(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Miss u



JBS Hospital.


Sudah hampir 3 hari pria tampan itu masih belum terbangun, saat ini yang menjadi masalah bukan nya kekurangan darah melainkan keberhasilan operasi yang hanya 10% dan Rian tak bisa mengambil keputusan itu karna saudari kembar pria itu lah yang berhak atas keputusan besar tersebut.


Saat ini kondisi Louis masih mengalami masa kritis dan jika masih tak melakukan operasi dalam beberapa hari kedepan ia bisa masuk ke dalam kondisi vegetatif.


Salah satu tulang rusuk yang patah menembus jantung nya dan mengenai posisi yang sulit di operasi dan beresiko besar dalam perdarahan, jika operasi berhasil tanpa kesalahan maka tak akan ada masalah namun jika terjadi kesalahan tak hanya resiko yang mengharuskan transpalasi jantung namun resiko kematian tentu nya sudah di depan mata.


"Wakil Presdir...


Apa anda sudah menemukan Louise?" tanya Clara pada Rian yang juga terlihat bingung karna masih belum bisa menemukan gadis cantik itu.


"Aku akan mencari nya, dia akan segera di temukan..." jawab Rian mendesah kasar karna penat akan masalah yang terus datang.


Pria paruh baya itu pun mulai memikirkan harus mengambil keputusan jika Louise tetap tak di temukan dalam waktu 7 hari lagi.


Karna ia tak bisa terus mengundur operasi Louis atau pria tampan itu akan jatuh dalam kondisi vegetatif dan terciptanya beberapa kerusakan yang harus nya tak terjadi.


"Baik wakil presdir..." ucap Clara lirih.


Gadis manis itu pun seperti tak bergairah dan tak semangat sama sekali.


"Louise kau dimana? Apa kau tak tau kondisinya?" gumam Clara sembari mengandarkan kepala nya pada dinding kokoh yang berdiri di belakang tubuh nya.


Tak lama kemudian Reno pun datang pada Clara, semenjak gadis itu menjaga presdir nya Reno juga terus mendatangi atau menemani Clara saat jam kosong nya. Walaupun hati nya merasa tak suka namun ia menahan nya karna tetap ingin dengan kekasih nya.


"Ayo makan siang..." ucap Reno sembari menggapai tangan gadis itu.


Clara pun menurut dan mengikuti pria yang masih menjadi kekasih nya.


Reno membawa gadis itu untuk makan di restoran dan terus melihat raut wajah Clara yang seperti tak ada gairah atau semangat sama sekali.


"Cla...


Kenapa? Hm?" tanya Reno sembari menangkup tangan gadis itu.


"Presdir masih belum sadar...


Menurut mu kapan dia bisa sadar?" tanya Clara dengan tatapan sendu melihat ke arah nya.


Reno terdiam sesaat ketika mendengar ucapan gadis itu, sudah 3 hari lebih wanita nya terus memikirkan pria lain. Siapa yang tak akan cemburu walaupun berusaha menahan nya.


"Clara...


Kau sudah cukup mengkhawatirkannya...


Kau tak memikirkan perasaan ku? Di bandingkan seperti kekasih ku, kau lebih seperti kekasih nya..." ucap Reno dengan mata sendu.


Clara pun tersentak dan menatap pria itu dengan iba, ia merasa bersalah pada Reno karna mengabaikan kekasih sendiri untuk pria lain.


"Maaf Ren..." ucap Clara lirih karna merasa bersalah.


Reno pun tetap berusaha tersenyum pada gadis itu.


"Nanti malam mau nonton dengan ku? Aku sudah beli tiket nya, akan ku jemput pukul 07.30 PM nanti di apart mu." ucap Reno pada gadis itu.


Clara masih dia belum menjawab permintaan pria tampan di depan nya.


Presdir masih belum sadar...


Aku tak mau pergi...


Batin gadis itu namun tak bisa mengatakan pada Reno karna tak mau melukai hati pria itu lagi.


