(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Treason



2 Minggu kemudian.


JBS Hospital.


Louis menyimpan data dari perusahaan yang akan ia ambil alih segera untuk memperluas jaringan dari JBS grup milik nya.


"Ini data untuk mengancam mereka nanti nya, selama masa peralihan, kau tak perlu masuk bekerja dulu..." ucap Louis pada Clara yang berdiri depan nya.


"Kenapa? Saya baik-baik saja." ucap Clara pada Louis sembari memberi jadwal yang akan di laksanakan atasan nya.


"Mereka akan mengganggu mu, untuk mencuri kembali data nya." ucap Louis pada gadis itu.


Ia tau karna Rian dulu juga sering di ganggu saat Hazel akan mengakusisi dan memilki data yang berisi kelakuan kotor para petinggi sehingga mudah menekan nya.


Namun perbedaan nya adalah Rian yang lebih kuat sehingga Hazel tak begitu khawatir karna ia tau teman nya dapat melindungi diri nya, sedangkan saat ini sekretaris utama Louis adalah wanita.


Wanita yang lembut dan sedikit lemah. Wanita yang juga ia cintai, pria itu tak ingin membuat gadis nya dalam masalah. Maka dari itu ia ingin membuat gadis itu seaman mungkin.


"Tapi data nya kan tidak dengan saya..." jawab Clara lagi.


"Memang tidak dengan mu, tapi mereka bisa berfikir hal lain nanti nya. Lebih aman kalau kau libur sementara waktu." ucap Louis lagi.


Clara masih diam tak menjawab, ia ingat dulu pernah mendapatkan surat ancaman dan ancaman lain saat ia sedang berada di situasi yang sekarang. Namun saat itu Louis segera menyelidiki dan untung nya tak terjadi apapun pada gadis itu.


"Kalau seperti itu dulu kan juga pernah, anda juga yang membuat pelaku nya tertangkap." ucap Clara setelah mengingat.


"Kali ini bisa saja bukan hanya ancaman, aku sudah mencari informasi dan mereka berdiri dengan bantuan gangster, otomatis kali ini lebih berbahaya." ucap Louis pada gadis itu.


Dulu ia membantu gadis itu bukan karna khawatir melainkan karna Clara yang masih berstatus pekerja utama yang dekat dengan nya, sehingga ia tak pernah merasa khawatir karna belum ada perasaan yang tumbuh sama sekali.


"Kenapa kita mengambil alih perusahaan seperti itu? Bukan kah banyak yang lebih legal dari pada perusahaan itu." tanya Clara pada Louis.


Louis tertawa kecil mendengar nya selama 2 tahun ikut dengan nya gadis itu bahkan tak mengerti tentang urusan bisnis besar yang berskala ilegal dan legal yang bercampur aduk.


"Kalau kita hanya diam di tempat, mungkin sekitar 5 tahun lagi pemimpin perusahaan ini bukan aku lagi, dan kenapa kita harus mengambil nya? Kau tau bangunan dari perusahaan itu yang baru di dirikan di atas pulau?" tanya Louis pada gadis manis itu.


"Maksud nya kita berebut pulau nya? Bukan perusahaan nya?" tanya Clara saat ia sudah mulai mengerti arah pembicaraan.


"Hm...


Karna kau sudah tau, kau bisa mengerti kan? Kenapa harus mengambil alih perusahaan yang itu?" tanya Louis pada gadis itu.


Clara mengangguk lirih tanda ia mengerti pada ucapan atasan nya. Ia pun pamit keluar dan melanjutkan lagi pekerjaan nya.


......................


Pukul 05.35 PM.


Clara yang masih duduk melihat ke arah luar jendela kaca yang menunggu waktu kembali pulang karna pekerjaan nya sudah ia selesai kan.



Ting...


Ponsel gadis manis itu berbunyi menandakan sebuah pesan yang masuk kedalam nya membuat Clara langsung mengalihkan perhatian nya.


Cla? Sudah pulang belum? Aku jemput yah...


Pesan yang tertulis di layar ponsel tersebut.


"Reno? Aduh...


