
Setelah makan malam Hazel menyuruh Alyss untuk segera naik ke lantai atas menuju kamarnya.
"Bisakah aku bermain dengan Bulbul sebentar?" ucap Alyss pada Hazel ketika selesai makan malam.
"Ya, baik. Setelah selesai segera ke atas." ucap Hazel sembari menaiki tangga.
"Ada apa dengannya? ini masih jam 07.00 AM, dan dia sudah mau tidur ?" ucap Alyss dalam hati yang heran melihat Hazel menyuruh nya segera ke kamarnya.
Alyss tak memiliki pikiran yang buruk tentang hal itu. Ia hanya mengganggap bahwa Hazel hanya bersikap seperti biasanya. Ia tak tau apa yang menantinya saat ia memasuki kamar Hazel.
"Huh...
Gemasnya, maaf aku meninggalkan mu. Padahal aku pernah janji jika aku kabur akan membawa mu." ucap Alyss sembari mengusap-usap tubuh Bulbul yang penuh dengan bulu lembutnya.
Alyss cukup lama bermain dengan Bulbul. Setelah puas bermain, Alyss segera naik ke atas tangga dan menuju kamar Hazel.
"Lama sekali." ucap Hazel ketika melihat Alyss yang baru saja masuk.
Alyss tak menjawab dan hanya diam saja, ia memutar bola matanya ke samping dengan malas.
"Sekarang ke sini. Tak perlu membawa kursi." ucap Hazel sembari menepuk sisi ranjang di sebelahnya.
"Seperti nya lebih baik aku duduk di kursi saja, aku takut kau akan kesempitan nanti." jawab Alyss yang berusaha menolak ajakan Hazel.
Mendengar hal itu membuat Hazel kesal, ia langsung bangun lalu mendekati Alyss dan langsung menarik tangan Alyss dengan kasar dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
"Jangan membantah, dan turuti saja perkataan ku." ucap Hazel dengan penuh penekanan sembari menindih tubuh Alyss.
"A-Apa yang kau lakukan?" ucap Alyss sembari berusaha mendorong tubuh Hazel yang berada diatas tubuhnya.
Hazel hanya tersenyum licik melihat Alyss yang mulai panik dan berusaha mendorong tubuhnya. Hazel kemudian menangkap kedua tangan Alyss yang mengunci kedua tangan tersebut dengan satu tangannya dan di letakkan ke atas kepala Alyss.
Setelah itu Hazel langsung mencengkram dagu Alyss dan mencium Alyss dengan rakus.
"Humph..." suara Alyss yang terdengar. Alyss hampir kehabisan oksigen dikarnakan ciuman dalam yang diberikan Hazel padanya.
Hazel tak berhenti dan tetap mencium bibir Alyss, ia m*l*mat, menggigit, dan menarik bibir Alyss. Hazel bahkan berusaha memasukkan lidah nya ke dalam mulut Alyss.
Hazel melepaskan cengkraman tangan nya di dagu Alyss namun tetap tak melepaskan ciumannya, ia mengambil tali yang telah ia siapkan di balik bantal dan segera mengikat kedua tangan Alyss. Lalu mengikat tali tersebut ke penyangga ranjang sehingga tangan Alyss tetap terkunci ke atas.
Merasakan Hazel yang telah mengikat kedua tangan nya, Alyss semakin panik. Tubuh nya terus bergerak kesana-kemari ingin memberontak dari Hazel dan berusaha melepaskan ciuman yang di berikan Hazel.
Hazel yang merasa Alyss terus menggeliat akhirnya melepaskan ciumannya.
"Fuahhh, hah.. hah..." Alyss yang berusaha menghirup udara sebanyak mungkin saat Hazel melepaskan ciuman penuh sesak nya.
"Sudah selesai menghirup udara nya sayang?" ucap Hazel dengan wajah tersenyum licik nya.
"A-apa yang kau lakukan? Le-lepaskan aku..." ucap Alyss yang mulai ketakutan dengan sikap Hazel.
"Aku sedang menghukum mu. Bukankah aku sudah bilang bahwa kau akan tetap mendapatkan hukuman mu? Dan kau tak akan bisa menyakiti tangan mu lagi, karna aku sudah mengikatnya." ucap Hazel yang semakin tersenyum melihat Alyss yang makin ketakutan.
"Ja-jangan lakukan ini padaku. Ku mohon..." ucap Alyss dengan suara yang mulai gemetar, dan wajah yang mulai pucat.
"Aku akan berikan hukuman yang manis untuk mu." ucap Hazel sembari melayangkan ciuman ke lengkung leher Alyss.
Tangan Hazel pun mulai menjelajahi tubuh Alyss, setelah memberikan beberapa kiss mark dileher Alyss, Hazel segera mengambil gunting dan menggunting pakaian Alyss.
"Hentikan...
Ku mohon..." ucap Alyss yang mulai menangis dan mengeluarkan cairan putih bening di ujung matanya.
Alyss merasakan perasaan deja vu di hatinya, perasaan yang sangat takut mulai melanda nya kembali.
NB KET :
Déjà vu, adalah fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu.
Hazel makin tersenyum puas melihat Alyss yang mulai memohon pada nya kembali.
Setelah menggunting pakaian yang di kenakan Alyss. Hazel dapat melihat dengan jelas tubuh Alyss dan tentunya bekas luka yang ia berikan di tubuh Alyss juga masih terlihat dengan jelas.
"Apa masih sakit?" ucap Hazel sembari menyentuh sepanjang bekas luka Alyss dengan perlahan.
"Hentikan...
