(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : I don't love her!



15 Jam kemudian.


Hah...hah...hah...


Ruangan sempit yang berdebu itu mulai kehilangan pasokan oksigen yang cukup, rasa panas dan gerah yang mendera semakin menambah rasa sakit saat darah dan keringat menyatu.


"Bocah...


Hey..." panggil Louis lirih pada anak yang tadi nya sangat memiliki banyak energi kini semakin lemas bersandar di dada bidang nya yang terduduk tak berdaya.


"Kak...


Mau kelual..." ucap nya lirih yang juga semakin lemas karna mulai kehabisan oksigen.


Louis tak menjawab namun ia dengan jelas dapat merasakan tulang-tulang nya yang seakan-akan remuk di dalam tubuh yang masih menyatu itu.


Luka dan darah begitu jelas menetes membasahi tubuh nya yang baru kali ini terlihat benar-benar lusuh oleh debu dan kotoran.


Ukh!


Dengan sekuat tenaga ia berusaha menggerakkan tubuh nya yang mungkin seperti sudah remuk dari dalam itu.


Wajah pucat dengan berhias debu dan pewarna merah dari cairan kental yang anyir itu terus menetes.


Jangan...


Aku harus keluar! Louise tak bisa sendirian!


Batin pria tampan itu dengan berusaha bergerak dan mencari celah yang bisa di gunakan untuk ia bertukar oksigen dan karbondioksida secara bergantian.


Penyemangat hidup nya saat ini hanya satu! Yaitu adik nya. Walaupun ia mencintai sekretaris manis nya namun ia juga tau wanita itu tak memiliki rasa sama sekali dengan nya. Jadi pria itu berfikir ada tidak dirinya tak akan berpengaruh di kehidupan gadis manis itu.


Berbeda dengan sang adik yang memang mulai bersandar padanya sejak kematian kedua orang tua nya. Maka dari itu ia sangat tau siapa yang akan menangisi nya dan merasa sangat kehilangan dirinya jika ia benar-benar mati di tempat itu.


Tangan nya mengais reruntuhan dengan hati-hati agar tak ada lagi yang jatuh menimpa nya dan anak yang semakin lemas itu.


Usaha yang membuahkan hasil membuat salah satu kaisan tangan nya menciptakan celah yang sangat kecil namun masih bisa di gunakan sebagai tempat bertukar oksigen.


Louis pun segera mendekat dan menarik nafas di celah tersebut berusaha mengganti sirklus udara nya agar masih bisa bernafas. Usai ia melakukan nya ia pun menyuruh anak tersebut melakukan hal yang sama agar tak mati kehabisan nafas.


Lampu kelap-kelip yang merupakan mainan anak tersebut pun di manfaatkan untuk menarik perhatian tim penyelamat agar lebih mudah mencarinya.


......................


Mansion Dachinko.


James melihat ke arah gadis yang tak bergerak dan seperti putri tidur yang cantik berhias wajah pucat dan memar di sekujur tubuh.


Ia langsung mengobati perdarahan gadis itu sehingga tak kehilangan darah banyak namun beberapa tulang gadis itu retak termasuk tulang rusuk nya ketika ia berguling di tangga sebelum nya.


Pria itu duduk di tepi ranjang dan mengelus wajah cantik yang masih belum sadarkan diri itu.


"Kau mau bertemu kakak mu? Atau mungkin bertemu dengan nya? Aku tak ingin kau dengan pria lain!" ucap James sembari mengelus halus wajah gadis itu.


Pikiran nya di penuhi dengan dugaan negatif karna takut gadis cantik itu bertemu dengan sahabat nya lagi. Ia ingat dengan jelas mata pria itu dan gadis nya yang seperti memiliki hal lain selain pertemanan.


Memiliki tembok tersendiri yang tak bisa dan tak ingin siapapun menembus nya, maka dari itu rasa curiga nya pun kian besar hingga melebihi batasan yang ia bangun untuk tidak mencintai gadis itu.


15 jam sudah berlalu sejak ia menjatuhkan tubuh gadis itu ke anak tangga. Sinar bulan yang sudah digantikan dengan sinar cerah mentari yang memasuki kamar luas tersebut menyinari kedua orang yang salah satu nya belum tersadar dan salah satu nya terus memperhatikan dengan erat.


Jangan...


Jangan pergi!!


"Louise?" panggil James sembari mengerutkan kening nya ketika melihat tubuh gadis itu mulai bergetar seakan-akan sedang berlari mengejar sesuatu atau mungkin sedang di kejar oleh sesuatu.


Deg...


Mata Louise membuka dengan tiba-tiba dan tubuh yang tersentak dengan gemetar hebat.


