(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Terapi



Tubuh gadis kecil itu terus saja gemetar tak mampu melihat situasi. Ia tenggelam dalam kenangan buruk nya. Rasa takut akan pria dewasa telah tertanam di pikiran.


Tangisan yang begitu pilu memohon ampun terus saja terucap dari bibir kecil. Membuat sang ayah mau tak mau menghindari dan menyuruh para dokter untuk memberi nya obat penenang.


"Louise...


Papah minta maaf yah sayang...


Terlambat jemput kalian..." ucap Hazel lirih dengan suara serak menahan kesedihan nya melihat putri cantik nya tidur dengan tenang setelah di suntikkan paksa obat penenang.


Setelah keluar dari ruangan anak-anak nya tentu saja pria itu berbicara pada psikiater yang melihat keadaan putri nya tadi.


"Lakukan terapi sebaik mungkin, aku ingin dia segera pulih." ucap Hazel pada sekelompok psikiater di depan nya.


"Baik presdir.


Namun kami seperti nya perlu memberitau jika sebaik nya presdir tidak datang untuk menemui nya saat ini. Karna nona muda takut dengan pria dewasa dan orang asing." jelas salah satu psikiater tersebut.


"Tapi aku ayah nya...


Dan dia juga takut pada ku?" tanya Hazel dengan lirih.


"Nona muda trauma berat. Saat ia melihat presdir dan mengenal ayah nya dia akan bersikap seperti putri presdir namun saat ingatan buruk nya kembali ia hanya akan melihat presdir sebagai pria dewasa saja." jelas psikiater tersebut.


"Baik aku mengerti, lakukan saja yang terbaik." perintah Hazel.


Pria itu mulai berjalan kembali ke ruangan nya dan melihat istrinya yang masih tertidur dengan pulas. Ia terpaksa mencampur obat tidur dalam suntikan obat wanita nya karna wanita itu yang tak tertidur hampir 4 hari dan sangat sulit untuk makan.


"Alyss...


Aku seperti nya bukan ayah yang baik yah? Aku gak bisa jaga mereka...


Maaf yah..." ucap nya lirih sembari memandang wajah menenangkan yang sedang tertidur itu.


Tangan nya mengusap lembut dahi wanita yang menjadi istrinya terus menerus.


......................


Ke esokkan pagi nya.


Wanita cantik itu mulai terbangun dari tidur nya, ia tak melihat keberadaan sang suami di samping tubuh nya.


Mata nya menatap ke sekeliling ruangan mencari keberadaan pria yang mendekap erat tubuh nya sebelum tidur dada nya terasa nyeri dengan kepala yang terasa begitu berat dan seperti sedang tertekan dengan jutaan ton besi.


"Kau sudah bangun?" tanya Hazel yang baru membuka pintu kamar istirahat nya dan melihat istrinya yang menatap kesana kemari.


"Anak-anak gimana? Mereka sudah sadar?" tanya Alyss saat melihat suaminya.


"Louise sudah sadar semalam...


Tapi Louis belum..." jawab Hazel lirih.


Mendengar salah satu anak nya sudah sadar membuat wanita itu langsung bersemangat dan segera menuruni ranjang dengan tergesa-gesa hingga membuat nya hampir terjatuh namun untung nya sang suami dengan sigap langsung meraih tubuh kecil itu.


"Hati-hati...


Alyss tubuh mu sangat din-"


"Aku mau menemui Louise...


Bawa aku pada nya!" potong Alyss langsung sembari menatap pria yang memopang tubuh nya.


"Kenapa tiba-tiba tubuh mu sangat dingin? Kau merasakan sakit?!" tanya Hazel dengan nada tinggi saat melihat wanita nya semakin tak memperdulikan keadaan nya.


"Tidak! Aku tak merasa sakit! Bisakah bawa aku pada mereka?" jawab Alyss lagi dengan wajah yang semakin pucat.


"Lakukan pemeriksaan! Seperti nya kau kurang sehat!" ucap Hazel pada istrinya menatap iris wanita itu dengan lekat.


"Aku baik-baik saja...


Aku tak akan baik kalau belum menemui mereka...


Ku mohon...


Setelah menemui mereka aku akan periksa! Aku janji!" ucap Alyss pada suaminya.


