(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Ah choo!



Setelah mencari gaun pengantin untuk Alyss, dan mengajak nya berkuda satu harian, membuat Hazel tak membawa Alyss kembali ke kediamannya, ia membawa Alyss untuk tidur di salah satu villa nya yang tak jauh dari peternakan kuda tersebut.


"Ini Villa millik mu?" tanya Alyss saat memasuki villa bergaya klasik dan menampilkan sisi teduh serta elegant.


"Iya, kau tak mau disini? Mau ke menginap ke hotel saja?" tanya Hazel


"Tidak! Aku sangat sangat suka design nya." jawab Alyss dengan bibir yang mulai naik. Ia memang sangat suka dengan design klasik yang tidak terlihat terlalu mewah tetapi juga tidak bisa dikatakan sederhana.


Hazel hanya tersenyum melihat Alyss yang terlihat menyukai villa miliknya.


Malam pukul 08.35 PM.


Setelah makan malam Alyss pergi ke salah satu ruangan yang penuh dengan buku-buku, buku yang tersusun rapi di rak nya seperti sebuah perpustakaan kecil di villa tersebut.


"Psikologis klinik?" ucap Alyss lirih sembari mulai mengambil buku tersebut, ia tertarik untuk membaca nya.


"Haisshhh....


Sulit sekali mengambil nya..." ucap Alyss yang kesulitan mengambil buku tersebut di rak teratas. Ia berjinjit setinggi mungkin untuk menggapai buku tersebut.


"Eh?" ucap Alyss saat melihat sudah ada tangan yang lebih dulu mengambil buku tersebut.


Alyss pun langsung membalik tubuhnya, ia langsung dapat mencium aroma tubuh yang sangat familiar dengannya, wajah nya berhadapan langsung dengan dada bidang pria yang ada di hadapannya, ia mengandahkan wajahnya ke atas dan melihat wajah Hazel yang ikut menunduk melihat ke arah nya.


Deg... deg... deg...


Wajah yang sangat dekat, sampai bisa mendengar suara deru nafas yang halus satu sama lain, mata mereka melihat satu sama lain dan saling mengunci sejenak.


"Kau ini pendek sekali...


Seperti tauge yang baru tumbuh..." Hazel mulai berbicara dengan nada mengejek Alyss dan menahan tawa, sembari tangan Hazel mencubit kecil hidung Alyss.


"Aku tidak pendek! Itu karna kau yang tumbuh lebih tinggi dari ku saja!" ucap Alyss kesal saat Hazel mengejek nya mirip dengan tauge yang baru tumbuh.


"Hahaha, iya.. iya..


Kau tidak pendek..." jawab Hazel yang masih tertawa dan mengusap puncak kepala Alyss, lebih tepatnya mengacak rambut Alyss.


Alyss hanya melihat Hazel dengan wajah kesalnya. Dan Hazel semakin tertawa melihat wajah Alyss yang terlihat semakin kesal, baginya Alyss semakin terlihat menggemaskan.


"Kau ingin membaca ini?" tanya Hazel sembari memberikan buku yang ia ambil tadi.


"Kenapa kau punya buku seperti ini?" tanya Alyss sembari mengambil buku tersebut dari tangan Hazel.


"Kenapa? Aku tak boleh baca buku seperti ini?" tanya Hazel sembari mengerutkan dahinya.


"Ku pikir kau tak membaca yang seperti ini." jawab Alyss dan mulai beranjak pergi dari tempat itu.


"Mau kemana?" tanya Hazel sembari memalangkan tangan nya kehadapan Alyss saat Alyss ingin pergi.


"Mau membaca ini..." jawab Alyss lirih sembari menunjukkan buku yang ia pegang.


Hazel semakin menyudutkan tubuh Alyss, ke rak yang tersusun buku tersebut, membuat tubuh mereka menjadi sangat dekat satu sama lain.


"Kau tak mengucapkan sesuatu?" tanya Hazel sembari memegang dagu Alyss dan membuat Alyss mengandah ke arahnya.


"Te-terimakasih..." jawab Alyss lirih.


Alyss seperti menghirup debu di buku-buku yang berada di belakang nya, dan mulai membuat hidung nya terasa gatal.


"Su-sudah kan? Aku mau pergi dulu." ucap Alyss yang berusaha mendorong tubuh Hazel yang sedang menghimpit nya.


