
Degupan jantung yang terasa gugup namun sangat di nantikan oleh kedua nya.
Pria itu memakai cincin dengan mata berlian yang berkilau dan mewah di jemari lentik wanita yang akan menjadi pasangan hidup nya atau mungkin sudah dapat di katakan sebagai istri nya.
Mata gadis itu kosong namun terlihat jelas kegugupan yang menghiasi wajah manis nya. Gaun mekar berwarna putih berkilau dengan hiasan elegan membuat nya seperti malaikat yang turun dari surga.
Pria itu mencium tangan istri nya dan beralih mencium bibir wanita itu sekilas yang membuat para tamu berteriak histeris dengan senang. Sedangkan wanita itu terlihat malu dengan wajah menggemaskan nya.
Pria yang baru selesai mengucap ikrar suci nya melihat ke sekeliling tamu dan tak menemukan gadis nakal yang ia cari.
Dimana dia? Dia tak lihat pernikahan ku?
Batin pria itu mencari keberadaan adik nakal nya namun sangat ia sayangi.
Setelah ikrar pernikahan selesai pesta pun mulai di laksanakan dengan beberapa tamu.
"Cla, kau dengan orang tua mu dulu yah...
Aku ada urusan, kalau kau lelah bisa ke kamar lebih dulu." ucap Louis sembari mencium ringan pipi gadis yang kini sudah menjadi wanita milik nya seutuh nya.
"Hm, kau mau kemana?" jawab Clara sembari memegang tangan pria yang sudah menjadi suami nya saat ini.
"Aku ada urusan," ucap Louis dengan nada lembut nya dan mengecup kening istri nya sekali lagi.
Ia pun memanggil salah satu penjaga wanita nya dan ia tempatkan untuk menjaga wanita yang menjadi istri nya agar tak terjatuh atau pun terluka.
Setelah meninggalkan Clara, pria itu mulai mencari di antara tamu dan juga ruangan privasi keluarga pengantin kedua belah pihak.
"Zayn!" panggil Louis dari jauh dan langsung meraih tangan pria itu.
"Louise dengan mu?" tanya Zayn saat Louis menghampiri nya.
"Kau tanya pada ku? Aku saja baru menyiapkan pernikahan ku," jawab Louis bingung.
"Dia tak bisa di hubungi, padahal dia janji sebelum pernikahan di mulai dia akan sampai." ucap Zayn dengan semakin gelisah.
Louis diam sesaat mendengar nya, ia tau adik nya sering mengebut jika sedang terburu-buru. Ia mulai panik dan khawatir takut jika gadis nakal itu mengalami kecelakaan.
"Aku akan telpon kepala pengawal dulu," ucap Louis dan segera menghubungi kepala pengawal di kediaman nya.
Setelah mendengarkan penjelasan kepala pengawal nya, raut wajah nya mulai berubah. Zayn yang melihat hal itu pun langsung bertanya.
"Kemana dia di mana?" tanya Zayn antusias.
"Tadi dia pergi sendiri?" tanya Louis tanpa menjawab pertanyaan teman nya.
"Tidak, dia pergi bersama pria tadi. Aku sudah bilang akan mengantar nya tapi dia bersih keras ingin pergi sendiri." jawab Zayn dengan mengingat sebelum gadis itu.
"Dia tak pulang ke rumah sama sekali," ucap Louis lirih dan semakin gelisah.
Zayn terkejut, ia merasa bersalah karna harus nya ia tak mendengarkan ucapan gadis cantik itu dan mengantar nya saja.
"Kau ikut dengan ku ke JBS," ucap Louis dan meninggalkan pesta pernikahan nya setelah mengucapkan ikrar.
......................
Swiss.
Di sebuah kamar presiden suite yang mewah seorang pria tengah berusaha mencoba menghubungi gadis yang mulai ia rindukan dari suara, aroma, wajah, dan tubuh nya, walaupun baru dua hari tak bertemu.
"Kenapa telpon nya tak diangkat? Dia terlalu sibuk mengurus pernikahan kakak nya atau sedang dengan pria lain?" decak James kesal.
Ia pun mencoba melacak dari ponsel nya melihat GPS dari jam yang ia berikan dan ponsel nya.
"Kenapa ponsel nya tak bisa di akses? Sistem di jam juga sangat lama?" gumam nya lirih saat ia kesulitan mengakses seperti mengalami kerusakan sistem.
