(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Beautiful in white



5 Hari kemudian.


"Kita mau kemana?" tanya Alyss sembari melihat ke arah luar jendela mobil yang sedang melaju tersebut.


"Kau akan tau saat tiba nanti." jawab Hazel.


Setelah 5 hari berlalu bekas ciuman di tubuh Alyss mulai memudar begitu pula dengan bekas gigitan yang sudah mulai membaik.


Alyss tak bertanya lagi kemana mereka akan pergi, sedari pagi Hazel sangat bersemangat untuk membawa nya, namun tak mengatakan tujuan perginya.


Setelah kurang lebih 35 menit, mereka sampai di toko yang terlihat mewah dan besar yang hanya khusus menjual gaun pengantin, dan di design oleh disigner yang terkenal.


"Ayo, turun." ajak Hazel pada Alyss.


Alyss mengikuti langkah Hazel dan ikut masuk ke toko tersebut. Para pekerja di toko tersebut pun menyambut mereka dengan ramah.


Alyss mengandahkan pandangan nya ke arah gaun-gaun yang tersusun dan di pajang dengan rapi, semua gaun memiliki design yang cantik dan keindahan tersendiri.


"Ada yang kau sukai?" tanya Hazel, saat melihat Alyss yang mengandahkan pandangan pada gaun-gaun tersebut.


"Entahlah, aku juga tak tau..." jawab Alyss lirih.


Karna Hazel merupakan salah satu pelanggan VIP para pekerja di toko tersebut pun membawa mereka ke privat room, tempat untuk para pelanggan VIP.


"Ingin minum apa Tuan? Nona?" tanya salah satu pekerja toko.


"Lemon tea." jawab Hazel


"Kau ingin apa?" tanya Hazel pada Alyss.


"Yang sama dengan mu saja." jawab Alyss.


"Baik, silahkan melihat lebih dulu gaun-gaun nya, jika ada yang diperlukan silahkan panggil kami." ucap pekerja tersebut dengan ramah.


Hazel pun mulai berjalan dan melihat-lihat gaun yang terpajang sedang kan Alyss hanya duduk diam sembari memperhatikan sekilas.


"Gaun ini merupakan salah satu design terbaru, gaun ini memiliki makna cinta sejati, Apakah nona ingin mencoba nya?" ucap salah satu pekerja yang membawa gaun bewarna putih dengan corak mawar.


"Hmmm...


Aku..." jawab Alyss bingung.


"Coba saja, aku ingin lihat." ucap Hazel.


Para pekerja toko tersebut pun langsung membawa Alyss keruang ganti dan memakaikan Alyss gaun tersebut, serta ikut memberi riasan yang sesuai dengan tema gaun.


Setelah menunggu sekitar beberapa menit mereka pun membawa Alyss lagi sudah mereka dandani.



Mereka mengikat rambut Alyss dan memasangkan mahkota padanya, Hazel masih terdiam, ia terpesona dengan tampilan Alyss yang mengenakan gaun pengantin tersebut dan memegang setangkai mawar.



"Kenapa kau diam saja? Tak bagus" tanya Alyss sembari melihat dirinya ke cermin besar di ruangan tersebut.


"Cantik, sangat cantik..." ucap Hazel yang menghampiri Alyss dan memegang bahu Alyss dari belakang.


Hazel melihat Alyss dari pantulan cermin tersebut.


"Kau suka gaun ini?" tanya Hazel sembari mengecup tengkuk Alyss.


"I-itu...


Apa yang kau lakukan? Me-mereka melihat..." ucap Alyss ketika Hazel mencium tengkuk nya dan mulai beralih menciumi lehernya. Sedangkan para pekerja toko tersebut masih berada di dalam ruangan itu dan dapat melihat apa yang Hazel lakukan.


"Hanya mencium mu, kenapa? Kau ingin sesuatu yang lebih?" tanya Hazel santai.


"Ti-tidak...


Jangan begitu, aku malu...


Mereka melihat kita...." jawab Alyss.


Hazel pun hanya tersenyum dan duduk kembali di sofa yang sudah di sediakan.


"Kami ambil gaun yang ini." ucap Hazel sembari meminum es lemon tea nya.


"Ada yang lain?" tanya Hazel lagi.


