
Flashback on.
Dalam perjalan pulang ke kediaman Hazel dari Bioskop.
Alyss terus saja mengalihkan mata nya melihat ke arah luar jendela mobil.
"Apa yang kau lihat?" tanya Hazel ketika melihat Alyss yang sangat antusias melihat ke luar.
"Balon. Ada balon yang terbang." jawab Alyss tanpa melihat ke arah Hazel, dan tetap melihat ke arah balon yang berbentuk oval bewarna ungu metalik itu.
"Balon? Kau lihat yang seperti itu? Seperti anak-anak saja." ucap Hazel ketika tau ternyata Alyss sangat antusias saat melihat balon.
Alyss pun kesal saat mendengar ucapan Hazel, ia berbalik dan melihat ke arah Hazel.
"Kenapa memang nya? Kan jarang ada balon yang terbang seperti itu!" jawab Alyss kesal.
Hazel pun yang melihat wajah kesal Alyss menjadi tertawa, ia mencubit kecil hidung Alyss karna Alyss semakin terlihat menggemaskan baginya.
"Kau mau lihat seribu balon terbang ke udara?" tanya Hazel dengan senyuman di wajah nya.
"Seribu balon?" Alyss yang sebelumnya semakin kesal karna Hazel tertawa dan mencubit hidung nya kini mulai membayangkan ribuan balon yang terbang ke udara, membuatnya rasa kesal nya terlupa sejenak.
"Memang bisa yah? Kan perlu banyak biaya, terus sanitasi nya juga kan?" tanya Alyss dengan wajah bingung.
Dan jika memang ia dapat melihat nya, ia tak bisa membayangkan sebagus apa itu nanti.
"Bisa jika kau mau, lagi pula kenapa kau memikirkan biaya? Kan bukan menggunakan uang mu." jawab Hazel yang semakin tertawa mendengar pertanyaan polos Alyss.
Alyss mulai mengangguk perlahan tanda ia mengerti.
"Tidak! Tidak perlu, aku tak ingin melihatnya." jawab Alyss yang berlainan dengan hatinya. Ia menjawab seperti itu agar Hazel tak mengejek nya mirip seperti anak-anak lagi.
Hazel memperhatikan wajah Alyss yang terlihat kesal, ia pun kemudian teringat dengan tempat wisata yang ia lihat tadi, yang mengharuskan menaiki 2000 anak tangga untuk sampai ke tujuan nya. Ia pun mulai berfikir untuk membuat kejutan pada Alyss.
Flashback off.
......................
Kediaman Hazel.
"Makanya lain kali tidak usah pakai sepatu yang tinggi." ucap Hazel sembari mengobati luka lecet di tumit Alyss.
"Ga tinggi kok, cuma 5 cm." jawab Alyss pada Hazel.
Plak!
Hazel memukul betis Alyss dengan tangan nya ketika Alyss membantah ucapannya.
"Membantah lagi?!" tanya Hazel sembari melihat ke arah Alyss.
"Ti-tidak..." jawab Alyss lirih sembari terus mengusap bulu halus Bulbul yang sedang ia peluk.
Mereka sedang duduk di sofa panjang dan Hazel meletakkan kaki Alyss ke atas paha nya agar memudahkan nya mengobati luka di kaki Alyss.
"Sudah." ucap Hazel ketika selesai menutup luka tersebut dengan plester.
"Kau sepertinya sangat menyukai kucing jelek itu?" ucap Hazel sembari melihat Alyss yang dari tadi sibuk mengunyel-uyel Bulbul.
"Kucing jelek? Dia tidak jelek! Dia sangat cantik!" jawab Alyss sembari semakin memeluk kucing gemuk dengan bulu lebat dan halus itu.
Hazel hanya memutar bola mata nya dengan malas melihat Alyss yang begitu menyayangi kucing peliharaan nya.
ia pun mulai bangun dari duduk nya setelah mengobati luka lecet di kaki Alyss, ia segera menuju ruang kerjanya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan nya yang tertunda.
Alyss pun semakin menselonjorkan tubuhnya di atas sofa panjang yang empuk itu dan semakin bermain dengan Bulbul ketika melihat Hazel pergi.
......................
Ruang kerja Hazel.
"Kau sudah dapat kabar tentang Sation Company?" tanya Hazel dari telpon pada Rian.
"Sudah, saat aku membuat janji dengan mereka. Mereka bilang Presdir Jimmy yang akan datang sendiri ke RS minggu depan untuk menemui mu." jawab Rian
"Jimmy? Dia ingin datang sendiri? Yasudah buat janji temu ku dengan nya minggu depan." ucap Hazel.
"Ya, karna salah satu sepupunya di rawat di RS kita, maka dari itu ia ingin sekalian bertemu dengan mu." jawab Rian.
Setelah menanyakan hal tersebut Hazel pun menutup telpon nya dan melanjutkan kembali pekerjaan nya.
Pukul 07.35 PM
Setelah selesai makan malam Hazel pun ke kamar nya untuk mencari barang yang ia perlukan, dan saat ia mulai membuka satu persatu laci yang berada di meja rias kamarnya, tanpa sengaja ia menemukan Pil KB yang tak sengaja jatuh ketika ia membuka laci tersebut.
