(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Cemburu



Malam pun hampir tiba, Mereka melihat pemandangan sunset yang begitu indah di tepi pantai, walaupun sebenarnya Hazel tak begitu memperhatikan pemandangan tersebut. Ia hanya terfokus pada wajah Alyss tersenyum menikmati pemandangan.


Matahari pun telah turun dan tergantikan oleh bulan, tak ada suara apapun yang keluar dari mulut mereka. Hanya suara desiran ombak dan angin lah yang terdengar.


Terkadang Alyss merinding jika merasakan dingin angin laut yang berhembus lembut padanya.


"Kau kedinginan?" tanya Hazel ketika memperhatikan Alyss.


"Eh ti-tidak!" jawab Alyss menggelengkan kepalanya.


"Benarkah?" Hazel memandang dengan tatapan tak percaya.


Sreg....


Hazel langsung menarik Alyss dan membekap Alyss di dada bidang nya.


"Kalau begitu aku yang kedinginan" ucap Hazel enteng dengan terus memeluk Alyss.


Alyss tak mengatakan apapun lagi. Ia hanya diam dengan perlakuan Hazel tersebut.


Sejuta pertanyaan muncul di kepala Alyss.


Kenapa orang seperti Hazel bisa menyukainya, seseorang yang tanpa ampun membunuh orang lain dan bahkan ia sendiri pernah hampir terbunuh di tangannya.


Apakah jika ia melakukan kesalahan kelak Hazel juga akan memperlakukan nya sama seperti dengan para korban dari kekejaman Hazel?


Entahlah Alyss pun tak tau apa yang akan terjadi jika seorang psyco yang mencintainya.


Dengan sejuta pertanyaan di kepalanya. Akhirnya Alyss memberanikan diri untuk bertanya pada Hazel.


"Emm, Apa saya boleh bertanya?" Alyss mendongakkan kepalanya memandang Hazel.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" ucap Hazel menunduk melihat Alyss.


"Kenapa tuan menyukaiku?" Alyss akhirnya mengungkapkan pertanyaan di pikirannya.


"Entahlah, aku tak tau tapi ingin memiliki mu, dan semua yang melekat padamu" ucap Hazel datar.


"Kalau begitu itu bukan suka melainkan rasa kepemilikan" ucap Alyss ketika mendengar jawaban Hazel.


"Terserah apa yang ingin kau pikirkan. Tetapi jika aku sudah berpikir kalau aku menyukai mu, maka aku suka pada mu tak perlu mencari alasan yang lain" ucap Hazel mendengar perkataan Alyss.


Alyss tak menjawab apapun lagi. Ia hanya terdiam setelah Hazel mengatakan hal tersebut.


Dingin nya angin malam makin terasa, mereka pun memutuskan untuk kembali.


"Ini sudah malam, kita istirahat di hotel saja, dan pulang besok pagi" ucap Hazel.


"Eh tapikan masih jam 08.30 PM belum terlalu malam" ucap Alyss


"Tapi menurut ku sudah malam. Ayo kita cari hotel resort yang terdekat" ucap Hazel yang langsung menarik pergelangan tangan Alyss.


"Eh?!" Alyss hanya terkejut ketika Hazel menarik tangan nya.


Saat mereka sedang check-in di hotel Alyss melihat dari jauh dengan samar-samar seseorang yang ia kenali.


Saat Alyss melihat seseorang tersebut semakin dekat, dan....


Benar, jika orang tersebut merupakan orang yang ia kenali.


"Kak Leo!" panggil Alyss tanpa sadar, dan segera menghampiri Leo.


Hazel langsung melihat ke arah Alyss ketika Alyss memanggil Leonard dan langsung berlari menghampirinya.


"Alyss? Alyssca?" Leo langsung menoleh ke arah sumber suara saat ia merasakan jika ada suara Alyss yang sedang memanggil nya.


Ia melihat Alyss yang menghampiri nya dan tentu saja ia juga berjalan mendekat ke arah Alyss.


"Alyss kau baik-baik saja kenapa tak ada kabar? Larescha bilang kau sedang ikut pelatihan, kau sudah kembali? Kenapa kau bisa disini?" Leo langsung melontarkan semua pertanyaan yang ada benak nya. ketika mereka telah berdiri berhadapan


"Hmm... I-itu aku..." Alyss yang bingung menjawab pertanyaan dari Leo dan belum selesai ia bicara...


Sreg...


"Apapun itu yang terpenting kau baik-baik saja, aku sebenarnya masih tak percaya saat Larescha bilang kau sedang ikut pelatihan, aku takut kau dalam bahaya" ucap Leo sembari terus memeluk Alyss.


Leo sebenarnya juga memendam perasaan untuk Alyss namun saat ia ingin menyatakan perasaannya saat kuliah dulu ia malah mendengar Alyss sedang menyukai seseorang.


