
Sejak hari dimana Hazel tiba-tiba kembali begitu saja membuat Shelly khawatir akan sikap menantu nya, ia pun mencoba menghubungi Hazel ataupun Alyss namun kedua nya tak kunjung menjawab nya. Hingga membuat Shelly berinisiatif mengunjungi putri dan menantunya tersebut ke kediaman Hazel.
Saat Shelly berkunjung kepala pelayan di kediaman Hazel pun langsung menghubungi Hazel. Hazel memang sudah sangat jarang kembali ke kediaman nya, karna ia lebih sering tinggal di RS.
Ia sebenarnya juga ingin memindahkan Alyss ke kediaman nya, namun kondisi Alyss yang tak menentu membuatnya tak mau ambil resiko dan tetap membuat Alyss menjalani perawatan di RS agar mendapatkan perawatan semaksimal mungkin.
Setelah mendapat kabar bahwa ibu mertuanya mengunjunginya membuat Hazel bergegas pergi ke kediamannya.
"Mama sudah menunggu lama?" tanya Hazel saat melihat ibu mertuanya yang duduk di ruang tengah.
"Tidak terlalu lama kok nak, Alyss mana? Mamah udah lama tidak bertemu dengan nya." ucap Shelly pada Hazel.
Hazel terdiam sejenak, ia sangat bingung harus menjawab apa pada ibu mertuanya.
"Alyss masih di rumah sakit mah..." jawab Hazel lirih, ia juga tak sepenuhnya berbohong karna Alyss memang benar di rumah sakit karna harus menjalani perawatan.
"Mamah sudah menghubungi dia, tapi tidak aktif sampai sekarang...
Kamu antar mamah ketemu Alyss bisa, nak?" tanya Shelly sekali lagi dan membuat Hazel bingung.
Hazel pun akhirnya menghela nafasnya dengan panjang, ia mulai berpikir untuk jujur pada ibu mertuanya.
"Sebenarnya Alyss....." jawab Hazel dengan suara semakin mengecil.
"Ke-kenapa? Alyss tidak kenapa-kenapa kan? Di-dia baik-baik saja kan?" tanya Shelly yang mulai khawatir, bukan apa-apa namun ia sudah merasa janggal saat Hazel pergi tiba-tiba dari rumahnya.
"Hazel akan bawa mamah bertemu dengan Alyss..." jawab Hazel lirih.
Shelly pun segera menghubungi Dion suaminya agar mereka bisa menemui putrinya bersama, firasat nya kian memburuk saat ia melihat wajah Hazel yang menampilkan raut wajah, cemas, sedih, khawatir dan merasa bersalah.
......................
JBS Hospital.
Shelly dan Dion semakin bingung saat mereka menaiki lantai teratas di rumah sakit tersebut dan saat Hazel menunjukkan pintu yang terdapat putri mereka di balik nya.
Cklek
Deg...
"Di-dia putri ku?" tanya Shelly lirih dengan suara bergetar, kaki nya terasa kehilangan tenaga, mata nya memejam berulang kali agar memastikan bahwa ini nyata.
"Apa yang terjadi?" tanya Dion yang juga sangat terkejut melihat apa yang ada di hadapan nya.
Orang tua mana yang tak akan terkejut jika melihat putri satu-satunya yang ia besarkan dengan hati-hati kini terbaring lemah dengan banyak alat medis yang melekat di tubuh putrinya.
Shelly pun mulai berjalan mendekat ke arah putri semata wayang nya, langkahnya kian berat karna di setiap langkahnya ia hanya berharap jika ini mimpi.
"Nak....
Alyss...
Kenapa bisa sampai begini?" tanya Shelly yang mulai menjatuhkan bening nya satu persatu dari mata nya.
Tangan nya dengan lembut meremas jemari putrinya yang terasa dingin, mata nya menelisik keadaan putrinya. Sampai...
Ia pun mengernyitkan dahi ketika melihat jalur biru yang masih tercetak di tubuh putrinya, ia mulai membuka dua kancing dari baju pasien yang dikenakan oleh putrinya untuk melihat lebih jelas bekas luka tersebut.
