(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Olahraga malam



Hazel melirik ke arah istrinya yang sedang berias sebelum pergi ke rumah orang tua nya, Sebelum nya Shelly menghubungi putri karna merasa rindu dan Alyss pun langsung mengatakan akan menginap beberapa hari disana.


Sekalian agar suaminya bisa dengan lagi dengan orang tua nya yang sudah membenci Hazel sampai ke aliran darah.


"Kenapa melihat terus? Kau tak mau menemui ibu dan ayah ku?" tanya Alyss pada suaminya yang terus melihat ke arah nya.


"Kau tak mau ke rumah sakit? Hm?" tanya Hazel lagi pada istrinya, ia benar-benar khawatir dengan keadaan Alyss yang sering mual atau pun muntah dalam beberapa hari terakhir.


"Aku baik-baik saja..." jawab Alyss sembari menghampiri suaminya.


"Jangan terlalu khawatir." sambung Alyss sembari mengecup bibir wanita nya perlahan.


Hazel pun hanya diam, ia beranggapan jika Alyss masih sama, ia akan membawa paksa istri nya untuk priksa.


......................


Rumah Keluarga Alyss.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 72 menit akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan nya.


"Mamah.....


Alyss pulang..." teriak Alyss saat memasuki rumah nya.


"Anak mamah udah sampai..." ucap Shelly tersenyum lembut dan langsung memeluk putrinya namun memberikan tatapan sinis pada menantunya.


Hazel tau bagaimana benci nya orang tua Alyss padanya, ia juga menerima semua kebencian mertuanya karna sadar apa yang ia lakukan sudah di luar batas kewajaran.


"Mah, jangan lihat gitu mah..." ucap Alyss pada ibu nya saat merasakan Shelly yang menatap tajam ke arah suaminya.


"Kamu ini di kasih apa sih sama dia? Kok bisa sampai segitu nya?" tanya Shelly sinis pada putrinya.


"Udah mah...


Sudah dua tahun mah, mau sampai kapan sih mah kayak gini terus?" ucap Alyss kesal pada ibunya.


Walaupun putri nya sudah berbaikan dan terlihat bahagia, namun tetap saja ia merasa tak rela jika putri kesayangan nya bersama orang yang hampir membunuh dan menghilangkan nyawa anak kesayangan.


"Iyah sudah dua tahun yah...


Tapi tetap saja seperti baru sehari..." jawab Shelly lirih.


"Mah...


Ud-" ucapan Alyss yang langsung terpotong saat Hazel menggenggam tangan nya.


Hazel sadar jika tak semudah itu memaafkan nya yang sudah melukai putri berharga orang lain, bagi nya yang terpenting adalah ia bisa bersama wanita, walaupun terkadang terbesit rasa rindu saat ingin memiliki keluarga seperti keluarga lain nya.


Walau cuma sebentar namun ia pernah merasakan apa itu namanya keluarga yang akur dan memiliki orang tua yang baik saat Shelly dan Dion masih memperlakukan seperti putra mereka sendiri dulu.


"Kalian masuk dulu gih...


Nanti turun makan malam." ucap Shelly pada putri dan menantunya.


Alyss pun langsung membawa Hazel ke kamarnya.


"Maaf...


Aku belum bisa akur sama orang tua mu..." jawab Hazel lirih saat mereka sudah di kamar.


Cup...


"Makanya jadi orang jangan jahat! Kena batu jya kan?" ucap Alyss setelah mengecup bibir suaminya.


"Tapi kau masih suka dengan ku kan?" tanya Hazel sembari mulai merangkul pinggang ramping istrinya agar semakin dekat dengan nya.


"Suka tidak yah? Kalau ada yang lebih ganteng yah mikir dua kali lah." jawab Alyss yang menggoda suaminya.


"Apa?! Coba bilang lagi?!" tanya Hazel dengan nada tinggi yang mulai kesal dengan candaan istrinya.


Hummpphh....


Bukan nya menjawab Alyss langsung m*l*mat bibir suaminya, ia menggigit beberapa kali hingga membuat hasrat pria itu bangkit.


"Hah...hah...hah..." Alyss yang terengah-engah saat ia melepaskan ciuman nya karna suaminya yang membalas dengan begitu agresif.


"Kau sedang menghibur ku?" tanya Hazel dengan tersenyum dan mencium ke arah lengkung leher istrinya.


"Pelan-pelan yah...


Nanti suara nya keluar..." ucap Alyss lirih saat Hazel mulai mengangkat tubuh kecil dan meletakkan nya perlahan ke atas ranjang.


Perlahan ia mulai membuat tubuh kecil itu polos begitu juga dengan tubuhnya. Ia pun mulai menciumi kembali istrinya.


