
Lokasi runtuhnya konstruksi bangunan JBS Grup.
Pencarian dan pencarian yang tengah di lakukan akhirnya membuahkan hasil, salah satu tim penyelamat yang di kirim James menemukan Louis yang terjebak dengan memberikan tanda dari mainan yang memiliki lampu gemerlap itu.
Tim penyelamat tersebut pun segera menghubungi satuan tim lain nya jika mereka sudah menemukan salah satu korban lagi.
Perlahan beton keras bangunan tersebut diangkat perlahan agar tak membuat sisi lain nya menjadi goyah dan akan membahayakan yang berada di dalam nya.
Cahaya? Kami selamat....
ucap Louis di dalam hati saat tim penyelamat sudah menemukan nya.
Mengalami luka parah yang di perburuk dengan dehidrasi berat membuat tubuh pria itu melemah, ia hampir mati kehabisan darah dan kekurangan asupan oksigen.
Entah apa yang bisa membuat nya selamat di tragedi mengerikan yang harus nya ia sudah mati jika di pikir secara logika.
Para tim penyelamat pun membawa Felix yang sudah dehidrasi berat dan lemas tak berdaya dengan wajah pucat.
Mereka pun yang membawa Louis segera memindahkan ke tempat yang lebih mudah dan memberikan pertolongan pertama untuk mencegah infeksi yang mulai menjalar.
"Presdir?" gumam Clara saat melihat pria yang bersimbah darah dan penuh tertutup oleh debu itu.
Gadis itu pun berjalan mendekat dengan langkah cepat yang berubah menjadi larian kecil.
Greb...
Tanpa sadar gadis itu memeluk pria yang awal nya di bawa dengan tandu dan kini masih berada di bagian perawatan.
Air mata nya jatuh, entah kenapa ia merasa sangat lega ketika melihat pria itu.
"Jangan kesini dulu...
Aku sedang tidak tampan..." ucap Louis dengan suara lirih saat gadis itu memeluk tubuh nya yang hampir remuk.
Sebagai seorang pria tentu nya ia hanya ingin wanita yang ia sukai melihat nya dalam keadaan tampan dan bukan nya penuh darah yang di balut debu dengan wajah pucat pasi.
"Brengsek! Siapa yang peduli penampilan mu..." ucap Clara di tengah tangis nya dengan kesulitan. Namun ia juga merasakan jika balasan peluk pria tampan itu semakin melemah.
"Presdir?" panggil Clara lirih saat ia merasa pria itu seakan kehilangan kesadaran nya.
"Cepat bawa langsung ke JBS!" ucap Clara dengan panik dan langsung membawa Louis menggunakan helikopter ke JBS hospital pusat.
Zayn juga menyiapkan segala keperluan yang berada untuk ke JBS saat tau Louis sudah di temukan.
......................
JBS Hospital.
"Darah? Apa keadaan nya sangat parah?" tanya Rian saat salah satu dokter berbicara pada nya.
"Kami sudah kehabisan stock darah A- karna sebelum nya banyak yang di bawa kesini, tetapi Presdir sedang sangat membutuhkan dan waktu nya sangat singkat." jawab dokter tersebut.
"Darah Louise? Apa darah nya masih ada?" tanya Rian yang memang mengetahui segala rahasia dari kelahiran kembar karna ia yang dulu juga pernah ikut andil di dalam nya.
"Masih ada satu kantung, itu bisa membuat nya bertahan tapi dia masih perlu beberapa kantung darah lagi agar dia bisa menjalani prosedur operasi total." jawab dokter tersebut.
"Pakai darah adiknya." titah Rian pada dokter tersebut.
Louis memiliki golongan darah yang sama dengan Hazel yaitu A rhesus negatif yang sulit untuk di cari.
Pria itu mengandahkan kepala nya ke atas memutar isi kepala nya yang terasa lelah.
"Pah? Louis gimana? Parah?" tanya Zayn menghampiri sang ayah.
Pria paruh baya itu hanya diam dan mengangguk kecil mengindahkan pertanyaan putra kesayangan nya.
"Kau sudah tau dimana Louise?" tanya Rian dengan pertanyaan lain pada putra nya.
Zayn pun menggeleng pelan pada ayah nya dan terlihat mata yang penuh dengan rasa khawatir dan sedih.
Pria paruh baya itu pun memeluk putra nya perlahan dan mengelus punggung kekar Zayn si putra tunggal kesayangan nya.
"Papah akan berikan semua untuk mu...
Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan Papah janji..." gumam Rian pada putra nya.