Reno yang terus menatap nya dengan mata pengharapan membuat gadis manis itu tak bisa menolak karna tak tega dan mengiyakan ajakan kekasih nya walau hati nya masih menolak.


"Iya...


Nanti kau jemput kan?" tanya Clara yang sekarang kini mulai seperti Reno yang selalu memaksa senyum nya bahkan saat hati nya tengah sakit atau sedang kacau.


...


Bioskop.


Clara yang terlihat semakin tak nyaman membuat Reno yang berada di samping nya ikut memperhatikan gadis nya.


"Kau tak suka film nya? Mau keluar dan ganti film saja?" tawar Reno berbisik pada gadis manis yang duduk di sebelah nya.


"Su-suka kok Ren...


Film ini kan yang mau aku lihat kemarin..." jawab Clara dan menoleh ke arah pria itu hingga membuat nya hampir mencium Reno.


Reno terkejut sejenak ia ingin menahan wajah itu dan menangkup bibir manis di depan nya sejenak namun Clara dengan cepat langsung mengalihkan wajah nya lagi ke layar bioskop di depan nya.


Reno pun hanya tersenyum saat gadis itu menolak secara halus ciuman yang ingin ia lakukan dan tak memaksa Clara untuk melakukan kontak fisik dengan nya.


Setelah film yang berputar dan selesai sepasang kekasih itu pun keluar dan dari teater bioskop nya.


"Kau mau main ke mall nya sebentar?" tanya Reno yang masih menggenggam tangan gadis itu.


Sedang Clara yang terus menerus melayangkan pikiran ke rumah sakit tempat presdir tampan nya di rawat.


"Ren...


Kita pulang saja yah? Aku lelah..." jawab Clara beralasan.


Reno pun yang melihat wajah memelas gadis itu langsung mengiyakan permintaan Clara dan mengantar nya kembali.


...


Apart Greeleaf.


Clara yang baru saja memasuki apart nya langsung membuka sepatu nya dan berjalan ke kamar serta langsung menjatuhkan diri nya ke atas ranjang single bed milik nya tanpa menghapus riasan nya.


"Kalau dia tau aku pergi dengan Reno pasti sudah di marahin habis-habisan..." ucap Clara sembari mengandah ke atap kamar nya.


"Setelah itu aku juga pasti di...." sambung nya lirih sembari membayangkan apa yang biasa pria itu lakukan diatas tubuh nya.


Wajah nya memerah dan langsung berguling sembari memeluk bantal nya dan menyembunyikan rasa malu nya yang membayangkan hal erotis yang kadang membuat nya sakit dan juga merasakan nikmat di saat yang bersamaan.


Kenapa sekarang pikiran ku jadi mesum sih?! Tapi aku...


batin gadis itu sembari membuka bantal nya dan menatap sendu.


Kangen...


ucap nya dalam hati, selama beberapa hari terakhir ada kala nya pria itu cemburu dengan sikap menggemaskan dan bukan nya mengerikan tergantung dari sikap nya yang seperti apa.


Flashback on.


"Terimakasih sekretaris Clara..." ucap salah satu pegawai magang pria yang baru saja bertanya tentang masalah pekerjaan.


"Sama-sama..." jawab Clara dengan senyuman ramah nya.


Sedangkan seorang pria yang sudah kepanasan seperti terbakar api tengah memperhatikan interaksi gadis nya dengan pria lain.


Louis pun membuang nafas kasar dan tersenyum licik walaupun ia tau mereka membicarakan masalah pekerjaan nya namun ia tetap tak suka karna gadis yang ia sukai bersikap ramah dan menunjukkan senyum manis nya pada pria lain.


Setelah waktu berlalu pria tampan itu pun terus bertingkah menjengkelkan pada Clara secara terus menerus.


"Laporan mu kenapa masih salah terus sih?! Revisi lagi!" ucap Louis yang bahkan tak melihat data yang di bawa Clara.


