
Louise mulai gugup ia mendengar ucapan pria di depan nya, ingin rasa nya ia kembali memaki namun tau jika situasi nya tak mendukung sama sekali untuk melakukan hal tersebut.
Ia pun memaksakan dirinya untuk tersenyum pada pria bertopeng di depan nya.
Pria itu pun menarik pistol nya dan memperhatikan lagi wajah gadis itu guna melihat sudut yang tercipta di wajah nya.
"Tak heran dia suka pada mu," ucap nya saat melihat wajah cantik gadis di depan.
Ia tau kebanyakan dari pria pasti memilih wajah yang sempurna dan cantik.
"Tapi sikap kalian sangat berbeda, kenapa dia bisa suka?" gumam nya lagi yang membandingkan dengan sifat Bella yang pemalu, lembut dan penakut.
"Kau membicarakan siapa?" tanya Louise lirih.
"Mau ku beri tau? Pria yang membuat mu dalam situasi seperti ini adalah James, kau mengenal nya kan?" tanya pria itu dengan senyuman simpul di bibir nya.
"Tidak kenal, salah menculik orang kau mungkin." ucap Louise pada pria tersebut, "Eh, kenal sih. Tapi bukan pacaran kok..." sambung Louise saat melihat wajah tak percaya pria tersebut.
"Pacaran atau tidak yang penting dia menyukai mu, aku ingin menghancurkan apa yang dia sukai." ucap pria tersebut sembari menggunakan kode tangan untuk melakukan sesuatu.
Louise tersentak ia tak mengerti namun ia dapat tau jika sesuatu mungkin akan terjadi pada nya.
"Tapi dia tak pernah bilang kalau menyukai ku! Kau salah orang! Dia benar-benar tak suka pada ku!" ucap Louise pada pria di depan nya.
Ia memang tak pernah sekalipun mendapat pengakuan dari James tentang perasaan nya, bahkan saat ia bertanya pun pria tersebut tak pernah memberi jawaban pasti pada nya.
"Kau pikir aku bodoh? Semua orang memiliki mata untuk melihat kalian." ucap nya dengan tawa sinis.
Louise mengerutkan dahi nya, ia melihat seseorang yang membawa box kotak berwarna hitam.
Sedangkan pria yang lain membuka kotak tersebut yang memiliki dua ampul botol kecil dengan tutup berwarna hitam dan merah, serta satu spuit jarum dengan ukuran 3 ml.
"Itu untuk apa?" tanya Louise lirih.
"Kau bilang aku tampan kan?" tanya pria itu sembari menyentuh dagu gadis cantik tersebut.
"Tentu saja..." jawab Louise yang mulai merasa gugup.
"Kalau begitu tak masalah melakukan nya dengan ku, kan?" tanya pria tersebut dengan senyuman simpul di bibir nya.
"Me-melakukan apa?" tanya Louise gugup.
"Hal yang sering kau lakukan dengan nya, tenang saja aku juga bisa memuaskan mu." ucap pria tersebut dengan mulai menunjukkan maksud nya.
"Kau mau hal itu dari ku?" tanya Louise yang mulai mengerti arah pembicaraan nya.
"Tentu saja," jawab pria tersebut dengan yakin dan bibir yang semakin tersenyum simpul.
"Kau bisa minta baik-baik! Tak perlu memakai obat!" ucap Louise saat melihat spuit jarum yang di tarik setelah mencampur dua cairan dalam botol kecil tersebut.
"Oh ya? Tapi obat nya akan bereaksi dalam 30 menit, jadi kau akan merasakan sentuhan ku dengan sungguh sebelum obat nya bereaksi," ucap pria tersebut.
"Tapi itu apa?" tanya Louise yang semakin gugup.
"Mungkin Narkotika dan sesuatu yang akan membuat mu nyaman?" jawab pria itu tertawa kecil dengan smirk nya.
Deg...
Mata Louise membulat sempurna mendengar nya, ia sudah tau bagaimana rasa nya di berikan narkotika dan menjadi pecandu serta rasa sakit nya.
Jangan lagi...
Ku mohon...
"Kau sudah merasa takut?" tanya pria tersebut tertawa kecil.
"Kita bisa melakukan nya tanpa memberikan ku itu!" ucap Louise sembari menatap jarum yang mendekat ke arah nya.
"Memang, tapi ingin merusak mu." jawab pria tersebut tersenyum.
......................
Ruang Visi.
"Kami menemukan mobil nona, Presdir!" ucap salah satu staf di ruang visi. Saat ia sudah meretas cctv jalan dan menemukan keberadaan gadis nakal itu.
