Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
kehidupan awal pernikahan



ayah subrata melirik kak rino “sudah ada di sana . Cepat pulang sana , ayah mau bujuk ibu ratu dulu” ucap ayah subrata bergegas menyusul ibu mardiana yang sedang kesal karena keputusan ayah subrata yang tak mengajak ibu mardiana berunding terlebih dahulu perihal masa depan puteranya


***


Rino membawa zeta menuju rumah masa kecil ibu dari zeta yang nantinya akan mereka tempati sebagai hunian bersama


“yuk masuk”ajak rino memasuki rumah tersebut


kak rino mengedarkan pandangannya “sepertinya belum sempat dibersihkan" kak rino menoleh ke arah zeta "sepertinya kita harus membersihkannya” ucap rino mulai membuka kain penutup yang menutupi


barang-barang yang ada di rumah itu


“iya” zeta ikut membuka kain penutup barang-barang yang ada di rumah masa kecil ibu zeta


kain semua sudah di buka “kau cari sapu dulu untuk menyapu ruangan ini” pinta kak rino


“iya” zeta bergegas mencari sapu dan menyapu ruangan yang bisa ia jangkau, sedangkan kak rino membantu mengepel ruangan


rumah sudah mulai tampak lebih baik “kau pilih dulu kamar yang mau kau tempati, nanti aku akan memilih sisanya” ucap rino


zeta menautkan kedua alisnya “ah, kita akan pisah kamar?” Tanya zeta


kak rino menyipitkan matanya  ke arah zeta  “lalu kau mau kita sekamar?” Tanya kak rino


zeta langsung menggelengkan kepalanya “enggak, baiklah aku pilih yang ada di atas, yang bagian ujung sana” tunjuk zeta pada kamar yang berada di ujung sebelah kanan di lantai 2


“oke kalau gitu aku yang sebelah sana” tunjuk rino pada kamar yang sebelah kiri di lantai 2


“kita bersihkan kamar kita masing-masing” ucap rino menaiki tangga menuju kamarnya


Mereka membersihkan kamar yang akan mereka tempati


***


Setelah selesai membersihkan kamar yang akan ia tempati, kak rino  menghampiri zeta “kau bawa pakaian kan?” tanya kak rino dari balik pintu kamar zeta yang terbuka


“bawa, ada di mobil “ zeta menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu  “panggil apa ya?” tanya zeta bingung memanggil kak rino apa karena dari awal mereka saling mengenal, mereka belum pernah saling memanggil  nama satu sama lain


“panggil mas saja” balas kak rino membantu zeta memutuskan


“bajuku ada di mobil mas” balas zeta


“ya sudah” kak rino menyerahkan kunci mobilnya “ambil dan ganti baju. Aku mau mengajakmu makan di luar dan sekalian belanja untuk keperluan  dapur dan juga kita mampir ke agen untuk cari pembantu. Gak mungkin kan kamu mengurus rumah ini sendiri” ucap kak rino


“iya mas” balas zeta patuh


***


Zeta dan rino memutuskan untuk makan di salah satu restoran  yang tak jauh dari rumah mereka “oh ya apa rencanamu kedepannya?” Tanya rino memulai obrolan sembari menunggu pesanannya datang


“aku mau kerja mas, boleh kan?” Tanya zeta penuh harap


“boleh saja, memang kamu mau kerja di mana?” Tanya kak rino


“aku sih sudah ngajuan lamaran, dan sudah interview pertama tinggal nunggu pemberitahuan untuk interview selanjutnya “ balas zeta


Pesanan zeta dan rino pun sudah datang “terima kasih” ucap zeta pada pelayan saat makanannya di antar


“emang dimana kamu ngelamar kerja?” Tanya rino mengambil minuman yang ada di hadapannya


“di Mahardika Group” balas zeta


“byur...” Rino menyemburkan minumannya  karena terkejut


“mas gak papa?” Tanya zeta mengusap muka rino yang basah dengan tisu


“kamu gak salah daftar kerja di sana? Kenapa gak kerja di perusahaan keluargamu saja” tanya rino


“zeta malas kerja di tempat ayah, ayah galak. Jadi zeta ngikutin teman zeta untuk daftar di sana” balas zeta jujur