"Kalau begitu bagian salah nya dimana? Presdir sudah meminta 5 kali revisi, anda juga bahkan belum melihat isi nya?" tanya Clara yang mulai merasa jengkel dengan tingkah bos nya.


"Sudah ku lihat! Ukuran nya font nya salah!" jawab Louis yang semakin membuat Clara geram namun sebisa mungkin menahan nya.


Louis pun tersenyum simpul dan menatap gadis itu.


"Kau buat yang baru saja dan buat disana, jadi bisa langsung ku lihat!" ucap Louis mulai memainkan trik nya sembari menunjuk sofa panjang di ruangan nya.


Clara pun mendengus kesal dan mengambil laptop nya serta mengerjakan data nya di ruangan tersebut.


Louis tersenyum licik dan berjalan ke arah pintu ia pun mulai mengunci pintu ruangan nya. Clara yang tak mengetahui hal itu karna fokus pada pekerjaan nya pun tak menyadari jika kini sudah berada di ruang tertutup dan terkunci pada pria yang ingin memakan nya dengan lahap.


"Hentikan pekerjaan mu dan sekarang cari rambut putih ku." ucap Louis enteng sembari menjatuhkan kepala ke atas paha gadis itu.


"Jangan bicara yang aneh! Presdir kan masih muda, mana mungkin punya rambut putih!" jawab Clara kesal dan berusaha menyingkirkan kepala yang sedang bersandar di pangkuan nya. Ia tentu nya tau jika Louis tak miliki uban.


"Cari saja dan berhenti mendorong kepala ku, atau aku akan melakukan itu pada mu." jawab Louis sembari melihat wajah gadis itu ke atas.


Clara terdiam sesaat dan Louis pun langsung meletakkan tangan gadis itu diatas kepala nya.


"Cari...


Kalau tidak nanti kita main disini sama di meja ruang rapat, sebentar lagi kita mau rapat kan?" tanya Louis sembari menampilkan senyuman licik.


Clara pun yang tak memiliki pilihan lain langsung mengelus surai halus pria tampan itu dan mengacak rambut nya mencari sesuatu yang memang tak ada.


"Tadi kenapa tersenyum?" tanya Louis sembari memejamkan mata nya merasakan tangan lembut gadis itu yang seperti mengelus rambut halus milik nya.


"Jangan senyum sana sini seperti orang bodoh! Kau tak boleh sembarang seperti itu!" ucap Louis yang kesal saat mengingat senyum yang di berikan Clara pada pegawai magang.


"Yang tadi? Dia cuma tanya tentang pekerjaan, saya juga bicara tak lebih dari dua menit." jawab Clara membela diri.


Louis pun berdecak kesal dan membuka mata nya menatap gadis itu.


"Dapat tidak rambut putih nya?!" tanya Louis kesal dan langaung bangun melihat wajah gadis manis itu.


"Belum, anda kan belum tua sama sekali dapat dari mana rambut putih nya?!" tanya Clara sembari membalas tatapan pria di depan nya.


"Kalau begitu ada hukuman nya! Kita main selama dua jam! Sebelum rapat di mulai." jawab Louis enteng tanpa beban.


"Kenapa tiba-tiba ada hukuman? Tadi tidak ada! Saya juga tak mau melakukan nya." ucap Clara dan ingin bangkit namun Louis langsung menarik serta menindih tubuh gadis itu diatas sofa nya.


"Ada! Setiap kau bicara satu menit dengan pria lain berarti wajib melakukan nya satu jam dengan ku!" jawab Louis dengan mata kukuh. Dan mulai mencium gadis manis itu.


Hummpphhh...


Ukh!!


Gadis itu meringis sesaat saat pria tampan itu menggigit bibir nya lalu melepaskan nya.


"Kan aku sudah bilang jangan bicara formal kalau hanya ada kita berdua, kau terlalu nakal yah..." ucap Louis sembari melayangkan ciuman ke telinga gadis itu.


Clara pun berusaha mendorong Louis sebisa nya.