Louis pun langsung memerintahkan untuk di layangkan di layar utama agar dapat ia lihat.
"Baca gerak mulut mereka," perintah Louis pada bawahan untuk mengetahui pembicaraan beberapa pria yang mencegat adik nya.
Para staf di ruang visi pun mulai menganalisa gerakan mulut para pria tersebut agar mengetahui apa pembicaraan mereka dan bisa mengetahui kemana para pria itu membawa adik nya setelah di borgol.
Zayn pun memperhatikan layar dan gerakan bibir para pria tersebut.
"Kami dari kepolisian, anda di tangkap karna penggunaan obat-obatan terlarang morfin dan heroin." ucap Zayn saat ia melihat bibir salah satu pria yang mengetuk kaca jendela mobil Louise.
Louis pun langsung menatap sahabat nya begitu mendengar apa yang di katakan Zayn.
"Kau bisa membaca gerak bibir mereka?" tanya Louis pada Zayn.
"Hm," jawab Zayn sembari terus memperhatikan layar tersebut.
Para staf di ruang visi cukup terkejut saat ada yang bisa membaca gerak bibir secepat itu dan dengan lancar tanpa memperlambat satu persatu kalimat.
"Mohon keluar nona," ucap Zayn lagi.
Louis pun melihat adik nya yang mulai keluar dari mobil dan berbicara pada para pria tersebut. Staf ruang visi pun langsung mengalihkan sudut cctv yang mengarah pada adik nya.
"Kalian punya surat legal penangkapan ku?" ucap Zayn yang mengatakan apa yang di ucapkan Louise di rekaman tersebut.
Louis pun terus mendengarkan hingga percakapan mereka selesai dan adik nya yang di bawa secara paksa.
"Ulangi pemutaran saat mereka menemukan narkotika nya," ucap Louis guna pengulangan video yang menampilkan narkotika yang di keluarkan dari tas adik nya.
"Di perlambat," ucap Louis lagi dan melihat nya.
"Mereka membawa narkotika di tangan mereka dan mengeluarkan nya dari tas Louise!" ucap Zayn pada Louis.
"Aku baru tau kau memiliki ketelitian dalam melihat," ucap Louis saat melihat Zayn.
Ia tau jika Zayn tak begitu pintar ataupun tak sepintar ia maupun adik nya, namun ia juga baru tau jika pria yang menjadi sahabat nya itu sangat bisa melihat dengan jelas dan lebih teliti dengan mata nya.
"Mungkin karna aku pelukis?" tanya Zayn yang juga bingung.
"Sudah lah, bukan itu masalah nya." ucap Louis memejam, "Sudah cari kemana mereka pergi?" tanya Louis lagi pada para staf di ruang visi.
"Masih kami cari Presdir," ucap salah satu dari mereka yang mulai sibuk dengan komputer masing-masing.
Louis terlihat gusar dan memijat pelipis nya sembari terus memonitoring pekerjaan para bawahan nya dan memberikan perintah.
Sedangkan Zayn mengepalkan tangan nya dengan kuat, ia merasa marah dengan dirinya sendiri yang tak bisa melindungi apa yang ia sukai.
Aku terlalu lemah, aku tak bisa melindungi nya! Aku harus lebih kuat!
Batin nya dengan emosi yang mulai terbangun satu persatu dan juga ambisi yang mulai ada untuk memiliki sesuatu yang ia inginkan.
Tak hanya menunggu di tempat yang sama tanpa pernah membuat langkah baru.
......................
Swiss.
James mulai menyiapkan keberangkatan nya untuk kembali ke negara nya dan mencari langsung, sedari tadi ia sudah memantau dan mencari melacak lokasi gadis itu berada dari jam yang ia berikan.
"Akhirnya..." gumam nya dengan lega saat ia mendapatkan kembali sistem algoritma nya.
Ia pun bergegas menelpon Nick dan meminta pria itu untuk segera menjemput dan memberi bantuan pada gadis nya.
"Aku sudah kirimkan lokasi nya, kau segera kesana! Aku tak mau ada kesalahan dan dia tak boleh terluka! Lindungi dia seperti melindungi nyawa mu sendiri!" ucap James pada Nick dari telpon.
"Baik, Tuan." jawab Nick pada James.
"Aku juga akan kembali, mungkin akan membutuhkan waktu 10 jam. Dia harus selamat saat aku sampai!" ucap James lagi.
"Baik, saya akan segera menjemput nona Louise." jawab Nick pada tuan nya.
James pun mematikan telpon nya ia langsung memakai pesawat pribadi nya guna sampai ke tujuan nya lebih cepat walaupun perjalanan antar negara tak mungkin memakan waktu singkat.