"Kenapa? Kau bermimpi buruk di siang bolong? Hm?" tanya James saat melihat gadis itu tersentak.


Louise pun mulai menetralkan nafas nya di tengah rasa sakit yang masih tersisa dan mendera di tubuh nya.


Ia menggerakkan iris nya melihat ke arah pria yang sedang duduk di tepi ranjang melihat nya.


"Aku mau pulang...


Mau bertemu dengan kakak ku..." ucap gadis itu dengan suara yang sangat pelan sembari meraih tangan yang sedang menyentuh nya.


Entah kenapa ia mulai menjatuhkan bulir bening nya tanpa sadar dan memperlihatkan sisi lemah nya lagi. Suara nya yang tertahan dan seperti sedang memohon membuat pria di depan nya tersentak sejenak.


Ia tak tau kenapa namun kata-kata itu lah yang pertama kali keluar dari bibir nya ketika ia sadar hingga tak ingat kondisi nya yang sekarang seperti apa.


"Sudah ku katakan setelah satu minggu! Kau sudah menghabiskan satu hari, hanya tinggal 6 hari lagi!" ucap James dengan tegas yang tetap pada pendirian nya.


"Kenapa sangat ingin menahan ku? Aku ben- ukh!" ringis gadis itu yang ucapan nya terpotong saat merasakan dada nya berdenyut dengan tajam sehingga menambah rasa sakit nya.


Perubahan emosi sangat mempengaruhi kesehatan gadis cantik itu hingga membuat nya semakin mudah jatuh sakit.


James menatap datar tak bergeming pada gadis itu.


"Aku...


Sudah pernah mengatakan kalau aku menginginkan mu? Iya kan?" tanya James saat gadis itu tengah merintih menahan sakit.


"Lalu kau mau apa sekarang? Kau masih tak bisa melakukan nya...


Aku sedang datang bulan..." jawab Louise dengan susah payah sembari menahan sakit di tubuh nya.


"Bukan itu...


Aku mau kepala teman mu..." jawab James dengan wajah datar pada gadis itu saat mengatakan hal yang mengerikan.


Deg..


Gadis itu terkejut sejenak mendengar jawaban yang amat mengerikan itu.


"Kau mau membunuh nya?" tanya Louise sembari menatap tajam di tengah rasa sakit nya.


"Dia sangat berarti? Mata itu..." ucap James sembari memperhatikan iris Louise yang sedang membangun sesuatu untuk melindungi pria itu.


"Semua nya! Semua nyawa berarti untuk ku! Membunuh? Kenapa sangat mudah bagi mu untuk menghilangkan nyawa orang lain?" tanya Louise dengan sorot tajam di tengah wajah pucat nya.


Pria itu tertawa kecil dengan secarik senyum yang sulit diartikan.


"Lalu ayah mu? Kau lupa kalau ayah mu pernah melakukan eksperimen manusia? Bukan nya karna itu kau setuju punya hubungan dengan ku?" tanya James seperti mentertawakan gadis itu.


"Aku setuju karna tak mau membuat JBS terkena masalah yang tidak benar! Karna aku sangat mempercayai ayah ku! Dia bukan orang seperti itu!" ucap Louise dengan tegas. Ia sangat mempercayai sang ayah yang bagi nya bagai sosok malaikat terbaik di dunia.


James hanya membalas senyuman dan mulai sedikit menunduk dengan berbisik di telinga gadis itu.


"Kau...


Tak akan pernah tau bagaimana rasanya dibunuh berulang kali dan lari saat kematian terus mengejar mu, kau bahkan tak tau apa itu rasanya melepaskan mimpi mu dan menukar hidup mu dengan iblis kan?" bisik James pada gadis itu.


Dalam 30 tahun hidup nya ia sudah jatuh bangun hingga membuat nya sangat sulit bersikap selayak nya manusia lagi.


Louise pun terdiam saat pria itu membisikkan kalimat yang ia tak mengerti apa maksud nya sama sekali, namun tangan nya mulai meraih tangan kekar pria itu.


"Lalu, apa yang harus ku lakukan agar bisa keluar?" tanya nya yang tetap kukuh ingin menemui sang kakak.


James hanya diam dan melepaskan tangan itu perlahan, tanpa sadar ia tak bisa menghentikan dirinya saat ia mendekat dan mengecup dalam kening gadis itu.


"Patuhlah dan kau bisa kembali 6 hari lagi...


Nanti malam kita makan bersama..." jawab James setelah ia mencium dalam kening gadis itu dan menatap mata yang hanya berjarak beberapa senti dari wajah nya.


......................


Zayn yang begitu mendengar berita langsung ke lokasi kejadian dan ikut andil dalam mencari sahabat nya itu.