Harus bilang apa ini?" ucap gadis itu bingung.


Tak lama membaca pesan dari pria yang masih menjadi kekasih nya Reno pun menelpon gadis manis itu.


"Halo?" jawab Clara dengan nada lirih seperti sedang sembunyi-sembunyi.


"Clara? Aku jemput yah? Ada tempat yang mau ku kunjungi dengan mu." jawab Reno dengan nada semangat karna ia sebelum nya memang mencari di mana tempat yang bagus untuk berkencan.


"Aku pulang sendiri saja...


Lagi sedikit flu..." jawab Clara pada pria itu.


Reno pun diam sesaat, ia ingin mengajak gadis itu ke tempat yang dingin, namun saat mendengar Clara yang sedang flu membuat nya memundurkan niat nya.


"Yasudah kau istirahat yah...


Sudah selesai pekerjaan mu? Aku antar pulang yah?" ucap Reno yang merasa khawatir pada gadis itu.


"Ti-tidak usah!" sanggah Clara cepat, ia berbohong pada kekasih nya karna takut bertemu dan ketahuan oleh pria yang mengaku menyukai nya namun bertindak obsesi padanya.


"Kau sakit Cla...


Aku jemput habis itu kita pergi priksa yah..." ucap Reno pada gadis itu.


"A-aku sudah pulang, lagi pula aku juga sudah priksa kok...


Kau lupa yah aku kerja di mana?" tanya Clara berusaha mengalihkan perhatian.


"Yasudah istirahat yah...


Nanti malam aku ke rumah mu..." ucap Reno setelah memberi kiss dari telpon pada gadis itu.


Sama seperti gadis yang sedang kasmaran lain nya, Clara tersenyum malu mendengar kiss dari kekasih nya itu.


"Kenapa senyum-senyum?" suara pria yang sangat familiar mengejutkan gadis itu ketika menutup panggilan telpon nya.


"Astaga!" kaget Clara saat pria itu di depan mata nya.


"Ti-tidak apa-apa...


Tadi aku sedang chat dengan Louise saja..." kilah Clara dengan nada ragu.


"Louise?" tanya Louis lagi setelah mendengar nama adik nya.


"I-iya..." jawab Clara takut.


"Kau panggil dia Louise kan? Kau masih belum lupa panggilan ku kalau hanya ada kita berdua kan?" tanya Louis lagi pada gadis itu.


"Panggilan?" ucap Clara lirih berusaha mengingat hingga memori kepala nya memutar kejadian saat ia di hotel dengan pria itu.


Kalau hanya kita berdua panggil nama ku saja!


Saya lebih suka memanggil dengan sebutan Presdir.


Yasudah! Panggil sayang saja!


Clara membulatkan mata nya saat ia ingat Louis meminta nya memanggil sayang pada nya.


"Panggil Louis kan maksud nya?" tanya Clara lirih agar tak memanggil Sayang.


"Bukan! Harus nya Sayang..." ucap Louis pada gadis itu.


"Terlalu cheesy..." ucap Clara lirih dan mulai menunduk.


Louis pun tersenyum mendengar nya dan sedikit menunduk ke arah gadis manis yang duduk tersebut.


"Kalau begitu panggil dengan nama ku juga tak apa-apa...


Jangan panggil Presdir lagi..." ucap Louis dengan tersenyum dan mengelus lembut puncak kepala gadis itu.


"I-iya..." jawab Clara dan langsung membuang pandangan nya dari wajah pria yang yang hanya berjarak beberapa senti dari nya.


"Ayo!" ucap Louis tersenyum sembari meraih tangan gadis itu dan menggenggam nya.


"Kemana?" tanya Clara bingung saat pria itu menarik tangan nya dan membuat nya mengikuti langkah cepat dari pria itu.


"Kencan!" jawab Louis pada gadis itu.


Setelah ia pergi Louis terlebih dahulu membawa ke toko pakaian karna karna ia tak mau kencan dengan pakaian formal seperti orang yang sedang bekerja.


..


Toko pakaian.


"Terlalu mahal..." gumam Clara saat melihat pakaian yang di pilihkan pria itu untuk ia kenakan.