"Alyss..." panggil Hazel lirih. Sangat terluka melihat wanita itu yang seperti linglung dan kehilangan arah karna memikirkan anak-anak nya setiap saat.


Akhir nya mau tak mau pria itu mengantarkan istrinya menemui putri nya yang sudah terbangun. Namun keadaan putri kecil itu masih sama.


Bahkan walaupun semua dokter dan perawat sudah di ganti dengan wanita, gadis kecil itu terkadang masih ketakutan saat para dokter memeriksa nya. Ia tak hanya takut pada orang yang baru dilihat nya dan pria dewasa namun ia juga takut akan sentuhan.


Gadis kecil itu tak bisa mendapat sentuhan sama sekali karna akan menangis dan memberontak sekuat tenaga.


Rewelan yang biasa keluar dari bibir cerewet kini tak terdengar lagi. Jika bukan suara tangis dan memanggil orang tua serta kakak nya ia tak akan bersuara sedikitpun.


Alyss melihat dari pintu luar yang memperlihat kan putri nya sedang duduk di ranjang pasien nya dengan melipat kedua lutut kecil itu dan memeluk nya. Mata gadis kecil itu terus menatap ke arah saudara kembar nya yang masih belum terbangun.


"Louise?" panggil sang ibu dengan lembut hingga membuat gadis kecil itu menoleh ke arah pintu.


"Mamah?" jawab nya sembari melihat sang ibu. Ia mengenali ibu nya dan langsung turun memeluk sang ibu.


"Mamah huhu....


Ada om jahat mah...


Om nya pegang-pegang Louise mah... Huhuhu...


Louise takut...


Huaa...." tangis gadis kecil itu pecah saat berada di pelukan sang ibu.


"Iyah sekarang udah ada mamah yah sayang jangan takut..." jawab Alyss dengan suara tertahan sembari mendekap putri nya.


Ia juga menangis melihat putri sekarang.


"Mah...


Louis bedalah kalna Louise mah...


Huhuhu...


Louise belhenti lali telus om jahat nya dateng...


Huhuhuhu...


Kalna Louise kakak jadi huhuhu...." ucap gadis itu kesulitan karna bercampur dengan tangis.


"Sstt...


Cup... cup...


Bukan karna Louise kok...


Kakak pasti bangun nanti...


Mana mau dia ninggalin kamu sendiri nanti coklat nya pasti Louise habisin..." ucap Alyss berusaha tersenyum di lelehan air mata nya.


Wanita itu satu harian menemani gadis kecil nya di ruangan itu, ia yang memeriksa dan memberi obat pada putri nya.


"Mah...


Gak mau pakai woltel..." ucap gadis kecil itu saat sang ibu menyuapi nya makanan.


"Brokoli mau?" tanya Alyss dengan lembut pada putri nya. Gadis kecil itu tak suka sayur namun terkadang ia mau sesekali memakan nya. Hari ini tak ingin wortel dan besok ingin wortel keinginan nya selalu berubah-ubah.


Ia hanya menganggukkan kecil kepala nya dan menunjuk ke arah ikan salmon agar sang ibu menyuapi nya lebih banyak ikan itu.


"Mah...


Kalau Louise makan semua coklat Louis...


Nanti Louis bisa bangun mah?" tanya gadis itu polos.


"Bisa...


Louise harus sehat dulu...


Nanti pasti Louis bisa bangun." ucap Alyss pada putri nya agar gadis kecil itu tak sedih lagi.


"Mah...


Mau ketemu papah...


Papa dimana?" rengek nya sembari menatap sang ibu dengan mata polos nya.


Alyss terdiam beberapa saat. Hazel sudah menceritakan dengan lengkap kondisi gadis kecil mereka pada nya.


"Minum dulu sayang..." ucap Alyss dengan lembut sembari memberikan segelas air.


Gadis kecil itu tak takut pada wanita di depan nya ia merasa aman dan merasa jika ibu nya tak akan menyakiti nya. Ia sebenarnya juga merasa seperti itu saat bersama dengan ayah nya namun karna ayah nya adalah Pria Dewasa membuat ingatan buruk nya terkadang terputar kembali dan tak mengingat pria yang biasa nya selalu menyayangi nya.


"Sebentar yah mamah panggil papa mu dulu...." ucap wanita itu dengan lembut sembari membelai kepala putri nya.


