
Kediaman Hazel.
"Masih terasa sakit? Mau libur dulu untuk beberapa hari?" tanya Hazel lembut sembari menyentuh luka di leher Alyss dari luar perbannya.
Alyss tidur telentang, karna ia sulit untuk ke samping, ia takut luka nya terbuka lagi, dan Hazel yang sejak tadi mengelus wajah Alyss dan mengelus luka di lehernya yang telah di perban dari luar.
"Iya, bius nya sudah habis, jadi terasa sakit lagi. Lagi pula kan juga kau yang membuat nya semakin sakit!" jawab Alyss ketus, ia masih kesal saat mengingat Hazel yang membuat luka nya semakin parah.
"Itu karna kau tak mau menurut. Kau tak tidur?" tanya Hazel lagi sembari mengusap-usap bibir tipis Alyss dengan ibu jarinya.
"Belum mengantuk…" jawab Alyss lirih
"Ishhh tangan nya...." sambung Alyss saat jemari Hazel mengusap dan mencubit kecil bibirnya.
Hazel hanya tertawa kecil saat Alyss menepis tangan nya yang sedang menjahili bibir mungil itu.
"Kau tak mengantuk? Mau main permainan yang bisa membuatmu mengantuk?" tanya Hazel dan mulai menciumi telinga Alyss.
"A-aku pikir aku sudah mengantuk sekarang...
Ja-jangan....
Nanti luka di leher ku terbuka lagi...." ucap Alyss lirih saat tangan Hazel mulai menyusup di balik pakaian yang ia kenakan, dan mulai mengelus serta merem*s perlahan dada nya.
"Sekali yah...
Lagi pula kau kan sedang tak mengantuk..." bisik Hazel lirih dengan suara berat. Ia awalnya hanya ingin menggoda Alyss sebentar agar Alyss cepat tidur dan ia bisa bermain dengan tikus kecilnya.
Awalnya Hazel yang ingin menggoda malah benar-benar tergoda saat ia mencium aroma tubuh wanita yang sedang berada di ranjang yang sama dengan nya dan menyentuh tubuh Alyss.
"Enggak! Sekali mu itu berulang kali! Bukan cuma satu kali!" jawab Alyss dengan berusaha mengeluarkan tangan Hazel yang semakin bermain di dada nya.
"Tentu saja...
Kan dia di "kali" atau mau pakai kata "tambah" saja?" jawab Hazel dan mulai berganti posisi menindih tubuh Alyss.
"Kita lagi gak belajar matematika!" jawab Alyss kesal saat Hazel malah membicarakan penjumlahan, entah dari mana datang nya pembicaraan menyebalkan itu.
"Yasudah, belajar biologi saja sekarang." ucap Hazel enteng dan mulai m*l*m*t bibir tipis Alyss.
"Hummpphh..." Alyss berusaha mendorong tubuh Hazel yang sedang m*l*m*t habis bibirnya, ia tak bisa banyak bergerak karna luka di lehernya.
Hazel pun semakin dalam mencium Alyss, ia membelit lidah Alyss dan menarik serta menggigit kecil bibir tipis itu.
"Ja-jangan leher..." ucap Alyss lirih saat Hazel melepaskan ciuman di bibirnya dan hendak turun lagi.
Hazel tak menjawab ucapan Alyss ia berusaha melepaskan sweeter longgar yang di kenakan Alyss dengan menariknya ke atas.
Alyss pun menahan tubuhnya, agar Hazel tak bisa melepaskan sweeternya.
"Ja-jangan di buka...
Leher ku sakit...
Tidak bisa banyak bergerak..." ucap Alyss lirih, ia mengatakan demikian agar Hazel tak melanjutkan niat nya.
"Yasudah, sampai sini saja, melakukan nya walaupun masih mengenakan setengah pakaian juga bisa." ucap Hazel tersenyum licik, dan menaikkan sweeter Alyss hingga dada nya lalu membuka kaitan bra Alyss.
"Eh? Tunggu...
Auch..!" ucap Alyss yang terpotong saat ia menaikkan kepalanya untuk melihat Hazel yang tengah menciumi tubuhnya. Ucapan nya pun terpotong saat ia merasa perih di lehernya, dan di saat yang bersamaan Hazel sedang menggigit dadanya.
Hazel pun menyingkap rok Alyss dan segera menurunkan celan* dalam nya.
"Hazel sudah...
Aku mau tidur...." ucap Alyss saat Hazel sudah membuat bagian bawah tubuhnya terbuka.