Louis membawa ko toko pakaian langganan keluarga nya yang menjual pakaian bermerek yang sudah bersertifikat asli.


"Kenapa tak pakai?" tanya Louis saat melihat gadis itu yang terdiam tanpa mengganti nya.


"Tidak apa-apa...


A-aku pakai pakaian ini saja tak boleh?" tanya Clara sembari memegang pakaian yang ia kenakan saat ini.


Louis pun menghela nafas panjang dan tersenyum simpul mendengar ucapan gadis itu, ia perlahan mendekat dan menyelipkan rambut halus yang panjang itu ke telinga Clara.


"Mau aku yang bantu pakaikan?" tanya Louis dengan senyuman dan mata penuh arti tersirat.


"Ja-jangan! Nanti aku malah di..." ucap Clara yang langsung menghindar.


"Diapain? Tapi sekarang sudah mulai suka kan?" tanya Louis pada gadis itu dengan tertawa kecil.


Dalam beberapa terakhir saat ia melakukan nya, ia mulai belajar untuk merangsang tubuh gadis itu juga sehingga terkadang Clara tak bisa menahan suara nya yang juga sudah terbawa akan permainan pria itu walaupun hati nya tak menginginkan nya sama sekali dan rasa bersalah pada kekasih nya semakin besar.


"Tidak suka sama sekali!" ucap Clara dengan wajah semerah tomat dan pipi yang seperti menggunakan blush on berwarna merah.


Louis hanya tertawa kecil melihat hal itu ketika gadis nya pergi dan menghilang di balik pintu ruang ganti dan menunggu Clara keluar setelah itu memulai kencan pertama nya.


......................


Setelah mobil nya terparkir di sebuah lahan salju dengan beberapa serigala di dalam nya.


Pengunjung yang kesana sebagian untuk bermain ski dan seluncur es lalu ada juga yang ingin bertemu dengan serigala-serigala yang di lihat menyeramkan oleh beberapa orang. Dan beberapa wahana seperti kreta gantung untuk mengelilingi dan melihat keadaan dan pemandangan dari atas.


"Kita kenapa ke sini? Aku tidak pandai bermain seluncur es." ucap Clara saat Louis sudah memberhentikan mobil nya.


"Kita bisa naik kreta gantung ataupun melihat serigala." ucap Louis sembari membuka sabuk pengaman nya.


"Kau kan sudah seperti serigala...


Kenapa harus lihat lagi..." gumam Clara lirih sembari membuka sabuk pengaman nya.


Louis tersenyum mendengar hal itu, ia pun mencekal tangan Clara sebelum gadis itu keluar dan tiba-tiba mendekatkan wajah nya.


"Aku serigala nya dan kau mangsanya..." ucap Louis dengan suara lirih dan senyuman simpul di wajah nya.


Clara yang saat terkejut tadi pun dengan sontak memejamkan mata nya dan kini membuka perlahan.


"A-aku tak mau jadi mangsa!" ucap Clara dengan mata yang penuh keyakinan.


"Auch!" ringis gadis itu saat hidung nya di gigit oleh pria yang tersenyum dengan penuh arti tersebut.


"Selemah ini masih mau melawan? Hm?" tanya Louis tertawa kecil dan menjauhkan diri nya, ia pun keluar dari mobil mewah tersebut.


Louis pun membawa berjalan berkeliling sejenak dan melihat ke arah gadis itu sesekali yang tersenyum saat melihat pemandangan di depan mata nya.


"Kau kedinginan?" tanya Louis begitu melihat hidung Clara yang memerah.


"Tidak...


"Hidung mu merah." jawab Louis pada gadis itu.


"Ini kan karna tadi kau gigit!" ucap Clara kesal melihat wajah yang seperti tak tau apa-apa itu.


Louis pun hanya tersenyum saat ia ingat tadi sempat mengigit hidung gadis itu di mobil.


"Mau es krim?" tanya Louis lagi saat mereka sama-sama tak berbicara.