Alyss pun berjalan keluar dan melihat sang suami yang sejak tadi berdiri di balik pintu melihat putri nya yang sudah mau berbicara lagi saat bersama ibu nya.


"Kau berdiri terus dari tadi?" tanya Alyss pada suaminya.


Hazel hanya mengangguk kecil mengindahkan pertanyaan dari wanita nya.


"Aku tak apa-apa...


Tidak usah seperti itu..." ucap pria itu dengan tersenyum lembut menatap sang istri yang terlihat sedih melihat nya hanya bisa berdiri di luar.


"Dia akan membaik...


Dan sekarang dia bahkan ingin bertemu dengan papa nya..." ucap Alyss dengan tersenyum sendu.


"Benarkah? Dia mau bertemu dengan ku?" tanya Hazel langsung mengembangkan senyum nya. Ia sangat ingin memeluk putri kecil nya namun tak bisa karna gadis kecil itu sudah ketakutan sejak bangun.


Alyss hanya mengangguk dengan senyuman di wajah nya.


Wanita itu pun mulai masuk lagi dan melihat putri kecil nya.


"Itu papa sayang..." ucap nya dengan lembut sembari melihat ke arah pintu saat suami nya mulai masuk.


Melihat wajah sang ayah membuat senyuman merekah di wajah menggemaskan itu.


"Papah!" panggil nya dengan senyum dan berlari menghampiri ayah nya.


"Papa boleh peluk Louise kan?" tanya pria ity dengan mata yang berkaca dan mulai menarik putri nya dengan lembut ke pelukan nya. Namun...


Deg...


Ingatan buruk nya berputar kembali saat tubuh kecil nya di dekap sang ayah.


"Lepas! Pelgi! Huhuhu...." ucap nya mulai memberontak dan menangis histeris yang membuat pria itu langsung melepaskan pelukan nya.


"Mamah! Huhuhu...." ucap bocah perempuan itu dan langsung berlari ke ibu nya.


"Kenapa sayang?" tanya Alyss lembut sembari mendekap putri nya.


"Ada om jahat mah huhuhu...


Louise takut...


Sakit semua mah..." adu gadis kecil itu dengan tangis nya.


Alyss melihat sekilas ke wajah suami nya yang memperlihatkan sorot kesedihan mendalam.


"Mau sama papah mamah...


Huhuhu...


Mau sama kakak..." tangis gadis kecil itu sembari mendekap erat sang ibu dengan tubuh gemetar nya.


Louise udah sama papah sama mamah..." ucap Alyss yang tak bisa menahan air mata nya saat melihat putri nya yang mencari dirinya dan sang ayah namun tak dapat mengingat ayah nya sendiri.


"Huhu bukan...


Ada om jahat mah...


Huhuhu..." tangis bocah itu semakin menjadi dalam pelukan ibu nya.


"Bukan om jahat sayang...


Itu papah...


Sini...


Mamah buktiin yah kalo itu papah..." ucap Alyss dengan lembut sembari mulai bangun dan berjalan ke arah suami nya.


"Hua....


Jangan mah...


Jangan ke om jahat nya huhuhu...


Jangan mah...


Kita pelgi aja...


Lali mah...


Bial papah bisa jemput kita..." tangis nya histeris memegang tangan ibu nya agar tak berjalan ke ayah nya sendiri.


"Dia papah mu nak..." jawab Alyss dengan air mata nya yang semakin meleleh melihat putri nya yang semakin tenggelam dalam kenangan buruk nya.


"Hua...


Lali mah...


Nanti mamah beldalah juga kayak kakak huhu...


Tunggu sampai papah jemput mah...


Kata kakak bental lagi papa jemput mah..." Louise dengan tangis nya yang semakin menjadi.


Alyss pun kemudian memeluk tubuh putri nya dengan erat agar menenangkan gadis kecil itu. Hazel terpaksa memilih keluar dari ruangan itu.


Hati nya begitu sesak melihat air mata yang keluar dari istrinya yang mendekap erat putri kesayangan nya yang sedang menangis tersedu.


Ia berdiri di balik pintu sembari mendengar suara pilu putri nya yang menangis terisak. Tanpa sadar ia menjatuhkan bulir bening nya dari ujung mata nya.


