
Rasa takut yang menyelimuti hatinya saat ia melihat sekali lagi wanita nya yang berada di ambang maut.
Semua prof dan dokter berusaha menyelamatkan wanita ringkih itu untuk tetap bertahan hidup.
Para prof yang memang dari awal sudah mengetahui tentang penyakit Alyss langsung memberikan obat nya secara bertahap.
Obat yang ia hentikan selama 9 bulan sejak kehamilan nya karna tak mau membuat anak-anak nya terluka.
"Semua...
Semua yang di ruangan ini akan mengikuti nya kalau dia sampai tak bisa di selamatkan..." ucap Hazel yang menatap tajam ke arah para dokter dan prof.
Para tenaga medis itu pun terdiam sebentar ketika mendengar ucapan dari presdir di tempat mereka.
Hueee....
Huhu...
Terdengar tangisan putra kecil nya saat seorang suster membersihkan nya.
Mata Hazel menatap ke arah anak sulung nya sesaat dan kemudian tersenyum namun dengan senyuman yang tak bisa di artikan.
"Semua nya...
Tanpa terkecuali..." ucap Hazel dengan menatap putra nya yang menangis.
Kau ingin mereka kan?
Kalau kau pergi aku juga akan membawakan mereka untuk mu...
Ucapan nya membuat seluruh prof dan dokter bergidik ngeri, ia bahkan bisa mengatakan semua nya dengan tatapan dingin pada anak nya.
......................
28 Jam kemudian.
Hampir satu hari satu malam Alyss mendapat perawatan penuh entah berapa macam obat yang di masukkan ke tubuhnya, entah sudah berapa kali para dokter dan prof bergantian menangani nya hingga tubuh nya bisa dikatakan dalam lingkup "aman"
"Nak...
Sudah lihat anak mu?" tanya Shelly pada Hazel yang terus menatap istrinya.
Wanita itu kini terbaring lemah dengan wajah sepucat susu dan begitu banyak alat yang memonitoring tubuh nya.
"Sudah mah..." jawab Hazel singkat pada ibu mertua nya.
Shelly hanya mendesah kasar membuang nafas nya, ia tau pria itu belum melihat putra atau putri sejak keluar dari ruang operasi.
Semenjak kehamilan Alyss membuat hubungan antara mertua dan menantu itu perlahan pulih walau terkadang Hazel tetap mendapat sikap ketus dari mertua nya.
Namun di hati kedua orang tua itu mulai menerima perlahan menantunya lagi.
Shelly menyarankan agar keranjang tidur putra nya di letakkan di ruangan yang sama dengan Alyss agar wanita yang baru menjadi ibu itu semakin memiliki semangat untuk tetap kuat.
Sedangkan putri bungsu nya sedang mendapat perawatan karna memiliki daya tahan yang lemah. Sudah terlihat sejak awal kelahiran nya.
"Nak...
Istirahat...
Biar mamah sama ayah yang jagain Alyss..." ucap Shelly pada Hazel.
"Iya istirahat gih, nanti si Alyss bangun dia kira kami yang buat suaminya jadi sakit." ucap Dion agar menantunya mau berhenti menatap ke arah putri nya.
Hazel tak merasa kantuk ataupun lapar sama sekali sejak istrinya berada di ambang maut.
Pandangan nya terasa gelap, tak ada warna yang ia lihat di mata nya, dunia nya seakan hilang jika wanita itu pergi.
"Mamah sama Ayah saja...
Aku saja yang menjaga nya..." jawab Hazel lirih.
"Nak..." bujuk Shelly lagi.
"Ku mohon...
Aku mau tetap menemaninya..." jawab Hazel tanpa sadar saat ibu dan ayah mertuanya kukuh ingin menyuruhnya istirahat.
Shelly dan Dion pun perlahan pergi dan hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi kelurga putri mereka.
Hening...
Tak ada suara apapun di ruangan itu selain alat medis yang menempel di tubuh wanita lemah itu.
"Kau sedang menghukum ku? Ini ancaman yang tadi?" tanya Hazel pada istrinya yang tak sadar.
"Walaupun aku memilih mu, tapi mereka tetap selamat kan?! Tapi kenapa kau yang seperti ini?!" tanya Hazel frustasi.
Huaa...
Huhu...
Suara tangis bayi mulai terdengar di telinga pria yang hanya memikirkan istrinya saja sampai tak sadar jika suaranya bisa membangunkan putra nya.
