
Sebelumnya Hazel mulai kehilangan kesadaran nya karna darah yang semakin keluar terus menerus, seharusnya tusukan pisau yang di berikan Alyss tak terlalu dalam, namun karna ia semakin memperdalam tusukan pisau dan memaksa memeluk Alyss membuat pisau tersebut semakin dalam masuk ke tubuh nya.
Dan saat ia mulai melonggarkan pelukan nya yang berarti dia sudah mulai lemas karna kehilangan dari sekian banyak darah nya, Alyss pun langsung menahan tubuh Hazel.
Alyss pun langsung menelpon dr. Alzi melalui yaitu dokter pribadi Hazel melalui ponsel Hazel sendiri. Alyss meminta beberapa alat dan bahan yang ia perlukan untuk menutup luka Hazel, setelah dr. Alzi membawa nya ia pun langsung mengambil nya dan mengatakan jika dia yang akan mengobati Hazel.
Ia melihat ke arah Hazel terbesit perasaan bersalah di hatinya, namun ia juga memikirkan sesuatu yang lain yaitu Hazel yang memiliki fisik lebih kuat dari kebanyakan pria lain nya.
Walaupun wajah nya sudah sepucat kertas, darah yang ia keluarkan sangat banyak namun Hazel sama sekali tak kehilangan kesadarannya, mungkin itu sebuah anugrah ataupun kutukan.
Kutukan dari para korban nya agar ia tak cepat mati dan semakin lama merasakan sakit di tubuhnya tanpa kehilangan kesadaran nya sama sedikitpun.
"Kau sengaja tak memberiku anestesi sama sekali kan?" tanya Hazel pada Alyss yang sedang mengobati lukanya.
NB KET : Anestesi adalah bius lokal, untuk menghilangkan rasa sakit, atau bisa lebih disebut obat bius.
"Aku lupa, mungkin aku bukan dokter yang terampil." jawab Alyss enteng, ia sengaja tak memberi Hazel anestesi sedikitpun agar Hazel sedikit merasakan sakit walaupun ia sedang mengobati luka Hazel.
Alyss pun dengan fokus mengobati luka tusukan di perut Hazel, tusukan nya sesuai di tempat yang ia inginkan, tak mengenai organ penting manapun sehingga tak di perlukan operasi besar untuk menutup lukanya.
"Kenapa kau terus melihat ku? Sekarang kau sudah punya pikiran mau menceraikan ku?" tanya Alyss pada Hazel saat ia merasa Hazel terus memperhatikan nya.
"Tidak, aku tak pernah ingin menceraikan mu..." jawab Hazel sembari terus menatap lembut wajah Alyss.
"Pisau nya tak mengenai organ penting, tapi kau bisa mati kehabisan darah." ucap Alyss ketika ia selesai dan mulai menutup luka di perut Hazel dengan perban.
"Kalau aku kehabisan darah. Aku mungkin akan menghisap darah mu..." ucap Hazel setengah tertawa dengan wajah pucat nya.
Alyss memejamkan matanya sesaat, bagaimana pria yang di hadapan nya bisa sangat santai?
"Aku tak bercanda!" jawab Alyss kesal.
"Kenapa kau terlihat marah?" tanya Hazel sembari meraih tangan Alyss.
"Siapa yang menyuruh mu, memperdalam tusukan nya?! Bagaimana kalau kau benar-benar mati?! Kau harus tetap hidup agar aku bisa terus membenci mu!" jawab Alyss kesal.
Ia marah sekaligus khawatir, ia juga merasa bersalah, karna walaupun sifat aslinya sudah kembali, ia masih Alyss yang dulu, masih Alyss yang selalu mementingkan hati nurani, kepribadian baik yang ia buat lebih mendominasi nya, karna ia memakai kepribadian tersebut hampir seumur hidupnya.
"Kau khawatir?" tanya Hazel tiba-tiba hingga membuat Alyss langsung terdiam.
"Tidak! Kenapa aku harus khawatir?! Ini tak seberapa dengan yang kau lakukan dulu!" jawab Alyss yang semakin kesal.
Hazel hanya tersenyum simpul, mendengar sangkalan Alyss.