"Aku mau bentuk terimakasih yang lain." ucap Hazel dan mulai mendekatkan wajahnya.


"Tu-tunggu aku mau ber-...


Ahchoo...!!!!" Alyss bersin sebelum menyelesaikan perkataan nya, dan ia bersin tepat di wajah Hazel.


Hazel refleks menutup matanya saat Alyss bersin, ia sama sekali tak sempat menghindar, dan membuat wajahnya terkena bersin dari Alyss.


"Duh gimana nih?....


Si-sini ku bersihkan..." ucap Alyss gugup dan mengusap wajah Hazel punggung tangan nya yang tertutup dengan sweeter panjang.


Alyss sangat gugup dan takut saat melihat wajah datar Hazel yang sedang menatap nya.


"Ma-maaf..." ucap Alyss lirih.


"Kalau begitu, tunjukan rasa maaf dengan sungguh-sungguh." ucap Hazel dan langsung mengangkat Alyss ke pundaknya. Ia pun segera membawa Alyss ke kamar.


"Tu-tunggu...


Aku minta maaf...


Aku sungguh tak sengaja..." ucap Alyss sembari memukul punggung Hazel kecil, saat Hazel menggendong tubuhnya di pundak kekar pria itu.


"Habis sudah...


Haduhh... nasib ku...." batin Alyss saat Hazel menggendongnya dan membawa nya ke kamar.


Setelah sampai dikamar, Hazel langsung mendudukkan Alyss ke atas meja rias di kamarnya.


"Maaf...


Aku tak sengaja, sungguh..." ucap Alyss lirih dengan wajah memelasnya.


Sebenarnya Hazel tak marah sama sekali karna Alyss bersin tepat di wajahnya, namun ia sangat suka melihat wajah memelas Alyss yang terus memohon padanya.


Hazel pun tersenyum simpul melihat Alyss yang terus meminta maaf padanya, ia mengelus wajah Alyss perlahan, dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Alyss.


"Kalau kau sungguh ingin minta maaf, kau harus bersikap baik." bisik Hazel dan mulai mencium lembut bibir Alyss.


"Hummphh..." Alyss yang berusaha mendorong dada bidang Hazel agar berhenti mencium nya.


Semakin Alyss mendorong tubuh nya semakin membuat Hazel menahan tengkuk kepala Alyss, agar tak dapat melepas ciuman. Tangan kekar nya langsung mendekap tubuh kecil tersebut.


Ciuman Hazel semakin dalam, ia mulai m*l*mat habis bibir Alyss. Alyss pun semakin kewalahan saat lidah Hazel mulai masuk ke dalam mulutnya. Hazel terkadang menggigit kecil bibir Alyss, namun tak sampai membuatnya terluka.


"Hummmphh..." Alyss yang masih berusaha mendorong tubuh Hazel darinya.


Hazel pun melepaskan ciuman nya dan melihat


Alyss yang sedang terengah-engah menghirup oksigen untuk masuk ke paru-parunya.


"Kau jangan menolak jika tak menginginkan permainan kasar." bisik Hazel di telinga Alyss sembari menurunkan jaket sweeter Alyss perlahan.


"Ja-jangan...


Besok aku akan pulang ke rumah ayah dan ibuku..." pinta Alyss lirih dan berusaha memakai kembali sweeter nya. Ia tau Hazel pasti akan meninggalkan bekas ditubuhnya, ia tak sampai orang tua nya mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.


"Kau ingin menolak? Sudah ku bilang aku tak suka penolakan!" ucap Hazel dan mulai menggigit bahu putih Alyss.


"Auchh..." pekik Alyss saat Hazel mengigit bahu nya.


"I-iya aku tak menolak...


Jangan gigit lagi..." ucap Alyss ia tak mau sampai bahu nya terluka lagi dan membuat ibu nya melihat hal itu.


"Sekarang kau mau jadi anak penurut? Hm?" tanya Hazel sembari mengusap bibir Alyss dengan ibu jarinya.


Hazel pun tersenyum melihat hal itu, ia kembali menurunkan jaket sweeter yang dikenakan Alyss, tangan nya mulai menyikap rok yang dikenakan Alyss dan mengelus paha Alyss secara perlahan.


