(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Monster



Desiran darah yang semakin menguncur deras hingga akhirnya membuat pria itu ambruk dan tumbang dengan perut yang sudah mengalami pendarahan hebat.


"Sekarang kalian?" tanya pria tampan itu dengan jas dan kemeja yang memiliki noda dan bekas darah yang tampak jelas dari pria yang sudah ia tusuk.


Kedua pria tampak terkejut, untuk seseorang baru saja membunuh orang lain tak ada wajah bersalah melainkan senyum tipis yang samar dan mata yang merasa puas.


"Kenapa diam? Sini, bermain dengan ku..." ucap Louis dengan senyuman nya sembari mendekati kedua pria yang terkejut itu.


Clara menutup kepala dan wajah nya menggunakan jas yang di berikan atasan nya. Ia dapat mencium dengan jelas bau anyir darah yang menyeruak masuk ke dalam indra penciuman nya.


Serta suara perkelahian yang keras terdengar jelas di telinga nya, ia mendengar suara gaduh namun tak berani sedikitpun untuk bersuara apalagi melihat situasi nya. Hingga...


DOR!


Suara tembakan yang membuat nya langsung terkejut dan tersentak, ia mendengar suara ringisan yang bercampur aduk serta aroma darah yang semakin kuat di apart nya.


"Kau pakai pistol? Ck! Dasar pengecut!" ucap Louis sembari menahan lelehan darah nya.


Ia pun melempar pisau yang berada di tangan nya dan tepat mendarat ke leher pria itu, Satu pria lagi yang mencoba menyerang nya pun berusaha menghalangi nya yang ingin mengambil pistol juga.


Crass...


Cipratan darah yang langsung keluar dari wajah yang tersayat karna mencoba menghalangi nya mengambil pistol tersebut.


"Dasar bocah gila!" ucap nya dengan marah sembari memegang wajah nya yang di gores menggunakan pisau yang di cabut dari leher teman nya.


"Tenang saja aku juga akan membawa mu bertemu semua teman mu..." ucap Louis yang berdiri dengan tertatih karna terkena tembakan.


Ia mengarahkan pistol nya ke kepala pria yang masih hidup itu sedangkan dua teman nya sudah mati.


DOR!


Suara tembakan beserta darah yang terciprat ke wajah nya, ia menembak ke kepala pria itu tanpa berkedip sedikitpun.


"Aku benar-benar membunuh mereka?" gumam nya lirih sembari menjatuhkan pistol di tangan nya yang berlumuran darah.


Walaupun ia sudah pernah melakukan perintah membunuh orang lain namun ia tak pernah benar-benar melakukan dengan tangan nya sendiri.


Selama ini ia tak pernah mengotori tangan nya sendiri dengan nyawa dan darah orang lain, namun kini ia sudah benar-benar melakukan dengan tangan nya sendiri pembunuhan tersebut.


Lengan atas nya yang terus menguncurkan darah dengan deras karna tertembak pistol yang di bawa salah satu oleh pria bertopeng tersebut.


Tes...tes...tes...


Tetesan darah yang terus jatuh dari lengan nya ke lantai.


Merasa sudah tak ada lagi suara apapun namun aroma darah yang begitu kuat semakin tercium oleh nya membuat nya ingin melihat situasi dan membuka jas yang ia gunakan untuk menutup kepala nya.


"Jangan lihat!" ucap Louis yang langsung menutup mata gadis itu dengan tangan nya yang masih berlumuran darah ketika Clara membuka kain nya.


Ia bergerak secara tak sadar karna tak ingin gadis itu melihat mayat mengenaskan dan darah yang berceceran di lantai, dinding dan barang-barang nya.


Gadis itu dapat merasakan tangan yang basah akan darah itu menutup mata nya. Clara pun menepis nya yang membuat nya langsung melihat ke arah mayat-mayat mengerikan itu.


"Akh!" teriak nya kecil melihat para mayat yang berlumuran darah itu dan juga melihat pria dengan wajah datar dan dingin yang sedang menatap nya.


Pria yang tanpa ekspresi dengan tubuh berlumuran darah yang sedang menatap nya dengan kosong tanpa merasa bersalah atau takut karna sudah membunuh orang lain.