Setelah ia mendapatkan lokasi nya ia langsung tau jika tempat itu adalah lokasi yang sama dengan 5 tahun yang lalu saat pengkhianatan yang di berikan mantan kekasih nya.
Dan kini gadis nya di culik di tempat yang sama dengan gedung yang ia hancurkan dulu dan hampir ia jadikan sebagai gedung pernikahan nya.
"Apa orang yang mengancam Bella? Mereka orang yang sama? Atau Bella ada kaitan nya?" gumam nya sembari terus memikirkan alasan dan siapa pria di balik semua itu.
Hati nya penuh kecemasan yang memenuhi diri nya, ia merasa sangat takut jika sesuatu terjadi pada gadis itu.
Takut jika akan seperti sebelum nya, yaitu kehilangan lagi orang-orang yang berharga di hidup nya.
.....................
Sementara itu.
Nick mengepalkan tangan nya, ia sudah memperlambat pencarian namun tuan nya malah menemukan lokasi Louise lebih cepat.
Sekarang mau tak mau ia harus menyelamatkan gadis itu seperti melindungi nyawa nya agar tuan nya tak curiga pada nya dan tetap membiarkan nya berada di sisi nya.
"Apa sekarang dia sudah mati? Ku harap dia sudah mati saat aku kesana!" ucap nya dengan penuh pengharapan.
Walaupun ia terkadang merasa gadis itu tak membahayakan tuan nya namun ia merasa gadis itu sama sekali tak bisa di tebak yang membuat nya bisa bertindak membahayakan tuan nya di kemudian hari.
......................
Gedung.
"Kau hanya membuat nya semakin lama!" ucap pria tersebut yang sudah mulai menyadari jika gadis di depan nya terus mengoceh dan mengulur waktu agar tak di berikan suntikan.
Pria itu mulai memberikan kode tangan nya dan segera dua bawahan nya menahan tubuh gadis itu kemudian memberikan suntikan secara paksa.
"Jangan! Jangan berikan!" ucap Louise mulai memberontak karna tak ingin di jadikan pecandu lagi setelah susah payah menjalani terapi.
"Kita akan lihat hasil nya setelah 30 menit..." ucap pria tersebut dengan mulai melepaskan borgol dan juga ikatan di kaki Louise.
Plak!
"Dasar gila! Aku tak memiliki masalah apapun dengan mu!" ucap Louise begitu tangan nya terlepas.
Pria itu pun kembali memandang nya dengan mata menyengat, ia menangkap tangan lentik tersebut dan menggigit jemari gadis itu.
"Auch!" ringis Louise yang berusaha melepaskan tangan nya.
Pria itu menarik kuat dan menahan pinggang ramping gadis itu kedalam pelukan nya.
"Bagaimana kalau membiarkan mereka melihat tubuh indah dari putri bungsu JBS? Hm?" bisik pria tersebut.
"Gila! Aku tak mau!" ucap Louise memberontak dalam pelukan pria tersebut.
"Kau tadi menggigit telinga ku, kan?" mau ku balas? Hm?" bisik pria tersebut.
Ia mulai mencium dan menj*lat telinga gadis itu hingga membuat Louise merasa kegelian.
"Kau suka? Hm?" tanya pria itu saat ia melihat reaksi tubuh yang berbeda.
"Kau pikir aku gila! Tidak! Aku tak suka dan tak mau!" ucap Louise memberontak dan berusaha mendorong tubuh pria yang tengah memeluk nya saat ini.
"Kau bilang tadi kau mau?" tanya pria tersebut sembari melangkahkan kaki nya berjalan ke belakang dan membuat nya terjatuh ke atas matras.
"Ukh!" ringis Louise saat terjatuh dan bersamaan pria itu yang ikut langsung menindih nya.
Pria itu pun tersenyum simpul menatap gadis di bawah tubuh nya yang terus mendorong tubuh tegap nya.
Ia pun mulai mencium lagi dari bibir, mata hidung dan memberikan bekas di leher gadis itu, tangan nya baru saja ingin membuka cel*na dalam gadis itu karna Louise yang mengenakan gaun dengan panjang selutut.
Louise berusaha memberontak sebisa mungkin dan menepis tangan yang ia anggap menjijikan tersebut sekuat tenaga nya.
Degupan irama jantung nya mulai berubah dan mulai membuat nya terasa sesak, kondisi fisik nya mulai tak bisa mengendalikan rasa panik nya.
Bawahan Pria itu pun yang menerima sinyal jika ada yang mendekat langsung memberi tau tuan nya.