Luka tersebut merupakan luka memar sehingga tak di balut namun jika luka yang mengeluarkan darah tentunya luka nya sudah terbalut sehingga tak tau bentuk lukanya seperti apa.
Tangan Shelly kian bergetar ketika memperhatikan bekas luka apa di tubuh putrinya, ia bisa sangat yakin jika putrinya sedang mengalami kekerasan dalam rumah tangga nya ketika melihat bekas luka tersebut.
Tentu saja dia bisa tau dalam sekali lihat, pekerjaan nya sebagai dokter forensik membuatnya sudah pernah melihat jenis luka manapun. Ia pun menutup mulut nya seakan-akan tak percaya apa yang sedang terjadi.
Hatinya begitu hancur melihat apa yang putrinya alami, ia semakin menjatuhkan bulirnya tak akan ada seorang ibu yang bisa melihat keadaan putrinya seperti ini.
Ia pun berjalan ke arah Hazel, matanya menatap dengan penuh kebencian pada menantunya.
"Dasar Jahat! Apa yang kau lakukan pada putri ku?! Ha?!" teriak Shelly pada Hazel sembari mulai memukuli dada bidang Hazel dengan sekuat tenaga yang dia miliki.
"Tenang mah...
Tenang...." ucap Dion yang berusaha menenangkan istrinya nya yang sedang memukuli Hazel, dari memukul dada bidang nya, hingga memukul kepala serta menampar pipi Hazel berulang kali, dan Hazel tak mencegah sedikitpun atau pun melawan, ia membiarkan ibu mertuanya memukulnya habis-habisan.
"Tenang?! Kau bilang tenang?! Kau tau apa yang dia lakukan?! Putri mu seperti itu sekarang, karna dia yang membuatnya!" teriak Shelly dengan penuh amarah yang bercampur tangis pada suaminya.
Dion terdiam sejenak, ia pun segera melangkah ke arah putri nya, mendekati putrinya dan melihat putrinya dengan seksama, dan memang benar ia dapat melihat jalur-jalur biru memar di tubuh putrinya.
Hatinya begitu hancur melihat hal itu, bahkan ia sendiri yang merupakan ayah kandung nya dan membesarkan nya dengan segala kasih sayang yang ia punya tak pernah memukul putrinya dari kecil hingga saat ia dewasa. Tak pernah sekali pun!
Baginya putrinya sangat berharga dan tak boleh terluka sedikitpun, sesayang itu ia pada putrinya hingga bahkan hanya sekedar menjewer pun tak pernah ia lakukan.
"Apa yang dia lakukan pada mu? Hiks...
Sampai...
Sampai kau melakukan hal seperti itu padanya...
Sudah ku bilangkan dia itu keras kepala....
Kalau kau tak menginginkan nya, kembalikan saja dia pada ku, tak usah menyiksanya..." ucap Shelly lirih dengan tangis segugukan nya, ia sudah lelah memukul Hazel habis-habisan yang terus diam tertunduk menerima pukulan nya.
"Maaf..." ucap Hazel dengan bibir gemetar dan mulai berlutut pada Shelly, hatinya juga sangat hancur sekarang.
"Kau...
Kenapa kau melakukan itu? Hm? Kenapa menyakiti putri ku? Kenapa menyiksanya? Dia membuat mu kesal? Dia melakukan kesalahan? Atau kau tak menyukainya lagi?" tanya Shelly lirih pada Hazel yang kini sedang berlutut di hadapannya.
"Aku mencintainya..." jawab Hazel lirih dengan suara yang sangat pelan.
"Cinta? Kau! Berani sekali kau mengatakan mencintainya! Kau sebut ini cinta? Ha?!" tanya Shelly dengan amarah yang semakin menaik.
"Aku...
Aku membesarkan nya dengan seluruh kasih sayang yang ku miliki...
