(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Please! Don't!



Pria yang awalnya hanya menarik tangan nya kini mengeluarkan pistol dari balik jas yang ia kenakan.


"Tu-tunggu dulu! Penggunaan senjata api kan tak boleh sembarangan! Kau bisa di hukum! Dan lagi..." ucap gadis itu panik tak mampu memikirkan kalimat selanjutnya.


"Dan lagi aku punya beberapa orang berpengaruh!" ucap gadis itu dengan percaya diri.


Kaki nya ingin melangkah keluar berlari namun, pintu tersebut sudah dihalangi, gadis cantik itu kini benar-benar terjebak di kandang singa.


"Kau punya pendukung?" tanya pria itu memandang dengan tatapan meremehkan.


"Iya!" jawab Louise dengan berusaha percaya diri, gadis angkuh yang selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan itu sedang berada di situasi yang menghimpitnya.


"Kau bilang kau pelayan baru kan? Kalau begitu kesini dan layani aku." ucap pria tersebut dengan senyuman yang sulit diartikan.


Wanita penghibur yang berada di samping pria tersebut tentu saja langsung menatap tak suka pada gadis cantik itu.


"Itu...


Aku bukan pelayan baru...


Pemilik tempat ini, meminta tolong pada ku untuk membantu nya...


Begitu..." ucap Louise yang berusaha beralasan dan berjalan sedikit demi sedikit mendekati pintu lagi.


Pria yang menatap tajam gadis itu hanya diam dengan wajah datar nya.


"Bawa dia kesini." perintah nya dengan tatapan dingin.


"Tu-tunggu! Lepas!" ucap Louise saat pria tadi menarik lengan nya dan menyeret nya mendekati pria es itu.


Auch!


"Ckk, Sial!" umpat gadis itu dan langsung ingin bangun saat pria yang sebelum nya tertarik pada nya kini malah menghempas tubuh nya ke pria dengan tatapan dingin tersebut.


Ukh!


"Le-lepas!" ucap nya terbata saat pria di hadapan tiba-tiba melingkarkan tangan nya ke leher jenjang nya membuat gadis itu seketika sulit bernafas.


"Siapa kau?" tanya pria dengan memandang wajah yang mulai memerah karna cekikan nya.


"Ukh! Le-lepas dulu! Si-sial!" jawab nya yang masih sempat mengumpat sembari mencakar dan memukul tangan pria itu.


Pria itu hanya tersenyum, ia belum pernah melihat gadis yang masih sempat memaki walaupun sudah hampir mati kehabisan nafas.


Tangan nya mengambil sesuatu di dalam jas dan mulai melepaskan cekikan nya.


"Uhuk! Dasar Sialan! Kau pikir aku tak bi- Akh!" belum siap Louise memarahi pria yang mencekik nya ia sudah merasakan benda tajam dan dingin menyentuh leher nya.


Entah sejak kapan pria itu mengeluarkan pisau nya namun kini, pisau itu sudah berada di leher gadis cantik si pembuat onar tanpa tau kapan di keluarkan.


"Sekarang sudah bisa menjawab? Siapa kau? Dan siapa yang menyuruh mu?" tanya nya lagi dengan tatapan yang semakin tajam dan semakin menggores leher jenjang itu.


"Aku tak mengerti apa yang kau ucapkan...


Tapi apapun yang akan ku katakan kau tak akan percaya kan?" jawab Louise sembari menatap balik pria di hadapan nya.


"Kalau begitu kau mati saja." ucap pria itu enteng dan mulai menembus leher jenjang gadis cantik itu dengan pisau tajam nya.


"Yah...


Sayang sekali...


Padahal dia cantik..." ucap pria yang sebelumnya sangat tertarik dengan Louise.


Gadis cantik itu tentunya tak ingin mati dengan sia-sia, menahan pisau tajam tersebut dengan tangan nya dan langsung berusaha ingin melepaskan diri.


Sregg...


Tes...tes...tes...


Tangan gadis itu di penuhi darah saat ia berusaha menyingkirkan pisau tajam yang sedang ingin membeset leher jenjang nya.