"Di tempat dingin makan es krim? Bukan nya seharusnya meminum yang hangat yah?" tanya Clara dengan heran.


"Benarkah? Aku tak pernah dekat dengan wanita kecuali Louise, jadi aku tidak tau..." ucap Louis sembari mengusap rambut bagian belakang nya.


"Kau menawarkan pada ku yang Louise sukai?" tanya Clara yang tepat pada poin nya.


"Iya...


Ku pikir semua kesukaan wanita hampir mirip..." jawab Louis pada gadis itu.


Ia tak pernah sekalipun berpacaran atau dekat dengan wanita lain kecuali adik dan ibu nya membuat nya sedikit kaku saat dengan berusaha menarik minat seorang gadis.


Matanya pun mulai melihat ke arah serigala yang datang mendekat.


"Itu lihat! Ada serigala nya!" ucap Louis semangat dan ingin mendekati serigala tersebut.


"Eh?! Jangan!" cegah Clara spontan sembari memegang tangan pria itu.


"Khawatir dengan ku?" tanya Louis dengan raut senang yang berusaha ia tutupi.


"Tidak!" jawab Clara cepat dan melepaskan tangan kekar pria itu.


Louis sendiri walaupun tak suka dengan hewan peliharaan namun ia suka dengan hewan yang berbasic hewan buas. Sama seperti saat ia masih kecil yang ingin mengelus buaya di kebun binatang karna bagi nya menarik.


"Eh?" Clara yang terheran saat melihat serigala tersebut sama sekali tak ganas seperti yang ia bayangkan dan Louis yang tersenyum sembari mengelus serigala yang tampak jinak padanya itu.



"Tidak jahat kan dia?" tanya Louis pada gadis itu yang melihat dengan heran.


"Iya...


Tapi kenapa bisa?" ucap Clara yang masih bingung.


"Mungkin karna melihat aku yang sama-sama serigala?" jawab Louis terkekeh menyindir gadis itu.


"Ta-tadikan aku cuma asal bilang!" sanggah Clara pada pria itu, dan hanya membuat Louis tertawa kecil.


"Mau pegang?" tawar Louis pada Clara untuk mengelus serigala tersebut.


"Tidak mau! Takut di gigit!" jawab Clara dengan mata yang takut tak berani mendekat.


"Kau kan sudah sering ku gigit, masa masih takut?" tanya Louis menggoda gadis itu.


Clara hanya diam dan mengalihkan pandangan nya dengan mata yang tak ingin melihat pada pria yang sudah berulang kali menggunakan setiap jengkal dan inci dari tubuh nya.


"Ayo naik kreta gantung!" ajak Louis setelah ia selesai mengelus serigala tersebut.


Tangan hangat nya menarik dan mengenggenggam tangan kecil dan membawa ke wahana kreta gantung.


Mata Clara terhipnotis sejenak melihat hamparan salju yang terlihat lebih estetik dengan beberapa pepohonan dari atas saat kreta gantung mulai mengelilingi tempat tersebut.


Semakin tinggi tempat yang di kelilingi dengan kreta gantung itu maka semakin dingin juga suhu yang di rasakan gadis itu.


Greb...


Clara berhenti sejenak menggosok tangan nya ketika ia merasakan aliran hawa hangat yang mendekap nya dari belakang saat ia melihat dari jendela nya.


Louis yang sudah beberapa kali melihat gadis yang duduk di samping nya menggosok kedua tangan nya sembari terus melihat keluar membuat nya memeluk dan memasukkan gadis bertubuh ramping itu kedalam jaket nya.


"Kalau kau kedinginan aku bisa menghangat kan nya..." bisik Louis di telinga gadis itu.


"Kenapa? Kau tiba-tiba terlalu baik membuat ku jadi semakin takut..." tanya Clara lirih. Sikap baik pria itu membuat nya takut jika tiba-tiba akan meledak dan menyakitinya lagi.


"Aku mau membuat mu menyukai ku." jawab Louis sembari mengeratkan pelukan nya dan semakin membuat tubuh gadis itu masuk ke dalam jaket nya.


"Kenapa?" ucap Clara dengan pertanyaan bodoh saat ia sudah tau jawaban nya.