Ia takut jika tetap menyatakan perasaannya pada Alyss maka Alyss akan menjauhinya, dan bahkan ia tak akan bisa berteman lagi dengan Alyss. Tanpa ia ketahui bahwa orang yang Alyss sukai tersebut adalah dirinya sendiri.


Wajah Alyss merona saat Leo memeluk nya.


Hazel yang sejak tadi melihat mereka sudah berada dalam kecemburuan yang meluap-luap. Ia tak bisa menahan wajah amarah nya.


Ia langsung mendatangi Alyss dan menarik Alyss dengan kasar ke sisinya. Sontak Leo pun langsung terkejut ketika melihat Alyss di tarik seseorang yang tak lain adalah Presdir RS tempat ia bekerja.


"Apa-apaan kau?! berani sekali memeluk wanita ku!" ucap Hazel dengan wajah marah dan tatapan membunuh pada Hazel.


"Wanita mu? Apa yang sedang terjadi Alyss? Kenapa kau bisa bersama di hotel dengan Presdir Hazel?" tanya Leo dengan bergantian menatap wajah Hazel lalu menatap wajah Alyss.


Alyss sangat bingung bagaimana menjawab Leo.


"Kau mengenal ku?" tanya Hazel ketika Leo menyebut namanya.


"Selamat malam presdir saya dokter bedah jantung di JBS" ucap Leo yang tak melupakan sopan santun, walaupun ia juga sedang menahan emosinya sendiri.


Hazel hanya mengangguk mendengarkan perkenalan diri Leo.


"Alyss jawab! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Leo menunggu kepastian dari jawaban Alyss.


Alyss memandang wajah Leo yang sedang kebingungan dan berganti memandang wajah Hazel dengan yang penuh dengan tatapan tajam ke arah nya.


"Dia pacarku! Jika melihat pria dan wanita dewasa di hotel kau tau sendiri kan?" ucap Hazel yang menjawab pertanyaan Leo dan bukannya Alyss.


Alyss langsung membulatkan matanya dan menatap Hazel.


"Alyss apakah itu benar?" tanya Leo lagi yang ingin memastikan dari Alyss sendiri.


"Ti-tidak, itu... Akh.." ucap Alyss yang langsung terpotong ketika Hazel mencengkram bahu nya.


Hazel menatap Alyss dengan tatapan yang sangat tajam, tatapan itu seperti mengatakan jika Alyss berani mengatakan hal yang berbeda maka Hazel mengakhiri riwayatnya.


Alyss menjadi takut dengan tatapan Hazel dan dengan terpaksa ia menjawab.


"I-iya itu benar kak" ucap Alyss dengan nada lirih.


"Kau sudah dengar kan? Sekarang kami harus pergi!" ucap Hazel dengan senyuman kemenangan dan langsung menarik Alyss.


Leo hanya diam melihat Alyss yang di tarik oleh Hazel, ia tak tau apa yang harus ia katakan lagi ketika mendengar jawaban Alyss.


Hazel menyeret Alyss ke kamar hotel ketika sampai di kamar tersebut Hazel langsung melempar tubuh Alyss dengan kasar ke atas ranjang.


"Siapa dia? Berani sekali bocah sialan itu memeluk mu!" ucap Hazel dengan nada marah.


"Dia temanku, dan itu wajar jika seorang teman memeluk teman nya yang lain kan? jawab Alyss.


"Wajar? kau bilang wajar jika hanya teman berpelukan satu sama lain?" tanya Hazel dengan nada rendah namun dengan amarah yang makin meluap-luap.


"Tentu saja kami bukan anak-anak! tak mungkin hanya melambaikan tangan!" ucap Alyss menjawab Hazel, walaupun terdengar berani namun hati Alyss sudah sangat takut.


"Hahahahaha...


Kau bahkan berani melawanku hanya karna bocah sialan itu! Kau pikir jika aku mengaku menyukai mu maka kau bisa berbuat semau mu?" Hazel yang tertawa dan kemudian merubah ekspresinya menjadi amarah yang sudah tak tertahankan.


Alyss menjadi semakin takut. Ia bangun dan hendak lari keluar dari kamar hotel. Namun Hazel langsung menangkap tangannya dan melemparkan nya lagi ke ranjang.


"Jika seorang teman wajar memeluk, maka bagaimana dengan seorang pacar?" tanya Hazel sembari membuka baju lengan panjang nya.


Alyss langsung meneguk salivanya. Ia sangat takut dengan apa yang akan di lakukan oleh Hazel terhadapnya.


"Ta-tapi kita sedang tak berpacaran, berpacaran me-membutuhkan persetujuan kedua nya" jawab Alyss terbata karna rasa takut.


"Kau sudah mengatakan "Iya" tadi saat bocah sialan itu bertanya padamu, berarti sekarang kau adalah pacarku" ucap Hazel sembari naik ke atas ranjang dan menindih Alyss kemudian......