
***
“kamu beneran mau pergi?” Tanya viko sudah untuk kesekian kalinya
“sudah berapa kali mas Tanya ara?” kesal ara yang sudah berapa kali di Tanya viko hal yang sama dan mendapat jawaban yang sama pula
“ya mas khawatir saja sama kamu, kamu juga kelihatan lemes gitu” ucap viko yang melihat ara seperti tak ada tenaga
“sudah ah yok mas” ajak ara menyusul kedua orang tuanya di ruang tamu
Ara, viko dan kedua orang tua viko berada dalam satu mobil untuk hadir di pesta perusahaan ibu kandung ara
“kamu gak papa ara?” Tanya mami aira
“agak lemes saja kok mih” balas ara
“kita ke rumah sakit saja ya” ucap mami aira yang khawatir dengan wajah ara yang cukup pucat
“iya sayang kita ke rumah sakit saja” sahut viko
“kita datang sebentar saja, gak akan telat kalau kita ke rumah sakit setelah datang ke sana” balas ara
"ya sudah, bilang ya kalau kamu sudah gak kuat” ucap mami aira
“kamu temani kemanapun ara pergi ya viko” ucap papi dylan
“iya pih” balas viko
Setelah menempuh perjalananan selama 45 menit, mereka sampai di kediaman ibu ara tempat di gelarnya pesta
Viko berjalan menggandeng tangan ara erat di belakang kedua orang tuanya
“selamat datang nyonya dan tuan mahardika sapa nyonya ralins ahmad ibu dari ara
“selamat malam nyonya ralins” sapa mami aira
Nyonya ralin melirik kebelakang mami aira “apa dia datang?” Tanya nyonya ralins
“iya itu, di sebelah anak saya” mami aira bergeser agar nyonya ralins bisa melihat ara
“ara” panggil nyonya ralins
Ara terus menunduk “ibu kangen kamu” nyonya ralins berniat memeluk ara tapi ara bergeser dan bersembunyi di belakang tubuh suaminya
“maaf nyonya, istri saya sepertinya kurang nyaman” ucap viko mewakili ara
nyonya ralins cukup paham kenapa ara menghindarinya, pasti ada rassa kecewa di diri ara karena nyonya ralins meninggalkan ara begitu saja dulu “baiklah ayo masuk” ajak nyonya ralins
Ara diperkenalkan sebagai anak nyonya ralins kepada semua orang membuat orang-orang menatap heran kapan nyonya ralins menikah dan punya anak karena setahu mereka nyonya ralin singgel dan tak memiliki pasangan
Nyonya ralins membawakan kue putu untuk ara “ara ini kesukaan kamu, ibu sengaja minta ini ada karena ibu tahu kamu pasti datang’ ucap nyonya ralins
Ara menatap nyonya ralins dengan tatapan tak suka, untuk apa anda memperkenalkan saya sebagai anak anda di depan semua orang?” Tanya ara yang sedari ia tahan karen tak ingin mempermalukan keluarga suaminya jika sampai berdebat dengan nyonya ralins
“ya karena kamu memang anak ibu” balas nyonya ralins
“ibu? Kalau anda ibu saya kenapa anda meninggalkan saya?” Tanya ara
“kamu kan tahu alasan ibu pergi, itu karena ayah kamu selingkuh” balas nyonya ralins
“alah, emang ara masih anak kecil yang bisa di bohongi. Ayah gak pernah selingkuh ya bu. jelas itu wanita kiriman kakek, kakek benci sama ayah dan suruh wanita itu untuk goda ayah. Dan ibu tahu itu semua kan?”
balas ara
“ibu…” nyonya ralins terbata tak kuasa berucap dan menjawab setiap ucapan ara
“ralins!” teriak seorang wanita sepuh menghampiri nyonya ralins dengan tatapan tajam
Nyonya ralins menoleh, dengan tatapan sendu “mah” nyonya ralins mengira kejadian seperti ini akan terjadi tapi tetap saja ia tak kuasa menghadapi kejadian ini
“masih saja kau mengurusi anak pria itu hah?” bentak nenek gayatri, ibu dari nyonya ralins
“dia anaku mah” sahut nyonya ralins dengan suara lirih
Nenek gayatri menatap tajam ara “ngapain kamu di sini? Mau dapat bagian hartaku hah” ucap nenek gayatri dengan penuh hinaan
Melihat keributan yang terjadi mami aira dan papi dylan langsung menghampiri ara dan tentu saja viko pasang badan melindungi istri tercintanya “jaga kata-kata anda!”teriak viko tak terima istrinya dihina dan di kira ingin harta dari ibunya walaupun memang ara berhak tapi tentu viko jauh lebih mampu memberikan apa yang ara inginkan ketimbang ibu kandungnya itu
Ara menggeser tubuh viko agar bisa berhadapan dengan neneknya, nenek yang tak pernah menganggapnya ada “ternyata anda masih mengenali saya?” Tanya ara dengan nada meledek
“tentu saja dari baumu saja Nampak darah pria itu” umpat nenek gayatri
“yang ada bau busuk!” balas nenek gayatri
“bau busuk?” ara menatap nenek gayatri dengan tatapan cibiran “busuk mana antara ayah saya yang memperjuangkan hidup putrinya walau dia harus di tekan dan di buat jatuh miskin. Ketimbang seorang wanita tua yang sudah bau tanah dan tinggal menunggu ajal menjemput, yang dengan teganya memisahkan seorang istri dari suaminya, dan seorang anak dari ibunya!” teriak ara lantang ke arah nenek gayatri