Ia ingin Alyss juga menikmati permainan yang lakukan. Tangan nya mulai melucuti pakaian Alyss satu persatu hingga tubuh kecil tersebut benar-benar polos tanpa ada yang menutupinya.


Hazel masih mendudukkan Alyss di meja rias kamarnya, ia dapat melihat punggung Alyss yang berkulit putih tersebut dari pantulan cermin yang dibelakangi Alyss. Ia pun melihat ke arah wajah Alyss yang terus menunduk sembari berusaha menutupi bagian privasi nya dengan tangannya.


"Kau malu?" tanya Hazel dan langsung mencium bibir Alyss, tangan nya mulai menelusuri setiap bagian-bagian dari tubuh Alyss.


Ia melepaskan ciuman nya sejenak, dan membuka pakaian yang melekat pada tubuhnya sendiri. Setelah itu ia kembali mencium bibir Alyss, ia memberikan ciuman panas dan membuat Alyss menelan semua saliva yang yang ia berikan. Lidah nya terus membelit dan menyusuri setiap inci dari mulut Alyss.


Alyss memukul kecil punggung Hazel agar Hazel melepaskan ciuman nya atau membiarkan nya bernafas sejenak, ia benar-benar terasa sesak dan kehabisan nafas setiap Hazel mencium nya, mau itu ciuman kasar atau ciuman Lembut.


"Hah.. hah..." Alyss yang mengambil nafas dalam saat Hazel melepaskan ciuman nya.


Hazel pun tersenyum melihat Alyss yang sedang terengah-engah mengambil nafas dan mulai menciumi leher jenjang tersebut, setelah meninggalkan beberapa kiss mark dan puas menciumi leher Alyss Hazel terus turun hingga mencium dada Alyss, ia mencium dengan lembut walaupun tetap meninggalkan bekas-bekas kepemilikan nya yang ia buat di dada Alyss.


Alyss mulai merasakan hal aneh di tubuhnya, rasa yang sama saat Hazel menyuntikkan sesuatu di tubuhnya saat Hazel pertama kali menidurinya.


Ciuman dan sentuhan yang di berikan Hazel benar-benar terasa berbeda, tidak terasa sakit sama sekali seperti yang biasa di lakukan Hazel padanya.


"Ehmm..." Alyss yang tanpa sadar mulai mengeluarkan desahan halus di bibir nya.


Hazel pun yang mendengar hal tersebut langsung mengandahkan wajahnya yang sedang terbenam di dada Alyss, untuk melihat ke arah wajah Alyss.


Alyss benar-benar merasa malu, ia mengeluarkan suara tersebut tanpa ia sadari, telinga nya mulai memerah, sangat merah seperti warna tomat, setiap kali ia menahan malu teramat sangat daun telinganya selalu memerah.


Hazel hanya tersenyum melihat wajah Alyss yang terlihat canggung dan malu, Alyss membuang wajah nya ke samping agar tak menatap Hazel secara langsung.


Hazel pun kembali mencium dada Alyss dan tak menghentikan tangan nya yang sedang bermain di bagian privasi Alyss.


Setelah sekitar 15 menit ia memberi rangsangan pada tubuh Alyss, ia pun mulai mengangkat kepalanya dan mendekat ke telinga Alyss.


"Sekarang yah?" bisik Hazel dengan suara berat dan nafas memburu di telinga Alyss.


Tanpa menunggu jawaban atau balasan dari Alyss Hazel langsung melakukan penyatuan nya pada Alyss.


Alyss mencengkram lengan Hazel yang sedang mengukungnya dan melakukan penyatuan pada nya diatas meja rias tersebut.


Sedangkan Hazel dapat melihat dengan jelas tubuh bagian belakang Alyss dari cermin, ia membuat semua benda yang berada di atas meja tersebut semakin berantakan dan mulai terjatuh ke lantai seperti bedak, krim wajah, parfum dan banyak lagi benda kosmetik dan perawatan wajah yang mulai terjatuh karna meja tersebut terus saja bergetar dan bergerak karna gerakan yang dibuat Hazel di tubuh Alyss.


Setelah beberapa lama, Hazel mulai memiliki tanda-tanda akan berhenti, ia m*l*m*t habis bibir Alyss dan semakin menghentakkan tubuhnya ke tubuh Alyss.


Ia melepaskan ciuman dan melihat ke arah wajah Alyss, mata nya melihat iris Alyss yang semakin sayu dengan lekat.