Mata dan langkah Hazel tanpa sadar berjalan ke arah keranjang bayi tersebut, ia melihat putra nya yang sedang menangis terisak.
"Kenapa menangis? Kau takut?" tanya Hazel tersenyum getir pada malaikat kecil polos yang tak tau apa-apa itu.
"Kau...
Baru lahir saja sudah membuat ibu mu seperti ini...
Jangan membuat ku benar-benar menganggap kau dan adik mu pembawa sial!" ucap Hazel lagi sembari menatap dingin ke arah putra sulung nya yang sedang menangis.
Ia membuang wajah nya dan menatap ke arah istrinya sekali lagi lalu kembali menatap kerah putra nya.
"Kalau ibu mu pergi aku juga akan membawa mu dan adik mu...
Dia sangat ingin bertemu dengan mu...
Dia bahkan sudah menyiapkan nama untuk kalian...." ucap Hazel yang tersenyum dengan tatapan dingin pada putra nya sendiri.
"Aku tak mau membenci mu, tapi jika kau benar-benar membuat wanita ku pergi, akan ku pastikan kau dan adik mu berada di tempat yang sama." ucap Hazel lirih pada putra nya.
Ia menyayangi anak-anak nya, namun rasa cinta yang ia miliki pada istringa lebih besar di bandingkan rasa sayang nya pada kedua malaikat kecil itu.
Ia menyalahkan semuanya pada anak yang tak salah apapun itu, ia merasa mereka yang membuat kondisi istrinya menjadi sekarat lagi. Ia bahkan masih tak mengetahui tentang penyakit yang menggrogoti tubuh wanita nya perlahan.
Hazel membuang pandangan nya dan menekan tombol alarm di ruangan itu agar segara mendatangkan dokter.
Para dokter pun dengan bergegas ke ruangan perawatan istri presdir mereka, ia mengira jika terjadi sesuatu lagi pada wanita cantik itu.
"Bawa dia dari sini...
Terlalu berisik!" ucap Hazel pada para dokter sembari menunjuk ke arah putra yang sedang menangis tersedu.
Para dokter tersebut pun terdiam beberapa saat mendengar perintah dari presdir mereka.
"Kalian tuli? Ku bilang bawa dia dari sini!" ucap Hazel lagi pada para dokter tersebut.
Para dokter tersebut pun segera memindahkan bayi yang sedang menangis itu.
Hazel tak mau berlama-lama melihat anak itu karna ia tak ingin benar-benar membencinya darah daging nya sendiri.
......................
Apart winter garden.
Wanita hamil itu sejak tadi terus menangis, ia terbangun dari tidur nya dan kembali menjatuhkan bulir bening nya.
"Rian..." panggil nya lirih pada suaminya.
"Lily gimana?" tanya nya sendu, ia benar-benar khawatir pada teman nya yang sebelumnya dalam kondisi drop
Namun suaminya memaksa kembali pulang karna tak ingin hal itu juga berpengaruh pada kandungan nya yang masih belum genap 2 bulan.
"Dia akan baik-baik saja...
Kau tau sendiri suaminya punya rumah sakit terbesar kan?" jawab Rian lembut menenangkan istrinya.
"Lily itu udah kayak Alan...
Udah kayak kakak aku sendiri...
Aku gak tenang kalau dia kenapa kenapa..." ucap Larescha pada Rian.
"Ssttt...
Dia bakal baik-baik saja kok...
Kau juga harus memikirkan anak mu juga..." ucap Rian lembut agar wanita tak sedih lagi.
Sekarang ia tau kenapa istrinya mau membantu Alyss untuk kabur dulu, karna persahabatan mereka yang bahkan sudah lebih kental dari darah yang membuat kedua wanita itu memiliki pilar kuat dalam pertemanan mereka.
Rian pun menepuk punggung istrinya hingga wanita itu tenang kembali dan menghilangkan kegelisahan di hati nya.
......................
8 Hari kemudian.
Dan Hazel juga tak mau menemui anak-anak nya selama kurung waktu terakhir saat istrinya tak sadar.
Ada perasaan marah, sedih, kesal, dan sayang ketika melihat buah hatinya. Perasaan yang membuat nya campur aduk hingga membuat nya malah bersikap dingin dan tak mau menemui para malaikat kecil itu.
Ruangan Presdir.