Putra nya yang belum tersadar hingga sekarang dan putri yang memiliki trauma mendalam. Istrinya yang benar-benar terguncang dengan semua keadaan membuat nya semakin hancur


......................


2 Hari kemudian.


Baik Alyss maupun Hazel tak bisa tenang hari ini, mereka sangat berharap agar pangeran kecil itu bisa bangun karna ini hari terakhir untuk menentukan ia jatuh dalam kondisi koma atau tidak.


"Dia akan bangun..." ucap Hazel menenangkan istrinya yang terlihat sangat gelisah melihat putra nya kecil nya sedang berusaha di bangunkan secara paksa.


Alyss hanya mengangguk kecil dan berharap agar putra nya bisa segera bangun.


Setelah sekian lama berdiri dalam kegelisahan akhir nya semua upaya menunjukkan hasil.


Pangeran kecil itu mulai terbangun dan membuka mata nya perlahan.


Senyum lega merekah di bibir pasangan suami istri itu.


Setelah melakukan pemeriksaan lanjutan dan memastikan jika pangeran kecil itu tak mengalami cacat apapun para dokter pun kembali memindahkan ke ruangan yang sama dengan adik nya.


"Semoga semua nya bisa membaik yah sekarang..." ucap Alyss dengan senyum dan bulir yang meleleh menatap ke arah suaminya.


"Iya...


Aku harap juga seperti itu..." jawab Hazel sembari memangut bibir tipis istrinya sekilas.


......................


Keesokkan pagi nya.


Gadis kecil itu mulai terbangun dari tidur nya, ia menoleh dan menatap ke arah saudara kembar nya.


Ia tak melihat lagi alat-alat aneh di tubuh kakak nya, kaki kecil nya mulai beranjak turun dan menghampiri bocah laki-laki itu.


Jemari mungil gadis kecil itu menusuk ke arah pipi sang kakak.


"Louis....


Bangun....


Nanti aku makan semua coklat nya loh..." ucap gadis kecil itu mengganggu tidur sang kakak.


"Uhhh..." Louis yang mulai terbangun karna sang adik yang terus menerus menganggu pipi nya.


"Louis udah bangun?" tanya Louise dengan wajah gembira nya.


Sang kakak mulai terbangun lagi dan menatap adik nya yang tersenyum cerah.


"Aduh...


Sakit..." ringis pangeran kecil saat sang adik mulai berusaha naik ke ranjang nya dan tanpa sengaja menyentuh bekas luka tembakan nya.


"Mana nya yang sakit?" tanya Louise panik dan semakin menyentuh bekas tembakan di tubuh kakak nya.


"Aduh! Sakit! Jangan pegang!" ringis Louis yang semakin kesakitan.


"Yang mana? Pegang yang ini?" tanya Louise polos yang semakin memegang luka di tubuh kakak nya.


Ctak!


Pangeran kecil itu langsung memukul kepala adik nya.


"Aduh! Sakit!" ringis gadis kecil karna sang kakak yang memukul nya.


Ctak!


Gadis kecil itu pun langsung membalas memukul kepala kakak nya.


"Aduh sakit huhuhu..." tangis bocah lelaki meringis, bukan karna sang adik yang membalas memukul kepala nya namun karna sang adik yang dengan polos nya terus memegang bekas luka tembakan nya tanpa sengaja.


"Huaa..." tangis gadis kecil itu saat mendengar kakak nya menangis.


Alyss yang baru saja ingin membawakan sarapan untuk anak-anak nya langsung panik saat mendengar tangis kedua bocah itu.


"Kalian kenapa nak?" tanya Alyss langsung khawatir.


"Luka Louis sakit lagi huhuhu..." tangis bocah itu mengadu pada ibu nya.


"Louise kenapa nangis sayang?" tanya Alyss pada putri nya saat ia sudah mendengar alasan putra nya menangis.


"Gak tau huhuhu...


Louise ikutan nangis aja kalna Louis nangis huhu...." jawab polos bocah perempuan itu.


Alyss pun kemudian mendekat dan menenangkan anak-anak nya. Setelah itu ia memeriksa luka di tubuh putra nya.


......................


Satu bulan kemudian.


Kedua anak tersebut terus saja mendapatkan terapi untuk mental mereka dari psikiater terbaik.


