
"Kau? Sebenarnya apa yang kau lakukan?" tanya James mengernyitkan dahi nya dengan bingung.
Louise pov.
Aku dapat mendengar dengan samar suara nya dan melihat wajah bingung nya walaupun pandangan ku mengabur.
Rasa sakit yang berada di tubuh ku rasanya menghilangkan semua kemampuan ku untuk hal lain nya.
Bibir ku terasa berat dengan lidah yang kelu, aku ingin mengatakan.
Menyingkir dari tubuh ku! Brengsek!
Tapi rasanya aku tak mampu untuk itu, tak ada yang menutupi tubuh polos ku kecuali selimut darah yang terus kurasakan keluar.
Perih...
Sakit...
Aku tak pernah merasa sesakit ini...
Bahkan aku ingat saat bermain berlarian dan terjatuh, Papa ku tak membolehkan ku bermain dengan berlarian agar tak melukai lutut ku, bahkan orang tua ku tak pernah sekali pun mencubit tubuh ku.
Syaraf sensorik di tubuh ku entah kenapa kali ini semakin kuat hingga rasa sakit dan perih yang berada di atas kulit ku meresap hingga ke tulang di dalam tubuh ku.
Indra penciuman ku akan bau anyir yang semakin masuk pun begitu terasa di tengah sakit nya tubuh ku.
Aku tak bisa menggerakkan semua anggota tubuh ku...
Semua nya seakan mati rasa karna rasa sakit yang begitu mendominasi...
Tangan pria itu sudah tak berada lagi di bagian yang sangat ku jaga, tapi aku juga tidak sanggup lagi, rasanya ingin segera aku tertidur agar rasa sakit ku hilang.
Air mata ku mengalir tanpa sadar saat aku melihat pria yang masih menindih tubuh ku, hingga rasa nya kelopak mata ku begitu berat dan tubuh ku seperti mulai kebas akan rasa sakit yang begitu menguasai ku.
Louise pov end.
...
"Louise!" panggil James lagi saat melihat mata gadis itu semakin sayu mengikuti iris nya.
Pria itu dapat melihat wajah kesakitan yang begitu pucat dan cairan putih bening yang di keluarkan dari sudut mata gadis itu.
James pun langsung bangun dan menggulung tubuh yang berlumuran darah itu dengan selimut merah akibat eritrosit yang terus keluar.
Wajah gadis itu sudah sangat pucat, walaupun James masih ingin melakukan hal tersebut tanpa memperdulikan rasa sakit gadis itu, namun ia tak mau melakukan nya dengan wanita yang tak sadar. Ia ingin wanita yang melakukan hubungan dengan nya memberikan reaksi entah penolakan, rasa sakit, suka atau menyukai nya.
Ia pun segera memanggil Chiko untuk memeriksa gadis itu.
......................
Clara melihat ke arah jendela dan jalan yang mereka lalui, ia merasa asing karna jalan tersebut seperti sedikit menjauh dari keramaian.
Gadis itu penasaran dan ingin bertanya di mana mereka akan menemui klien untuk membicarakan tentang bisnis mereka? Namun rasa nya enggan karna tak ingin berbicara dengan pria yang memasang wajah tak suka itu sejak awal ia datang.
Mata gadis itu seperti takjub sekaligus bingung saat mereka mulai masuk ke dalam gerbang mansion mewah.
Mansion yang jauh dari kota dan melewati banyak ladang bunga, lebih tepat nya sebagai tempat liburan atau refeshing milik orang-orang kaya agar dapat menyejukkan pikiran nya.
"Klien yang akan kita temui di rumah pribadi?" ucap Clara yang akhirnya bertanya, tanpa ia tau tempat yang sangat indah itu akan menjadi neraka untuk nya.
Louis tak menjawab dan segera turun dari mobil nya, gadis itu pun mengikuti pria yang turun lebih dulu.
"Kenapa mereka sangat hormat pada nya?" gumam Clara saat melihat para pengawal dan pelayan di mansion tersebut seperti mengenali dan sangat menghormati pria tampan itu.
"Cepat jalan nya!" ucap Louis dingin pada gadis manis itu.
Clara pun mempercepat langkah nya, ia semakin heran saat melihat tak ada siapapun di dalam mansion megah tersebut kecuali para pelayan dan pengawal.
"Dimana yang mau kita temui?" tanya Clara lagi dan hanya di jawab dengan senyum yang tak bisa di artikan.
Louis pun mulai menarik tangan gadis itu dan menjatuhkan diri nya ke sofa lebih dulu lalu kemudian menjatuhkan tubuh gadis itu agar duduk pangkuan nya.