Bahkan bisa di hitung dengan jari berapa kali aku menghukum fisik nya..." ucap Shelly yang semakin menjatuhkan bulir bening nya.
"Atau kau merasa karna dia gadis biasa? Tak cukup pantas bersanding dengan mu sehingga memperlakukan nya seperti itu?" tanya Shelly lagi dengan suara yang semakin tertahan, dada nya kian sesak saat ia semakin bertanya pada Hazel.
"Tidak...
Tapi apapun alasan nya aku memang bersalah..." jawab Hazel lirih.
"Kenapa? Lalu apa alasan nya? Kau tau? Saat dia menikahi mu, memilih mu menjadi suaminya...
Aku berusaha mengganggap mu sebagai putra ku juga....
Karna putri ku memilih hidup dengan mu..." ucap Shelly yang bahkan tak mengetahui jika pernikahan putrinya juga termasuk dari salah satu paksaan Hazel.
Dada Shelly semakin terasa sesak, nafas nya tersendat, ia benar-benar shock akan apa yang terjadi sekarang.
"Kau.....
Bisakah kau kembalikan putri ku? Aku ingin melihat nya tersenyum pada ku dan mendengar nya memanggil ku mamah..." ucap Shelly dengan suara semakin melemah sebelum tubuh nya terasa terhuyung dan kehilangan keseimbangan.
Dion pun yang dari tadi hanya terdiam langsung menangkap tubuh istrinya sebelum terjatuh.
"Jauhkan tangan mu! Jangan menyentuh keluarga ku lagi!" ucap Dion dengan penuh amarah dan tatapan kebencian pada Hazel saat Hazel berusaha menangkap tubuh ibu mertuanya.
"Akan ku panggilkan dokter." ucap Hazel pada Dion yang sedang membopong tubuh istrinya.
Sebenarnya Dion tak ingin Shelly di rawat di RS Hazel karna ia sekarang sangat membenci pria yang masih menjadi menantunya, namun keselamatan istrinya sekarang lebih penting dari rasa bencinya.
Setelah Shelly menerima perawatan dan pertolongan pertama, Dion memandang sendu ke arah istrinya yang sedang tak sadarkan diri karna sangat shock sebelumnya. Hati dan pikiran nya begitu kacau sekarang. Putri semata wayang nya sedang bertarung dengan maut dan sekarang istrinya yang mulai tak dapat menerima kenyataan yang sedang terjadi.
"Bisakah kita bicara berdua?" tanya Dion pada Hazel yang sedari tadi berdiri tak jauh darinya dan juga istrinya.
"Bisa yah..." jawab Hazel lirih.
"Mulai sekarang jangan panggil aku ayah lagi, karna aku tak akan mau memiliki menantu seperti mu!" ucap Dion sembari melewati Hazel.
Hazel membawa Dion ke ruangan nya dan mengatakan pada Rian jika ia tak ingin di ganggu oleh apapun selama ia berbicara pada ayah mertuanya.
Bugh!!!
Satu pukulan keras langsung melayang ke arah Hazel saat hanya mereka berdua di ruangan itu. Dion sedari tadi sudah menahan dirinya agar tak segera memukul menantunya di hadapan istrinya.
Hazel menghapus sedikit darah keluar dari ujung bibir nya karna pukulan ayah mertuanya.
Ia pun langsung berlutut di hadapan Dion saat Dion hampir melayangkan tinju nya lagi, Hazel tak merasa marah sama sekali karna ia tau akan kesalahan nya.
"Paman bisa memukul ku lagi...
Aku tau aku salah, bahkan kata maaf pun mungkin tak pantas untuk ku...
Tapi aku akan tetap meminta permintaan maaf mu..." ucap Hazel lirih sembari terus bersimpuh di hadapan ayah mertuanya.
Dion memejamkan mata nya sesaat, ia juga merasa sangat kacau sekarang.
"Arggghhhh!!!!" teriak Dion frustasi di ruangan itu hingga memenuhi seluruh ruangan.
