(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Something special



"Louise!" panggil James saat melihat melihat mata sayu gadis itu ketika mengeluarkan darah dari mulut nya.


Tangan nya langsung menangkap tubuh gadis itu ketika Louise mulai terjatuh.


"Hey?! Bangun?!" ucap James mulai panik saat gadis itu memuntahkan cairan merah kental sebelum ia kehilangan kesadaran.


James pun langsung menggendong nya dan membawa nya ke ruang bawah tanah, ruangan yang memiliki alat medis yang di pergunakan untuk mengambil organ manusia yang akan di distribusikan.


"Priksa tubuh nya! Segera keluarkan dan netralisir narkotika yang baru saja masuk!" perintah James panik pada beberapa bawahan nya yang merupakan seorang dokter.


Para dokter ilegal itu pun mulai mengatasi dan merawat serta memeriksa tubuh gadis itu.


"Overdosis? Tak mungkin dia sampai seperti itu! Dan lagi gejala overdose tak akan seperti itu!" gumam James saat melihat gadis itu mendapatkan penanganan.


Setelah 5 jam


Kondisi kembali normal namun Louise masih belum terbangun. Sebelum nya ia sempat mengalami serangan jantung namun masih bisa langsung diatasi karna James yang memiliki semua alat medis yang di butuhkan di mansion nya.


"Dia seperti sedikit berbeda, kita perlu melakukan pemeriksaan lanjutan." ucap Chiko yang merupakan salah satu dokter ilegal atau dokter yang sudah di cabut lisensi nya karna melakukan malpraktik.


"Berbeda? Berbeda seperti apa?" tanya James bingung.


"Sejak awal kita melakukan pemeriksaan untuk tes narkotika di darah nya, aku sudah sedikit menemukan perbedaan dan sekarang semakin terlihat jelas. Genetik nya berbeda!" ucap Chiko bersemangat dan sangat ingin meneliti tubuh gadis itu.


"Apa penggunaan narkotika bisa sampai membuat nya seperti itu?" tanya James sembari melihat sekilas ke arah Louise yang sudah di pindah ke kamar.


Wajah gadis cantik itu memucat pasi dan memejamkan mata nya dengan tenang, seperti putri tidur yang cantik namun sedang keracunan.


"Kurasa iya! Tapi kita memang perlu melakukan pemeriksaan lanjutan." jawab Chiko.


"Nanti ku pikirkan. Sekarang keluar lah lebih dulu." perintah James agar Chiko keluar dari kamar itu.


Tangan nya mulai membelai lembut pipi halus gadis itu yang terlihat pucat.


"Ku pikir kau gadis yang kuat...


Ternyata lemah...


Tapi tak apa, aku masih tertarik dengan mu..." ucap James lirih sembari mengelus halus pipi mulus itu dan beberapa kali menyentuh bibir mungil gadis itu.


Cup....


James pun mulai mengecup bibir mungil itu tanpa sadar saat tangan nya tengah menyentuh nya.


Ia melihat wajah gadis itu dari dekat dan mulai menatap nya. Terbesit perasaan bersalah dan rasa ingin memiliki yang kuat.


James pun mulai mengangkat wajah nya dan menepis perasaan yang baru saja datang padanya.


Ia tak ingin perasaan nya menjadi kelemahan terbesar nya nanti dan menjadi penghalang saat ia melakukan sesuatu yang berbahaya.


"Tidak! Dia hanya mainan ku saja!" ucap James dengan tegas walau tanpa suara. Ia tak ingin memiliki sesuatu yang ingin di lindungi agar tetap tak memiliki kelemahan dan tak memiliki hambatan.


......................


Hotel.


Louis melihat gadis itu yang masih dengan wajah pucat nya.


"Masih sakit?" tanya Louis saat ia melihat gadis itu yang tengah mengotak-atik laptop nya.


"Tidak!" jawab Clara dengan nada ketus tanpa melihat ke atasan nya.


Louis pun mulai mendekati gadis itu hingga langkah nya membuat Clara seketika takut.


"Ja-jangan...


Aku masih sakit..." ucap nya terbata saat melihat Louis semakin mendekat.