Sontak Clara terkejut dan berusaha melepaskan pria yang sedang memegangi nya dengan erat.
"Lepas! Presdir tak bisa berbuat seperti ini di tempat lain!" ucap gadis itu marah namun masih memikirkan etika berbicara karna ia mengira tempat itu milik klien yang akan ia temui.
"Ini mansion ku." jawab Louis enteng sembari terus menahan tubuh yang memberontak di pangkuan nya.
Deg...
Clara terkejut dan langsung membulatkan mata nya.
"Ku dengar kau berpacaran? Hm? Kau tak merasa bersalah dengan pacar mu?" tanya Louis dengan senyuman simpul nya.
"Kenapa aku harus merasa bersalah? Justru bukan nya kau yang harus merasa bersalah?!" jawab Clara dengan suara bergetar.
Louis hanya tersenyum walau hati nya sudah merasa sangat jengkel.
"Segera putus dari nya, aku tak mau kau bercampur dengan pria lain." ucap Louis lagi.
Clara tersentak beberapa saat ia tak menyangka akan mendengar kata-kata yang seperti membuat nya terlihat murahan.
"Itu bukan urusan mu! Perjanjian yang kita buat tak mengatakan aku tak boleh memiliki pacar atau menikah! Aku juga berhak atas kebahagiaan ku!" ucap Clara dengan hampir menangis.
"Oh ya? Dia tau apa saja yang sudah kau lakukan?" tanya Louis semakin tersenyum dan membuat gadis itu semakin takut.
"Sebagai pemuas nafsu ku..." sambung Louis dengan berbisik di telinga gadis itu.
Clara pun langsung mendorong pria itu dan menatap nya dengan penuh benci.
"Aku tak mau! Dan lagi kau yang juga memaksaku!" ucap Clara dengan suara bergetar dan hampir menangis.
"Tapi tetap saja kan? Kau itu sudah kotor! Kau tak malu? Hm? Masih merasa diri mu pantas?" tanya Louis sembari memegang dada gadis itu dengan kasar.
Clara berusaha pergi dan beranjak serta menyingkirkan tangan yang sedang memainkan dada nya dengan kasar di luar kemeja nya.
"Lepas! Berhenti!" ucap Clara dengan menahan air mata nya dan terus memberontak di atas pangkuan pria itu.
Akh!
Pekik nya langsung saat tangan pria itu mulai menarik rambut nya. Louis pun mulai menyeret gadis itu masuk ke salah satu kamar yang sudah ia siapkan secara khusus.
Bruk!
Pria yang tanpa hati itu mulai menghempaskan tubuh Clara ke lantai yang dingin dan keras di kamar tersebut.
Gadis itu mulai merasa takut hingga membuat seluruh tubuh nya gemetar melihat pria yang sedang berdiri depan nya.
"Ke-kenapa membawa ku ke sini? A-aku salah apa?" tanya Clara dengan tangis yang tak dapat ia tahan karna ketakutan nya.
"Kau tak ingin putus dengan nya? Kau merasa pantas? Hm?" tanya Louis dan berjongkok menyamai tinggi nya dengan gadis itu.
"Bukankah itu pilihan ku? Ingin dengan siapa? Kenapa aku tak boleh punya hubungan?" tanya Clara dengan isak tangis nya, gadis penakut itu terus saja di hadapkan dengan situasi yang selalu menjepit nya.
"Tapi dia tak tau kan kalau kau itu jalang? Hm? Menurut wanita kotor seperti mu pantas?" tanya Louis lagi dan semakin ingin membuat mental gadis itu jatuh.
Plak!
Tangan gadis itu langsung menampar pria di hadapan nya.
"Aku bukan jalang! Aku juga tidak kotor sama sekali! Kau yang kotor! Kau yang brengsek!" teriak Clara dengan isak tangis nya.
Rahang pria itu mengeras dengan mata yang menatap tajam ke arah gadis yang sedang terisak dan ketakutan di hadapan nya.
"Berani sekali kau?! Kau pikir kau siapa?! Hm?" bentak Louis marah pada gadis itu.
Clara tersentak begitu mendengar suara bariton keras yang memenuhi ruangan tersebut.
Louis pun mulai bangun dan melempar lingerie tembus pandang pada gadis itu.
Clara melihat yang di lemparkan lelaki tampan itu pada nya, lingerie seksi dengan warna hitam yang begitu tipis dan tentu nya akan memperlihatkan semua lekuk bagian tubuh nya.