Prang!!!


Suara pecahan botol alkohol yang terdengar nyaring hingga para wanita penghibur tersebut terkejut.


"Apa yang coba kau lakukan?" tanya pria itu dengan mulai menyeringai menatap gadis pemberani di hadapan nya.


"Menurut mu?" tanya Louise sembari memberikan pecahan kaca runcing di leher pria itu saat pria asing tersebut menarik tubuh nya hingga terjatuh ke pangkuan pria itu.


"Kalau kau mencoba melukai ku...


Kau akan mati lebih dulu..." bisik pria itu tersenyum saat teman nya yang lain sudah menodongkan pistol tepat di belakang kepala gadis itu.


"Kalaupun aku mati aku akan membawa mu ikut! Setidaknya kau harus terluka! Aku tak mau mati konyol!" jawab Louise sembari menatap tajam ke arah pria itu.


Tubuh nya merasa gemetaran karna takut, namun ia berusaha mengendalikan rasa takutnya.


"Padahal kau sudah ketakutan...


Apa guna nya mencoba menjadi berani? Apa karna ini hari terakhir mu?" tanya pria enteng sembari menyingkirkan anak rambut di kening gadis di hadapan nya dan menatap wajah cantik itu.


Louise pun menatap heran ke arah pria itu, bagaimana pria itu tak menunjukkan ekspresi meringis sama sekali saat ujung pecahan botol yang ia letakkan semakin ia tekan hingga mulai mengeluarkan darah namun pria tersebut tak seperti kesakitan sama sekali.


"Orang tua ku tak mengajari ku menjadi penakut!" ucap nya sembari terus berusaha melukai pria itu dan menatap tajam ke arah pria yang sedang menyeringai padanya.


Tes...tes...tes...


Darah yang mengalir dari tangan nya mulai menyatu ke darah yang keluar dari leher pria itu.


"Turunkan senjata kalian kalian." perintah tersebut pria tersebut agar tak menodongkan pistol ke kepala gadis itu lagi.


"Sekarang kau aku bisa pergi?" tanya gadis itu mengernyitkan dahi nya.


Hummpphhh....


Tanpa menjawab pria dingin tersebut malah mencium bibir gadis itu tiba-tiba. Tak hanya Louise yang terkejut namun seluruh ruangan di tempat itu pun terkejut melihat sikap pimpinan mereka yang memaksa seorang gadis.


Plak!


Satu tamparan kuat melayang di pipi pria tersebut saat ia melepaskan ciuman nya.


"Sial! Itu ciuman pertama ku!" ucap Louise sembari langsung bangun dari pangkuan pria di hadapan nya.


Hah...hah...hah...


Nafas gadis itu mulai tak teratur, jantung nya berdebar dengan keras dan dirinya terselimuti rasa takut yang tak ia kenal. Rasa jijik dan kotor selalu datang pada nya saat pria asing menyentuhnya.


"Ciuman pertama? Pantas saja ciuman mu sangat buruk..." ucap pria di hadapan nya dengan enteng dan tertawa kecil sembari mengusap bibir nya.


"Sekarang kau milik ku!" ucap pria tersebut tersenyum.


Melihat gadis seperti itu di hadapan nya membuatnya merasa seperti memilki mainan baru yang ingin ia dapatkan.


"Pria gila! Brengsek!" umpat nya sembari menatap tajam ke arah pria yang terus menyeringai padanya.


Louise pun langsung berusaha bergegas keluar dari ruangan itu. Pria yang sedari tadi menyeringai itu pun memberi isyarat agar tak mengejar gadis itu lagi.


"Kenapa membiarkan nya keluar? Bukan nya kau yang bilang dia mencurigakan?" tanya salah satu bawahan pria tersebut.


"Cari tau tentang nya, dan bunuh semua semua keluarga nya." perintah pria tersebut tanpa rasa bersalah saat memerintahkan pembunuhan pada keluarga orang lain.


......................


Langkah nya semakin sulit, nafasnya kian sesak dengan jantung yang semakin berdebar keras.


Drrtt...drrtt...drtt....