"Error?" ucap nya dengan terkejut saat melihat ia tak bisa mengakses sistem pada jam tangan yang ia buat.
"Tak mungkin error kecuali algoritma nya di ganti..." sambung nya dengan lirih.
Ia pun mulai membuka laptop nya dan menjalankan sistem algoritma mencari sistem yang sesuai seperti awal ia membuat jam tangan nya.
James pun mulai menelpon Nick karna tak ada yang bisa di akses nya dari jam yang ia buat ketika sistem nya sudah di ganti.
"Kau mengganti sistem di jam nya?" tanya James dari telpon.
"Benar, Tuan." jawab Nick yang tak berbohong sama sekali karna percuma saja ia mengelak saat tuan nya sudah tau ia berbohong.
"Kenapa kau ganti? Sekarang Louise dimana?!" tanya James dengan nada yang mulai tak suka.
"Saya menambahkan sistem keamanan nya dan mungkin memerlukan waktu untuk penyesuaian sistem nya tuan," ucap Nick beralasan.
"Aku menyuruh mu melakukan nya?!" tanya James geram.
Nick pun dapat merasakan suara kemarahan tuan nya dari telpon.
"Sekarang dia dimana?!" tanya James lagi pada pria yang masih tersambung telpon tersebut.
"Tadi nona Louise bersih keras ingin pergi sendiri dan sekarang menghilang, saya sedang mencari nya." jawab Nick lagi pada James.
"Cari dia! Kalau terjadi sesuatu pada nya aku anggap kau melalaikan tugas mu! Dan jangan melakukan apapun yang tidak ku perintah kan! Ini peringatan yang terakhir!" ucap James dengan nada penuh penekanan lalu menutup telpon nya.
Setelah ia menutup telpon Nick pun mulai mengirim kode yang sama dengan sistem yang sudah ia ubah agar mengurangi kecurigaan tuan nya.
......................
Sementara itu.
Gedung yang jauh dari kota maupun wilayah tempat tinggal penduduk itu terlihat tak lagi terurus sejak beberapa tahun terakhir.
Walaupun dari luar memiliki tampilan yang kacau balau namun salah satu ruangan dalam gedung tersebut di renovasi sehingga tak menampilkan kesan bangunan tak terpakai melainkan seperti sebuah ruangan yang terlihat bersih dan nyaman.
Gadis yang tengah berbalut gaun berwarna peach dengan panjang selutut dan membentuk tubuh nya yang tampak ideal itu kini masih tak sadar.
Wajah nya memiliki bekas biru keunguan tanda memar dari pukulan ke empat pria yang berusaha menyerang nya.
Tangan masih terpasang borgol yang sebelum nya terpakai dan kaki nya di ikat menggunakan tali dengan kuat. Gadis itu masih belum sadar dan di biarkan di atas lantai dingin tersebut.
Pria yang memakai topeng di mata nya agar wajah nya tak di ketahui karna ia tak bisa mengurung gadis itu dan malah membahayakan diri nya sendiri.
Yang ia inginkan adalah mencicipi tubuh gadis sebentar lalu menakuti nya setelah itu melepaskan nya dan menculik nya lagi hingga membuat gadis cantik gila tanpa harus ia kurung seperti wanita sebelum nya.
"Dia lebih cantik dari foto nya..." ucap pria tersebut dengan seringai nya sembari menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik yang masih belum sadar tersebut.
Pria itu berjongkok sembari menelusuri setiap lekuk wajah cantik gadis yang masih tak sadar tersebut.
"Sudah ku bilang jangan rusak wajah nya, aku tak mau main dengan sudah terluka seperti ini!" ucap pria itu dengan nada penuh penekanan.
"Ma-maaf tuan, preman yang kita sewa mengatakan dia melawan menggunakan pisau." jawab bawahan pria itu dengan gugup.
"Harus nya dia sudah bangun kan?" tanya pria tersebut pada bawahan nya.
"Seharusnya hanya tiga jam tuan, mungkin sebentar lagi dia akan bangun tuan." jawab salah satu bawahan pria tersebut.
"Uh!" suara yang mulai terdengar dari gadis yang cantik itu saat kesadaran nya mulai datang.
"Kau sudah sadar? Hm?" suara seorang pria yang terdengar jelas di telinga nya.