Seorang dokter yang sebelumnya sempat menangani Alyss mengatakan jika wanita itu memiliki sesuatu yang lain dalam pemeriksaan nya.
Dan Hazel mengetahui itu, maka ia meminta dokter tersebut untuk menyelidiki diam-diam. Dokter tersebut tak tau sama sekali tentang penyakit nyonya presdir nya, maka dari itu saat Hazel kebetulan bertanya pada nya ia memberitau semua yang ia ketahui.
"Cari tau lebih dalam, dan lakukan pemeriksaan ulang. Jika temukan sesuatu langsung beri tau pada ku." perintah Hazel pada dokter tersebut.
"Baik presdir." jawab dr. Jeny
"Jika kau menemukan sesuatu yang berguna aku akan menaikkan posisi mu." ucap Hazel lagi dan membuat dokter tersebut semakin bersemangat.
Setelah memberi laporan dan informasi yang ia punya dr. Jeny pun segera keluar dari ruangan presdir tersebut.
Ia kembali mengetukkan jemarinya lagi diatas meja, ia mulai tak bisa lagi mempercayai di sekitar nya. Timbul kecurigaan dan keraguan di hatinya.
Namun itu semua masih belum bisa mengalihkan pikiran nya sepenuh nya dari istrinya yang tiba-tiba mengalami penurunan drastis.
Klik!
Rian membuka pintu tergesa-gesa dan langsung menghampiri Hazel.
"Dr. Alyss sudah sadar!" ucap Rian pada Hazel, sebenarnya dia sudah memanggil istri teman nya dengan sebutan nama nya tanpa gelar namun karna Hazel yang terlihat cemburu hanya karna nama panggilan membuat Rian kembali memanggil dengan formal.
"Dia sadar?!" tanya Hazel yang langsung membuyarkan lamunan nya.
Dengan langkah cepat ia berlari menuju wanita nya. Jantung nya berdegup kencang sesaat sebelum melihat wanita itu.
"Alyss!" panggil Hazel dengan suara terengah-engah karna berlari.
Alyss pun yang baru saja dibantu untuk duduk oleh para dokter langsung mengandahkan pandangan nya ke arah suara pria yang memanggil nya.
Grep....
Pria itu langsung memeluk wanita nya dengan erat, rasa takut dan khawatir mulai runtuh perlahan saat ia memeluk wanita itu.
Alyss yang tiba-tiba mendapat pelukan pun terkejut beberapa saat dan mulai mengelus lembut punggung pria yang sedang memeluknya.
"Kau terlihat takut? Kenapa pria yang sangat kejam ini seperti anak kecil sekarang?" tanya Alyss dengan suara lemah mengatakan kalimat candaan agar tak membuat Mr. Bear sedih.
"Kau...
Tak akan meninggalkan ku kan?" tanya Hazel dengan suara tertahan dan serak.
Alyss terdiam tak mampu menjawab pertanyaan suaminya, sesaat ia bangun ia langsung menanyakan keadaan anak-anak nya dan setelah itu barulah bertanya tentang kondisi nya sendiri.
Penekanan pada sistem syaraf pusat di kepalanya sudah semakin menjadi dan pengerasan di jantung nya sudah mulai menjalar, karna hal itu lah yang membuat nya sempat mengalami penurunan mendadak setelah operasi.
JBS farmasi masih berusaha membuat sesuatu yang setidaknya bisa menangani kerusakan permanen itu.
"Aku mencintai mu..." jawab Alyss lirih dengan suara tertahan pada pria nya, ia tak mau menjanjikan hal yang tak bisa ia tepati.
Hazel pun melepaskan pelukan dan menatap wajah istrinya yang masih terlihat pucat pasi.
Mata yang saling menatap erat satu sama lain membuat perlahan hati wanita itu hancur, ia tak tau bagaimana caranya mengatakan selamat tinggal jika ia benar-benar pergi.
"Hazel...
Aku mau terus dengan mu...
Dengan anak-anak kita...
Aku akan seperti itu kan?" tanya Alyss sembari menjatuhkan bulir bening nya tanpa sadar.
Hazel menghapus air mata yang jatuh ke pipi wanita nya, ia mengusap nya dengan lembut di wajah sendu wanita itu.
"Tentu saja...
Aku hampir saja membawa mereka ikut dengan mu jika kau benar-benar..." ucap Hazel yang tak bisa melanjutkan kata-kata nya.
"Jangan membenci mereka..." ucap Alyss lirih pada pria nya.