Getaran ponselnya membuat nya tersadar dan langsung mengangkat nya.


"Louise? Dimana? Aku sudah keliling?" tanya pria yang langsung tersambung saat gadis itu mengangkat telpon nya.


"Zayn...


Hah...hah...hah..


A-aku berada di lantai dua..." jawab gadis itu lirih pada sahabat nya.


Sejak pria yang berada di dalam ruangan itu mencium nya, ia mulai merasakan trauma dan serangan panik.


Dada nya terasa sesak yang membuat nya sulit bernafas, ia tak tau alasan nya kenapa sangat benci dengan sentuhan pria.


Zayn yang mendengarkan hal itu pun langsung lari tergesa-gesa menuju lantai dua, ia begitu panik dan khawatir ketika mendengar suara gadis kesayangan nya terlihat begitu kesakitan.


"Louise?!" panggil Zayn saat melihat gadis itu sudah terjatuh di lorong sembari memegang dada nya yang terasa sesak.


"Zayn...


Aku..." ucap nya lirih sebelum pandangan nya menjadi gelap.


......................


London.


Hotel Grand Axias


Louis masih melihat dokumen yang berantakan di hadapan nya. Mata nya menelisik dengan ke arah setumpuk pekerjaan nya namun pikiran nya masih melayang ke sang adik yang tak dapat di temukan oleh para pengawal yang ia kirim.


"Anda ingin saya buatkan kopi atau teh?" tanya Clara sembari menatap atasan nya yang terlihat begitu frustasi.


Ia mulai bekerja sebagai sekertaris selama satu tahun belakangan, jurusan manajemen bukanlah yang seharusnya ia ambil, terlahir di keluarga yang berprofesi sebagai dokter mengharuskan nya menggeluti pekerjaan itu juga.


Namun ia yang tak bisa melihat darah dan akhirnya menyerah sehingga keluar dari kuliah kedokteran nya dan mengambil jurusan lain.


Melamar sebagai sekretaris presdir di JBS hospital grup namun mengaku tetap menjadi dokter pada keluarga nya.


Walaupun ia di didik dengan keras sejak kecil namun, ia tau didikan keras orang tua nya karna ingin ia memiliki kehidupan yang baik.


"Hm..." jawab Louis tanpa melihat ke arah sekretaris nya.


Ia sudah terbiasa lembur bersama sekretarisnya karna urusan pekerjaan, pria itu tak pernah berfikir untuk macam-macam pada gadis itu walaupun mereka sering berada di dalam ruangan yang sama semalam.


"Para pengawal itu sudah menemukan adik ku?" tanya Louis yang akhirnya tak tahan lagi karna terus memikirkan adik perempuan nya.


"Saya sudah hubungi, tapi mereka belum menemukan nya." jawab Clara pada atasan nya. "Apa saya perlu menghubungi teman-teman nona yang lain?" tanya nya lagi.


"Teman nya cuma satu! Dan aku yakin pasti teman nya itu pasti akan membela nya!" jawab Louis berdecak kesal pada sekertaris nya.


Ia tau jika adiknya hanya memilki satu teman yaitu teman masa kecil mereka yang tak lain adalah Zayn. Dan percuma saja ia bertanya pada Zayn jika hasil nya pria itu pasti akan tetap membela adik nya.


Clara hanya terdiam, ia tau atasan nya sedang berada di perasaan yang tak senang, maka dari itu ia berusaha diam agar pria tampan itu melampiaskan kekesalan nya pada dirinya.


"Kenapa laporan nya seperti ini? Ulang!" ucap Louis sembari melempar tumpukan kertas ke arah gadis di hadapan nya.


"Eh? Tapi ini kan sudah sesuai yang seperti presdir minta..." ucap gadis itu sembari mengutip satu persatu dokumen yang di lemparkan atasan nya.


"Kalau ku suruh ulang yah kau ulang!" jawab sang presdir mendengus kesal.


Gadis itu hanya menarik nafas nya dengan panjang.


Sabar Cla...


Cari kerja itu susah...