Louise masih menggeliat saat tangan dan kaki nya terkunci tak dapat bergerak dan tubuh nya yang masih merasakan sakit karna ia melawan beberapa pria yang tak sebanding dengan tubuh lemah nya.
Ia membuka mata nya perlahan menatap ke arah pria bertopeng yang sedang bertanya pada nya, dapat ia lihat pria itu memiliki seringai jahat yang tertuju ke arah nya.
Pria itu pun menarik tangan nya sehingga ia duduk menghadap lurus ke arah pria yang sedang berjongkok di depan nya tersebut.
"Karna pria yang kau pacari, jadi salahkan saja pria mu." jawab nya sembari mengelus wajah cantik yang mulai terlihat pucat tersebut karna kelelahan.
Louise diam sesaat, ia mulai ingat jika James pernah mengatakan ada yang sedang mengincar nya karna dirinya. Ia pun mulai memikirkan cara untuk mengulur waktu sebanyak mungkin dan mencari kesempatan kabur.
"Pria yang mana? Pria yang ku pacari banyak," tanya Louise dengan wajah yang biasa saja namun menyembunyikan ketakutan nya.
"Benarkah? Wah!" ucap pria tersebut tak percaya, "Kau tak takut pada ku? Tak takut dengan situasi mu?" tanya pria itu lagi sembari mulai menekan dagu Louise.
"Kalau aku takut, kau akan lepaskan aku?" tanya Louise yang memandang lurus ke mata pria tersebut.
"Biasa wanita akan ketakutan kenapa kau terlihat tidak?" tanya pria itu dengan heran.
"Entahlah...
Mungkin...." jawab Louise menggantung.
Pria itu memandang menanti jawaban yang terpotong tersebut, ia berfikir jika James sudah memiliki rencana lain.
"Karna aku bukan wanita?" sambung Louise, "Kau mendengarkan dengan sangat serius," sambung nya lagi dengan nada mengejek.
"DIAM!!!" bentak pria itu seketika karna merasa kesal seperti sedang di permainkan oleh kata-kata.
Louise tersentak kaget karna bentakan pria tersebut, sebenarnya ia merasa takut namun sudah terlalu banyak juga rasa takut yang di berikan pada nya.
"Kau mulai takut?" tanya pria itu dengan tawa jahat nya melihat wajah terkejut gadis itu.
"Bukan," jawab Louise singkat dan mengatur kembali ekspresi nya.
"Lalu?" tanya pria itu dengan smirk nya.
"Suara benar-benar memiliki bas, terasa sangat seksi..." ucap Louise beralasan menutup rasa takut.
Pria tersebut diam tak bisa berkata-kata, baru kali ini ia bisa menemukan wanita yang berbicara santai pada nya dengan situasi yang sedang di culik.
"Kalian memukul kepala nya?" tanya pria itu pada bawahan nya.
"Ti-tidak tuan..." ucap para bawahan tersebut dengan gugup.
"Kenapa dia sudah gila?" tanya pria itu sembari menatap kembali wajah gadis cantik di depan nya.
"Kalau aku gila kau itu apa? Tak punya otak?" tanya Louise saat mendengar ucapan pria tersebut.
"Apa?!" tanya nya mulai kesal karna ucapan gadis cantik tersebut.
"Tidak ada, aku tak bilang apapun." ucap Louise sembari mengendikkan bahu nya seakan ia tak mengetahui apapun.
"Kau benar-benar tak takut?" ucap pria tersebut dengan nada yang mulai berbeda tangan nya menelusuri wajah Louise walaupun gadis itu sudah menepis berulang kali.
"Kalau kau punya masalah dengan orang yang kau inginkan jangan menggangu orang lain, kau benar-benar seperti pengecut!" ucap gadis itu dengan penuh penekanan tatapan tajam.
Plak!
Satu tamparan kuat melayang di pipi gadis itu.
Louise tersentak ia dapat merasakan anyir darah nya yang mengalir di lidah dan ujung bibir nya karna tamparan kuat yang baru saja di layangkan untuk nya.
Pria itu mulai menarik rambut halus Louise hingga membuat wajah cantik itu mengandah pada nya.
"Sebaik nya kau berhati-hati dalam ucapan mu, kalau ingin masih hidup." ucap pria tersebut dengan nada mengancam.
"Benarkah? Kau tau aku tak suka sendirian...