Hazel hanya terdiam tak bisa menjawab pertanyaan istrinya. Wanita itu pun mulai menunjukkan seulas senyum tipis nya.
"Aku sangat mengenal mu...
kau sudah menggendong mereka?" tanya Alyss dengan senyuman lembut yang menghiasi wajah pucat nya.
"Belum..." jawab Hazel lirih.
Tak lama kemudian seorang dokter pun mulai masuk sembari membawa dua keranjang tempat tidur bayi yang merupakan bayi kembar mereka.
"Kau juga pasti belum memberi mereka nama kan?" tanya Alyss sembari meraih tangan dokter anak yang memberikan putra nya.
"Elouis yang berarti dia akan menjadi anak pemberani sesuai namanya." ucap Alyss tersenyum lembut sembari menatap ke arah putra nya yang terlihat tenang dalam gendongan nya.
"Coba gendong dia juga..." ucap Alyss pada suaminya agar mengambil bayi perempuan yang di sodorkan pada pada suaminya.
Ia ingin membuat pria itu dekat dengan anak-anak nya sehingga akan membuat pria yang ia cintai memiliki pegangan hidup lagi saat ia tak ada dan mungkin itulah alasan kenapa ia bisa tersadar pagi ini.
Dengan ragu Hazel menerima bayi perempuan yang sebelumnya sempat mengalami masalah dan sekarang bayi cantik itu pun tetap harus menjalani perawatan untuk membangun sistem imun nya yang rendah.
Nnhh...
Geliat malaikat cantik itu menatap ayahnya dengan tatapan yang masih polos tanpa ternoda dosa sedikitpun.
Tangan mungil nya menyembul keluar dari kain yang sedikit membelit nya. Tanpa sadar Hazel menggendong nya dengan satu tangan dan ingin mengelus wajah malaikat kecil nya.
Deg....
Entah kenapa hati nya berubah lain, ia seakan memiliki perasaan yang asing lagi saat malaikat kecil itu menggenggam ujung jemarinya dengan tangan mungilnya.
Nnnhhh...
Senyuman polos terulas dari wajah malaikat kecil itu saat melihat ayah nya, ia mungkin merasakan emosi bahagia karna kini ayah nya mengakui keberadaan nya.
Tes....
Entah kenapa bulir bening jatuh dari mata pria itu, bukan kesedihan namun rasa senang yang tak bisa ia gambarkan seperti apa dan malah menjatuhkan air mata nya. Sampai ia sendiri bingung dengan dirinya.
"Elouise...
Namanya bagus kan? Aku mau dia menjadi penyembuh dan selalu membawa keceriaan..." ucap Alyss tersenyum pada suaminya yang masih terpaku, mata nya berkaca antara sedih dan bahagia menjadi satu.
Ia tau pria itu tak mudah memiliki emosi dan menjadi seorang ayah adalah emosi yang baru ia miliki.
"Alyss..." panggil Hazel lirih menatap istrinya.
"Jangan pergi lagi...
Jangan tinggalkan aku...
Aku tak mau berada di tempat yang berbeda dengan mu...
Aku tak bisa mengurus mereka...
Mereka...
Terlalu mirip dengan mu..." ucap Hazel dengan bersungguh-sungguh pada istrinya dan semakin membuat hati wanita itu serasa ingin retak.
"Love you for all my life..." jawab Alyss lirih dengan air mata yang tak bisa ia tahan lagi, hanya itu yang bisa ia katakan pada pria nya.
"And I love than my life cause my life is you..." balas Hazel dan mencium lembut kening wanita nya.
Aku tau dosa ku sangat banyak, tak akan bisa mendapat pengampunan dari semua orang yang ku sakiti...
Tapi...
Untuk kali ini aku ingin melihat wanita ku untuk menua bersama ku...
Melihat nya dengan senyuman lembut nya dan rambut yang memutih bersama....
Bisakah aku mendapat kebahagian yang seperti itu?
Menggenggam tangan nya hingga akhir hidup ku...
Jangan ambil dia dari ku lebih dulu...
Karna aku tak akan sanggup...
Aku ingin pergi lebih dulu, karna aku mencintainya lebih dari yang kubayangkan...
Elouis Stainfeld Rai 💙 Elouise Stainfeld Rai
...****************...
Itu baby twins mereka yah🤧🤧
Moga keinginan babang Haz bisa terkabul🤧🤧
Happy Reading♥️