"Sial! Baru saja mau mulai!" decak nya dengan kesal dan bangun dari tubuh gadis itu.
Ia menatap Louise yang terdiam dengan wajah pucat nya dan kemudian tertawa.
"Kau sedang mengulur waktu kan tadi? Benar-benar hebat! Aku tak bisa remehkan putri konglomerat seperti mu, benar-benar berbeda." ucap nya tertawa saat ia menyadari sejak awal ia lah yang masuk ke lingkupan kendali gadis itu.
Louise masih diam mencerna rasa syok dan terkejut setelah mengalami pelecehan tersebut membuat nya membeku beberapa saat.
"Kita akan bertemu lagi, kau sangat menarik!" bisik pria itu di telinga Louise.
Ia pun mulai keluar dan pergi lebih dulu.
"Jangan biarkan gadis itu kabur dan serang siapapun yang datang," perintah pria tersebut dan pergi lebih dulu.
Ia tak mau identitas terungkap maka dari itu pergi lebih dulu dan membiarkan pertumpahan darah lagi seperti 5 tahun yang lalu di tempat tersebut.
Louise mulai sadar akan rasa terkejut nya mata nya menjatuhkan satu tetes bulir bening melewati wajah pucat nya.
Tangan nya mengepal dengan kuat hingga terlihat gemetar. "Bertemu! Kalau begitu bertemu di neraka!" gumam Louise dengan amarah nya.
BRAK!!!
Suara benturan dan tabrakan keras yang terdengar nyaring dari luar membuat para bawahan pria tersebut datang memeriksa.
"Dia bawahan pria itu kan?" tanya salah satu pria yang menyandra Louise pada rekan nya melihat Nick.
"Dia hanya sendiri, kita bisa menghabisi nya!" sahut rekan pria tersebut.
Nick memang sengaja datang lebih dulu agar ia memiliki situasi yang dapat membuat gadis itu tak selamat walaupun mungkin membahayakan diri nya sendiri.
Para pengikut dan penjaga lain nya tengah menyusul nya.
......................
Ruang Visi.
"Presdir kami sudah menemukan lokasi nona Louise saat ini!" ucap salah satu staf setelah berhasil melacak dimana adik presdir nya tengah di sandra.
"Kesana sekarang! Bawa penjaga bersenjata!" ucap Louis memberikan perintah dan langsung mengambil pistol serta cadangan peluru nya yang ia simpan di balik jas nya.
Jas yang masih memakai pakaian pernikahan nya, Zayn pun ikut dan mereka segera ke atap RS guna menaiki helikopter agar lebih cepat datang ke sana.
......................
DOR!!! DOR!!! DOR!!!
Desiran darah, luka, serta abu yang yang bertebaran terlihat di tempat itu.
Nick melihat ke arah gadis yang kini sedang di balik tubuh nya, ia merasa kesal karna gadis itu masih hidup namun ia sekarang memang harus menyelamatkan nya lebih dulu karna itu adalah perintah tuan nya.
"Lari dengan mobil! Aku akan menahan mereka!" ucap nya dengan nada berbisik sembari memberikan kunci mobil.
"Lalu kau? jumlah mereka bertambah!" ucap Louise yang ingin lari bersama.
"Bawahan tuan yang lain akan datang! Jangan cerewet!" ucap nya dengan nada kesal padahal gadis itu hanya tak ingin ia mati di sana.
"Sana!" ucap Nick lagi yang langsung menembak, Louise pun dengan refleks langsung lari ke arah mobil yang di bawa oleh Nick tadi.
Ia menghidupkan mesin nya dan mulai pergi sedangkan Nick berusaha menghentikan nya.
"Sial!" decak nya dengan kesal karna ia merasa seperti terkena batu nya sendiri.
Louise pun yang mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi mulai merasa gelisah, "Tak apa-apa kan meninggalkan nya? Lagi pula dia juga kuat! Tadi juga dia seperti pura-pura tak lihat!" ucap Louise lirih dengan panik sedangkan nafas nya mulai tak beraturan.
"Tapi..." ucap nya lirih yang tau rasanya harapan hilang setelah mobil yang di kendarai Nick tadi melewati nya begitu saja walau ia yakin pria itu pasti melihat nya.
Rasa kemanusiaan dan iba serta ia tau bagaimana sakit nya saat sedang membutuhkan dengan sangat namun di abaikan membuat nya tak tega meninggalkan pria itu.
Ia pun langsung memutar mobil nya dan kembali ke gedung itu lagi.
Sementara.
