
3 hari kemudian.
JBS Hospital.
Saat Hazel berjalan menuju ke ruang rapat dengan para pemegang saham yang lain ia melihat beberapa petugas keamanan dari JBS sekuriti berjalan cepat ke arah UGD.
"Ada masalah apa itu?" tanya Hazel pada Rian, saat ia menghentikan langkah nya sejenak.
Rian pun segera mencari tau info sekilas dan memberi tau Hazel.
"Seperti nya ada salah satu pasien yang mengancam dokter kita. Dia menyandra dengan meletakkan pisau di leher salah satu dokter kita. UGD benar-benar kacau sekarang." jawab Rian.
"Kenapa RS kita menerima orang gila begitu? Ini bukan rumah sakit amal." ucap Hazel dan mulai melanjutkan langkahnya.
"Yah, dia pasien yang ingin bunuh diri, dan dibawa ke sini." jawab Rian dan mulai mengikuti langkah Hazel kembali.
Tak lama kemudian sebelum Hazel dan para direktur lain menuju ruang rapat...
"Kenapa kalian lama sekali?! Dia sudah mulai melukai dr. Alyss!" ucap dr. Lea yang segera berlari ke arah petugas keamanan.
Hazel pun kembali menghentikan langkah nya lagi, ia yang sebelumnya tak acuh saat mendengar seorang dokter disandra menjadi sangat acuh saat mendengar nama Alyss di sebut.
"Tunggu? Alyss?" ucap nya lirih. Ia pun segera berbalik arah dan berlari ke arah UGD.
Rian dan para direktur lain pun segera menyusul dan mengikuti Hazel.
"Tidak mungkinkan? Alyss kan berada di bangsal VIP?" batin Hazel saat berlari ke arah UGD.
Saat Hazel sampai di UGD situasinya benar-benar kacau. Banyak pasien dengan luka berat dan ringan yang bertebaran di UGD tersebut, para dokter yang sebagian sibuk mengurus pasien dan beberapa lagi yang sibuk menenangkan salah satu pria paruh baya yang sedang menyandra dokter lain.
"Alyss?" ucap Hazel lirih saat melihat ternyata Alyss lah yang sedang di sandra.
"Kenapa dia disini?" ucap Hazel lirih dan langsung menghampiri ke arah Alyss.
"Minggir! Aku akan membunuh kalian semua! Ayo sama-sama mati disini!" ucap pria tersebut sembari mengancungkan pisau medis yang ia ambil dari peralatan dokter yang sedang merawat pasien lain.
"Kalau kau mau mati, mati saja sendiri! Tak usah membawa orang lain!" ucap Hazel semakin geram saat melihat darah dari leher Alyss yang mulai menetes mengenai jas dokternya.
"Ka-kau kenapa bilang begitu? Itu semakin memprovokasinya..." ucap Alyss lirih pada Hazel.
"Dasar manusia sialan!" ucap Pria paruh baya dan mulai mengacungkan pisau nya ke arah Hazel.
Beberapa orang yang berada di sana menjadi takut dan sedikit berteriak saat melihat pria itu mengacungkan pisau, petugas keamanan pun dengan segera langsung berusaha melindungi presdir mereka.
Tes...tes...tes...
Hazel langsung menahan pisau yang diacungkan padanya, darah nya menetes dari tangan nya setetes demi setetes, luka lama yang sebelum nya di sebabkan karna berusaha menahan serangan Alyss kini terbuka lagi, saat ia harus menahan serangan dari pria paruh baya itu.
Pria itu tercengang saat Hazel langsung menahan ke arah mata pisau medisnya, Hazel pun memanfaatkan hal itu dengan langsung menarik Alyss ke sisinya.
Bugh!!!
Hazel pun langsung memukul pria itu hingga tersungkur jatuh ke lantai dan membuat beberapa peralatan dokter yang tak jauh darinya ikut jatuh saat terkena tubuh dari si pria paruh baya tersebut.
"Dasar sialan! Siapa yang coba kau sentuh!" ucap Hazel geram ia kembali memukuli pria paruh baya tersebut dengan membabi buta. Ia bahkan lupa jika saat ini ia berada di tempat umum. Ia tak memikirkan citra dan image nya sama sekali.
Petugas keamanan pun sedikit bingung, mereka ingin menghentikan namun, itu adalah presdir mereka sendiri.
Wajah dari pria paruh baya itu sudah babak belur habis-habisan karna pukulan Hazel. Hazel pun mengambil pisau medis yang digunakan untuk menyandra Alyss sebelum nya, ia berniat untuk menusuk dan membunuh pria tersebut di tempat.
Alyss pun semakin panik, ia benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan, ia tak mau Hazel membunuh orang lain di tempat umum, dan membuat citra dari pria yang sedang geram itu rusak.
Greb...
Alyss langsung memeluk tubuh Hazel dari belakang saat Hazel hendak menusuk si pria paruh baya.
"Ja-jangan....
Apapun yang kau pikirkan saat ini, jangan lakukan...
Aku mohon....
Mereka semua memperhatikan mu...." ucap Alyss lirih.
Hazel pun mulai tersadar dan melihat ke sekeliling, ia melihat banyak mata yang memandang nya dengan takut, begitu pula dengan dokter lain, dan para bawahan nya yang terlihat takut. Karna tidak ada yang tau sifat sebenarnya dari Hazel. Hazel di kenal sebagai presdir yang sangat dingin dan tetap tenang dalam situasi apapun, tak ada satupun dari mereka yang pernah melihat kemarahan Hazel.