"Ada tuan, kami memiliki banyak design terbaru. Apakah tuan ingin kami merekomendasikan untuk nona Alyss lagi?" tanya salah satu pekerja tersebut pada Hazel.


"Ya, keluarkan gaun terbaik kalian dan buat dia mencoba nya." perintah Hazel.


Mereka pun membawa Alyss lagi keruang ganti dan mengganti gaun Alyss.



Setelah beberapa menit mereka pun membawa Alyss dengan balutan gaun yang lebih membentuk tubuhnya, bukan gaun yang memiliki rok mekar seperti sebelumnya.


"Kami juga ambil yang ini." ucap Hazel.


Hazel pun meminta mereka mengganti lagi gaun untuk Alyss.



Mereka pun kembali lagi dengan membawa Alyss sudah mengganti gaun nya serta riasannya.


"Kami ambil yang ini juga." ucap Hazel.


"Ganti lagi." perintah Hazel.


Para pekerja tersebut pun hendak membawa Alyss lagi, namun Alyss sudah merasa bosan dan lelah karna selalu di ganti gaun yang ia gunakan serta mengganti riasan di wajahnya seperti boneka yang sedang di hias.


"Tidak! Aku tidak mau! Kenapa kau membeli semua yang ku coba? Aku tak mau ganti gaun lagi, kaki ku pegal." ucap Alyss kesal pada Hazel yang sedang duduk di sofa dan menikmati lemon tea.


"Kaki mu pegal? Dan aku membeli semua gaun yang kau coba, karna kau terlihat cantik dengan semua gaun itu." ucap Hazel dan menghampiri Alyss.


"I-iya...


Aku..." jawab Alyss lirih ketika melihat Hazel yang mendatanginya, ia mulai takut jika Hazel akan memarahinya lagi.


"Bisakah kami megambil beberapa foto bersama?" tanya Hazel pada para pekerja tersebut.


"Bisa pak." jawab para pekerja toko serempak.


"Foto? untuk apa?" tanya Alyss heran.


"Kita tak punya foto bersama." jawab Hazel sembari mengelus dan memainkan rambut panjang Alyss.


Setelah mengambil foto bersama, Hazel membawa Alyss kembali.


"Kau ingin makan dulu? Kau lapar?" tanya Hazel ketika mereka sudah di mobil.


"Tidak terlalu..." jawab Alyss tanpa memandang wajah Hazel, ia masih melihat ke arah jendela.


Alyss merasa gelisah, takut, tak nyaman, serta perasaan yang sulit untuk dikatakan. Ia tak tau jika akhirnya ia akan menikahi pria yang sangat ia benci.


Dan ia akan menikah dengan dengan pria seperti itu.


"Kau mau makan siang dimana? Restoran xx?" tanya Hazel lagi.


"Iya..." jawab Alyss lirih, ia tak begitu mendengarkan ucapan Hazel karna ia sendiri masih tenggelam di pikiran nya.


"Setelah kita makan, kau mau pergi berkuda? Kau bisa menunggangi kuda?" tanya Hazel lagi, ia terus saja mengajak Alyss bicara sedari tadi.


"Iya..." jawab Alyss lirih.


"Benarkah? Kalau begitu kau ingin kita bertanding nanti?" tanya Hazel lagi.


"Iya..." jawab Alyss dengan jawaban yang sama, karna ia memang tak begitu mendengarkan Hazel, maka dari itu ia hanya menjawab "iya" di setiap pertanyaan Hazel.


"Jika kau menang, aku akan kabulkan semua permintaan mu kecuali minta di lepaskan dan minta untuk membatalkan pernikahan." ucap Hazel lagi.


"Iya..." jawab Alyss.


Mereka pun tiba di restoran yang di tuju, Hazel segera memesankan makanan untuk Alyss dan dirinya.


"Hmmm...


Besok apa aku boleh menginap di rumah ibuku. Hanya dua hari." tanya Alyss di sela makan mereka. Walaupun Hazel sudah mengizinkannya untuk pulang besok namun ia belum mengatakan akan mengizinkan untuk menginap juga.


"Boleh! Kenapa tak boleh?" jawab Hazel.


"Sungguh?" tanya Alyss dengan wajah antusias.


"Iya, lagi pula kan aku juga ikut dengan mu, jadi aku juga akan menginap." jawab Hazel enteng.