"Kau menyukai ku?" tanya Hazel lagi sembari menatap nanar ke arah Alyss.
Alyss terdiam sesaat ia tak tau bagaimana harus menjawab Hazel, ia pun mulai melihat kearah Hazel sembari saling mengunci pandangan satu sama lain.
"Hm, aku menyukai mu tapi aku juga membenci mu...
Apa yang harus ku lakukan sekarang? Aku sangat ingin melihat mu menderita...
Sangat...
Tapi jika itu benar-benar terjadi aku juga terluka..." jawab Alyss sembari terus menatap ke arah Hazel.
Hazel tak menjawab ia hanya diam, sembari terus menatap Alyss. Ia ingin Alyss mengatakan semua isi hati nya, sejak Alyss bangun hingga sekarang, Alyss belum mengatakan isi hatinya yang sebenarnya, ia belum meluapkan isi hati nya sama sekali, ia hanya menunjukkan sisi kuat nya.
"Kau meninggalkan ku saat kita masih kecil... Baik, mungkin aku bisa memaafkan mu untuk itu, karna aku juga yang keluar dari tempat yang persembunyian yang kau berikan pada ku, jadi itu bukan kesalahan mu seutuhnya..." Sambung Alyss.
"Tapi bagaimana saat kita dewasa? Saat kita dewasa kau mengatakan menyukai ku, tapi terus menyiksa ku...
Kau benar-benar pria paling munafik yang pernah ku temui, dulu kau bilang jika aku tak boleh membunuh kucing ku, lalu sekarang? Sekarang kau bahkan menjadi pembunuh sama seperti si gila itu!
Kau juga hampir membunuh ku berulang kali...
Jika saja kau tak terlalu banyak menyakiti ku...
Jika saja kau sedikit mempercayai ku...
Mungkin aku tak akan sebenci ini..." jawab Alyss dengan suara tertahan, memiliki rasa suka yang di balut dengan kebencian sungguh menyesakkan.
Semuanya menjadi serba salah, ia tak tau harus bagaimana. Apa yang harus ia lakukan agar hatinya bisa lega.
"Kau tau kenapa aku sangat sulit memaafkan mu? Karna itu kau...
Karna aku menyukai mu, walaupun aku pernah lupa dengan mu, tapi aku menyukai mu lagi...
Karna aku menyukai dan kau menyakiti ku lagi...
Lagi dan lagi...
Karna aku menyukai mu, jadi semakin sulit memaafkan mu, dibandingkan dengan marah, aku lebih merasa kecewa...
Makanya terasa sulit bagi ku untuk memaafkan mu..." ucap Alyss tersenyum getir sembari mulai mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.
"Kalau waktu bisa di putar ke dua tahun yang lalu, aku akan benar-benar memilih untuk tidur dengan Leo, dengan begitu semua tuduhan mu akan menjadi benar kan? Dan aku tak perlu di siksa untuk kesalahan yang tak pernah ku lakukan...
Kau tau tatapan mu saat kau menanyai ku dulu? Saat kau bertanya apa aku benar-benar tidur dengan Leo? Tatapan merendahkan, tatapan tak mempercayai ku, tatapan yang membuat ku terlihat seperti wanita murahan...
Kau memang tak mengatakan nya secara langsung, tapi mata mu mengatakan nya...
Kau memiliki jawaban mu sendiri...
Kau tak ingin jawaban yang sebenarnya...
Kau hanya ingin mempercayai yang ingin kau percayai..." ucap Alyss sembari menatap nanar iris Hazel, jika saja sifat aslinya tidak kembali ia tak akan pernah mengatakan hal ini, karna ia tak akan memilki keberanian untuk itu.
"Waktu tak bisa di ulang, dan aku tau jika aku memberi mu luka yang sangat banyak...
Akan ku coba perbaiki apa yang sudah ku rusak..." ucap Hazel membalas perkataan Alyss, walaupun ia tau berubah itu tak mudah, merubah sikap kasar dan suka menyiksa nya terutama sifat psycho yang sangat suka melihat penderitaan dan rasa sakit orang lain.