Hazel hanya tersenyum dan mulai menurunkan celana nya, ia pun segera melakukan penyatuannya.
"Auchh..." pekik Alyss saat ia merasa sakit dan ngilu di bagian intinya saat Hazel mulai memasukinya tubuhnya yang belum siap sama sekali.
Hazel pun mulai menggerakkan dirinya perlahan, ia m*l*m*t habis bibir kecil Alyss, agar Alyss tak dapat mengatakan apapun.
Tangan Alyss pun meremas pakaian yang dikenakan Hazel guna menahan sakit di bagian intinya, saat Hazel sedang mencium nya dengan rakus dan melakukan penyatuan pada nya.
Setelah kesekian kali nya Hazel mencapai puncaknya.
"Su-sudah yah...
Aku lelah...
Mau tidur...." pinta Alyss lirih saat Hazel sudah mengeluarkan semua isinya di dalam tubuh Alyss.
"Sekali lagi yah..." bisik Hazel dengan suara yang berat.
"Tadi juga bilang nya begitu...
Sudah...." ucap Alyss lirih, ia bahkan sudah tak punya tenaga untuk marah lagi.
Hazel pun hanya tersenyum dan mulai menciumi tubuh Alyss lagi serta mengulangi kegiatan panas mereka
......................
Pukul 02.45 AM.
Hazel tersenyum melihat wajah Alyss yang tertidur dan tampak terlihat sangat lelah, Alyss langsung tertidur satu jam yang lalu saat ia menyelesaikan permainan panasnya.
"Alyss.. Lyss..." panggil Hazel lirih sembari menggoyangkan bahu Alyss pelan.
Setelah merasa Alyss sudah benar-benar tertidur Hazel pun beranjak turun dari ranjang tersebut perlahan.
Ia sudah tak sabar ingin bermain dengan tikus kecilnya. Hazel pun segera menuju ruang putih sebelumnya ia sudah meminta Rian mengurusnya dan membawa nya ke kediamannya.
Pria paruh baya yang menyerang Alyss sebelumnya sekarang terikat dengan borgol rantai di sebuah meja yang yang mirip dengan meja operasi namun bedanya, kedua tangan dan kaki nya sudah dirantai dan dipastikan tak akan dapat terlepas.
"Apa yang kau lakukan?! Lepas! Dasar gila!" ucap Pria itu yang sejak tadi meronta, dan saat melihat Hazel datang ia pun semakin marah dan memberontak.
"Sssttt...
Jangan terlalu berisik, wanita ku sedang tertidur..." ucap Hazel yang dengan senyuman psycho di wajahnya.
Walaupun ia tau bahwa ruang putih di beri dinding peredam suara sehingga tak mungkin suara yang dari dalam ruang putih bisa keluar, namun ia tetap saja mengatakan hal demikian.
"Dasar gila? Apa yang ingin lakukan?!" ucap pria tersebut.
"Kau ingin mati kan? Aku akan membantu menuju kematian dengan perlahan." jawab Hazel tersenyum. Ia pun berjalan ke arah susunan pisau yang terpajang rapi di salah satu rak nya.
"Sepertinya ini dulu...
Tadi kau melukai nya dengan ini kan?" tanya Hazel sembari mengambil pisau medis yang dipakai oleh pria tersebut tadi siang.
Pria itu pun tertegun, ia semakin memberontak ingin terlepas dari rantai yang mengikat tubuhnya.
Hazel pun dengan perlahan menyayat kulit leher pria tersebut, cairan kental merah pun mulai keluar dan mengalir dari leher pria tersebut. Hazel sengaja tak memotong nadi di leher pria tersebut, agar ia bisa bermain dengan lama.
"Da-dasar gila! Sakit bodoh!" umpat pria tersebut ia merasa sangat perih dan sakit saat kulit nya di kikis perlahan.
Hazel tak menjawab dan hanya semakin tertawa.
"Hahahaha...
Katanya kau ingin mati kan? Makanya kau mencoba bunuh diri? Aku hanya memberi yang kau inginkan..." jawab Hazel yang masih setengah tertawa.
Hazel pun mengambil palu dan paku payung yang besar.
"A-apa yang ingin kau lakukan?" tanya pria tersebut, ia pun merasa semakin takut saat melihat senyuman Hazel dan apa yang di bawa oleh Hazel.
Bruak!!!
Hazel pun langsung memaku paku payung nya di lutut pria tersebut.