Louis yang mulai menunjukkan sifat asli nya walau masih anak-anak membuat para dokter psikiater itu terkadang merasa jika pangeran kecil itu benar-benar berbeda.


"Gak selu..." ucap bocah laki-laki itu saat terapi.


"Louis jadi mau ngapain?" tanya dokter tersebut dengan sabar.


"Mau main sama Louise sama Zayn..." jawab pangeran kecil itu sembari mematahkan dan merusak tubuh robot yang ia pegang.


"Louis kenapa mainan nya di patahin?" tanya dokter tersebut sembari menatap ke arah pangeran kecil itu.


"Iyah...


Sebenelnya Louis mau nya matahin sama motong-motong om jahat yang buat Louise nangis...


Tapi kata papa, papa udah ngehukum om jahat nya." jawab bocah itu polos pada dokter nya.


"Louis gak takut?" tanya dokter tersebut.


"Takut...


Tapi Louis juga mau motong kepala om nya, telus motong tangan nya, telus matahin kaki nya..." jawab bocah itu polos sembari mengambil satu mainan tentara nya dan merusak nya sesuai dengan perkataan yang ia katakan.


"Mau main mobil-mobilan sama dokter lagi?" tanya dokter tersebut dengan menunjukkan wajah ramah nya pada bocah itu.


"Mau main sama Louise sama Zayn..." jawab nya sekali lagi.


Louis tak merasa begitu takut pada orang asing setelah penculikan nya. Berbeda dengan adik nya yang terlihat begitu trauma.


Pangeran kecil itu juga mengalami trauma namun pada suara keras karna suara tembakan yang sebelum nya mengenai tubuh nya. Dan perubahan sikap nya juga berubah drastis dalam menjaga adik nya.


Ia semakin protektif pada kembaran nya dalam segala hal. Pernah suatu ketika adik nya keluar dari ruangan mereka karna mencari ibu nya dan bertemu dengan dokter lain yang merupakan dokter laki-laki membuat gadis kecil itu merasa takut dan menangis.


Sang kakak yang mengetahui hal itu langsung menusuk lutut sang dokter dengan pena yang ia ambil dari dokter itu sendiri.


.....................


Alyss melihat hasil pemeriksaan kejiwaan anak nya sudah mengetahui jika putra nya lebih sedikit merasakan emosi yang membuat pangeran kecil itu tak terlalu menunjukkan dampak setelah penculikan berbeda dengan adik nya.


"Dia mirip seperti kau yang sekarang..." ucap Alyss sembari membaca hasil pemeriksaan kejiwaan putra nya.


"Hanya memiliki sedikit emosi..." ucap Alyss pada suaminya.


"Tidak apa-apa...


Selagi dia masih bisa di arahkan dengan baik..." ucap Hazel pada istrinya.


"Tentu saja...


Kalau tidak di arahkan dia bisa membunuh orang lain tanpa alasan yang jelas." ucap Alyss pada suaminya.


"Hm...


Tapi dia juga seperti nya lebih mirip dengan mu..." ucap Hazel menggoda istrinya.


"Aku sedang tak ingin bercanda!" ucap Alyss pada suaminya.


"Aku tau...


Aku hanya ingin kau tak terlalu terbebani..." jawab pria itu sembari merangkul istrinya.


"Bagaimana menurut mu jika kita menghapus ingatan Louise tentang pelecehan nya?" tanya Hazel menanyakan pendapat istrinya.


"Aku sudah konsultasi dengan dokter nya dan itu yang pilihan yang terbaik saat ini." ucap Hazel lagi.


Alyss terdiam sejenak memikirkan ucapan suaminya ia tau itu mungkin pilihan terbaik namun saat putri nya akan mengingat lagi itu mungkin juga akan menjadi pecahan puzzle menyakitkan seperti ia dulu.


Tetapi jika tak di lakukan bisa saja putri nya terus mengalami sosial phobia dan mungkin bisa saja menciptakan kepribadian lain seperti dirinya dulu. Dan ia tak mau hal itu sampai terjadi.


"Baik aku setuju..." jawab Alyss yang menyetujui ucapan suaminya.


Hazel pun memeluk tubuh istrinya dan mengusap punggung kecil itu dengan lembut.