Ia pun memandang sengit ke arah pria yang melemparkan pakaian tak pantas itu padanya, dengan mata yang berkaca berusaha menahan agar tangis nya tak tumpah lagi.
"Kau tak mau? Kau yakin? Pakaian seperti ini sangat cocok untuk wanita seperti mu..." ucap Louis sembari mengelus pipi gadis itu.
Clara pun menepis tangan kekar pria itu agar tak menyentuh nya.
"Wanita seperti ku? Memang nya aku wanita seperti apa?" tanya Clara saat air mata nya jatuh tanpa di minta.
"Peliharaan ku yang jalang..." jawab Louis tersenyum sembari menggendikkan bahu nya dengan enteng.
Iris mata gadis itu bergetar mendengar penghinaan yang begitu mendalam dan menusuk ke hati nya.
"Sekarang pakai ini." ucap Louis lagi sembari memberikan lingerie hitam tersebut.
"Aku tak mau! Sampai kapan pun aku tak mau!" ucap Clara yang tak ingin pria itu menginjak harga dirinya lagi.
Louis pun tersenyum jengkel dan mulai menarik rambut gadis itu, tak hanya sampai di disitu ia juga menarik kemeja Clara dan membuka nya dengan paksa.
"Jangan! Berhenti!" tangis Clara terisak dengan berusaha memberontak sekuat tenaga saat pria itu berusaha menel*jangi nya.
"Jangan berhenti maksud mu?" tanya Louis terkekeh sembari menurunkan sisa pakaian gadis itu.
Clara pun menyeret tubuh nya dan menutupi tubuh polos nya agar pria itu tak semakin melihat nya.
Louis mengambil semua pakaian gadis itu dan menyingkirkan nya sejauh mungkin. Setelah itu ia melepas jas yang ia kenakan dan melempar ke gadis cantik itu.
Clara tak mengerti maksud tujuan pria itu namun ia segera mengambil dan menutup tubuh nya sebagian dengan jas yang di lemparkan Louis pada nya.
Louis pun tersenyum simpul dan mulai memanggil 10 pengawal pria di mansion tersebut untuk masuk ke kamar yang sedang ia tepati saat ini.
Deg...
Mata Clara membulat dengan wajah yang pucat seketika melihat para pria yang mulai masuk ke dalam kamar tersebut.
"Karna kau tak mau patuh jadi aku beri kau sedikit hukuman...
Aku hanya ingin memamerkan sedikit tubuh mu, tapi kalau mereka mau bermain dengan mu aku juga tak melarang." jawab Louis enteng dan menarik pelan jas nya agar membuat gadis itu takut.
"Ja-jangan...
Ku mohon jangan...
Huhuhu..." mohon gadis itu dengan tangis segugukan pada Louis yang terlihat tanpa dosa tersebut.
Tangan nya mengepal kuat dan memegang erat jas tersebut agar tak memperlihatkan tubuh polos nya.
"A-aku pakai...
Aku pakai lingerie nya..." ucap Clara dengan suara terisak, tentu nya ia tak mau jika harus melayani dan di gilir oleh 10 pria lain.
Louis pun melihat ke arah para pengawal nya agar menutup mata sesaat ketika ia menarik jas yang menutup gadis itu, ia ingin ingin menghukum sekretaris manis karna sudah tak patuh pada nya.
Sreg!!
Clara langsung terkejut dan menutup tubuh nya sebisa mungkin karna pria itu menarik jas nya begitu tiba-tiba dan membuat tubuh polos nya tak tertutup apapun.
Ia segera memalingkan wajah nya dan menutup mata nya erat-erat karna malu saat tubuh nya terekspos begitu saja sampai ia tak menyadari jika para pengawal tersebut menutup mata mereka tak berani melihat nya.
Louis tersenyum melihat gadis itu menangis dan gemetaran.
"Sekarang pakai! Atau aku akan suruh mereka melakukan nya pada mu sekarang juga." ancam Louis dan membuat gadis itu segera meraih lingerie tersebut dengan tangan yang gemetar.
Louis pun mulai memerintahkan agar semua pengawal yang berada di dalam kamar itu keluar.
Clara yang sudah memakai lingerie tersebut pun masih merasa malu akan dirinya sendiri, Louis pun segera menarik tangan gadis itu dan melemparkan nya ke ranjang.
Ia mulai merantai kaki gadis tersebut dengan rantai sepanjang 2 meter yang menyatu dengan kaki ranjang.
"Ssttt...
Diam! Jangan menangis lagi! Suara tangis mu itu sangat berisik!" bentak Louis saat tangis gadis itu pecah begitu pilu.