Bagaimana kalau aku ikut membawa mu mati?" ucap Louise pada pria di depan nya dengan mata yang seakan mentertawakan seperti mengatakan sebuah lelucon.
Pria tersebut merasa terhibur ia seperti menemukan sesuatu yang membuat nya bersemangat, seperti hasrat yang sudah lama tak datang pada dirinya.
Ia mulai mendekat sembari terus menarik rambut gadis itu dan mulai mendekat, aroma parfum lembut yang menyatu dengan aroma tubuh nya yang seperti bunga harum menyegarkan dan manis di saat bersamaan.
Dia mengendus ku? Dia punya kelainan? Menjauhlah!
Batin Louise yang mulai merasa takut dalam waktu dekat ini trauma nya mulai kembali karna ia terus diajari menembak.
Walaupun trauma pelecehan yang pernah di lakukan pada nya sudah mulai hilang karna sudah berulang kali melakukan hal dewasa pada pria tersebut namun bisa menimbulkan trauma baru saat ia di sentuh di dengan orang asing lagi dan situasi yang hampir sama dengan masa kecil nya.
Pria itu mencium aroma tubuh gadis yang tengah bersama saat ini dengan menelusuri kening, pipi, dan wajah berulang kali lalu mulai mencium tengkuk dan leher gadis itu.
Louise yang mulai merasa risih dan tak nyaman itu pun mencari cara agar pria tersebut berhenti mengendus nya sebelum ia mengalami serangan panik lagi.
"Akh!" pekik pria itu dengan keras saat ia merasa telinga nya di gigit dengan kuat.
Plak!
"Apa yang kau lakukan?!" bentak nya dengan keras dan seketika melepaskan tarikan rambut nya dan menampar gadis itu lagi.
"Berhenti mengendus ku seperti anjing!" ucap Louise pada pria itu.
"Anjing?! Wah kau benar-benar tak ingin hidup?! Kau pikir aku tak akan membunuh mu?!" ucap pria tersebut yang merasa geram dan emosi di saat bersamaan.
Louise tak menjawab dan hanya menatap tajam dengan iris yang mulai bergetar, sangat ingin melawan namun tak memiliki kemampuan.
"Dasar wanita gila!" decak pria tersebut dengan geram.
"Dasar tak punya otak!" balas Louise dengan umpatan dan makian yang hampir sama.
Pria tersebut pun menghela nafas nya membiarkan gadis itu bicara pada nya hanya akan membuat tekanan darah nya naik.
"Mana pistol ku?" ucap nya sembari berdiri dan meminta pistol pada bawahan nya.
"Ini tuan," ucap bawahan pria itu sembari memberikan pistol yang sudah terisi penuh peluru.
Ctik...
Deg...
Jantung nya Louise mulai berdebar baru saja pria itu mendekat seperti anjing yang sedang mengendus pada nya dan kini ia di sodorkan pistol tepat di dahi nya.
Sedangkan psikologis nya sedang tak sanggup menerima tekanan setelah trauma nya baru saja di bangkitkan lagi.
"Coba ulangi kata-kata mu barusan?" tanya pria tersebut sembari menarik pelatuk nya. Ia tak suka di bantah apalagi di lawan.
Dan kali ini ia mendapatkan makian dari gadis yang lebih lemah dari nya.
"Kau pikir karna latar belakang keluarga mu, aku tak bisa membunuh mu? Kau mau tau mana yang lebih cepat? Peluru ku atau tim pencari mu?" tanya pria itu lagi saat ia tak mendapat kan jawaban dari gadis yang mulai terlihat raut wajah yang berbeda.
Pikiran, suara, dan ingatan di kepala nya mulai kacau balau hingga membuat wajah nya menampilkan ekspresi nya yang sesungguh nya.
Tenang...
Jangan takut...
Ucap nya menenangkan diri sembari memejamkan mata nya.
"Kau sedang berdoa?" tanya pria tersebut dengan nada mentertawakan gadis yang sedang menutup mata nya guna menetralkan emosi dan rasa takut nya.
Louise membuka mata nya dan kembali menatap pria di depan nya.
"Kau tampan, Suara mu sangat seksi." ucap nya tiba-tiba sembari menatap pria di depan nya.
Pria itu mengerutkan dahi nya dengan bingung menatap gadis di depan nya.
"Benar-benar wanita gila..." gumam nya menatap heran ke wajah di yang mulai tampak gelisah tersebut.