Sebagai seorang ayah tentu nya ia tau jika putranya mencintai putri sahabat nya sejak lama, namun ia juga tau jika gadis itu tak memiliki perasaan untuk pria pada putra tunggal nya.
"Papah bilang apa?" tanya Zayn saat ia merasakan sang ayah mengatakan sesuatu.
"Aku bilang aku orang tua yang egois..." jawab Rian pada putra nya.
"Istirahatlah..." sambung pria paruh baya itu sembari berlalu meninggalkan putra nya yang kebingungan.
Waktu yang berjalan sangat lambat saat melihat putaran detik di arloji gadis manis itu.
Ponsel nya terus berdering sejak tadi ketika kekasih nya terus menerus memanggil nya, hingga ia berinisiatif mengangkat nya.
Reno yang dengan khawatir pun akhirnya segera menghampiri gadis nya saat ia sudah tau keberadaan gadis manis itu.
Tak lama kemudian ia pun sampai dan melihat wanita yang ia cintai duduk dengan linglung dan mata yang seperti penuh dengan pikiran.
"Cla? Kau baik-baik saja? Hm?" tanya Reno pada gadis berwajah sendu itu dengan rasa khawatir yang tinggi.
Clara mengangguk lirih karna ia memang tak memiliki luka yang membahayakan sama sekali hanya lecet di beberapa bagian saja karna ia terjatuh saat akan keluar.
"Ayah dan Ibu mu? Sudah tau?" tanya Reno yang lega dan duduk di samping gadis itu.
"Mereka hanya tau aku bekerja sebagai dokter di JBS pusat jadi mereka tak merasa khawatir karna runtuh nya bangunan itu." jawab Clara lirih yang pikiran nya di penuhi oleh atasan nya.
"Kau kenapa sangat murung? Harusnya semua sudah baik-baik saja kan?" tanya Reno saat gadis itu begitu sedih.
"Tapi Pre-presdir ku terluka..." jawab Clara sembari mengandah ke wajah Reno dengan tetesan air mata yang jatuh ke pipi nya.
*Deg...
Presdir ku*?
Reno melihat ke arah wajah gadis itu yang terlihat sangat sedih, jujur saja ia merasakan hati nya berdenyut saat melihat wanita yang ia cintai begitu mengkhawatirkan pria lain.
"Kau kasihan pada nya? Itu hanya rasa kasihan Cla...
Kau tak bisa terus berlarut pada rasa kasihan mu!" ucap Reno yang ingin menyadarkan gadis itu dan menekankan kata "kasihan" agar gadis itu tersugesti dengan sendirinya.
Kasihan? Aku hanya kasihan? Tapi kenapa rasa nya sangat sesak?
Batin Clara saat mendengar ucapan Reno. Pria itu menangkupkan tangan nya ke wajah gadis manis itu dan memasangkan pandangan satu sama lain.
"Cla? Kau sudah menyukai ku?" tanya Reno dengan mata dalam pada gadis itu.
"Bukankah kau sebelum nya sudah mulai menyukai ku? Lalu ku harap kau tak memberikan simpati yang berlebihan pada pria lain hanya karna rasa kasihan..." ucap Reno pada gadis yang menatap nya.
Ia sengaja mengajarkan alam bawah sadar gadis itu dan memberikan sugesti jika perasaan nya pada Louis adalah rasa kasihan dan padanya adalah rasa suka. Karna ia benar-benar tak ingin gadis itu pergi ataupun ada celah pengkhianatan di kemudian hari.
Suka? Benar...
Perasaan ku pada nya adalah rasa suka kan? Aku tak mungkin menyukai presdir...
Setelah yang dia lakukan pada ku...
Gadis itu pun mengangguk dan menurunkan pandangan nya.
"Maaf..." ucap nya lirih dengan sendu dan merasa bersalah.
Reno pun memeluk perlahan dan menenangkan gadis itu.
Maaf...
Aku egois Cla...
...****************...
Mansion Dachinko.
Louise yang duduk perlahan karna tulang rusuk nya yang retak melihat ke arah meja kecil diatas tempat tidur nya yang penuh akan makanan namun dibuat seperti bubur.
"Aku bukan orang yang mau sekarat tak bisa mengunyah sama sekali...
Kenapa semua nya jadi bubur?" tanya Louise menatap dengan mata kesal pada pria yang duduk di tepi ranjang nya.
"Makan saja, tak usah banyak bicara!" decak James sembari menatap tajam gadis itu.
"Aku mau bertemu dengan kakak ku...
James pun berdecak kesal mendengar nya.