Bukan ia yang mencari langsung namun ia menambah tim pecarian agar lebih mudah menemukan Louis.


"Mau minum? Anda belum minum atau makan sama sekali..." ucap Zayn sembari memberikan makan siang siap saji yang berisi steik daging pada gadis manis yang terlihat sangat linglung dari tadi.


"Belum lapar..." jawab Clara menggeleng perlahan.


"Makanlah sedikit...


Anda yang akan mati lebih dulu jika seperti ini!" ucap Zayn memaksa gadis itu untuk makan karna ia memang mengenal sekilas dan tau jika Clara sekretaris Louis.


Zayn sendiri bahkan tak tau jika sikap nya yang terus menghubungi Louise lah yang membuat kekasih gadis cantik itu semakin tak mengizinkan keluar dari mansion megah nya.


"Louise kau di mana?" gumam Zayn saat melihat ponsel nya.


...


JBS Hospital.


Rian melihat ke arah wajah para direktur yang sebagian sudah berkhianat sebagian yang masih di zona netral dan sebagian yang mendukung Louis sejak awal kemimpinan pria tampan.


"Tekan semua berita tentang korupsi dan penggelapan dana yang terjadi, jangan keluarkan stagment apapun yang nanti nya akan membebani JBS grup." perintah Rian pada seluruh direktur utama.


Sebagian direktur yang berkhianat tentu nya tak setuju dan sangat ingin berita palsu segera di benarkan, dan Rian pun langsung membantah.


Setelah rapat darurat selesai Rian kembali di hubungi oleh para direktur jahat itu untuk segera kembali bertemu.


...


"Ikuti saja perintah yang ku katakan!" ucap Rian yang geram saat perintah nya mendapat banyak pertanyaan.


"Tapi ini adalah saat yang paling tepat untuk menjatuhkan bocah sok pintar itu!" ucap direktur Jacob yang sangat bersemangat ingin menjebak Louis.


Direktur lain pun sangat menyetujui hal itu dan mengatakan jika mereka sangat setuju.


Rian pun menarik dan menghela nafas panjang.


"Setelah kita melempar tuduhan palsu kita juga akan memberatkan nya untuk masalah ini, jadi dia bisa mendapatkan sekaligus hal tersebut. Dia tak akan memiliki ruang untuk menghindar lagi." ucap Rian pada para direktur.


Direktur-direktur yang penuh akan sikap keserakahan itu pun mulai mengerti maksud rencana Rian dan tak lagi membantah sama sekali.


......................


Mansion Dachinko.


Pria tampan itu menyandarkan kepala dan tubuhnya ke bangku kerja nya serta memejamkan mata perlahan hingga membuat nya mulai tertidur saat bayangan mata memohon gadis itu terngiang di kepala nya.


"Aku mau bertemu orang tua ku..." tangis seorang anak berumur 10 tahun yang meringkuk dengan bersimbah darah dan penuh luka saat orang asing bertopeng itu menyiksa habis-habisan namun tak membunuh nya.


"Hey nak…


Kau tak lihat ibu sudah mati tadi? Dia kan mati di depan mata mu!" jawab salah seorang pria bertopeng yang tertawa geli setelah membunuh ibu anak tersebut.


"Papah ku mana? Huhuhu...


Kalian jahat! Papah ku bakal hukum kalian!" tangis anak itu dengan suara lemah saat tubuh nya sudah tak berdaya.


"Hukum apa? Mentang-mentang punya ayah jaksa sok sekali! Bawa kepala pria sialan itu!" perintah pria bertopeng pada rekan nya itu.


Tak lama kemudian sebuah kepala yang sangat ia kenal pun di lempar padanya.


"Huaa..." tangis nya yang terdengar pilu walau dengan suara yang lemah.


Kepala sang ayah yang di lempar padanya tanpa tubuh dan memiliki bekas peluru di dahi nya sontak mengejutkan anak itu.


"Bukan Papah...


Aku mau ketemu papah..." tangis nya lagi memohon hingga berusaha merangkak dengan tubuh yang tergeletak lemas bersimbah darah ke kaki para pria bertopeng itu.


"Akh!" pekik nya langsung saat tangan nya diinjak dengan keras ketika ia berusaha memohon.


"Itu ayah mu bodoh! Kau mau bertemu kan?! Sekarang dimana datanya?!" tanya pria itu memaksa pada bocah malang itu.


"Mau ketemu Papah..." tangis nya yang masih tak mempercayai jika sang ayah telah di bunuh.


"Pukul lagi!" perintah salah satu pria bertopeng tersebut.


BUAK! BUK! BUAK!