Hazel pun mengambil Pil tersebut, ia mengerutkan kening nya dan mulai merasa kesal pada Alyss. Pasalnya Pil itu tak mungkin milik orang lain kecuali Alyss.
"Berani sekali dia meminum obat seperti ini tanpa izin ku." ucap Hazel lirih dengan geram.
Cklik...
Suara pintu yang terbuka saat Alyss masuk, ia pergi ke kamar Hazel karna ingin mengambil ponselnya yang ia tinggal di meja yang berada di kamar Hazel.
Alyss seketika mematung ketika melihat Hazel yang sedang memegang pil KB yang ia gunakan beberapa hari lalu.
Hazel mengalihkan pandangan nya ketika mendengar seseorang membuka pintu kamarnya, ia melihat Alyss yang berdiri mematung di hadapan nya dengan wajah yang sangat gelisah. Ia pun segera melangkahkan kaki nya mendekati Alyss.
"Apa ini? Hm?" tanya Hazel sembari menunjukkan obat pil KB yang berada di tangan nya.
"I-itu...
A-aku...." jawab Alyss gugup, ia benar-benar tak tau harus berkata apa.
"Apa?!" tanya Hazel dengan nada tinggi seperti sedang membentak Alyss.
Sontak saja Alyss langsung terkejut mendengar suara besar Hazel. Ia pun memundur kecil kebelakang agar sedikit menjauh dari Hazel.
"Auchh..." Alyss yang meringis ketika Hazel menangkap lengan atasnya dan langsung memegang nya kuat.
"Ma-maaf...
A-aku belum siap jika aku..." jawab Alyss lirih yang mata nya mulai berkaca-kaca menatap Hazel.
Hazel hanya diam memperhatikan iris Alyss dengan lekat, ia menatap Alyss dengan tatapan yang sangat tajam sembari terus mencengkram kuat lengan atas Alyss, yang membuat wanita di hadapan nya mulai meringis kesakitan dan gemetar karna takut.
"Kau... kau...
Menggugurkan nya terakhir kali, aku belum siap jika aku sampai hamil lagi...." sambung Alyss lirih dengan menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap iris Hazel yang memberi nya tatapan tajam.
"Sejak kapan? Hm?" tanya Hazel dengan semakin mencengkram lengan atas Alyss yang membuat Alyss semakin meringis kesakitan.
"Se-sejak pulang dari perawatan, saat aku mulai masuk kerja lagi." jawab Alyss jujur. Sebelumnya Karna saat ia mulai membaik di masa perawatan nya Hazel menidurinya lagi, maka dari itu ia mulai membeli pil tersebut saat kembali masuk ke RS.
Hazel mendesah kasar mendengar jawaban Alyss, ia memejamkan mata sesaat untuk meredam amarah yang tertahan di kepalanya.
Ia pun kembali membuka matanya dan melihat Alyss yang sudah semakin gemetar dan meringis kesakitan karna ia mencengkram lengan atasnya dengan kuat. Ia tak ingin bertengkar lagi dengan Alyss, karna hubungan mereka saat ini sudah mulai membaik.
Hazel pun melepaskan cengkraman nya perlahan, dan menatap Alyss.
"Apa dulu aku membuat mu hamil karna kau sudah siap? Tidak kan?" tanya Hazel sembari menatap wajah Alyss.
Alyss tak bisa menjawab pertanyaan Hazel ia hanya tetap terdiam.
"Kau akan ingin terus meminumnya? Hm? Katakan dengan jujur, aku tak akan marah ataupun menghukum mu, apapun jawaban yang kau berikan pada ku." ucap Hazel pada Alyss.
"Be-benarkah? Ka-kalau aku tetap meminum nya kau tak akan marah?" tanya Alyss gugup pada Hazel.
Hazel menjawab pertanyaan Alyss dengan anggukan di kepalanya.
"Jadi kau ingin tetap meminum nya?" tanya Hazel memastikan pada Alyss.
"I-iya..." jawab Alyss lirih dengan suara yang sangat pelan dan menundukkan kepalanya.
Hazel pun membuang nafasnya dengan kasar.
"Yasudah, kau bisa tetap meminumnya." ucap Hazel yang berusaha menahan amarahnya, ia bisa mengerti Alyss yang masih takut memiliki bayi, karna ia sendiri juga merasakan nya. Ia takut jika ia akan kehilangan calon anaknya lagi.
"Kau ingin tidur lebih cepat?" tanya Hazel.
"Ti-tidak...
tadi aku ke sini karna mau mengambil HP." jawab Alyss jujur.
"Yasudah sana ambil." ucap Hazel.
Alyss pun langsung mengambil ponsel nya dengan cepat dan sesegera mungkin keluar dari kamar itu, ia takut Hazel akan berubah pikiran dan menghukum nya lagi.
Saat Hazel melihat Alyss yang sudah keluar dari kamar nya, ia pun mengambil pil tersebut dan memfoto nya.