Mungkin dia akan berubah menjadi normal, tapi jika itu hanya dengan wanitanya! hanya bersama wanita nya! Mungkin ia akan berusaha mengendalikan dirinya. Ia tak bisa menjamin jika ia dengan orang lain, mungkin saja ia tetap akan memiliki sifat yang sudah mendarah daging dan menyatu di dirinya.
"Kalau begitu, kita tetap seperti ini saja dulu...
Sekarang semua tergantung pada mu...
Kau akan membuat ku memiliki rasa suka yang lebih besar dari kebencian ku, atau sebaliknya..." jawab Alyss.
"Dan satu lagi, aku tak akan minta maaf atas apa yang ku lakukan hari ini...
Kau melakukan yang lebih buruk pada ku dulu..." ucap Alyss sebelum ia bangun dari duduk dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan mencuci tangan nya yang masih tertinggal darah Hazel.
Alyss mencuci tangan nya dengan membasuh nya menggunakan air. Lalu membasuh mulai membasuh wajah nya. Ia melihat mata nya yang masih sembab karna ia menangis barusan, ia tak tau kenapa ia menjatuhkan bulir bening nya saat menyampaikan isi hatinya.
"Shit! Damn! Kenapa aku menangis?! Sial!" umpat Alyss pada dirinya sendiri saat ia melihat ke arah cermin.
......................
"Kau benar-benar kuat yah...
Terluka dan hampir kehabisan darah pun cepat sekali pulih nya..." ucap Alyss saat melihat Hazel di ruang kerja nya, selama waktu 8 hari itu, Hazel tak benar-benar beristirahat atau memulihkan lukanya, ia tetap bekerja namun di kediamannya. Hanya tempat saja yang berbeda tapi pekerjaan nya sama.
"Kau membutuhkan sesuatu?" tanya Hazel saat melihat Alyss datang ke ruang kerja nya.
"Hm, aku butuh pelatih tampan...
Aku mau belajar bela diri, setidaknya aku bisa melindungi diri ku jika ada yang tiba-tiba ingin melukai ku." jawab Alyss, ia masih memikirkan pria bertato matahari yang ia temui di ruangan Hazel sebelumnya.
"Pelatih? Pria?!" tanya Hazel dengan nada tinggi dan sontak membuat Alyss terkejut.
"Iya, kenapa teriak?! Membuat ku jadi terkejut saja!" jawab Alyss yang juga dengan nada tinggi.
"Tidak! Kau tunggu aku pulih saja! Aku yang akan mengajarimu!" jawab Hazel tegas, ia tak mau jika Alyss berinteraksi dengan pria manapun.
"Kau kan masih sakit! Carikan saja aku pelatih! Jangan lupa yang punya wajah tampan yah." ucap Alyss lagi dengan enteng.
"Satu minggu...
Satu minggu lagi aku akan benar-benar pulih, kau olahraga bebas saja dulu satu minggu itu, agar fisik mu lebih kuat, jadi nanti kau lebih mudah belajar bela dirinya." ucap Hazel yang tetap kukuh tak mau Alyss di ajari dengan pelatih pria.
"Ishh...
Aku tak suka olahraga, kan aku sudah pernah bilang! Latihan saja langsung! Kenapa harus olahraga dulu sih?" jawab Alyss kesal.
"Kau mau pelatih wanita? Dan lagi beladiri kan juga termasuk olahraga." ucap Hazel.
"Tak mau pelatih wanita! Aku mau cuci mata dengan melihat pria tampan!" jawab Alyss yang juga kukuh.
"Belum ada dua minggu kau mengatakan kau menyukai ku, tapi sekarang kau mau mencari pria lain?" tanya Hazel mengerutkan dahinya.
Alyss pun tersenyum dan mulai menjawab pertanyaan Hazel.
"Aku memang menyukai mu, tapi aku juga membenci mu, jadi jangan lupakan kalimat terakhirnya"
"Dan lagi memang nya kalau suka tak boleh yah, cuci mata dengan melihat pria lain?" tanya Alyss dengan santai.
"Kalau mau cuci mata, sana cuci mata pakai air saja!" jawab Hazel kesal.
"Kok jadi lari dari topik pembicaraan sih?" ucap Alyss kesal.
"Yasudah, kalau begitu pembahasaan selesai! Selama satu minggu kau olahraga bebas, seperti lari dan setelah itu aku akan mengajari mu bela diri." ucap Hazel tegas.
