dia benar-benar suka kamu pasti dia akan berjuang demi kamu tapi jika


tidak berarti dia bukan jodoh kamu” nasehat mami Gisela


“iya deh mih” pasrah syakia


***


“mas” panggil ara dari dalam kamar barunya


“iya sayang” viko berlari dengan tergopoh-gopoh menghampiri ara


“mas mau ini” tunjuk ara pada layar ponselnya


Viko berjalan menghampiri ara, mengernyitkan dahinya melihat layar ponsel ara “apa itu?” Tanya viko


“dimana belinya?” Tanya viko


“gak tahu” balas ara


“terus nyarinya dimana?” Tanya viko bingung


Ara langsung rebahan memunggungi viko dan menutup


tubuhnya dengan selimut


“mas gak sayang ara” rengek ara


“gak gitu sayang” ucap viko duduk di samping ara dan mengusap bahu ara


“ya itu mas gak mau cariin” balas ara


viko menghela nafas “ya sudah mas cari dulu ya” ucap viko keluar


kamarnya


Viko langsung menghampiri maminya “mami” teriak


viko saat melihat maminya sedang panen sayuran di kebun bersama oma diana


“apa sih teriak-teriak” mami aira tetap konsen memetik sayuran yang di tanam oma Diana


“mami tahu lupis gak?” Tanya viko


Mami aira mengerutkan keningnya “ngapain kamu Tanya itu?” Tanya mami aira


“tahu enggak?” Tanya viko lagi


“tahu sih, emang ada apa?” Tanya mami aira


“ara ngidam itu, lagi ngambek dia gara-gara viko nanya belinya dimana tapi dia jawab gak tahu” balas viko


“ya wajar dia gak tahu, kan dia lama tinggal di inggris” balas mami aira


“ya sudah mending kita buat saja, kalau beli gak terjamin higienisnya” ucap mami aira


“emang mami bisa buatnya?" Tanya viko


“wah” mami aira menunjuk viko kesal “ngejek kamu ya” mami aira langsung berkacak pinggang ke arah viko


nyalinya langsung menciut kala melihat mami nya kesal “yakan viko gak pernah liat mami bikin” kekeh viko


“sekarang tugasmu potong tuh daun pisang di belakang terus kamu jemur, sama sekalian tuh panjat pohon kelapa cari yang muda tapi jangan yang terlalu muda” ucap mami aira menunjuk kebun belakangnya yang cukup banyak terdapat tanaman


yang dibutuhkan untuk memasak


“viko manjat mih?” Tanya viko memastikan


“mau buat istrimu ngambek terus?” Tanya mami aira


“enggak lah mih” balas viko


“ya sudah panjat” ucap mami aira menunjuk pohon kelapa yang menjulang tinggi sekitar 5 meter


Papi dylan dan oma Diana hanya duduk menonton viko yang bersusah payah manjat pohon kelapa untuk memetik dua buah kelapa muda untuk toping lupis


4 jam berkutat di dapur untuk membuat lupis yang di ingin kan ara, membuat viko tersenyum lega “makasih ya mih, emang mami the


best deh” ucap viko mencium pipi mami aira saat lupis nya sudah jadi


“huh giliran dapat sesuatu dari mami bilangnya mami yang the best” ledek papi dylan


“kalian berdua the best” ucap viko mengacungkan kedua jempolnya pada kedua orang tuanya


"sudah sana cepat kasih lupis itu buat ara, nanti anak kamu ileran lagi” ucap oma Diana


viko langsung bergegas menuju kamarnya “sayang” panggil viko


ara menoleh ke arah pintu kamarnya “gimana dapat?” Tanya ara dengan muka berbinar


“dapat dong” ucap viko menyerahkan piring berisi


lupis pada ara


“wah” ara langsung menikmati santapan lupis itu dengan wajah binar bahagia membuat senyum puas di wajah viko “gak sia-sia juga


manjat pohon tinggi dan tebang daun pisang sampai kena getah, setelah lihat senyum kamu begitu indah” batin viko melihat istrinya makan dengan lahap


Viko mengusap lembut perut ara “baik-baik di dalam perut mami ya” ucap viko mengecup perut ara