Louis tak berbicara dan langsung memegang dagu gadis manis itu agar mengandah padanya.


"Masih pucat...


Kau kenapa bisa sampai depresi sih? Apa sih memang yang di pikirin?" tanya Louis heran sembari menatap wajah pucat sekretaris nya.


"Lepas! Memang nya walaupun saya sakit tak akan ada pengaruh nya pada anda kan?" tanya Clara tersenyum getir dengan nada ketus.


"Ada! Sudah ku bilang kau jadi peliharaan ku selama 10 tahun yang akan datang! Jadi selama masih dalam kurung waktu itu kau tak boleh sakit atau terluka." jawab Louis sembari menampilkan senyum nya.


Clara mengepalkan tangan nya dengan kuat, ia tak memiliki kekuatan dalam segi apapun untuk melawan pria yang sedang menatap nya.


"Kenapa presdir melakukan ini pada saya? Saya yakin banyak wanita yang bisa bersama presdir, tapi kenapa harus menyiksa saya?" tanya Clara dengan suara tertahan.


"Kenapa yah? Aku juga bingung...


Kalua aku mau nya kau yah harus kau." jawab Louis enteng sembari mengendikkan bahu nya.


"Saya juga punya perasaan! Saya bukan mainan atau peliharaan anda!" jawab Clara pada Louis dengan menatap iris pria itu.


"Kenapa formal sekali sih? Lagi pula kita juga sudah pernah melakukan semua nya." ucap Louis yang tak menggubris ucapan Clara dan malah mempermasalahkan pengucapan dalam pembicaraan mereka.


"Antara tuan dan peliharaan nya tak perlu sampai sekaku itu kan?" tanya Louis lagi dan ingin mencium bibir wanita di hadapan nya.


Clara langsung membuang wajah nya kesamping agar pria itu tak bisa mencium nya.


Cup...


Louis hanya tersenyum dan mengecup pipi gadis manis itu saat Clara membuang wajah nya.


"Kalau kau jadi peliharaan yang patuh, aku akan baik pada mu..." bisik Louis sembari mengelus lembut puncak rambut Clara.


Hati nya terasa tersentak dan berdenyut saat pria tersebut terus saja dapat mengatakan kata yang menyakitinya.


"Sudah saya katakan! Saya bukan peliharaan Presdi- Auch!" ringis nya langsung saat telinga nya tergigit oleh pria yang masih sangat dekat dengan wajah nya.


"Sudah ku bilang harus patuh kan?" tanya Louis ketika ia sudah mengigit telinga gadis itu hingga memerah.


Clara tak menjawab lagi dan memegang telinga nya, mata nya berkaca dengan umpatan yang memenuhi di hati nya memaki pria yang saat ini bersama dengan nya.


"Kalau sudah membaik kita perlu melihat distribusi alat medis." ucap Louis dan berlalu tanpa pergi ke tempat duduk nya.


......................


Mansion Dachinko.


Louise mulai membuka mata nya, ia tak tau pukul berapa sekarang namun ia dapat berubah nya cahaya langit dari jendela kamar dimana ia berada.


Tubuh nya masih terasa sakit terutama di dada nya, rasa sesak yang membuat nya hampir kehabisan nafas di selalu ia rasakan namun kali ini semakin berbeda.


Setiap tarikan nafas yang rasakan seperti ribuan jarum yang ikut dengan nya. Jika saja narkotika dan obat rutin nya tidak bertabrakan ia pasti tak akan merasakan semua gejala dari penyakit nya.


Pandangan nya masih mengabur, suara nya tak dapat keluar karna masih sangat merasakan lemas. Gadis itu pun memejam kan mata nya lagi. Telinga nya dapat mendengar dengan semakin jelas.


Tak berselang beberapa lama gadis itu bangun ia mendengar suara pintu yang terbuka dan orang lain yang masuk ke kamar itu.


Pembicaraan samar yang semakin jelas pun terdengar di telinganya.


"Aku akan mengambil darah nya untuk uji pemeriksaan yang selanjutnya, dia juga perlu di bawa untuk tes lain." ucap Chiko bersemangat ingin meneliti gadis itu.


