(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Harapan kecil



7 Hari kemudian.


Setelah pertengkaran nya malam itu, Alyss mendiamkan Hazel sampai selama 7 hari, ia bukan merasa marah namun ia tak tau apa yang harus ia lakukan pada Hazel.


Jujur saja ia sangat benci dan marah pada Will karna membuatnya sulit memiliki anak atau bahkan bisa tak memiliki anak, dan Hazel? Pria yang ia cintai ternyata anak dari si brengsek itu.


Kalau JBS farmasi tak dapat membuat obat yang sesuai dengan nya bisa di pastikan dalam satu tahun ke depan seluruh organ penting nya sudah mengeras dan yang pasti ia tak akan dapat hidup lagi. Waktu nya sangat singkat untuk itu.


Hazel sedari tadi melihat Alyss yang sedang mengotak-atik laptopnya, ia berusaha mencari tau juga tentang penyakit yang mirip dengan penyakitnya.


"Alyss...." panggil Hazel lirih, rasanya kesabaran nya semakin menipis karna Alyss terus mendiamkan nya selama satu minggu.


Alyss tetap tak menjawab dan hanya terfokus pada laptop nya.



"Alyss...


Kau tau kan? Aku sangat tak suka diabaikan? Tak apa sehari atau dua hari, tapi ini sudah satu minggu." ucap Hazel yang berusaha sebisa mungkin menahan emosinya.


Alyss tak menjawab dan tetap memainkan laptopnya, walaupun Hazel ingin berubah dan tak menyakiti Alyss lagi, tapi tetap saja sifat yang sudah mendarah daging itu sulit di hilangkan apalagi jika ada pemicu seperti ini.


Hazel pun mulai mendekati Alyss yang masih sibuk dengan laptopnya dan langsung menutup laptop Alyss dan langsung mengambilnya serta membanting nya dengan keras.


Prannkkkk!!!!


Terdengar sangat nyaring hingga membuat laptop tersebut rusak seketika, Alyss pun langsung mengandah ke arah Hazel dengan tatapan kesal.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya Alyss dan berdiri dari duduknya.


"Auch!" ringis Alyss saat tiba-tiba Hazel mencengkram kuat lengan nya.


"Ini sudah satu minggu, aku harus apa? Agar kau tak marah lagi? Hm?" tanya Hazel sembari semakin mencengkram lengan Alyss.


"Aku tak marah pada mu...


Aku hanya tak tau harus apa, kenapa di antara semua orang kau yang jadi putra nya, dan kenapa diantara semua orang harus aku yang..." Alyss yang menutup matanya tak bisa melanjutkan kata-kata, tak mungkin ia mengatakan jika saat ini ia sedang dalam kondisi sekarat.


"Maaf..." ucap Hazel lirih sembari melepaskan cengkraman tangan nya, ia melihat Alyss yang berulang kali menunjukkan ekspresi meringis karna cengkramannya sekarang ia sudah bisa menurunkan ego nya dengan mengatakan kata Maaf pada wanitanya.


Alyss terdiam, ia tak menjawab ucapan Hazel, mungkin Hazel tak melakukan kesalahan apapun saat Will menculiknya namun kesalahan Hazel adalah menyiksanya hingga benar-benar membuat tubuhnya hancur, tapi bahkan dia masih bisa menyukai pria di hadapannya.


"Aku mengantuk...


Aku tidur lebih dulu..." ucap Alyss yang membuang wajah nya dan berlalu saat Hazel menatap lekat wajahnya.


Saat Alyss berlalu ingin pergi darinya ia pun langsung menahan tangan kecil Alyss dan memeluknya dari belakang.


"Alyss...


Bisakah kita berbaikan saja Hm? Ku mohon bantu aku mengendalikan diri ku sendiri..." ucap Hazel lirih di telinga wanita sembari terus memeluk erat tubuh wanita nya dari belakang.


Alyss menghela nafas nya dalam, ia tau Hazel merasa bersalah karna mencengkram lengan nya tiba-tiba tadi, memang yang namanya berubah itu tak ada yang sekaligus, harus bertahap dan bahkan terkadang yah kelepasan juga.


"Aku mengantuk...


Mau tidur..." ucap Alyss lirih sembari melepaskan pelukan tangan Hazel yang sedang melingkar di perut ramping nya.


Hazel pun melepaskan perlahan dan membiarkan Alyss pergi ke kamar.


......................


Pukul 06.45 AM


Sinar mentari mulai menebar sempurna hingga membangunkan wanita yang sedang tertidur dalam pelukan suaminya.


Masih seperti biasa, Hazel tak bisa jika tak memeluk istri kesayangan nya, walaupun Alyss membelakanginya namun ia tetap memeluk Alyss.