Dibandingkan amarah ia lebih merasa kecewa terhadap Hazel, ia mempercayai pria yang di nikahi putrinya karna pria itu mengatakan mencintai putrinya namun apa yang terjadi sekarang?
"Kau...
Ceraikan dia! Kami yang akan mengurusnya sekarang!" ucap Dion pada Hazel, ia tak memukul Hazel lagi, karna ia tak ingin menjadi seseorang yang sama seperti pria di hadapan nya.
Deg...
Hazel langsung mengandah menatap Dion, ia bisa menerima segala amarah dan kebencian dari mertuanya namun ia tak bisa melepaskan Alyss.
"Aku tau ini bukanlah yang seharusnya dikatakan oleh orang tua, tak seharusnya seorang ayah menginginkan perceraian anak perempuan nya....
Namun aku juga tak bisa membiarkan mu...
Ceraikan dia, lagi pula kau juga sudah menghancurkan nya habis-habisan kan?" ucap Dion dengan suara tertahan.
Hazel menggelengkan kepala nya mendengar ucapan Dion.
"Tidak! Aku tak bisa menceraikan nya! Aku tak bisa melepasnya! Aku akan lakukan apapun untuk menyembuhkan nya! Aku tak akan memukulnya lagi! Aku sangat mencintai nya! Sangat..." ucap Hazel pada Dion.
"Kalau mencintainya kenapa membuatnya berada antara hidup dan mati sekarang? Hm? Kalau kau takut kami mengambil harta mu, tak usah takut...
Kau tak perlu takut kami tak akan mengambil sepeser pun dari mu!" ucap Dion.
"Aku bisa menerima perlakuan apapun yang kalian berikan, tapi aku tak bisa menceraikannya! Aku mencintainya! Aku tau caraku salah! Namun aku bisa pastikan memberi perawatan terbaik agar dia bisa pulih! Aku janji paman!" ucap Hazel memohon pada Dion.
"Lalu jika dia sembuh? Kau bisa menjamin tak akan memukul nya lagi? Kau bisa yakin? Aku tak minta banyak aku hanya ingin kau menceraikannya!" ucap Dion sekali lagi dengan penuh penegasan.
Hazel pun memejamkan matanya sesaat, mendengar ucapan Dion. Ia berpikir mungkin walaupun ini cara yang salah yang ia gunakan terakhir kali untuk mempertahankan Alyss.
Ia benar-benar tak ingin dan tak sanggup melepaskan Alyss, ego nya begitu kuat dan besar sehingga tak mampu melepaskan Alyss.
"Aku tak akan menceraikan nya! Hanya kematian yang bisa membuat ku melepaskannya! Hanya jika aku mati! Aku bisa menjamin aku tak akan memukul nya lagi...
Aku bahkan bisa membuat surat perjanjian untuk itu!
Namun jika paman tetap ingin kami bercerai ayo bertemu di persidangan! Akan ku pastikan perceraian itu tak akan bisa terjadi!" ucap Hazel dengan penuh keyakinan.
Dion benar-benar kehabisan kata-kata bagaimana putrinya sampai bisa bertemu dengan pria seperti ini?
...****************...
Aduh makin Ribet yah sekarang😭 Menurut kalian cara yang dipikirin ayah Alyss bener gak? tapi dia juga pasti hancur banget hatinya ngeliat anak nya dibesarin susah payah hancur-hancuran di buat orang lain yang baru mengenal dan masuk kehidup anak nya.
Dan menurut kalian mereka jadi cerai gak?
Semoga Alyss nya bisa pulih yah😭😭
Oh iya dan buat kalian yang tanya ending nya...
Othor juga udah siapin cerita ini sampai ke ending atau dengan kata lain ending nya sudah othor pikirkan akan bagaimana, sebenarnya banyak sekali plot ending yang othor pikirin tapi othor sudah menemukan yang pas.
Jadi terus ikutin cerita othor yah😉
Jangan lupa like, komen, Rate 5, vote fav dan dukung othor yah❤️❤️❤️
Happy reading❤️❤️❤️