"Akh! Dasar lalat rendahan!" maki Nick saat lengan nya tertembak dan peluru nya sudah habis di dalam pistol nya.
Kini ia hanya bisa mengandalkan pisau belati tajam yang selalu ia bawa dan menunggu penjaga lain nya.
BRUM!!!
Suara mobil yang datang mengejutkan dengan langsung menabrak orang-orang yang ingin menembak Nick lagi.
"Nick! Ayo cepat naik!" ucap Louise pada pria itu.
Nick pun sempat terkejut namun respon nya kembali lagi, ia langsung naik setelah mengambil pistol yang terlempar dari orang-orang yang di tabrak.
"Kenapa kembali?!" bentak Nick yang sudah masuk dan duduk di samping Louise sembari memeriksa pistol dan menembak mobil yang mengejar mereka dari jendela.
Louise mulai gemetar walaupun ia tak begitu takut dan bisa mengatasi suara tembakan namun saat ini sudah terlalu banyak suara tembakan yang terdengar.
"Aku kembali untuk mu!" ucap Louise singkat sembari berusaha mengatasi rasa takut nya.
"Apa?" tanya Nick dengan bingung.
Ckitt!!!
"Ki-kita terkepung..." ucap Louise lirih saat mobil yang ia kendarai sudah di kepung dengan 5 mobil lain nya.
"Mereka akan sampai, sebentar lagi." ucap Nick dan ingin keluar.
"Jangan keluar! Kita disini saja sampai yang lain datang!" ucap Louise menahan tangan pria itu.
Ia sudah mulai berkeringat dengan wajah yang kini semakin pucat.
"Jangan penakut! Kau mati bersama?!" tanya Nick dengan kesal.
"Bukan! Aku mau kita sama-sama hidup! Kau bisa mati kalau keluar!" ucap Louise dengan suara yang lirih dan mulai meringis.
Merasakan sakit dan aneh sekaligus di tubuh nya secara bersamaan yang membuat nya semakin menderita.
Nick mengerutkan dahi nya dengan bingung karna sikap gadis itu yang tak bisa ia tebak, gadis yang ingin ia singkirkan dan habisi secara mati-matian kini sedang malah membantu nya dan mengkhawatirkan hidup nya.
"Aku harus kelu-"
DOR!! DOR!! DOR!!
AKH!!!
Teriak Louise dan langsung menutup telinga nya dengan kedua tangan nya, ia melihat dengan jelas hujan peluru dari langit dan orang-orang yang langsung mati tertembak di depan mata nya.
Louise pun langsung memejam dan menyembunyikan wajah nya di stir mobil di depan nya.
"Habisi mereka semua kecuali yang di dalam mobil dengan adik ku! Yang lari juga tembak semua!" perintah Louis pada para satuan keamanan dari JBS grup.
Ia segera menembak semua orang yang mengejar mobil yang sedang di bawa adik nya begitu ia tau situasinya.
Ia pun turun dari helikopter nya dan membuka pintu mobil yang sedang di pakai adik nya.
"Akh! Jangan mendekat!" ucap Louise yang sudah tak dapat mengendalikan rasa takut nya.
"Louise! Ini kakak!" ucap Louis menyadarkan adik nya yang mulai mengalami serangan panik.
"Louis!" ucap Louise yang mendengar suara sang kakak dan langsung keluar memeluk pria itu dengan erat.
"Aku takut..." ucap nya yang langsung menangis dan memeluk kakak nya dengan sangat erat.
"Sstt...
Sudah-sudah tak apa-apa..." ucap Louis sembari mengelus punggung dan kepala adik nya.
Dapat ia rasakan tubuh gemetaran dan tangisan dari adik kesayangan nya yang tengah memeluk nya dengan erat.
Louis pun memandang tajam ke arah Nick dan ingin menembak nya karna merasa pria itu juga membahayakan adik nya.
"Tidak! Dia bukan! Dia yang membantu ku!" ucap Louise yang langsung mencegah kakak nya.
Louis pun menurunkan tangan nya dan pistol nya sedangkan pria yang akan ia tembak tak terlihat takut dan hanya memiliki wajah datar.
"Louise kau baik-baik saja?" tanya Louis saat melihat gadis itu mulai bersikap lain.
"Louis...
Aku...
Mereka memberikan sesuatu pada ku tadi..." ucap Louise dan mulai kehilangan keseimbangan nya dalam berdiri.
Obat di tubuh nya semakin beraksi dan tak dapat ia lagi ia tahan membuat pandangan nya mengabur dan kehilangan kesadaran secara perlahan.
"Louise! Louise!" panggil Louis dengan keras agar adik nya tetap sadar.