Jangan lempar kopi ke wajah atasan mu...


Batin gadis manis sembari menyusun kembali dokumen di hadapan nya, ia tau tak ada yang salah dengan laporan nya namun atasan nya melampiaskan kekesalan pada nya. Gadis manis itu berusaha sebisa mungkin menahan dirinya agar tak menyiram kopi ke wajah atasan nya yang menyebalkan itu.


......................


Kediaman keluarga Rai.


Setelah membawa gadis yang ia sukai ke rumah sakit, Zayn langsung membawa sahabat nya kembali ke kediaman mewah tempat tinggal gadis itu.


"Louise!" panggil Zayn saat melihat gadis itu mulai sadar.


Saat menemukan Louise ia sangat terkejut melihat tangan dan leher gadis itu berlumuran darah, belum lagi gadis cantik yang langsung kehilangan kesadaran nya begitu teman nya menjemput nya.


"Zayn?" panggil nya lirih dan langsung bangun serta menarik pria yang duduk di pinggir ranjang nya.


"Zayn...


Aku takut..." cicit nya lirih saat memeluk sahabat pria nya, baginya Zayn sama seperti ayah dan kakak nya. Ia tak pernah merasa takut atau pun jijik dengan sentuhan ketiga pria itu.


Gadis itu sama sekali tak memilki kewaspadaan saat bersama Sahabat nya. Karna ia yakin jika sahabat nya takkan pernah menyakitinya seperti kakak dan ayah nya.


"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Zayn lembut sembari membalas pelukan gadis itu dan mengelus bagian belakang kepala nya dengan perlahan.


"Zayn...


Jangan pulang yah...


Menginap disini saja..." ucap gadis itu lirih sembari melepaskan pelukan nya.


"Yasudah, nanti aku bilang Papa sama Louis yah..." jawab Zayn yang selalu mengiyakan permintaan sahabat nya.


"Tidur di sini yah..." ucap gadis itu sembari menggeser tubuh nya mengisyaratkan agar teman nya tidur di ranjang yang sama dengan nya.


Zayn terdiam beberapa saat mendengar ucapan gadis itu. Ia bukanlah anak-anak lagi tetapi pria dewasa berumur 23 tahun. Namun gadis di hadapan nya selalu menganggap nya seperti saat mereka kecil.


"Aku di sofa saja..." tolak Zayn halus pada sahabat nya, ia takut tak bisa menahan dirinya jika tidur berada di ranjang yang sama dengan wanita yang ia sukai.


"Kenapa? Disini saja..." ucap Louise sekali lagi sembari memegang tangan sahabat pria nya. Ia terlalu naif untuk berpikir ke arah hubungan sahabat yang bisa menjerumus ke arah lain.


"Kita bukan anak-anak lagi...


Aku juga bukan anak-anak Louise..." jawab Zayn lirih.


"Ishh...


Apa hubungan nya sih? Anak-anak sama minta di temani tidur?!" tanya Louise kesal, gadis itu memang harus selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Dulu juga kita tidur nya bareng!" sambung gadis itu mendengus kesal. Setiap kali Zayn menginap di tempat atau Ia dan kakak nya yang menginap di tempat Zayn mereka selalu tidur bersama.


"Waktu itu kita kan masih 6 tahunan..." jawab Zayn pada gadis di hadapan nya, entah terlalu naif atau masa bodoh ia juga tak dapat mengerti.


"Terus kalau sekarang memang kenapa?" tanya Louise yang tetap kukuh pada pendirian nya.


"Kalau aku tiba-tiba menyerang mu bagaimana? Aku juga pria..." jawab Zayn pada gadis itu.


"Ihh...


Zayn kesayangan aku udah besar..." ucap Louise yang langsung merubah mood nya mengelus bawah dagu kekar pria itu layak nya anak kucing.


"Aku bercanda Louise!" ucap Zayn yang sekarang berdecak kesal.


"Kenapa sih? Aku takut Zayn..." ucap nya lirih sembari memandang pria tersebut.


"Yasudah, bentar aku telpon Louis dulu...