Alyss membalik tubuhnya melihat Hazel yang masih belum terbangun. Tangan nya menyentuh perlahan wajah suaminya yang masih tertidur hingga....


Cup...


Kecupan ringan mendarat di bibir suaminya, setelah mengecup ringan bibir Hazel, Alyss hanya memperhatikan wajah Hazel sampai suaminya benar-benar terbangun.


Tak lama kemudian Hazel pun mulai terbangun pandangan nya yang mengabur perlahan semakin jelas dan jelas ia bisa melihat wajah Alyss yang sedang memperhatikan nya.


"Kau sudah bangun? Mau aku yang memasak pagi ini?" tanya Alyss tersenyum lembut pada Hazel.


Hazel tak menjawab pertanyaan Alyss ia malah memeluk Alyss lagi, rasanya sangat senang karna Alyss tak mengabaikan nya lagi.


Skip time.


Setelah mandi Alyss pun langsung menuju ruang ganti, Hazel mengikutinya.


"Kenapa ikut? Mau ganti baju...


Gantian..." ucap Alyss yang risih jika di lihat seseorang saat sedang memakai pakaian.


"Kenapa? Lagi pula kita juga sudah menikah kan?" tanya Hazel tersenyum seperti anak kucing dan ikut memilih pakaian yang akan ia kenakan juga.


Sejak Alyss bangun dan tersenyum padanya membuatnya terus menempel pada istrinya dari mulai mandi bersama hingga mengganti pakaian nya. Alyss saja tak menyangka jika Hazel bisa bersikap semanja ini padanya.


"Sebentar..." ucap Hazel sembari memberikan salep di lengan Alyss yang tercetak memar akibat cengkraman nya semalam dilengan putih tersebut.


Alyss hanya tersenyum saat Hazel mengolesinya salep tersebut.


Setelah turun Alyss pun sesuai janjinya memasakkan sarapan untuk Hazel.


"Mau ku bantu?" tanya Hazel saat melihat Alyss yang sedang memasak.


"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri...


Kau duduk saja ..." ucap Alyss sembari melihat Hazel sekilas dan tersenyum.


Setelah ia menyiapkan masakan Alyss pun mulai meletakkan makanan nya ke meja satu persatu.


Pranggg....


Satu masakan yang terlepas dari tangan nya saat tangan nya terasa kaku tiba-tiba, mungkin ini efek dari kondisi tubuhnya yang semakin memburuk.


"Alyss? Kenapa?" tanya Hazel langsung menghampiri Alyss saat ia mendengar suara piring masakan istrinya yang terjatuh.


"Tidak apa-apa, hanya terpeleset saja..." ucap Alyss beralasan.


"Kau tak apa-apa?" tanya Hazel khawatir.


"Iya..." jawab Alyss singkat.


Hazel pun menyuruh para pelayan nya yang membersihkan serpihan dari piring masakan yang tumpah serta meletakkan semua masakan yang di masak Alyss ke atas meja agar ia dapat sarapan bersama istrinya.


"Kau mau ikut dengan ku hari ini? Hari ini ada perjalan untuk melihat proyek baru, dan lokasi nya di dekat pantai, jadi selama aku melihat pembangunan proyek kau di hotel dulu. Karna di luar kota memakan waktu beberapa hari." ajak Hazel pada Alyss, ia tak bisa pergi jauh jika tak mengajak Alyss ikut dengan nya.


"Yasudah..." jawab Alyss mengiyakan.


......................


Proyek pembangunan cabang JBS hospital.


Alyss yang tak mau di tinggal di hotel pun memilih ikut dengan Hazel melihat ke proyek pembangunan rumah sakit cabang JBS. Hazel terus saja membuka cabang di berbagai tempat hingga membuat jaringan JBS semakin berkembang, bahkan saat ini JBS merupakan perusahaan yang berkembang di bidang kesehatan yang paling unggul di negara tersebut.


"Hazel pakai ini..." ucap Alyss sembari memberikan topi pengaman yang biasa digunakan pekerja konstruksi.


"Ih jadi kayak tukang bangunan..." ucap Alyss tertawa kecil melihat Hazel yang sedang melihat ke arah nya juga.



"Pemilik bangunan, bukan tukang nya..." jawab Hazel sembari mencubit kecil hidung Alyss yang sedang tertawa.


"Iya.. iya..." jawab Alyss singkat sembari mengecup bibir Hazel sekilas dan langsung pergi begitu saja setelah mencium Hazel.


Hazel hanya tersenyum melihat hal itu, melihat istrinya yang terkadang bersikap seperti anak kecil.


......................


Setelah dari proyek Hazel dan Alyss pun segera kembali ke hotel, karna hotel tersebut yang menghadap pantai membuat mereka bermain ke pantai lebih dulu saat malam hari.