"A-apa? Untuk apa kau ikut?" tanya Alyss terkejut.


"Untuk apa? Kau ingin orang tua mu tak tau dengan siapa putri mereka akan menikah?" tanya Hazel santai.


"I-itu...." jawab Alyss ia bingung ingin menjawab apa lagi, karna yang dikatakan oleh Hazel memang ada benarnya.


"Setelah ini kita akan pergi berkuda, jadi siapkan makan mu segera." ucap Hazel.


"A-apa? Berkuda? Kita? Aku bahkan tak pernah naik kuda sendiri." jawab Alyss terkejut, karna sebelumnya ia tak mendengarkan perkataan Hazel di mobil ia menjadi terkejut saat Hazel mengatakan mereka akan pergi berkuda.


"Kau bilang kau tadi bisa...


Kau tak mendengarkan ku?" tanya Hazel dengan memicingkan matanya menatap Alyss.


"Eh? I-itu...


A-aku salah dengar tadi..." jawab Alyss gugup saat Hazel menyorot nya dengan mata penuh selidik.


"Yasudah, nanti akan ku ajari." jawab Hazel enteng dan melanjutkan makan nya.


......................


Tempat pacu kuda.


Setelah mereka selesai makan siang Hazel langsung membawa Alyss ke tempat peternakan kuda miliknya.


"Tempat ini milikmu?" tanya Alyss saat melihat para pengurus yang begitu menyambut Hazel dan sudah tak asing lagi.


"Tentu saja! Sebentar, biar ku suruh mereka mengambil kuda ku." ucap Hazel.


Tak lama kemudian salah satu pengurus peternakan tersebut mengantarkan kuda berwarna coklat pada Hazel.


Hazel pun langsung mengelus kuda tersebut dan memegang talinya.



"Kau ingin mengelus nya? Dia jinak." tanya Hazel pada Alyss.


"Ehmm...


A-aku..." jawab Alyss sembari mulai mengelus kepala kuda tersebut.


"Lihat tak apa kan? Sepertinya brown menyukaimu." ucap Hazel pada Alyss.


"Iya...


Dia baik...


Kau menamainya "Brown"? Nama yang sangat sesuai dengan nya" jawab Alyss mulai tersenyum dan terus mengelus kuda Hazel.


"Kau mau menaikinya?" tanya Hazel pada Alyss.


"Eh? Menaikinya? Tapi aku tak pandai menunggang kuda..." jawab Alyss dan mulai terasa tubuh nya terangkat oleh Hazel.


Hazel mengangkat pinggang Alyss agar dapat menaiki kuda tersebut.


"Eh? Apa yang kau laku-" ucap Alyss terpotong saat Hazel sudah ikut naik.


"Mau melihat sekitar? Sudah lama aku tak kesini." ucap Hazel dan langsung membuat kuda tersebut berlari.


Hazel memegang Alyss dari belakang, agar tak membuat Alyss terjatuh, sedangkan Alyss memegang tali kuda tersebut dengan kuat, ia sangat takut jika akan terjatuh nantinya, karna kuda tersebut berlari sangat cepat.


"Tenanglah...


Aku tak akan membiarkan mu terjatuh..." ucap Hazel di telinga Alyss untuk menenangkan Alyss.


"Ku-kuda nya cepat sekali..." jawab Alyss yang masih sangat takut.


Hazel hanya tersenyum dan mulai mengendalikan kuda tersebut agar tak berlari dengan cepat lagi.


"Begini kau sudah tak takut?" tanya Hazel ketika kuda tersebut sudah hanya berlari kecil.


"Iya...


Begini sudah tak terlalu menyeramkan lagi." jawab Alyss.


Hazel pun membawa Alyss berkeliling hingga senja dan melihat langit yang berubah menjadi berwarna jingga. Melihat bagaimana langit mengganti warnanya dengan indah.



(Satu lagi fotonya yah wkwk)


...****************...


Haii.....


Jangan lupa like, rate 5, vote, fav, serta dukungan yang bisa kalian berikan ke othor yah🤗🤗🤗


Oh iya jangan lupa komen juga hihi....


Mau komen tentang apapun bisa😅😅


Othor suka banget sama komenan kalian mau tentang kritikan pemeran nya ataupun yang lainnya hihi😅🤗😅🤗


Happy Reading ❤️❤️❤️❤️