"ARGGHHHH!!!! SAKIT!!!!" teriak pria tersebut saat merasakan paku tersebut yang semakin masuk ke tulang tempurung lututnya.
Hazel pun semakin tertawa saat mendengar teriakan dari pria tersebut dan darah yang terus terciprat ke wajahnya, ia semakin kuat mengayunkan palu nya agar paku tersebut semakin menancap.
"Maaf! Aku minta maaf! Tolong lepaskan aku!" ucap pria tersebut matanya semakin mendelik dan terus mengeluarkan air matanya, karna sakit yang luar biasa di tubuhnya.
"Tidak, jangan bilang begitu...
Aku ingin membantu mewujudkan kematian mu, tapi dengan cara yang perlahan..." ucap Hazel tersenyum.
"Kau lihat tinggal berapa paku nya?" tanya Hazel sembari memperlihat kan ketiga buah paku di tangan nya.
"Ja-jangan ku mohon! Aku tak mau mati!" mohon pria tersebut dengan gemetaran, ia sudah mulai takut dengan Hazel.
Hazel pun hanya tersenyum dan berpindah posisi, ia pun memaku di lutut yang satu lagi, sontak pria tersebut pun semakin berteriak kesakitan, dan Hazel yang semakin tertawa.
Hazel pun telah selesai memaku di kedua lutut dan telapak tangan pria tersebut.
"Kenapa kau berisik sekali? Ha?" tanya Hazel dan mulai memukul mulut pria tersebut dengan palu yang ia pegang hingga membuat mulut, rahang dan gigi pria tersebut hancur.
"Kau tau? Dulu aku pernah belajar kedokteran sedikit...
Tapi sekarang aku sudah lupa...
Aku ingin belajar lagi, aku mulai dari belajar anatomi dulu..." ucap Hazel dengan setengah tertawa, ia pun mulai membelah tubuh pria tersebut dengan pisaunya yang sangat tajam.
Mulai dari leher hingga pusar, Hazel memisau dan membuka jaringan kulit pria tersebut.
Pria tersebut semakin merintih kesakitan, walaupun suaranya semakin tertahan karna mulut nya sudah hancur akibat palu Hazel, tapi tetap saja ia mengeluarkan suara rintihannya.
Tangan Hazel pun mulai masuk kedalam perut pria tersebut, dan menyentuh organ dalam dari pria tersebut.
Mata pria itu pun mendelik seakan-akan keluar, ia merasa sakit yang sudah tak tertahan lagi saat sebuah tangan menarik usus dan seisi perutnya. Hazel hanya tersenyum dengan wajah yang tak merasa bersalah sama sekali.
Sementara itu...
Alyss terbangun dan tersentak karna mimpi buruk yang terus berulang, ia tak tau kenapa ia terus memimpikan hal yang sama berulang kali, seakan-akan itu bukanlah mimpi melainkan memang kejadian yang pernah ia alami.
Alyss yang tak merasakan Hazel berada di samping nya pun mulai mencari keberadaan Hazel, ia tak pernah mengalami mimpi buruk jika tidur dengan Hazel dan selalu terbangun saat Hazel meninggalkan. Ketergantungan dengan Hazel semakin hari semakin terlihat jelas.
"Dia dimana?" tanya Alyss lirih, ia pun melihat ke balik selimut dan melihat tubuhnya yang sudah memakai pakaian lengkap. Hazel memasangkan dan merapikan pakaian nya lagi, karna sebelumnya mereka juga melakukan dengan setengah berpakaian.
Alyss mulai turun dari tempat tidur dan mencari Hazel ke sekeliling kamar, namun ia tak menemukan Hazel sama sekali di kamar tersebut.
Alyss bahkan tak tau ketergantungan nya pada Hazel sampai bisa membuatnya mencari pria yang selalu membuat nya menangis ke seluruh ruangan di kediaman megah tersebut.
"Dia kemana?" tanya Alyss lirih, ia sudah mengecek bahkan keruang kerja Hazel.
"Apa dia sedang keluar? Tapi kemana? Ruang putih?" tanya Alyss pada dirinya sendiri. Ia pun tiba-tiba teringat ke ruang putih, karna hanya itu ruangan yang belum ia datangi.
"Tapi kenapa dia disana? Tidak mungkin kan?" tanya Alyss pada dirinya sekali lagi.
Namun kaki nya terus melangkah dan turun ke ruangan basement Hazel. Saat ia sampai di depan pintu ruangan tersebut, Alyss mulai ragu.