"Karna aku menyukai mu." jawab Louis singkat.


"Alasan mu menyukai ku? Diantara banyak wanita lain kenapa harus aku?" tanya Clara bingung yang tak mengerti mengapa pria itu menyukai nya.


"Alasan nya..." jawab Louis yang tak tau harus mengatakan apa, karna perasaan nya juga datang sendirinya tanpa alasan yang jelas.


"Apa? Karna kau menyukai tubuh ku?" tanya Clara lirih dengan nada tak percaya diri, ia takut pria itu hanya menginginkan tubuh nya saja untuk kepuasan nafsu yang begitu besar yang di miliki pria itu.


"Bukan..." jawab Louis pada gadis itu.


"Lalu? Berikan tiga alasan yang masuk akal kenapa kau bisa menyukai ku..." ucap Clara pada gadis itu.


Louis diam sejenak ia juga tak tau kenapa bisa menyukai gadis itu.


"Pertama karna itu kau...


Kedua karna kau Clara Olivia...


Dan ketiga..." jawab Louis menggantung.


"Alasan pertama dan kedua sama sekali seperti tak menjawab! Lalu alasan ketiga apa?" tanya Clara pada pria itu.


"Alasan ketiga tidak ada, aku hanya menyukai mu karna aku menyukai mu...


Menyukai seseorang tak bisa menggunakan alasan yang tepat. Kalau aku mencari alasan aku menyukai mu maka tak ada yang bisa ku jawab." ucap Louis pada gadis itu.


"Kalau berfikir secara logika tak ada yang bisa ku gunakan untuk menyukai mu, latar belakang keluarga yang berbeda, dan aku juga bisa menemui banyak wanita cantik lain nya. Kalau hanya tubuh mu aku juga bisa tidur dengan gadis yang masih virgin setiap hari nya." sambung Louis lagi yang mengatakan apa di hati nya.


Clara terdiam sejenak ia tak tau harus menyanggah apa lagi pada pria itu ia perlahan membalik tubuh nya dan sedikit mengandah melihat pria yang berusaha membungkus dengan jaket dalam pelukan itu.


"Sekarang kau sudah mengerti kan?" tanya Louis sembari menangkup pipi gadis itu dengan satu tangan nya dan mengelus secara perlahan.


"Kalau aku tetap tak menyukai mu?" tanya Clara lirih.


"Harus! Aku akan membuat mu menyukai ku...


Aku akan memulai yang baru, aku tak akan menyakiti mu untuk kesalahan apapun kecuali tentang pria..." jawab Louis pada gadis itu sembari mengunci mata nya pada manik bening dan wajah yang semakin cantik itu.


"Tentang pria? Maksud nya?" tanya Clara bingung.


"Aku tak bisa melihat mu dekat dengan pria lain, terutama mantan mu!" ucap Louis pada gadis itu.


"Mantan?" ucap Clara sembari melihat pria yang menatap dengan cemburu karna mengingat gadis di depan nya pernah pacaran dengan pria lain.


"Iya! Kalian sudah putus kan?" tanya Louis lagi.


"Su-sudah..." ucap Clara sembari mengalihkan pandangan nya karna berbohong.


Ia tak tau kebohongan nya yang akan membuat nya hancur semakin dalam nanti nya.


"Cla?" panggil Louis sembari membuat gadis itu melihat nya lagi.


"Aku sangat menyukai mu..." sambung Louis lirih sembari melihat dan menatap nanar mata gadis itu.


Detakan jantung yang berdebar membuat gadis itu merasakan nya saat tubuh nya begitu erat pada pria yang sedang mendekap nya ketika kreta gantung itu semakin berjalan.


Tatapan yang saling mengunci satu sama lain hingga membuat bayangan cermin diri sendiri di masing-masing retina mata satu sama lain.


Seperti naluri batin yang di miliki pria, Louis mulai mendekat perlahan, gadis itu berdetak dan memejamkan mata nya secara refleks hingga ia merasakan hangat di bibir merah muda nya.


Hummphh...