Hazel memperhatikan Alyss yang sedari tadi tersenyum cerah sembari memainkan kembang api di tangan kecilnya.



"Main di tempat tidur saja nanti dengan mu..." jawab Hazel tersenyum nakal.


"Ishh...


Itu aja pikiran nya." ucap Alyss dan mulai mengayunkan lagi kembang apinya.


Setelah bermain di pantai mereka pun kembali lagi ke hotel, Alyss yang baru saja selesai mandi pun langsung mendapat ciuman yang bertubi-tubi dari Hazel.


"Haz-


Hummphhh..." ucap Alyss yang terpotong dengan ciuman suaminya padahal ia sedang ingin mengatakan sesuatu.


"Hazel...


Tu-tunggu dulu..." ucap Alyss yang berusaha menghentikan ciuman Hazel yang semakin turun ke dada nya.


"Boleh yah...


Sudah lama...." ucap Hazel dengan suara berat pada Alyss, sudah hampir 9 hari Hazel tak melakukan nya, sedangkan biasanya ia selalu membuat lembur istrinya setiap malam kecuali sedang masa datang bulan Alyss.


"Tunggu aku mau-


Hummphhh..." Alyss yang lagi-lagi tak dapat bicara karna Hazel menutup mulut nya lagi.


Tangan Hazel yang sudah tak sabar langsung mulai menjelajah ke balik mantel mandi yang di kenakan Alyss. Alyss sebisa mungkin menahan tangan suaminya agar tak menyentuh sesuatu yang sedang keluar dari dalam dirinya.


"Kau..." ucap Hazel lirih saat merasa tangan nya yang basah dan hendak menarik tangan nya keluar dari mantel mandi istrinya.


"Aduh bukan! Jangan di tarik tangan nya!" ucap Alyss yang langsung menahan tangan Hazel agar tak tetap berada di balik mantel mandinya.


"Tadi kau bilang tak mau..." ucap Hazel yang tersenyum mengira Alyss juga menginginkannya malam ini.


"Hazel merem yah...


Sebentar aja..." ucap Alyss dengan nada memohon.


Hazel pun langsung memejamkan matanya mengikuti perkataan Alyss, Alyss pun dengan sigap menarik tangan Hazel dan langsung mengelap cairan yang berwarna merah tersebut di jemari Hazel dengan tisu.


"Sudah? Kenapa di lap?" tanya Hazel bingung sembari membuka matanya.


"Aku itu...


Datang bulan..." ucap Alyss lirih.


"Apa?!" ucap Hazel terkejut, padahal hasrat nya sudah sampai ke ubun-ubun.


"Kan tadi mau di bilang, tapi malah di cium terus..." ucap Alyss lirih.


"Haisshhh..." ucap Hazel kesal dan menyandarkan kepala nya di pundak Alyss sembari mencium aroma harum tubuh Alyss yang baru saja selesai mandi.


"Sabar yah...


Nanti kalau kesal nya sudah hilang, belikan aku pembalut yah..." ucap Alyss tertawa kecil sembari mengelus pundak suaminya yang sedang meratapi nasib karna menahan hasrat nya lagi.


Hazel semakin kesal dan semakin menduselkan kepalanya ke bahu Alyss, pria yang biasanya sangat kejam dan tak berhati nurani ini sekarang sedang bersikap seperti anak kucing di depan istrinya.


"Sekalian nanti mandi lagi...


Kalau gak mau mandi, cuci tangan nya yang bersih." ucap Alyss pada Hazel karna tadi jemari Hazel sempat menyentuh cairan lampu merah nya.


Setelah beberapa saat bermanja-manja Hazel meluapkan rasa kesalnya, ia pun mulai menyuruh pelayan hotel unuk membelikan pembalut untuk Alyss, ia memberikan uang untuk membeli pembalutnya serta memberikan tip pada pelayan hotel tersebut, ia tak mau para wanita melihat nya membeli pembalut lagi seperti waktu mereka pergi menaiki anak tangga kemarin.


"Minum ini biar tidak sakit perutnya." ucap Hazel sembari memberikan minuman pada Alyss untuk meredakan sakit perut istrinya.


"Sudah tak kesal lagi?" tanya Alyss tersenyum sembari mengambil minuman tersebut dari tangan Hazel.


"Jangan tanya!" ucap Hazel yang kembali kesal.


"Itu kok belum turun sih? Padahal tadi di kamar mandinya sudah lama..." goda Alyss lagi sembari mengalihkan pandangan nya ke bagian yang bangun dari tubuh suaminya.


"Kau tak bisa diam?" tanya Hazel semakin kesal mendengar godaan Alyss.


"Mau ku bantu turunkan? Sepertinya aku sedang ingin makan vanila saat ini..." goda Alyss sekali lagi pada suaminya.