"Presd-


Kau bilang ingin membuat ku suka?! Tapi kenapa sekarang memaksa ku?!" tanya Clara yang langsung memperbaiki ucapan nya agar tak bicara formal lagi.


Louis pun berhenti sejenak saat tangan nya sudah ingin menyusup ke balik rok gadis manis itu.


"Kalau begitu kita buat taruhan. Kalau kau benar-benar tak mau maka tak boleh bersuara...


Dan kalau kau bersuara aku akan menganggap nya sebagai ajakan tak langsung." bisik Louis di telinga Clara.


"Aku tak mau! Tidak setuju!" jawab Clara cepat dan terus mendorong tubuh Louis


"Kenapa? Takut? Kalau kau memang tak mau aku melakukan nya seharusnya tak akan ada masalah kan? Tubuh mu tak akan menikmati nya..." ucap Louis yang berusaha memanasi gadis itu agar setuju akan taruhan nya.


"Aku bukan ja-"


"Aku tau, kau itu wanita ku..." jawab Louis sembari mencium pelan pipi Clara dan mengesap aroma harum nya.


"Kau setuju?" tanya Louis lagi sembari semakin mendesak gadis itu agar mengiyakan permintaan nya.


"Ba-baik! Tapi kalau aku tak bersuara selama 3 menit kau tak boleh melakukan nya!" jawab Clara yang yakin jika tubuh nya tak akan memberikan respon pada pria itu.


Ia bahkan tak menyangka jika sudah menjatuhkan diri nya kedalam jeratan sang Presdir arogan yang memimpin perusahaan besar itu.


Louis tersenyum dan mulai mencium lembut telinga serta leher jenjang gadis manis itu. Beberapa kali pria tampan itu menggelitik dengan lidah nya dan mengigit kecil.


Tangan nya perlahan mulai menarik sweter putih yang di kenakan Clara agar terlepas dan tak terlipat di balik rok span nya lagi.


Ia perlahan mulai menyusupkan tangan nya dan meraba halus serta memainkan dada gadis itu dan kemudian mengelus nya lagi.


Clara yang mulai merasakan geli saat tangan pria itu bermain di dada nya dan sangat lihat bergerak yang memancing hasrat serta ciuman geli yang terus di layangkan di leher dan telinga nya membuat nya merasakan panas dingin dan sensasi menginginkan hal itu lagi pada Louis.


"Ja-jangan di tarik..." jawab Clara lirih sembari tetap berusaha mengontrol suara nya saat Louis terus memainkan dada nya dengan lihai.


Louis tak menjawab dan tetap melakukan hal yang ia inginkan, ia membuat banyak kiss mark di leher jenjang gadis itu. Sedang Clara yang berusaha menahan suara nya dan mempertahankan akal di bandingkan naluri wanita nya.


Louis tersenyum saat melihat wajah gadis itu yang berusaha tak bersuara. Ia pun mulai menjalarkan tangan nya ke area privasi gadis itu.


Basah...


Dia sudah mulai menyukai nya...


Louis yang semakin senang dan semakin menampilkan senyum licik saat melihat gadis itu, ia pun mulai memainkan jemari nya dan hampir membuat Clara tersentak dan bersuara saat jemari pria itu memasuki nya.


Namun dengan cepat gadis cantik itu langsung menutup mulut nya dengan kedua tangan nya agar tak bersuara.


"Curang! Kalau di tutup jadi batal taruhan nya! Dan kau dianggap kalah!" ucap Louis sembari menangkup tangan gadis itu dan meletakannya ke atas kepala Clara.


Ia sudah belajar dimana bagian sensitif gadis itu dan cara nya memancing hasrat seorang wanita hingga membuat nya dapat menghanyutkan dan membuat gadis manis itu terbuai.


"Ungh..." desis Clara yang tak mampu menahan suara nya saat ia mencapai puncak nya ketika pria itu memainkan jemari dan ciuman nya secara bersamaan di bagian privasi tubuh nya.