"Ha-hazel...


Pintunya... engghhh...


Su-sudah di kun- emmhhh..." ucap Alyss yang kesulitan mengingatkan suaminya saat pria itu sedang memainkan ciuman nya dengan aktif di dada nya.


Hazel m*l*mat dan menggigit lembut dada istrinya dan memainkan jarinya dengan cepat agar membuat tubuh kecil semakin merasakan getaran aneh yang membuat tubuh nya bergerak tanpa ia sadari.


"Hemmpphh...


Pe-pelan tangan nya..." ucap Alyss lirih sembari menutup mulut nya agar tak mengeluarkan suaranya.


Orang tua nya masih di bawah mempersiapkan makan malam mereka dan ia sedang di makan oleh suaminya sekarang.


Bukan nya semakin pelan menggerakkan jarinya Hazel semakin mempercepat dan m*rem*s dada istrinya, ia pun langsung memangut bibir tipis Alyss agar wanita nya bisa meredam suara nya.


Hummphhh....


Suara Alyss yang langsung tertahan saat suaminya memangut bibir nya dan menggigit sekilas.


"Padahal aku sangat suka suara mu yang seperti itu...." bisik Hazel saat Alyss sudah mulai tenang setelah mencapai puncak nya, ia memangut bibir istrinya karna Alyss yang tak mau suaranya terdengar keluar kamar nya.


"Nanti yah...


Kalau kita dirumah...


Malu...


Nanti Ayah sama Mamah aku dengar..." ucap Alyss lirih pada Hazel.


"Ssshhh..." desis Alyss saat suaminya mulai mencubit kecil bagian sensitif nya dan menggigit telinganya.


"Ha-hazel...


Nanti lanjut setelah makan malam bisa tid- unghh..." Alyss yang kembali sulit berbicara saat ia merasakan ciuman basah dari suaminya.


Alyss pun mulai mendorong tubuh Hazel hingga telentang dan membalik posisi mereka, ia pun segera duduk di atas perut bidang suaminya.


"Hazel...


Dengerin dulu! Nanti lagi yah...


Ini kita jangan melakukan itu dulu..." ucap Alyss saat ia duduk di atas perut Hazel agar pria itu mau mendengar nya.


"Kalau kau seperti itu yah aku mana bisa tahan..." ucap Hazel dengan suara berat saat melihat tubuh polos istrinya dengan beberapa bekas kepemilikan yang tertinggal di kulit putih tersebut sedang duduk atas perut nya.


Hazel pun langsung bangun dan menatap wajah Alyss dari dekat yang duduk diatas pangkuan nya. Mata yang saling mengunci dan nafas yang sama-sama berat.


Hummphhh....


Hazel yang tak tahan langsung m*l*mat bibir tipis istrinya, Alyss sekarang duduk tepat diatas bagian inti tubuhnya, membuat nya benar-benar tak dapat berpikir jernih.


"Sekarang saja yah..." bisik Hazel saat melepaskan ciuman.


"Ta-tapi- enghhh...." lenguh Alyss saat Hazel tiba-tiba mengangkat sedikit tubuh kecil nya, dan membuat sesuatu memasuki dirinya.


"Kau yang bergerak atau aku yang bergerak?" bisik Hazel dengan suara yang serak dan nafas yang benar-benar berat.


"A-aku saja..." jawab Alyss lirih dan mulai menggerakkan tubuhnya perlahan diatas pangkuan suaminya, ia tau jika pria yang bergerak pasti akan melakukan gerakan kasar dan sulit untuk nya menahan suara.


Hummphhh....


Hazel yang berulang kali mencium bibir tipis dan leher istrinya saat wanita itu bergerak diatas tubuhnya.


"Engghhh...." desis Alyss saat suaminya ikut bergerak dengan tiba-tiba.


"Kau mau cepat selesai kan?" bisik Hazel lirih dan mulai membalik tubuh wanita nya, ia benar-benar tak sabar jika melakukan pergerakan yang sangat pelan seperti itu, ia lebih suka membuat tubuh wanita nya mengalami gempa saat mereka melakukan nya.


...


Shelly yang selesai memasak pun langsung memanggil suaminya agar mereka bisa makan bersama.


"Panggil Alyss juga mah..." ucap Dion pada istrinya.


Shelly pun segera naik kelantai dua dan menunju kamar putri nya untuk makan malam begitu juga dengan menantu yang sangat ia benci.


Belum sempat ia mengetuk pintu kamar anak nya telinganya sudah mendengar suara lirih putrinya.


Engghh...


Sshhh....


Shelly yang langsung sadar pun langsung kembali tanpa mengetuk pintu kamar putrinya lagi. Ia pun hanya menggelengkan kepala nya dan kembali ke ruang makan.