Louis perlahan memangut dan mencium bibir gadis itu. Hawa dingin yang membuat hangat saat ciuman nya semakin dalam dan dalam.


Hawa dingin yang semakin kalah dengan hangat nya bibir dan lidah yang sedang bertaut satu sama lain dalam lum*tan halus yang semakin dalam.


"Love you..." bisik pria dengan masih menghirup udara sesaat ketika ia melepaskan ciuman nya.


Hanya deruan nafas yang terdengar dari Clara yang sedang menghirup udara sebagai jawaban dari pengakuan pria itu.


......................


Sementara itu.


Restoran ruang privat tertutup.


Para direktur utama dan wakil presiden direktur JBS grup juga berada di tempat itu yang tak lain adalah Rian.


Louis membuat nya menjadi wakil Presdir karna sangat mempercayai sahabat ayah nya yang ia anggap sebagai paman dan sudah seperti pengganti orang tua bagi nya.


"Kalian gila!" ucap Rian tersulut begitu mendengar rencana untuk mengkhianati dan menggulung Louis dari posisi nya.


"Tenang...


Wakil Presdir, kami hanya ingin JBS di pimpin dengan orang yang lebih berpengalaman..." bujuk seorang direktur lain pada Rian.


Alasan mereka ingin menggulingkan Louis setelah Hazel bukan karna Louis tak memiliki kemampuan namun karna keserakahan yang ingin memiliki lebih banyak.


Walaupun Louis yang tak memiliki pengalaman sebanyak Rian karna usia nya yang masih sangat muda saat ia mengganti sang ayah namun pria tampan itu memiliki kemampuan yang sangat berkompeten dalam bisnis.


Terbukti dari semakin banyak anak perusahaan dan pengembangan produk yang semakin pesat di pasaran yang tak hanya bergerak dalam bidang kesehatan saja.


"Aku tak setuju!" ucap Rian dengan telak menolak rencana tersebut.


Para direktur lain memanggil nya dan mengajak bekerjasama dengan Rian karna tau pria itu yang paling dapat menggulingkan posisi Louis.


Bahkan jika Rian terbesit sedikit saja ingin merebut hak milik si kembar ketika sahabat nya meninggal maka ia yang sekarang sudah menjadi pemimpin utama JBS grup.


Mungkin si kembar tak akan jatuh miskin atau kehilangan semua saham namun mereka tak akan memiliki andil di perusahaan sang ayah dan hanya memiliki saham.


"Anda harus pikirkan lagi wakil Presdir Rian, anda sudah melayani pada ayah nya dan sekarang putra nya juga..." ucap salah satu direktur berusaha menghasut.


"Kalian tak sibuk sampai memikirkan hidup orang lain?!" sindir Rian pada direktur tersebut.


"Bagaimana dengan putra anda? Anda tak ingin membuat putra anda memiliki jabatan?" tanya salah satu direktur yang menyentuh kelemahan pria itu.


Walaupun Rian menyayangi si kembar namun ia sangat menyayangi putra tunggal dari wanita yang ia cintai. Ia bahkan bisa melakukan apapun untuk kebahagian putra tunggal kesayangan nya.


Rian terdiam sesaat dan memperhatikan satu persatu wajah direktur yang duduk rapi membentang mengelilingi meja besar besar tersebut.


Rian tersenyum simpul dengan mata dan sudut bibir yang tak bisa diartikan sama sekali.


"Baik...


Kalau begitu jelaskan lagi bagaimana cara nya untuk menurunkan nya dari posisi Presdir?" tanya Rian dengan mata yang mengundang sejuta pertanyaan dan arti di balik nya.


"Menjebak nya! Kita akan membuat dia memiliki catatan kriminal dan tuntutan yang akan membuat publik menyerang nya!" jawab direktur tersebut bersemangat


Saat ia memikirkan rencana jahat agar membuat putra sulung dari Hazel Rai tersebut di lengserkan dari posisi yang memang seharusnya untuk salah satu anak-anak nya.


Rian menaikan satu sudut bibir nya dan menatap dengan mata yang meremehkan pada direktur lain.