Clara pun berusaha menahan tangis nya agar tak bersuara hingga membuat nya cegukan beberapa kali.
"Anak pintar..." ucap Louis sembari mencium pipi basah gadis itu karna air mata yang terus saja jatuh.
Ia mulai beranjak dan mengambil kalung kucing, seharusnya kalung itu untuk kucing peliharaan adik nya, namun ia tak jadi memberikan nya pada Louise dan malah merubah agar memiliki ukuran yang cocok dengan leher gadis manis itu.
"Sekarang pakai ini..." ucap Louis tersenyum dan sembari mengalungkan kalung untuk hewan peliharaan tersebut.
Clara ingin segera melepas kalung tersebut dari leher nya, namun begitu melihat tatapan tajam pria tersebut membuat nyali nya ciut seketika.
"Jangan berani melepas nya sebelum aku yabg melepas!" ucap Louis dan mulai melepaskan pakaian nya satu persatu.
Hati gadis itu begitu sesak hingga membuat nya sulit mengambil nafas di tengah tangis nya yang begitu pilu, mengenakan pakaian seksi, kaki yang dirantai, dan memakai kalung hewan.
Sekarang ia benar-benar merasa jika dirinya hanya peliharaan pria tampan itu.
"Minum ini..." ucap Louis sembari mencekoki setengah dosis obat perangs*ng pada gadis itu.
Ia sengaja memberi setengah dosis agar gadis itu masih bisa merasakan aliran listrik aneh itu walau tak sepenuh nya melayang. Ia ingin tubuh gadis menginginkan sentuhan nya namun kesadaran gadis tersebut masih sangat penuh.
Dan benar saja saat Louis mulai menyentuh tubuh gadis itu, Clara memberikan reaksi positif walaupun ia sadar dan sangat tak ingin di sentuh oleh pria tampan itu.
"Unghh...
Ja-jangan...." mohon nya dengan air mata yang mengalir bercampur dengan suara desahan halus di bibir nya, saat Louis mulai menjamah bagian privasi nya.
"Jalang! Baru seperti ini saja sudah basah!" hina Louis pada gadis itu saat obat perangsang yang ia berikan sudah semakin bereaksi.
Air mata gadis itu semakin mengalir saat tubuh nya lepas kendali di bawah pria yang tersenyum dengan penuh kemenangan.
Louis pun mulai melalukan puncak aksi nya, ia meninggalkan begitu banyak bekas kepemilikan di sekujur tubuh gadis itu dan melakukan nya dengan kasar.
Suara erangan, lenguhan, tangisan, dan rintihan kesakitan akibat sikap kasar nya dalam memainkan tubuh gadis itu terdengar begitu jelas memenuhi seluruh ruangan kamar tersebut.
......................
2 Hari kemudian.
Mansion Dachinko.
James melihat ke arah gadis yang masih memejamkan mata nya dengan wajah yang begitu pucat.
"Kenapa dia masih tak sadar? Ini sudah dua hari? Kau bilang dia tak kehabisan darah saat itu." tanya James pada salah satu bawahan nya yaitu Chiko si dokter ilegal karna menjadikan pasien nya sebagai percobaan malpraktik di RS tempat ia bekerja dulu.
"Dia memang tak kekurangan darah saat itu karna tuan langsung membawa nya. Tapi imun nya sangat lemah, mungkin itu membuat kondisi sedikit memburuk." terang Chiko pada tuan nya.
"Apa kita perlu mengambil darah nya untuk di teliti?" tanya Chiko lagi yang bersemangat karna ia sangat penasaran dengan struktur genetika gadis itu.
James pun langsung memandang tajam ke arah Chiko. Ia tak mau darah gadis itu di ambil saat dengan kondisi yang tak memungkinkan dan membuat nyawa gadis cantik itu benar-benar melayang.
"Menurut mu kenapa wanita perawan bisa membawa pil KB?" tanya James tiba-tiba saat memperhatikan gadis tersebut.
"Mungkin karna hormon? Biasanya jika wanita dengan menstruasi tak teratur akan meminum pil KB sebagai pengatur hormon nya sesuai anjuran dokter nya." jawab Chiko seadanya karna ia bukan dokter kandungan.
James pun memijat alis nya dengan frustasi begitu mendengar jawaban bawahan nya tersebut.
"Keluar!" perintah James dingin pada Chiko.
Setelah Chiko keluar ia langsung duduk di tepi ranjang dan mengelus wajah gadis itu.
"Kau ini selalu saja membuat ulah...." ucap James sembari mengelus halus pipi gadis itu