"Yasudah ambil saja." jawab James pada Chiko, ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri jika ia tak akan menyukai siapapun.


"Benarkah? Kau seperti nya agak..." ucap Chiko yang sedikit melihat sikap tuan nya berbeda, terlihat jelas jika pria tampan itu merasa panik saat membawa gadis itu ke ruang bawah tanah.


"Agak apa? Sudah cepat lakukan saja!" jawab James sekali lagi.


Saat jarum yang tajam itu mulai mengenai kulit Louise, gadis itu membuka matanya dan berusaha menepis tangan pria yang ingin mengambil darah nya.


"Minggir! Jangan menyentuh ku!" ucap Louise saat menepis tangan pria tersebut.


"Ini hanya pemeriksaan biasa, kau tak mau di rehabilitasi?" tanya James mengimingkan hal lain.


"Rehabilitasi? Aku dapat melakukan nya sendiri! Kalau kau memang mau membantu ku, cukup berhenti memberikan ku narkotika saja!" ucap Louise yakin dengan suara nya yang masih lemah.


"Jangan pura-pura kuat...


Aku semakin menyiksa saat melihat orang lain yang sedang berlaga pura-pura seperti mu saat ini..." ucap James pada gadis yang sedang menatap nya dengan tajam.


James pun memperhatikan mata elang gadis itu.


"Benar...


Kau harus terus seperti ini..." gumam nya lirih yang menyukai mata angkuh dan berani itu.


"Aku mau pulang! Dan aku tak mau melakukan pemeriksaan apapun disini!" ucap Louise dengan nada tegas.


Ia tak bisa membiarkan pria di hadapan nya tau tentang kondisinya yang sebenarnya, mau itu tentang penyakitnya atau keistimewaan yang ia miliki.


"Kenapa?" tanya James mengernyitkan dahi nya.


"Mau kau jadikan ancaman lagi kan hasil tes ku! Aku tak mau! Kalau kau tetap memaksa, kau bisa membunuhku saja! Di balik punggung mu selalu ada pistol kan?" jawab Louise dengan tatapan kukuh.


"Benarkah? Kau mau mati saja? Hm?" tanya James dan mulai melingkarkan tangan nya di leher gadis itu.


"Keluar." perintah James dingin pada Chiko.


Chiko pun langsung keluar dengan wajah lesu karna masih belum mendapatkan sampel gadis itu.


"Ukh!" tangan kekar itu mulai mencekik dengan kuat ke leher jenjang gadis cantik itu.


Mata Louise memerah begitu pula dengan wajah nya menatap pria yang sedang berdiri sembari mencekik nya.


Sakit...


Gak bisa nafas...


"Kau mau mati kan tadi? Hm? Aku akan membantu mu!" ucap James pada gadis itu sembari terus mencekik dengan sekuat tenaga.


Kuku gadis cantik itu pun mulai menancap dan mencakar pria yang sedang mencekik nya dengan kuat sebagai bentuk simbol pertahanan dirinya.


Louise tak memohon ampun atau pun mengatakan hal yang manis, ia tetap kukuh menahan rasa sesak yang mencekik nya dengan kuat dari pada nanti nya keistimewaan yang ia miliki semakin menyiksa nya.


Tes..tes...tes...


Cairan merah kental mulai mengalir jatuh dari hidung mancung gadis itu, bahkan sampai mengenai tangan kekar milik James.


Mata Louise mulai berair menatap pria dengan wajah dingin yang ia semakin mencekik nya.


Begitu melihat banyak darah yang keluar dari hidung gadis itu, James refleks melepaskan tangan nya.


Uhuk! Uhuk!


Gadis itu langsung terbatuk dan setelah itu menutup pangkal hidung nya agar tak lagi keluar darah mimisan di hidung nya.


"Kenapa keras kepala sekali sih? Kenapa tak memohon atau apa?!" bentak James geram yang tau alasan ia kesal.


"Putri JBS tak akan memohon atau menundukkan kepala nya pada siapapun!" ucap Louise pada James dengan mata yang kukuh.