"Kakak mu atau pria yang melakukan pemanasan dengan mu? Ha?" tanya James dengan nada tak suka.
"Siapa? Zayn? Kenapa kau selalu tak senang dengan nya sih? Memang nya aku melakukan hal yang salah dengan nya?" tanya Louise yang menatap jengkel, walaupun ia sedang sakit namun bukan berarti emosi nya juga ikut sakit.
"Zayn! Zayn! Zayn! Kau tak bisa berhenti menyebut namanya?!" tanya James dengan sangat geram pada gadis cantik itu.
"Kau yang mengungkit lebih dulu!" jawab Louise dengan tinggi nada yang sama dengan pria itu.
"Lalu? Saat itu kenapa kau bisa di hotel? Mau melakukan itu dengan para wanita j*lang mu?!" tanya Louise yang seketika ingat jika pria itu berada di hotel juga di hari yang sama.
James pun terkejut dengan tuduhan tak mendasar itu, jika di lihat dari situasi maka yang seharusnya marah dan curiga adalah dirinya karna ia lah yang memergoki gadis itu dengan pria lain.
"Berani sekali kau menuduhku?! Aku kesana karna menjemput mu! Dan lagi kenapa ke hotel dengan pria?!" tanya James geram dengan membentak gadis itu.
"Alasan! Dari mana kau tau aku disana?!" tanya Louise curiga.
"Kau sendiri sedang apa di hotel dengan pria?!" tanya James yang juga tersulut emosi.
"Sudah di bilang pemanasan terus makan!" jawab Louise yabg masih sama dengan ucapan sebelumnya.
"Jelaskan secara rinci!" bentak James pada gadis itu.
"Kami pemanasan lalu karna Zayn tidak tahan dia langsung menarik ku untuk makan!" jawab Louise yang tak tau kenapa ia langsung menjelaskan dengan lebih jelas saat mendengar suara yang menggelegar dari pria itu.
Entah kenapa nyali nya seakan ciut saat melihat raut merah padam menahan amarah dari pria tampan di depan nya, ia sudah sebisa mungkin menjelaskan situasi rinci namun malah semakin menambah salah paham pria itu.
"Makan? Dia memakan mu?!" tanya James dengan nada pelan namun penuh penekanan dan hawa membunuh yang begitu kuat.
"Di-dia kan tidak makan orang...
Lagi pula kenapa sensitif sekali sih mendengar kata itu!" tanya Louise entah kenapa berubah menjadi lebih takut saat mendengar nada rendah walaupun tak lagi membentak nya.
"Kalian memesan kamar? Dia melakukan nya dengan lembut?" tanya James lagi dengan semakin menatap tajam seperti bom yang akan meledak.
Ia ingat jika sebelum gadis itu datang bulan ia sama sekali tak memasukkan jarinya ataupun memeriksa namun bermain di area lain dan masih terbalut dengan pakaian, ia sama sama sekali tak tau gadis itu masih murni atau tidak.
"Kami kan mau makan...
Bukan tidur, yah ke restoran lah..." ucap Louise pada pria itu.
"Terus kenapa perkataan mu hampir sama dengan pelayan hotel sih? Apa bedanya makan dengan lembut sama kuat-kuat? Yang penting kan tidak tersedak!" sambung Louise dengan tatapan kukuh.
James mengernyit melihat gadis itu, ia melihat mata yang sama sekali tak mengerti dengan istilah dewasa yang ia tau.
"Kalian pemanasan dimana?" tanya James lagi.
"Sauna lah! Di ruang oukup nya!" jawab Louise pada pria itu.
Emosi yang awalnya memuncak kini mulai turun perlahan.
"Lalu kenapa kau bilang dia tidak tahan dan langsung makan?" tanya James lagi.
"Kan dia lapar! Lagi pula dia juga tidak tahan panas!" jawab Louise dengan tatapan jengkel nya.
James memejam beberapa saat dan menatap ke arah gadis itu saat ia sudah menetralkan hembusan nafas amarah nya.
"Bodoh...
Kau gadis terbodoh yang pernah ku temui..." ucap James menggeleng dan menatap dengan sorot yang tak bisa diartikan.
Baru kali ini ia melihat gadis yang masih bersih tak hanya kesucian namun pikiran nya bahkan belum mengerti sama sekali. Walau tertutup dengan sifat angkuh, keras kepala, dan arogan yang kuat.
"Kau yang bodoh! Aku pintar! Brengsek!" umpat Louise kesal saat pria itu mengatai nya bodoh.
"Oh iya satu lagi, kau kenapa sangat marah kalau aku melakukan s*k* dengan wanita lain?" tanya James pada gadis cantik itu.