"Ya ampun setelah makan malam dulu apa tidak bisa?" ucap Shelly lirih sembari turun tangga.


Setelah sampai Dion hanya melihat ke arah istrinya namun tak melihat putri atau pun menantu yang tak ingin ia akui.


"Alyss mana mah?" tanya Dion saat melihat Shelly yang kembali sendiri.


"Olahraga." jawab Shelly singkat sembari duduk di kursinya.


"Olahraga? Sejak kapan Alyss suka olahraga?" tanya Dion yang sudah hapal betul sifat putrinya yang sangat malas untuk berolahraga walaupun hanya lari pagi.


"Sejak nikah mungkin." jawab Shelly singkat sembari menyisihkan lauk untuk putri dan menantunya.


"Jangan-jangan si gila itu yang melarang nya turun?!" ucap Dion yang salah sangka mengira jika Hazel yang tak membiarkan Alyss untuk dekat dengan orang tuanya karna mereka masih belum memaafkan nya.


Ia pun langsung bangun dan ingin beranjak menghampiri putri nya.


"Bukan yah! Ayah!" panggil Shelly yang langsung mencegah suaminya untuk menghampiri putrinya.


"Isshhh...


Ayah ini...


Udahlah biarin aja, nanti kalau olahraga nya udah selesai juga bakal makan mereka. Gak usah di ganggu...


Kasihan..." ucap Shelly sembari memegang suaminya. Ia tak mungkin mengganggu putrinya yang sedang melakukan olahraga bersama dengan suaminya.


"Kasihan kenapa?" tanya Dion bingung


"Kasihan lagi enak enaknya kamu ganggu!" jawab Shelly dan menarik tangan suaminya.


"Ayah..." panggil Shelly saat mereka sudah mulai makan malam.


"Hm?" jawab Dion sembari memakan makanan nya.


"Apa kita maafin Hazel aja ya yah? Lagi pula Alyss juga suka sama dia...


Kasihan Alyss nanti malah kepikiran sama sikap kita..." ucap Shelly lirih, perasaan lembut dan jiwa keibuan nya begitu besar.


Dion terdiam sejenak, ia masih takut mempercayakan putrinya tunggal nya pada pria yang sudah hampir menghilangkan nyawa buah hatinya.


"Seperti ini saja dulu mah...


Yang penting dia gak nyakitin Alyss lagi saja..." jawab Dion pada istrinya.


......................


Pukul 02.34 AM


Alyss terbangun dari tidur nya setelah habis-habisan terjadi gempa lokal di tubuh nya.


"Hazel..." panggil Alyss lirih saat pria nya memeluk erat tubuh polos nya yang hanya berbalut selimut.


"Hm?" sahut Hazel yang masih menutup matanya.


"Lapar..." ucap Alyss lirih pada suaminya sembari berusaha melepaskan dekapan prianya.


Hazel pun membuka matanya dan baru mengingat jika istri kecil nya belum makan malam sama sekali.


Ia pun langsung bangun dan membiarkan istri kecil nya bangkit dan memakai pakaian seadanya. Mereka pun mulai turun dan menuju ruang makan.


"Mamah udah nyisihin lauk buat kita..." ucap Alyss sembari melihat beberapa hidangan di atas meja makan.


"Nih..." Alyss yang mengambilkan nasi dan memberikan pada suaminya. Ia pun mulai memakan makanan nya dengan lahap.


"Alyss? Kau sepertinya lebih suka makan yah sekarang? Berat naik juga tidak?" tanya Hazel saat ia melihat istrinya yang begitu lahap beberapa hari terakhir.


"Uhuk!" Alyss yang langsung terbatuk saat suaminya menyinggung berat badan.


"Kau ini! Kalau aku suka makan kau tak suka lagi begitu?! Terus kalau gemuk kau juga tak akan suka lagi?!" tanya Alyss kesal.


"Mau kau dalam bentuk apapun selama itu masih kau aku akan tetap suka." jawab Hazel jujur pada istrinya.


"Lah terus kenapa bilang nya begitu?!" tanya Alyss kesal.


"Kau sudah cek bulan ini?" tanya Hazel sembari menaikkan satu alis nya.


"Mungkin...


Hamil?" tanya Hazel lirih agar tak melukai istrinya.


Alyss langsung terdiam tatapan nya berubah sendu, ia tak memeriksa lagi sejak terapi terakhirnya ia takut mendapatkan hasil yang mengecewakan nya lagi.


"Maaf...


Sekarang makan lagi yah..." ucap Hazel sembari menggenggam lembut tangan istrinya saat ia melihat wajah Alyss yang berubah murung.


...****************...


Happy Reading♥️♥️♥️