Lagi khawatir ini dia pasti..." ucap Zayn menarik nafas panjang dan akhirnya menuruti permintaan gadis keras kepala di hadapan nya.


"Bilang aku di rumah saja yah!" ucap Louise riang pada teman nya.


"Gak! Aku akan bilang kau dari club!" jawab Zayn kesal, ia sangat khawatir saat melihat Louise terluka seperti itu.


"Jangan! Nanti kartu ku di bekukan!" cegah Louise pada teman nya.


"Makanya jangan kesana! Kalau kau tidak terluka yah tidak apa-apa! Ini?!" jawab Zayn kesal dengan nada tinggi karna merasa khawatir.


Gadis itu tersentak dan langsung terdiam saat teman yang selalu mengikuti semua kemauan nya membentak nya.


Setelah mengabari Louis dan Ayah nya mengatakan jika saat ini Louise bersama nya ia pun kembali lagi ke kamar gadis itu.


"Kau marah pada ku?" tanya Zayn saat melihat wajah cemberut dan kesal gadis itu.


"Aku tidur di luar yah...." ucap Zayn saat tak ada jawaban dari gadis cantik itu.


Tangan kecil gadis itu langsung menggapai sweter yang di kenakan sahabat pria nya.


"Katanya mau nemenin tidur..." ucap Louise lirih, walaupun ia marah namun ia tak mau sendiri karna mengingat apa yang pria asing itu lakukan pada nya.


Pria itu pun hanya menarik nafas dan mulai tidur di sebelah gadis itu. Ia menepuk dengan lembut punggung Louise sampai gadis cantik itu benar-benar tertidur.


"Kau seharusnya lebih berhati-hati jika dengan pria...


Walaupun dengan ku..." ucap Zayn lirih sembari menarik lembut rambut halus gadis yang sudah tertidur itu dan mencium nya.


......................


2 Hari kemudian.


Pesta pertemuan bisnis.


Louis harus menghadiri beberapa pesta yang di wajibkan bagi pebisnis sepertinya.


Banyak sekali wanita-wanita yang berada di lingkaran sosial teratas itu tertarik pada nya hingga menginginkan untuk melewati malam panjang pada nya.


Jantung nya berdegup dengan kencang, tubuh nya memanas dan ia tak bisa mengendalikan hasrat dan keinginan nya. Ia tak pernah seperti ini sebelum nya.


"Are you okey?" tanya wanita yang sedang bersama Louis saat itu, ia tersenyum dengan penuh penekanan saat melihat pria yang ia inginkan sudah mulai di bawah kendali nya.


"Don't touch! B*tch!" ucap Louis marah, ia segera memanggil sekretarisnya agar segera menemui nya. Ia tak mau sampai menimbulkan masalah dan reputasi nya tercoreng.


"Presdir?" tanya Clara sembari mengernyit kan dahi nya melihat atasan nya yang terlihat kurang baik.


"Kembali ke kamar!" perintah Louis pada gadis itu agar segera membawa nya kembali ke kamar mereka di hotel tesebut.


Clara membawa pria yang terlihat mabuk itu namun tak mabuk sama sekali ke kamar yang di pesan atasan nya di hotel tersebut.


"Saya akan buatkan air hangat..." ucap Clara saat ia meletakkan pria itu ke atas ranjang.


Greb!


"Auch!" pekik gadis itu saat tangan nya di tarik dan di jatuhkan di atas ranjang luas dan empuk itu.


"Pre-presdir.." panggil Clara lirih saat ia mulai takut karna tak bisa melepaskan kungkungan pria dihadapan nya.


Hummpphh....


Mata nya langsung terbelalak saat tiba-tiba presdir yang di hormati sebagai atasan nya itu mencium paksa bibir nya. Tubuh nya berusaha memberontak dari kungkungan pria itu.


Ku mohon jangan...


...****************...


Haii...


Ini visual nya nya...


Kalau gak sesuai maaf yah, kalian bisa ganti sesuai imajinasi kalian kalau gak cocok😉😉




Elouis Steinfeld Rai




Athan James Dachinko




Zayn Nathan Etrama