"Pergi!" ucap nya dengan tangis yang ketakutan karna melihat pria yang sudah membantu nya dengan membunuh semua pria bertopeng yang masuk ke dalam apart nya.


"Jangan lihat…


Mereka memukul mu di mana saja?" tanya Louis mencoba menelisik luka lebam gadis itu.


Plak!


Gadis yang sudah ketakutan setengah mati itu langsung menepis dan mendorong pria di depan nya.


Pria yang pernah memperk*sa nya, merusak nama baik dan reputasi nya setelah itu ia kini melihat pria itu membunuh orang lain dengan wajah tanpa ekspresi.


"Monster!" ucap nya pelan namun dapat terdengar dengan jelas.


Louis tertawa getir mendengar nya, ia pun bangun dan berdiri melihat gadis yang sedang ketakutan tersebut.


"Benar...


Apapun yang kulakukan pada mu kau tetap akan menganggap ku seperti itu..." ucap Louis sembari menatap gadis di depan nya.


Kenapa aku masih membantu mu? Seharusnya ku biarkan saja mereka menyiksa mu...


Batin pria itu, entah ia bersikap baik ataupun brengsek gadis itu tetap akan menganggap nya sebagai pria yang paling jahat, sebanyak apapun ia berusaha merubah sikap dan sifat nya gadis itu tak akan pernah menganggap nya.


"Nanti akan ada yang membereskan mayat nya!" ucap Louis sekilas dan pergi dari apart gadis itu.


Tetesan darah nya mengikuti sepanjang ia keluar dari apart gadis itu ke mobil nya. Awal nya ia tak mau meninggalkan gadis itu sendirian dengan mayat-mayat pria yang sudah ia habisi, namun karna gadis itu mengusir nya membuat nya pergi begitu saja.


Ia pun segera memanggil bawahan nya yang lain untuk membereskan mayat-mayat tersebut.


Clara semakin gemetar, kini tinggal ia sendirian di apart yang penuh darah dengan tiga mayat bersama nya.


Gadis manis itu menangis ketakutan dalam tangis nya yang menjadi, Ia berjalan melewati para mayat tersebut dan masuk ke dalam kamar nya serta mengunci rapat pintu nya. Menunggu orang yang di panggil atasan nya membereskan semua mayat tersebut.


......................


Kediaman Rai.


Louise sangat terkejut begitu melihat sang kakak yang datang dengan berlumuran darah dan peluru yang masih bersarang di lengan atasnya.


"Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya gadis itu menangis sembari melepaskan kemeja kakak nya dan membawa ke ruangan obat dan perawatan di kediaman mewah itu.


Louise tak menghiraukan, ia memberi anestesi pada area yang ingin ia lakukan pembedahan kecil karna harus mengeluarkan peluru dari lengan kakak nya.


"Louise?" panggil Louis lirih pada adik nya saat gadis itu sudah selesai mengambil peluru dan mengobati luka nya.


"Ada apa? Masih ada bagian yang terluka lagi? Mana? Sini tunjukkan!" ucap Louise dengan wajah dan mata yang sembab karna tangis nya.


"Aku baru saja membunuh orang lain...


Dengan tangan ku sendiri..." jawab pria itu lirih pada adik nya.


Deg...


Louise terkejut sesaat, ia langsung pergi dari hadapan sang kakak, membuat pria itu menunduk saat adik nya juga meninggalkan nya.


"Sini tangan mu." ucap Louise yang kembali mengambil air dan handuk basah.


Ia membasuh tangan sang kakak dan membersihkan darah orang lain yang tersisa di tangan itu.


"Kau tidak takut?" tanya Louis sembari menatap adik nya.


"Kau membunuh orang yang menembak mu?" tanya Louise sembari terus membersihkan darah di tangan sang kakak.


"Hm..." jawab Louis singkat.


"Kalau begitu tidak apa-apa...


Lagi pula kalau ada orang yang ingin melukai mu, aku juga akan melukai orang itu..." ucap gadis itu dengan suara tertahan.


Satu-satu nya keluarga yang saat ini ia miliki hanya sang kakak. Tentu ia tak akan sanggup berpisah dan tinggalkan lagi setelah kematian orang tua nya yang meninggalkan nya dengan cepat.