Walaupun ia merasa sangat bersalah pada kekasihnya namun tubuh nya sama sekali tak bisa berbohong akan sentuhan pria itu.


"Kau kalah! Sekarang kita bisa kan?" tanya Louis menatap dengan senyum kemenangan pada gadis yang terlihat berantakan tersebut dan mata sayu dengan nafas terengah-engah.


Clara hanya diam dan menatap pria yang sedang membuka pakaian nya sendiri lalu mulai melakukan penyatuan nya di tengah tanpa membuka pakaian nya yang masih tersisa namun sudah terbuka di beberapa bagian.


"Hmm..." desis nya lagi saat pria tampan itu memasuki nya.


"Jangan kasar..." ucap lirih pada Louis yang tengah menikmati tubuh nya.


"Iyah...


Akan kulakukan dengan lembut..." jawab Louis dengan suara berat.


Setelah pertempuran panjang di sofa yang baru saja berhenti berderit Louis menjatuhkan diri nya diatas tubuh gadis itu yang sedang menelungkup dibawah tindihan nya.


"Jangan dekat dengan pria lain lagi...


Jangan tersenyum juga..." ucap pria itu dengan nada manja di telinga Clara yang masih berada di bawah tubuh nya.


"I-itu kan masalah pekerjaan..." jawab Clara terengah-engah.


"Tapi aku cemburu...


Jadi tak boleh..." jawab Louis sembari mengendus dan mencium rambut gadis itu seperti anak kecil yang sedang ngambek karna di tinggal bermain.


Clara hanya diam tak menjawab lagi, nada suara dan sikap pria yang awal nya sangat ganas dan dewasa kini berubah seperti bocah polos yang tak tau apapun padahal baru saja membuat tubuh nya terkena gempa.


Setelah hari itu pun Louis langsung memindahkan pegawai magang itu ke daerah yang jauh ke cabang perusahaan dan memberi pekerjaan berat padanya.


Flashback off.


......................


Mansion Dachinko.


"Setelah sembuh boleh pulang kan?" tanya Louise pada James saat mereka sedang makan malam.


James yang melihat kondisi gadis itu mulai membaik walau masih tak stabil pun merasakan ego nya lagi yang tak ingin gadis itu pergi.


"Kenapa tak jawab?! Boleh kan?!" desak Louise lagi.


"Sehat dulu! Baru bicarakan lagi nanti!" ucap James pada gadis cantik itu.


"Sudah selesai kan makan nya?! Ayo tidur!" ucap James pada gadis itu dan menggendong nya membawa ke kamar nya.


"Bisa jalan sendiri!" ucap Louise yang tak ingin di gendong.


"Yasudah mau ku lepas sekarang?" tanya James dan pura-pura ingin menjatuhkan nya saat ia sedang menaiki anak tangga.


"Jangan..." jawab Louise dan secara refleks memeluk pundak pria itu agar tak membiarkannya jatuh ke tangga lagi dan membuat nya patah tulang.


"Hari ini mau tidur sendiri..." jawab Louise pada James saat pria itu membawa nya ke kamar nya.


"Tidak! Kau tidur dengan ku!" jawab James yang merasa candu dan ketagihan berada di dekat gadis itu walau tak melakukan hal itu pada Louise.


"Kata nya kau tak mau tidur dengan wanita!" ucap Louise mendengus kesal.


"Kau wanita? Aku lihat kau seperti bayi menggemaskan..." jawab James sembari mencubit pipi gadis itu saat menurunkan nya ke ranjang.


"Mau pulang...


Kapan bisa pulang..." rengek Louise lagi saat pria itu mencubit pipi nya.


"Kalau begitu coba kau rayu aku agar aku membiarkan mu pulang..." jawab James enteng tanpa beban.


Louise mendengus kesal mendengar hal tersebut selain karna ia sangat khawatir dengan kakak nya ia juga harus mendapatkan obat bulanan nya dan tak bisa mendapatkan nya kalau James terus menahan nya.


......................



Elouis Steinfeld Rai



Clara Olivia