Ia pun memerintahkan Rian untuk membuat obat yang terlihat sama persis mulai dari kemasan hingga bentuk obatnya, hanya saja memiliki kandungan yang berbeda. Ia meminta Rian mengganti kandungan tersebut dengan obat penyubur.
Jadi Hazel akan menukar obat pil KB Alyss dengan obat penyubur kandungan dan rahim tanpa sepengetahuan Alyss, karna walaupun ia masih teringat dengan calon anak nya yang sebelumnya bukan berarti ia tak menginginkannya lagi.
Alyss berlari secepat mungkin pergi dari kamar itu, jantung nya masih berdegup dengan kencang, tangan kecil nya menggenggam ponsel yang ia bawa dengan erat. Ia sangat takut jika Hazel akan menghukum nya lagi.
Ia pun mulai mendudukkan dirinya di salah satu sofa panjang yang tak jauh darinya. Ia membuka ponsel nya. Ia tak tau apa yang ingin ia lihat, karna saat ini pikiran nya masih sangat kacau, ia masih sangat gelisah.
Pukul 11.35 PM.
Hazel telah menyelesaikan semua pekerjaan yang tertunda karna ia tak datang ke RS tadi. Ia pun segera ke kamarnya dan ingin mengistirahatkan tubuhnya. Namun saat ia sampai di kamarnya ia tak melihat Alyss berada disana.
Padahal malam sudah semakin larut, Hazel pun segera mencari Alyss ke seluruh sudut rumahnya, langkahnya pun terhenti saat melihat Alyss yang tertidur di atas sofa di salah satu ruangan rumahnya.
Ia pun segera mengangkat tubuh Alyss perlahan agar tak membangunkannya, dan memindahkan nya ke kamar.
Alyss tanpa sadar tertidur di atas sofa tersebut karna takut kembali ke kamar, ia takut jika bertemu dengan Hazel. Ia takut jika Hazel akan menghukum nya.
"Kenapa kau selalu punya cara untuk membuat ku marah? Hm?" tanya Hazel pelan sembari mengelus wajah Alyss yang tertidur.
Hazel pun mencium bibir Alyss dengan lembut agar tak membuatnya bangun, setelah ia menciumnya ia pun ikut tidur sembari memeluk Alyss.
......................
Sementara itu....
Kediaman William.
"Sudah dapat info tentang wanita yang ku suruh cari tau?" tanya Will saat sekretaris nya datang.
"Sudah tuan." jawab sekretarisnya sembari memberikan map berisi tentang informasi Alyss.
Will pun mengambil map tersebut dan mulai membaca nya.
"Dia sepertinya tumbuh di keluarga yang baik, Orang tua nya juga bukan termasuk orang miskin...
Lumayan...." ucap Will lirih sembari membalik kertas yang ada di hadapan nya.
"Sayang.....
Kamu kok membicarakan wanita lain sih? Kan aku disini?" tanya manja salah satu wanita Will yang sedang menemaninya tidur.
"Bukan urusan mu." jawab Will ketus.
"Tuan, sepertinya ada beberapa hal yang anda harus tau. Dia memiliki rumor hubungan dengan putra anda." ucap sekretaris Will.
"Maksudmu dia berkencan dengan Hazel?" tanya Will dengan mengerutkan dahinya.
"Benar tuan." jawab sekretaris Will.
"Wahh...
Benar-benar semakin membuat ku penasaran, aku jadi benar-benar ingin mencoba nya." ucap Will dengan menyungging kan bibir nya.
"Ihh...
Apa bagus nya sih perempuan jelek ini?!" tanya wanita Will yang semakin geram ketika mendengar ucapan Will dan langsung mengambil kertas yang berisi informasi Alyss dari tangan Will.
"Kau berulah? Aku sudah membayar mu, dan kau malah membuat ku kesal?! Dasar jalang!!!" ucap Will kesal saat wanita bayaran nya bersikap sesuka hati.
Ia pun langsung melayangkan tangan nya ke wajah wanita itu, dan menampar secara membabi buta.
"Tongkat bisbol." ucap Will yang mengisyaratkan sekretarisnya untuk mengambil tongkat bisbol nya.
"Ini tuan." jawab sekretaris Will ketika sudah mengambil tongkat bisbol tersebut.
Will pun langsung memukul wanita tersebut hingga membuat tubuh wanita tersebut. Wanita itu terus saja meringis dan memohon ampun saat ia merasakan tulang di tubuhnya hampir remuk semua.
"Kau urus dia!" ucap Will pada sekretarisnya dan mengambil map informasi Alyss, lalu pergi meninggalkan wanita bayaran nya yang sudah tak sadarkan diri dengan berlumuran darah.
......................
Othor kasih visual nya yang versi kaca mata yah hihi🤭🤭
Alysscalla Zalea
Hazel Rai
...****************...
Hai hai jangan lupa Like, Rate 5, Vote, Fav, serta dukungan yang bisa kalian berikan ke othor.❤️❤️❤️
Oh iya jangan lupa komen yah hihi...
Komen kalian tuh mood booster banget buat othor🤗🤗🤗
Terimakasih kasih atas dukungan yang sudah kalian berikan ke othor.🥰🥰🥰
Happy Reading🥰🥰🥰❤️❤️❤️❤️