Kedua orang tua nya yang pergi di saat masa remaja nya dan berusaha belajar kedewasaan nya dengan sendiri, namun ia masih memiliki saudara kembar nya walau hubungan mereka sempat renggang.


Tapi ia tau dalam hati terdalam nya kakak nya masih orang yang paling penting dan berharga, walaupun pria itu bersikap sebrengsek apapun namun ia adalah kakak yang paling sempurna untuk nya.


"Kenapa kau sangat mudah menangis? Hm?" tanya nya sembari mengusap air mata adik nya.


"Tentu saja! Kau tidak tau aku tadi sangat khawatir?! Kalau terjadi sesuatu pada mu...


Aku...


Aku harus bagaimana?" tanya gadis itu lirih dengan tangis nya yang semakin menjadi.


"Memang nya aku kenapa? Sstt...


Sudah jangan nangis lagi..." ucap Louis menenangkan adik nya.


Setelah Louise mengobati luka nya dan menenangkan adik nya ia pun beranjak ke kamar dan menelpon bawahan nya, menanyakan kabar tentang gadis itu.


"Dia tak mau di obati?" tanya Louis saat bawahan nya mengatakan gadis itu tak ingin di obati oleh dokter yang ia kirim.


"Letakkan saja obat-obatan nya dan bersihkan apart nya seperti semula." perintah Louis dan menutup telpon nya.


Ia pun bergegas membersihkan diri nya sendiri dari darah nya dan darah orang lain yang menyatu di atas permukaan kulit nya saat ia membunuh orang yang hampir mencelakai gadis yang ia benci saat ini namun tak dapat ia lepaskan juga.


"Kau disini?" tanya Louis melihat adik nya yang tidur di atas ranjang nya.


"Iya! Sekarang bilang! Kenapa bisa sampai seperti itu?!" ucap Louise sembari bangun dan melihat kakak nya yang berlalu ke ruang ganti.


Setelah beberapa Louis pun keluar dan duduk di tepi ranjang nya menatap mata yang penuh akan rasa ingin tau.


"Aku...


Melindungi sesuatu yang ku benci." jawab Louis pada adik nya.


"Kalau kau membenci nya, maka tak perlu di lindungi. Kalau mau melindungi nya berarti itu hal yang berharga bukan benci." ucap gadis itu pada kakak nya.


"Bukan, bukan sesuatu yang berharga tapi sesuatu yang sangat ku benci." jawab Louis lagi pada adik nya.


"Sekarang sudah tau kan? Sana balik ke kamar mu, sempit!" sambung Louis sembari mengusir adik nya dari kamar nya.


"Gak mau! Mau tidur disini!" jawab Louise sembari menidurkan dirinya dan menarik selimut serta memejamkan mata nya.


Louis pun hanya menggeleng melihat adik nya yang keras kepala.


"Louis...


Kau masih ingat lagu pengantar tidur yang dulu sering kau nyanyikan kalau aku mimpi buruk?" tanya Louise sembari menatap kakak nya.


Yang masih duduk dengan bersandar di kepala ranjang sembari memainkan ponsel nya memantau perkembangan gadis itu sekarang.


"Kenapa? Kau mimpi buruk belakangan ini? Maka nya tidak mau tidur sendiri?" tanya Louis mematikan ponsel nya dan menatap adik nya.


Louise menggeleng pelan menatap kakak nya.


"Nyanyikan saja..." ucap nya lagi sembari memejamkan mata nya.


"Sudah besar masih mau di nyanyikan lagu pengantar tidur..." ucap Louis lirih sembari mengusap kepala adik nya dengan lembut.


Ia pun tetap menyanyikan lagu yang dulu selalu ia nyanyikan saat mereka kecil ketika adik nya tak bisa tidur.


Masa kecil yang menyenangkan saat tak memikirkan masalah apapun selain makan, tidur, dan bermain.


Masa di saat kedua orang tua nya masih bisa memeluk dan bersama dengan nya, masa yang tak akan pernah bisa di ulang lagi.


"Good night, my little sister..." ucap nya saat melihat gadis itu sudah tertidur.