Aku akan menerima hukuman apapun, tapi aku tak ingin hukuman ini, kau bisa mencambuk ku lagi, tapi hentikan hal ini..." ucap Alyss sembari menangis dengan deraian air mata membasahi wajahnya.
Alyss merasakan geli saat Hazel melakukan hal seperti itu padanya. Setelah itu Hazel bangkit dan pergi mengambil sesuatu.
Tak lama kemudian Hazel membawa jarum suntik dan obat salep untuk mengobati bekas luka yang berada di tubuh Alyss.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Alyss yang keheranan melihat Hazel mengambil cairan dari dalam botol kecil menggunakan jarum yang ia bawa barusan.
"Tenanglah ini bukan sesuatu yang mengerikan. Ini akan membuat mu merasa nyaman." ucap Hazel enteng sembari terus menarik spuit jarum tersebut.
Setelah memindahkan cairan tersebut ke dalam jarum suntik, Hazel lantas menyuntikkan Alyss dengan cairan tersebut.
"Apa yang kau berikan?! Aku tak mau!" ucap Alyss dengan panik saat merasa Hazel memaksa menyuntikkan cairan tersebut ke tangan Alyss agar masuk ke dalam tubuhnya.
Setelah Hazel selesai menyuntikkan Alyss dengan cairan tersebut, Alyss mulai merasa aneh dengan tubuh nya sendiri. Mata Alyss pun mulai berubah menjadi sayu.
"Sekarang jadilah anak baik, dan menurut padaku." ucap Hazel dengan mengusap kening Alyss perlahan, dan mulai mengolesi bekas luka di tubuh Alyss dengan salep yang ia bawa.
Alyss merasakan getaran aneh pada tubuh nya saat Hazel mengolesi obat tersebut di tubuhnya.
Akal sehat nya mulai hilang, ia mulai tak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
"Hen-hentikan..." ucap Alyss lirih pada Hazel, perasaannya tak menerima perbuatan Hazel tetapi tubuh nya berkata lain.
"Hentikan apa? Kau tak ingin di obati lagi?" ucap Hazel dengan senyum kemenangan nya dan membuka seluruh sisa pakaian di tubuh Alyss.
Hazel mulai mencium bibir Alyss, kemudian turun ke leher nya, dan turun lagi ke dada Alyss. Tangan Hazel pun tak tinggal diam dan terus menjelajahi seluruh bagian tubuh Alyss.
"Hmmphh..." Alyss yang mendesah pelan dengan perlakuan yang di berikan Hazel pada nya.
"Sepertinya kau sudah cukup siap." ucap Hazel ketika mendengar desahan tertahan Alyss.
Hazel pun bangun dan membuka pakaian nya lalu menjalankan puncak aksi tersebut.
"Hentikan...
Sakit... Kumohon berhenti..." ucap Alyss yang menitikkan air mata nya. Sembari memohon pada Hazel agar berhenti.
"Cup.. cup... tenanglah ini tak akan lama." ucap Hazel dengan suara berat dan menghapus air mata Alyss dengan tangan nya kemudian kembali mencium bibir Alyss.
Setelah melakukan perbuatan hina nya, Hazel membuka ikatan tali di tangan Alyss dan memeluk Alyss yang telah tertidur lebih dulu.
Malam yang panjang itu pun akhirnya berlalu.
......................
Mentari pagi mulai naik menyebarkan cahaya terang nya, hingga masuk ke sela-sela kamar Hazel.
Alyss terbangun lebih dulu, ia membuka mata nya perlahan dan merasa seperti sedang di dekap oleh seseorang. Seluruh tubuh nya terasa pegal dan sakit.
Saat telah sadar sepenuhnya dan melihat Hazel yang tengah memeluk nya Alyss langsung terkejut dan berteriak.
Mendengar teriakan Alyss, Hazel pun ikut terbangun.
"Kenapa berisik sekali?" ucap Hazel yang mengusap matanya. Ia melihat Alyss yang duduk sembari menutupi tubuhnya dengan selimut.
"A-apa yang sudah kau lakukan?" tanya Alyss dengan suara gemetar dan air mata yang terjatuh ke ke pipinya.
Alyss mulai memahami situasi, tetapi ia tak dapat mengingat dengan jelas kejadian semalam. Yang pasti adalah Hazel benar-benar telah menodainya.
"Menurut mu?" tanya Hazel enteng dengan senyuman di wajahnya, ia tak merasa bersalah sedikitpun pada Alyss, dan malah merasa sangat senang.
Alyss hanya kembali menangis melihat wajah Hazel yang merasa tak bersalah.
"Sudahlah." ucap Hazel yang mengelus kepala Alyss yang tertunduk sambil menangis.
Alyss menepis tangan Hazel dan berlari ke kamar mandi di kamar Hazel. Ia tetap berusaha berlari walaupun merasa sangat sakit di bagian intinya.
Hazel hanya tersenyum melihat Alyss yang pergi ke kamar mandi dengan terburu-buru sembari membawa selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Senyuman Hazel makin mengembang ketika melihat darah di atas sprei miliknya.
Alyss menangis sejadi-jadinya di kamar mandi tersebut. Saat ia melihat dirinya di cermin ia merasa kotor, hina, dan jijik dengan dirinya sendiri.
Suara isak tangis Alyss terdengar hingga keluar dan tentu saja Hazel dapat mendengarnya.
"Sekarang kau tau kan apa yang sedang kau hadapi? Maka dari itu jangan coba-coba melawan ku." ucap Hazel lirih dengan senyuman puas di wajahnya, ketika mendengar isak tangis Alyss.