"Kau bilang kau tak melakukan nya saat masih punya hubungan dengan ku?! Marah lah!" jawab Louise kesal.
"Cemburu?" tanya James menyelidik.
"Iya! Eh?" jawab Louise yang terkejut dengan ucapan nya dan langsung menutup bibir nya dengan tangan lentik nya.
Terlintas senyum kecil di bibir pria itu saat mendengar jawaban tak sengaja gadis itu.
"Manis nya..." ucap pria itu sembari mencubit pipi pucat gadis yang masih emosi itu.
"Awas! Tidak usah sok tampan! Tadi gak sengaja bilang aku!" ucap Louise sembari menepis tangan James yang mencubit kecil pipi nya.
"Aku tidak tampan sama sekali?" tanya James pada Louise yang semakin emosi.
"Tampan kalau jahat juga tidak ada guna nya! Lagi pula aku pasti akan membalas mu! Aku juga akan menjatuhkan mu dari tangga nanti!" jawab Louise sembari menatap dengan mata yang sangat ingin membalas pria di depan nya.
"Sudah ku bilang aku akan menunggu nya kan? Kalau kau mau menjatuhkan ku dari tangga kau harus membuat ku naik dengan tinggi lebih dulu." ucap James pada gadis itu.
"Tentu saja! Biar tulang mu patah semua dan sakit seperti yang kurasakan!" balas Louise dengan mata menggebu.
"Kalau begitu kau harus lebih kuat lagi..." jawab James menyeringai pada Louise.
"Sana pergi! Tidak selera makan melihat mu!" ucap Louise yang langsung membuang wajah nya dan mulai menyantap makanan nya karna ia semakin merasa tak nyaman dengan pembicaraan yang mereka lakukan.
"Pelan-pelan...
Tak ada yang akan mengambil nya..." ucap James sembari memegang rambut Louise seperti sedang mengikat satu rambut selembut dan sehalus sutra itu.
Tak selang beberapa lama Louise memakan ia mulai merasa seperti sesak dan sesuatu yang terasa terbakar di tenggorokan nya.
Uhuk!
Gadis itu yang langsung terbatuk seperti tersedak dan langsung membuat James mengambilkan air minum untuk nya.
Ukh!
Rasa yang semakin jelas namun bukan dari tulang rusuk nya yang retak melainkan rasa yang seakan-akan ada ribuan semut yang mengigit nya secara bersamaan memberikan rasa sakit dan gatal serta serangga-serangga yang seakan-akan sedang menggerogoti bagian dalam tubuh nya.
"Louise? Kenapa?" tanya James mulai khawatir dan melihat gadis itu yang semakin merintih menahan sakit.
"Kau...
Mau meracuni ku?" ucap Louise lirih sembari menatap pria itu.
Alergi...
Batin Louise saat ia merasakan sesaat lagi akan segera muntah.
Hoek!
Kumpulan darah segar keluar dari mulut nya terus menerus hingga membuat sprei tersebut basah akan darah nya. Di tubuh gadis yang sangat lemah dengan genetika yang berbeda tentunya akan menganggap jika alergi parah yang masuk ke tubuh nya akan menjadi racun yang paling berbahaya.
"Louise?!" panggil James semakin panik ia merangkul gadis yang berhenti memuntahkan cairan merah itu dari mulut nya.
"Jahat! Kau mau membunuhku..." ucap Louise saat pria itu memeluk nya dan mulai menghubungi bawahan nya agar gadis nya segera mendapat pertolongan.
Tubuh nya gemetar karna sakit yang luar biasa mendera nya dan menyerangnya dengan sangat dalam
Deg...
"Louise?" panggil James lirih saat tangan yang tadi nya masih memegang erat kini jatuh tak lagi memegang nya.
...
Nick berdiri menghadap ke halaman luas di mansion megah tersebut.
"Dia harus mati...
Dengan begitu tak akan buang energi dan tak perlu melakukan percobaan pembunuhan dua kali pada nya..." gumam pria itu menghirup udara yang baginya sangat menyenangkan.
Dia juga sengaja mengirim Chiko untuk misi yang lain di tempat yang cukup jauh agar wanita yang mulai dicintai tuan nya mati dengan lebih cepat.
Walaupun banyak dokter ilegal di kediaman itu namun tak ada yang sepintar dan seahli Chiko.
Matilah dengan cepat setelah itu kau tak akan menjadi kelemahan tuan lagi...
...****************...
Nick ciri-ciri bawahan yang minta di jambak ginjal nya yah,?š”
Happy Readingā„ļø