"ara, jangan tidak sopan dengan nenekmu" nyonya ralins dengan lirih berucap mengingatkan ara
ara tersenyum kecut "saya akan menghormati orang yang memang pantas di hormati bukan orang yang tidak tahu diri seperti anda" balas ara
Mami aira dan papi dylan tak menyangka ara akan berani menjawab wanita sepuh di hadapannya
“apa kau bilang!” bentak nenek gayatri
“ah aku lupa” ara memutar telunjuknya ke arah telinga “bahwa anda sudah tua jadi mungkin pendengaran anda agak terganggu” balas ara dengan nada cibiran
“dasar kau! Memang darah tak bisa bohong! Darah busuk dari ayahmu turun padamu” tunjuk nenek gayatri
“jangan lupa nyonya gayatri ahmad!” teriak ara menunjuk nyonya gayatri “darahmu juga mengalir di darahku, berarti darahmu ikut busuk!” teriak ara lantang
ara menatap jiik pad dirinya “andai aku bisa mengambil semua darah keluarga ahmad yang kalian berikan padaku, aku pasti akan mengeluarkannya sampai habis dan tak bersisa” kesal ara dengan nada berapi-api
Nenek gayatri menghampiri ara dan “plak” ara memegang pipinya yang terkena tamparan keras nenek gayatri
Viko langsung mendorong tubuh nyonya gayatri tak memperdulikan wanita itu lebih tua darinya “jangan coba melampaui batasan anda nyonya, saya tidak terima anda melukai istri saya” kesal viko pada wanita sepuh yang ada di hadapannya
“alah kalian datang hanya ingin hartaku kan?” cibir nyonya gayatri
“mah”nyonya ralins berniat menghentikan mamanya
“diam kamu!” bentak nyonya gayatri membuat nyonya ralins terdiam
“jaga ucapan anda nyonya!” teriak papi dylan yang sudah tersulut emosi
Papi dylan berdiri tepat di hadapan nenek gayatri dengan tatapan tajam “sebegitu bangganya anda dengan harta yang tak seberapa ini, dengan mudahnya kami keluarga Mahardika bisa menghancurkan harta yang anda bangga-banggakan menjadi seonggok arang dan berbah jadi debu dan dengan mudahnya hilang tertiup angin” ucap papi dylan yang sudah tersulut emosi
Papi dylan adalah orang yang sangat mencintai keluarganya tentu ia adalah orang yang paling tidak terima jika ada yang menyakiti atau menghina keluarganya
Nyonya gayatri gemetaran dengan ucapan demi ucapan yang di lontarkan papi dylan untuknya
“tanpa secuil pun harta anda, kami bisa memberikan apapun yang di inginkan ara, dia anak kami bagian keluarga kami jadi jangan pernah menghina anak kami!” bentak papi dylan
Papi dylan menoleh ke arah nyonya ralin” awalnya kami datang karena undangan anda karena biar bagaimanapun ara anak anda, kami menghormati orang yang melahirkannya tapi kalau begini ceritanya saya adalah orang pertama yang akan melarangnya datang” ucap papi dylan dengan kesal
“iya jeng ralins, saya juga kecewa pada anda, saya kira ada hal apa yang membuat kalian sampai terpisah tapi ternyata keluarga anda benar-benar keterlaluan” tambah mami aira
“maffin saya jeng” pinta nyonya ralins
Nyonya ralins menghampiri ara “maafin ibu, ara” pinta nyonya ralins
Muka ara makin memucat, keringat mulai bergulir di kening dan di pipi mulus ara “mas sakit” ara
mencengkeram kuat tangan viko
Viko menoleh ke arah ara “apa yang sakit sayang?” Tanya viko khawatir
Ara memegang perutnya “perut ara sakit mas” adu ara
Mami aira melirik kaki ara yang hanya memakai gaun di bawah lutut matanya membelalak lebar “darah viko” tunjuk mami aira pada kaki ara
Viko melihat itu semua “ya ampun sayang” viko langsung membopong ara
“kita ke rumah sakit sekarang” ucap papi dylan
“iya pih” viko mengangguk
Viko menyempatkan menoleh ke arah nenek gayatri “jika terjadi apa-apa dengan istriku, aku pastikan akan menghancurkan kalian” ucap viko dengan nada ancaman
Nyonya ralins terlihat begitu khawatir “ara” nyonya ralins berniat berjalan mengikuti ara
“berhenti kamu! Berani kamu keluar maka hari itu juga kamu lihat mayat mama “ ucap nyonya gayatri
“jangan seperti ini mah, ralins sudah tidak bertemu ara 8 tahun mah, dia anak kandung ralins, anak satu-satunya ralins” ucap nyonya ralins lirih
“itu salah kamu sendiri kenapa tak mau menikah lagi dan punya anak lain yang jelas dari benih terbaik” ucap nyonya gayatri
“mah” nyonya gayatri terlihat tak berdaya tak mampu melawan mamanya
Nenek gayatri meninggalkan nyonya ralins begitu saja yang sedang dalam keadaan kalut, padahal di sana sedang berkumpul orang banyak. Kejadian ini jelas akan masuk surat kabar dan membeawa dampak buruk
bagi perusahaan yang di kelola nyonya ralins apalagi yang di singgung adalah keluarga mahardika, keluarga yang punya cukup banyak relasi dan juga termasuk 5 orang terkaya di Indonesia