"Kalau langsung belajar beladiri saja tak bisa?" tanya Alyss lagi, karna ia memang tak pernah menyukai olahraga, dan dalam bayangan nya beladiri hanya belajar cara memukul orang lain.
Sedangkan Hazel menyuruh nya olahraga bebas agar fisik nya tak terkejut saat ia belajar beladiri.
"Kalau begitu kau mau olahraga malam saja dengan ku?" tanya Hazel lagi dengan mulai menunjukkan senyum nya.
"Kenapa malam? Bukannya lebih baik pagi yah? Lagi pula kau juga masih terluka." jawab Alyss yang tak mengerti ucapan Hazel.
"Pagi? Pagi juga bagus! Tidak aku baik-baik saja, lagipula itu jenis olahraga yang paling kusukai..." ucap Hazel yang terus menunjukkan senyum nya.
Alyss terdiam beberapa saat melihat senyuman Hazel, senyuman yang menyimpan sesuatu di baliknya.
"Shit! Dasar mesum!" ucap Alyss saat ia mulai menangkap maksud Hazel.
Hazel pun tertawa kecil mendengar umpatan Alyss padanya. Baginya tak ada salahnya kan, jika punya pikiran mesum dengan istrinya sendiri.
"Kau mau belajar beladiri apa?" tanya Hazel sekali lagi.
"Kau bisa nya apa?" tanya Alyss yang malah balik bertanya.
"Taekwondo, Tinju, Krav maga, SOCP, Karate, Anggar dan Menembak." jawab Hazel.
"Kau ini lahir hanya untuk belajar beladiri yah? Kenapa banyak sekali? Pantas saja tubuhmu seperti besi..." ucap Alyss yang terkejut mendengar jawaban Hazel.
"Kau belajar Taekwondo dan Tinju saja. Itu tak terlalu bahaya dan lebih mudah dipelajari..." ucap Hazel sekali lagi.
"Tapi jika kau banyak belajar bela diri, kenapa kau dulu kalah dari si gila itu?" tanya Alyss sembari memutar ingatan nya, mengingat penculikan nya dengan Aegyt dulu.
"Yang pertama aku masih berumur 12 tahun, kedua aku belajar beladiri dengan sungguh-sungguh saat aku sudah terbebas dari orang itu." jawab Hazel, karna memang sejak penculikan itu Hazel dengan sungguh-sungguh belajar berbagai macam beladiri agar lebih kuat, dan juga agar menutupi rasa bersalahnya yang tak bisa melindungi Alyss kecil.
"Ckk, Yasudah mulai minggu depan." jawab Alyss dan mulai keluar dari ruangan Hazel.
......................
Satu minggu kemudian.
Ruang olahraga kediaman Hazel, Hazel memilki ruang gym sendiri di kediamannya, karna memang kediaman nya benar-benar tersedia semua.
BRUK!!!
"Shit! Kenapa membanting ku terus?! Kau sedang membalas ku yah?!" ucap Alyss kesal saat mereka sedang berlatih taekwondo.
"Makanya aku, menyuruh mu olahraga bebas dulu, supaya tubuh mu tak terkejut." ucap Hazel sembari membangunkan Alyss.
"Yasudah sana angkat barbel dulu, setelah itu aku akan ku ajari lagi." sambung Hazel.
Alyss hanya menatap kesal Hazel dan berjalan ke arah tumpukan barbel.
"Atau kau mau olahraga malam saja dengan ku?" tanya Hazel dengan senyuman di wajahnya sembari melihat ke arah Alyss.
"Shut up your f*cking mouth!"
(Tutup mulut sialan mu itu!) jawab Alyss kesal.
Alysscalla Zalea
Hazel Rai
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote, rate 5, dan dukung othor yah🥰🥰❤️❤️
Oh iya othor mau bilang kalo karya kedua othor yang My psycho Boyfriend and Mr. Mafia itu dua hari sekali yah up nya selama novel when the devil falls in love masih up, setelah novel ini tamat, baru up setiap hari yah novel kedua othor😉
Tapi othor usahain up setiap hari juga kok, kalo gak ada halangan😅