"Su-sudah yah...


Aku mohon..." pinta Alyss lirih pada Hazel. Ia benar-benar berharap Hazel akan berhenti dan tak mengulangi permainan nya seperti biasa.


"Kenapa kau sangat cepat lelah?" ucap Hazel sembari mengelus pipi Alyss perlahan.


Hazel pun mengangkat tubuh Alyss dan memindahkan nya ke atas ranjang, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Ia sebenarnya ingin melakukan lagi pada Alyss, karna ia memang selalu tak merasa cukup jika hanya sekali melakukan nya, tetapi kali ini ia berusaha menahan agar membuat Alyss tetap menikmatinya juga.


Karna jika ia memaksa melakukan nya lagi, Alyss pasti tak akan menikmatinya sama seperti yang barusan ia lakukan.


"Bagaimana rasanya? Tak sakit kan? Jika kau menurut dari awal aku akan bersikap lembut." ucap Hazel sembari mengelus rambut Alyss.


Alyss tak menjawab dan semakin meringkukkan tubuhnya, ia sangat malu untuk menjawab pertanyaan Hazel.


Hazel hanya tersenyum melihat sikap Alyss yang terlihat canggung dan malu.


"Ka-kau baca buku psikologis?" tanya Alyss untuk mengalihkan pembicaraan.


"Iya..." jawab Alyss sembari terus mendekap dan mengelus rambut Alyss.


"Kenapa?" tanya Alyss lagi.


"Aku tak boleh baca buku seperti itu?" tanya Hazel dengan terus mengusap dan mengelus rambut Alyss.


"Ti-tidak sih...


Bukan begitu maksud ku..." jawab Alyss lirih.


"Dulu aku pernah tes ujian masuk kedokteran di Harvard, karna ibuku ingin melihat ku menjadi dokter, tapi aku tak lulus tes." ucap Hazel.


Alyss pun langsung mengandahkan wajahnya ke atas melihat Hazel dengan tatapan heran.


"Kau sungguh tak masuk? Kenapa? Kau tak cukup pintar?" tanya Alyss dengan wajah polosnya.


Ctak!!!


Hazel pun langsung menyelentik kening Alyss, saat Alyss menanyakan hal tersebut.


"Kau pikir aku bodoh? Jika aku bodoh apa menurut mu bisa mengembangkan JBS?" tanya Hazel kesal.


"Kau bilang kau tadi tidak lulus..." ucap Alyss lirih sembari mengelus kening nya.


"Nilai tes pengetahuan ku sangat tinggi, tetapi aku tak lolos di tes psikologis. Makanya aku membeli beberapa buku psikologis." terang Hazel.


"Oohhh...


Pantas saja...


Kalau mereka meluluskan mu, bisa gawat juga. Nanti kau malah membunuh orang lain di meja operasi bukannya menyelamatkan nya." ucap Alyss lirih dengan nada yang sangat pelan.


"Kenapa kau tak tidur? Hm?" tanya Hazel mulai kesal pada Alyss.


"Belum mengantuk..." jawab Alyss lirih.


"Belum mengantuk? Mau ku buat kau menjadi mengantuk hingga tertidur lelap?" tanya Hazel dengan tersenyum licik, dan mulai meraba dada Alyss serta meraba tubuh polos Alyss di balik selimut.


"Ti-tidak, tidak perlu! Aku sudah mengantuk sekarang." jawab Alyss sembari menahan tangan Hazel dan mulai memejamkan matanya.


Hazel hanya tertawa melihat Alyss, dan berhenti meraba tubuh Alyss, ia pun semakin mengeratkan pelukan nya hingga ia tertidur begitu juga dengan Alyss.




Alysscalla Zalea




Hazel Rai


...***************...


Maaf ya kalo kepanjangan😅


Haii jangan lupa like, rate 5, vote, favorit serta dukungan yang kalian berikan ke berikan ke othor yah🤭🤭🤭


Jangan lupa komen juga tentang cerita othor , komenan kalian tuh buat othor makin semangat nulis nya, mau komenan tentang apapun hihi🤗🤗🤗


Oh iya makasih yahh buat dukungan yang udah kalian kasih ke othor❤️❤️❤️


Happy reading para readers kesayangan othor ❤️❤️❤️🥰🥰🥰