“terserah kamu saja” balas rino memberi kebebasan zeta untuk memilih di mana tempat ia ingin bekerja


***


Aira sedang menemani viko menonton acara kesukaan viko di ruang keluarga   “viko sudah ngantuk belum?” tanya aira yang sudah menguap dari tadi


viko menoleh ke arah aira “kalau mami ngantuk, tidur saja. Viko masih pengen nonton lagian besok kan hari libur jadi viko mau nonton sampai selesai” balas viko yang sedang asyik menonton TV


“nanti kalau mami tinggalin kamu, pasti kamu ketiduran lagi di sini, kamu kan sudah pernah ketiduran di sofa karena menonton tv di akhir pekan” balas aira


“makanya mami beliin  viko TV di kamar ya mi” pinta viko


“itu malah, nambah menjadi, bisa-bisa TVnya yang nonton kamu tidur semaleman” balas aira


Viko terkekeh “emangnya bisa gitu mi? TV nonton viko?” tanya viko polos


Dylan yang baru saja pulang dari kerja menghampiri viko dan aira “ya sudah kamu tidur saja sayang, biar abang yang temani viko nonton” ucap Dylan menyela perdebatan istri dan anaknya


aira menoleh ke arah dylan “ih abang kan baru pulang, pasti capek” balas aira tak ingin mengganggu istirahat suaminya yang baru pulang kerja


dylan mengecup kening aira “gak papa sayang, malahan abang takut kamu yang capek, kan kamu lagi hamil” ucap Dylan mengusap perut aira yang sudah mulai besar itu


“ya sudah, aira tidur ya” aira pamit masuk ke kamarnya untuk tidur  karena dirinya memang sudah sangat mengantuk


“pi, om rino jadi nikah hari ini?” tanya viko saat dylan sudah duduk di sampingnya


“jadi sayang, tadi papi sempet nemenin ke KUA sih” balas Dylan


“om rino mau sama kaya papi dan mami ya yang nunda gelar acara resepsi pernikahan?” tanya viko dengan polosnya


Dylan menepuk jidatnya “ya ampun, ampe lupa papi” Dylan mengusap kepala viko “untung kamu ngingetin. Dulu kan gak gelar resepsi karena oma sakit. Sekarang sudah sembuh jadi harusnya resepsinya di gelar” balas Dylan mengingat belum sempat menggelar resepsi pernikahan untuk dirinya dan aira


terlalu lama di tunda sampai membuat dylan lupa akan rencananya itu


viko membenarkan posisi duduknya “tapi pih, mami kan lagi hamil, sudah agak besar pula,  emangnya nanti mami gak kecapean  kalau gelar acara resepsi pernikahan?” tanya viko


“iya juga ya” Dylan menatap tak percaya kearah viko“ kenapa kamu jadi pinter gini ?” tanya Dylan mengusap kepala viko dengan gemas


“ih papi” ucap viko kesal memukul lengan  Dylan “dari dulu kan viko emang pintar, papi lupa ya kalau viko juara kelas terus. Kan papi sering bangga-banggain viko ke temen-temen papi” viko tentu tahu dylan yang sering membanggakan dirinya di depan teman-teman dylan


“iya, emang anak papi yang satu ini pintar” ucap Dylan mengecup pipi viko gemas


viko mendorong dylan, mengusap pipi yang di cium dylan “jangan dicium pi, viko bukan anak-anak lagi” keluh viko tak mau dicium pipinya


dylan mengerutkan keningnya “kenapa? Bukannya dulu kamu suka?” tanya dylan


“sekarang viko kan sudah besar pih, sudah mau punya adik, jadi stop ngira viko anak kecil” protes viko yang sudah tidak mau di anggap anak kecil oleh orang tuanya


Dylan mengusap kepala viko “iya sih anak papi sudah gede” kekeh Dylan


Dylan menemani viko dengan sambil mengajak bercanda bersama


***


Dylan melirik jam dinding di ruang keluarga “viko sudah malam tidur yuk” ajak Dylan menoleh kearah viko


“wah sudah tidur toh” gumam Dylan mengangkat tubuh viko dan mengantar ke kamar viko yang berada di lantai atas


Dylan meletakkan viko di ranjangnya menyelimutinya sebatas dada “selamat malam” ucap Dylan mengecup pipi viko