Ia sangat takut dengan ruangan tersebut, tapi rasa penasaran nya juga sangat besar. Ia pun perlahan membuka ruangan tersebut.
Deg....
Bau amis mulai menyeruak masuk memenuhi indra penciuman nya. Suara tawa yang tak asing mulai terdengar di telinganya. Alyss pun semakin melangkah masuk dan...
"AKHHH!!!" teriak Alyss perlahan saat melihat Hazel menarik usus dari perut manusia terlihat seperti sedang menarik tali biasa.
Kaki Alyss pun langsung terasa lemas, hingga membuat nya langsung terjatuh.
Ruangan yang berwarna putih itu begitu kontras dengan warna merah dari darah yang berceceran dan membanjiri lantai putih di ruangan tersebut.
Hazel pun mengentikan tawanya dan melihat ke arah Alyss yang terlihat sangat terkejut dan terduduk di lantai.
"Kau bangun? Kenapa?" tanya Hazel semakin mendekati Alyss.
"Ja-jangan mendekat!" ucap Alyss gemetaran melihat Hazel yang di penuhi dengan darah dari mulai wajah, pakaian, tangan dan hampir semua tubuhnya tertutupi darah dari korbannya.
Wajah Alyss seketika pucat, tubuh kecil pun semakin gemetaran saat melihat Hazel datang mendekat padanya.
"Ke-kenapa kau membunuh nya?" tanya Alyss dengan suara gemetar.
"Membunuh? Dia belum mati...
Mungkin jika aku melakukan ini dia akan mati..." ucap Hazel yang mendekati pria tersebut lagi dan mulai mencabut jantung dari pria tersebut.
"Akhh!!!" teriak Alyss saat darah dari pria tersebut juga terciprat ke wajahnya.
Hazel pun membawa jantung pria tersebut ke arah Alyss.
"Ini...
Kau suka? Kau kan perlu belajar anatomi karna kau seorang dokter." ucap Hazel dengan wajah tanpa dosa menunjukkan jantung yang ia cabut barusan di tangan nya pada Alyss.
Alyss pun semakin gemetar, ia tak dapat mengeluarkan kata-kata apapun dari bibirnya.
"Tak suka? Lalu bagaimana dengan ini?" tanya Hazel sembari memberikan bola mata yang ia genggam ditangan satu lagi pada Alyss.
Alyss pun tak tahan lagi, ia mulai merasa mual dengan benda-benda yang ditunjukkan Hazel padanya, walaupun ia sendiri dokter tapi ia tetap takut jika melihat hal tersebut dengan cara mengerikan seperti ini.
"Hoek!!!" Alyss yang mulai memuntahkan isi perutnya.
"Hey? Kau tak apa?" tanya Hazel yang langsung khawatir melihat Alyss.
"Ja-jangan mendekat!" teriak Alyss sebelum kehilangan kesadaran nya.
Hazel pun langsung menangkap tubuh Alyss, ia memanggil Alyss beberapa kali dan menepuk pipi Alyss beberapa kali.
Alysscalla Zalea
Hazel Rai
...****************...
Hai maaf yah telat upnya, karna ada beberapa urusan tdi dan memang othor yang buat nya sudah malam, jadi upnya semakin lama🤧🤧🤧
Sebenernya othor juga tadi hampir ga mau up tapi kemarin othor bilng "besok" jadi ttp othor up😉😉😉
Oh iya buat kalian yang sering tanya kapan Alyss bahagianya, dia pasti bahagia kok, tapi muncul perlahan yah...
Dan yang bilang Alyss keras kepala, karna itu memang sifatnya, kayak Hazel yang sifat nya psycho. Mereka punya sifat sendiri-sendiri dan untuk sifat sendiri itu memang susah ngubahnya, jadi dia berubah secara perlahan.
Dan untuk Alyss sama Hazel othor uda buat part atau garis besar cerita mereka yang bucin-bucinan yah atau pun bab yang penyesalan Hazel tapi belum othor keluarin karna memang ngikuti alurnya dulu.
Othor gak mau ngelang karna nanti jadi kayak gak selaras🤧🤧
Yasudah sekian saja curhat othor🤧🤧
Jangan lupa like, komen, fav, vote, rate 5 dan dukung othor selalu yah🥰🥰🥰
Terimakasih yang sudah dukung othor dan mampir❤️❤️
Happy reading❤️❤️❤️