"Kalau kau sangat suka vanila yah apa boleh buat " ucap Hazel membalas godaan istrinya.


"Tidak terlalu suka sih...


Tapi sepertinya kau yang akan sangat suka kalau aku mau memakan nya..." ucap Alyss sekali lagi.


"Perut mu tak sakit rupanya?" tanya Hazel memastikan karna Alyss memang sering nyeri perut saat datang bulan.


"Tidak." jawab Alyss bohong, perut nya terasa sakit namun ia berusaha menahan nya ia juga memakai riasan tipis agar wajah nya tak terlihat pucat.


"Sungguh?" tanya Hazel lagi memastikan.


"Kalau tak mau yasudah." ucap Alyss dan langsung merebahkan dirinya lalu menarik selimutnya.


"Mau! Jangan tidur dulu!" cegah Hazel pada Alyss, karna sekarang ia memang sangat membutuhkan tubuh istrinya untuk menurunkan hasrat nya kalau tak dapat tubuh setidaknya bibir wanitanya.


"Jangan keluar di dalam yah..." ucap Alyss yang tak mau tersedak vanila suaminya lagi.


"Iya..." jawab Hazel yang mengiyakan semua syarat dari istrinya.


Alyss pun mulai mendekat ke arah Hazel, tangan nya perlahan meraba dari luar celana suaminya dan perlahan membukanya mengeluarkan benda yang sejak tadi terasa sesak di dalam celananya.


"Kau tak bisa menurunkan nya tadi waktu di kamar mandi?" tanya Alyss tertawa kecil dan mulai memasukkan benda tersebut ke mulut kecilnya.


"Enggh..." Hazel yang merasa seperti tersengat listrik saat merasakan lidah istrinya yang terasa hangat.


Ia tak bisa mengendalikan tangan nya, tangan pun langsung memegang kepala Alyss dan mulai membantu tempo kepala Alyss yang sedang bergerak di bagian tengah nya.


Setelah beberapa lama Hazel pun segera ingin mencapai puncaknya, ia pun langsung menahan kepala Alyss, padahal sebelum nya Alyss sudah bilang tak ingin Hazel mengeluarkan di dalam.


"Ungghh..." lenguh Hazel sembari menahan kepala Alyss dan mengeluarkan vanila nya hingga membuat Alyss menelan beberapa vanila.


"Uhuk!" Alyss yang langsung terbatuk dan tersedak karna tekanan dari Hazel dan mendapatkan vanila yang tiba-tiba.


"Kan sudah di bilang jangan keluar di dalam!" ucap Alyss kesal menatap Hazel.


"Kan kau bilang tadi mau makan vanila..." ucap Hazel tertawa kecil sembari menghapus vanila yang tumpah di bibir Alyss.


Setelah merapikan pakaian Hazel pun memeluk Alyss sebelum tertidur.


"Kau masih marah?" tanya Hazel sekali lagi.


"Gak tau!" ucap Alyss kesal sembari menepis tangan Hazel yang memeluk perut nya dari belakang.


"Maaf yah...


Gak bisa di tahan tadi..." ucap Hazel sembari menciumi telinga dan tengkuk Alyss, Alyss hanya diam mood nya selalu naik turun jika ia sedang datang bulan.


.....................


Keesokkan paginya.


Alyss mulai terbangun lebih dulu, saat ia baru terbangun ia melihat Rian yang mengirim pesan padanya.


Kami sudah temukan obatnya, obat yang sesuai dengan mu dan juga untuk terapi kesuburan, sekitar 5 hari lagi kita sudah bisa menjalani pengobatan nya.


Pesan yang di kirim Rian seketika membuat mata Alyss membulat sempurna.


"Hazel bangun! Bangun! Bangun!" ucap Alyss yang langsung membangunkan Hazel yang masih tertidur memeluknya.


"Hm? Kenapa?" tanya Hazel dengan suara serak karna istrinya yang membangunkan nya.


"Rian bilang udah nemuin terapi yang sesuai buat program kehamilan nya!" ucap Alyss semangat, yang hanya mengatakan tentang terapi untuk kehamilan nya tetapi tetap tak mengatakan tentang terapi yang sekaligus untuk penyakit nya.


Hazel pun langsung ikut bangun dan duduk, ia langsung memeluk tubuh kecil Alyss, baik Hazel maupun Alyss sekarang mulai memiliki harapan kecil untuk diri mereka sendiri, harapan untuk pasangan nya, dan harapan untuk keluarga yang mereka miliki.


...****************...


Duhh moga lancar yah mbk Alyss babang Hazel hihi🤭


Jangan lupa like, komen, fav, rate 5, vote dan dukung othor🄰🄰


Happy readingā¤ļøā¤ļøā¤ļø