Pukulan yang terus dilayangkan dengan keras ke tubuh kecil nya secara berulang menggunakan balok kayu, tongkat bisbol dan tongkat golf hingga darah yang terus membanjiri lantai rumah yang sudah sangat berantakan itu.


Sedangkan bocah itu terus meringkuk menahan sakit yang luar biasa dan teramat sangat sembari sesekali melihat ke kepala sang ayah yang berada di depan mata nya tanpa tubuh.


Tubuh pria tampan itu bergetar hebat dengan keringat dingin yang mulai jatuh, ia terus saja gelisah dan gemetar hingga mata nya terbuka dan membelalak.


Deg...


Degupan jantung yang seperti habis berlari ratusan kilometer membuat nya seakan-akan sesak oleh detak nya sendiri.


Hah...hah..hah...


Deruan nafas yang terdengar jelas seperti orang tak bisa bernafas sama sekali.


"Kenapa aku mimpi hal itu lagi?! Sial!" umpat nya saat menghirup udara sedikit demi sedikit.


Aku mau bertemu kakak ku...


Seketika ucapan gadis itu terngiang di telinga nya, ia kembali memimpikan hal terburuk dalam hidup nya itu saat melihat mata gadis itu yang mirip dengan mata nya.


Xavier Haider Dachinko


Berusaha menggali sisa kemanusiaan yang ia miliki dan sudah ia kubur dengan dalam. Pria itu mengacak rambut nya dan memejamkan mata nya sesaat.


Ia pun mulai bangun dan menuju suatu ruangan lain di mansion megah tersebut.


...


Pria itu duduk dengan menatap lurus ke arah layar monitor besar di depan nya yang menampilkan banyak hal tentang perkembangan kakak gadis cantik itu.



"Orang-orang kita sudah menemukan dia?" tanya James pada Nick yang beberapa jam sebelum nya juga mengirim orang untuk mencari keberadaan kakak daru gadisnya.


"Belum tuan." jawab Nick sedari tadi mulai tak suka sikap tuan nya.


"Hapus dan tekan semua berita tentang JBS grup." perintah nya lagi tanpa melihat ke arah Nick.


"Mereka sudah menghapus berita itu sendiri." jawab Nick pada tuan nya.


"Berita yang seperti jamur itu akan tetap tumbuh dan seperti konspirasi apalagi dengan adanya pesaing perusahaan itu, jadi hapus sebagian secara diam-diam..." perintah nya lagi.


Walaupun ia membantu secara diam-diam dan tidak terang-terangan namun ia tetap tak ingin membiarkan gadis itu keluar dari mansion nya.


Hati nya selalu dan semakin panas saat melihat panggilan dan chat teman pria gadis itu membuat nya semakin ingin mengurung gadis cantik itu bahkan jika harus memotong kedua kaki nya.


Ia bahkan tak tau kenapa bisa sampai membantu kakak dari gadis itu yang sangat berbeda dengan sikap nya yang biasanya namun saat ia melihat mata Louise ia seperti melihat mata nya sendiri 20 tahun yang lalu.


"Tuan...


Anda telah jatuh cinta?" tanya Nick dengan kecurigaan mendalam nya.



James pun langsung menoleh ke arah bawahan setia nya dan mengerutkan dahi nya atas pertanyaan yang baginya sangat sensitif.


"Aku tidak mencintai nya! Kenapa terus tanya hal yang bodoh?!" ucap James geram pada bawahan nya.


"Tapi anda sekarang seperti sedang terlihat jatuh cinta!" ucap Nick yang sangat tak ingin lagi tuan nya jatuh ke pengkhianatan terdalam lagi.


"Jangan bicara hal ini lagi atau ku potong sekalian lidah mu!" ucap James dengan nada penuh penekanan pada Nick.


Nick pun terdiam dan mengepalkan tangan nya, entah kenapa ia menjadi sangat benci pada gadis cantik itu.


Dia harus mati! Aku tak akan membiarkan nya menjadi batu yang akan menyandung tuan lagi!


Batin pria itu saat melihat tuan nya kembali menatap layar monitor yang menunjukan segala arah dan sisi dari perkembangan informasi tentang saudara kembar gadis nya.


...****************...


Maaf kalau othor ga bisa dobble up padahal mah othor mau banget...


Tapi karna othor sekarang sudah memasuki tahun terkahir kuliah atau semester yang dekat akhir jadi lebih banyak yang di sibukkan😭😭😭


Maaf juga kalau gak bisa balas komen satu" kayak dulu lagi😭😭


Pusing uy makin ribet sekarang mah, malah judul proposal aja belum dapat😂😂



Elouise Steinfeld Rai