Ia memang tak pernah diajari untuk memohon atau merendahkan dirinya pada siapapun, dan itu adalah ajaran sang ayah yang sudah tertanam dan berakar di hati nya.


"Kau tak takut pada ku?" tanya James dengan senyuman yang sulit diartikan.


"Bohong kalau ku bilang tidak, tapi aku pernah bilang jika apapun yang terjadi pada ku adalah keputusan ku kan? Entah itu rasa takut ku atau tidak!" jawab Louise sembari memegang dan mengusap darah di hidung nya.


James terdiam, rasanya ia semakin ingin memiliki gadis itu untuk dirinya sendiri lagi, tatapan mata, wajah, suara dan semua yang melekat di tubuh gadis itu.


"Kau menyukai ku?" tanya Louise tersenyum simpul sembari membersihkan sisa mimisan nya dengan tissu.


"Tidak! Kau hanya mainan! Jangan berharap lebih!" jawab James dengan cepat.


"Kau tak perlu mengatakan nya pada ku. Katakan saja pada diri mu sendiri!" ucap Louise yang berusaha mengalihkan pembicaraan agar tak membahas tentang darah dan kondisi tubuh nya.


Walaupun ia terlahir dengan fisik yang lemah namun ia memiliki kelebihan diantara orang-orang di seluruh dunia, karna ia merupakan salah satu anak yang terlahir spesial diantara yang lain.


Walaupun ia memiliki keistimewaan namun juga keistimewaan itu yang menjadi tombak dan boomerang pada nya.


Masalah penyakit bawaan di rahasiakan demi kepentingan perusahaan karna akan dapat menimbulkan dampak jika publik atau para pemegang saham mengetahui salah satu pewaris JBS memiliki penyakit.


Walaupun orang tua nya tak menuntut kesempurnaan namun lingkungan yang menuntut semua itu darinya.


Dan untuk keistimewaan nya sendiri memang di rahasiakan agar ia tak jadi incaran di semua dunia medis dan malah akan dapat menyakitinya mengingat kondisi nya yang memiliki fisik yang lemah.


"Aku bisa menghancurkan mu! Dan aku yakin dengan itu! Jadi jangan berfikir terlalu banyak kalau aku menyukai mu!" ucap James dengan nada penuh penekanan.


"Aku tau." jawab Louise tersenyum dengan raut yang berbeda.


Ia memang tak merasa jika pria itu menyukainya Louise hanya ingin mengalihkan pembicaraan.


......................


Ruangan yang penuh dengan alat medis dan bau obat-obatan yang kuat selalu tercium jelas di indra penciuman gadis kecil itu.


"Mah...


Sakit...


Kenapa dalah Louise di ambil telus?" rengek gadis itu bertanya pada ibu nya.


"Sabar yah sayang...


Darah nya juga untuk Louise kok nanti..." ucap Alyss menenangkan putrinya.


"Huhuhu....


Sabal! Sabal! Mamah bilang nya itu telus! Sakit Mah..." tangis gadis itu pada sang ibu.


"Iya...


Maaf yah..." jawab sang ibu lirih karna merasa bersalah membuat putrinya tak memiliki tubuh yang kuat seperti anak lain nya.


"Dalah Louise di ambil telus! Abis itu disuntik telus minum obat! Louis aja gak kayak Louise!" teriak gadis itu pada ibu nya, ia selalu memarahi sang ibu karna terus membawanya ke tempat yang ia benci.


"Louise kayak begitu karna Louise spesial...


Jadi jangan biarin orang lain tau yah...


Nanti kalau Louise udah besar bakal tau sendiri kok...." ucap Alyss lagi pada putri kecil yang cerewet milik nya.


"Mamah jahat! Gak mau temenan sama Mamah!" ucap nya yang selalu sama saat sang ibu membawa nya terapi dan melakukan tes berulang kali.


Setelah satu kantung terisi penuh darah dan selang tranfusi di lepaskan, wanita cantik itu langsung mendekap putrinya dan memeluk dengan lembut.


"Maaf yah sayang...


Louise sakit karna Mamah..." ucap nya dengan suara tertahan sembari memeluk lembut gadis kecil itu.