Hazel memejamkan mata nya sejenak, ia melepaskan perlahan tangan kecil yang sedang memeluk tubuh kekar nya dari belakang.
Hazel pun berbalik dan melihat ke arah Alyss yang terlihat risau, dan melihat ke arah lehernya yang terluka. Ia pun segera menarik tangan Alyss.
"Tunda rapat nya, dan urus tikus itu, aku ingin bermain dengan nya malam ini." ucap Hazel sekilas saat melewati Rian dengan suara setengah berbisik.
Ruangan Presdir.
Hazel langsung mendorong Alyss ke arah sofa panjang di ruangan nya.
"Auch!" ringis Alyss saat Hazel mendorong nya ke arah sofa.
Tak lama kemudian Rian pun masuk dengan membawa dokter untuk mengobati luka di leher Alyss.
"Apa yang terjadi? Kenapa dokter bangsal VIP menangani masalah UGD?" tanya Hazel pada Alyss yang sedang di beri antiseptik di luka nya oleh dokter yang dibawa oleh Rian.
"Terjadi kecelakaan beruntun di jalan XX, jadi korban nya banyak di bawa ke JBS, dan dokter dari segala bangsal yang sedang tak memiliki pekerjaan di arahkan ke UGD semua..." jawab Alyss lirih sembari menahan perih di lehernya.
Hazel pun melihat ke arah Rian untuk memastikan ucapan Alyss.
"Benar, hari ini ada kecelakaan beruntun 2 bus yang membawa anak SMA wisata dan beberapa mobil yang ikut tertabrak, jumlah korban 128 orang, meninggal di tempat 27 orang, 83 orang yang membutuhkan penanganan cepat di bawa ke JBS, karna JBS RS terdekat, sisanya di bawa ke RS lain." terang Rian, setelah mencari info lebih lanjut.
"Lalu tikus sialan itu? Kenapa bisa masuk kesini?" tanya Hazel lagi.
Hazel pun memijat pelipis sejenak, ia tak habis pikir kenapa bisa orang seperti itu dibawa ke RS nya, bukan ke pihak yang berwajib.
Hazel pun melihat ke arah Alyss yang sesekali terlihat meringis saat di obati oleh dr. Dian.
"Kau disini saja, tunggu aku sampai aku kembali." ucap Hazel pada Alyss. Ia tak ingin Alyss kembali mengurusi UGD yang sedang berantakan itu.
"Loh?! Tapi nanti pasien lain yang terluka gimana? Semua dokter harus ke UGD." jawab Alyss.
"Tapi kau terluka! Tetap disini!" ucap Hazel mulai kesal saat melihat Alyss yang tak penurut.
"Luka ku tidak parah! Aku masih bisa kesana!" jawab Alyss dan menatap iris Hazel nanar.
"Keluar! Semua yang disini keluar dulu!" ucap Hazel dengan menahan emosi nya melihat Alyss, dr. Dian dan Rian pun segera beranjak keluar.
"Kau tidak termasuk!" ucap Hazel saat melihat Alyss yang ingin bangun.
Rian yang melihat perdebatan itu pun mengerti maksud Alyss, ia tau jika saat ini UGD sedang kacau karna banyak nya korban yang di kirim ke JBS, dan belum lagi selalu bertambah, yang melewati kapasitas rumah sakit dan ia juga tau jika Hazel melarang Alyss karna ia sedang khawatir.
"Kau bilang luka mu tidak parah kan? Hm?" tanya Hazel dengan suara lembut namun penuh penekanan terhadap Alyss, ia menatap tajam iris Alyss sembari menyentuh luka di leher Alyss perlahan.
Hazel pun mulai mencekik dan menekan luka di leher Alyss dengan kuat.
Sontak Alyss langsung terkejut dan berusaha melepaskan tangan Hazel, luka di lehernya semakin terbuka dan semakin mengeluarkan cairan merah kental nya.
"Sa-sakit...." ucap Alyss lirih mata nya semakin berair, saat ia merasa tangan Hazel semakin membuka luka di lehernya, rasa sakit dan perih nya benar-benar bertambah sebanyak darah yang ia keluarkan.
"Kalau luka mu parah, kau akan tetap disini kan?" tanya Hazel dengan semakin menekan luka di leher Alyss.
Perih! Sangat perih!
Itulah yang dirasakan Alyss, ia melihat Hazel yang menatap nya tajam dan tak peduli dengan darah nya yang terus keluar dan menetes mengenai jasnya.
Setelah melihat luka Alyss semakin parah dan semakin terbuka, Hazel pun tersenyum simpul, wajah Alyss mengandah pada nya dengan air mata yang meleleh turun sampai mengenai tangan nya yang sedang mencekik dan membuka luka di leher Alyss semakin parah.
"Sa..sakit....
Aku tetap disini...." ucap Alyss yang semakin menjatuhkan bulir bening nya saat jemari Hazel menekan lukanya.
Hazel pun semakin tersenyum melihat Alyss yang sudah kembali memohon pada nya. Ia pun melepaskan tangan nya dari leher Alyss.
"Aku hanya ingin kau menurut pada ku..." ucap Hazel lalu mengecup kening Alyss.
Hazel pun menyuruh dr. Dian untuk kembali masuk dan mengobati luka di leher Alyss. Sontak dr. Dian langsung terkejut melihat luka di leher Alyss yang semakin parah dengan darah yang merembes turun memenuhi jas dokter yang berwarna putih itu.
"Kenapa diam saja? Cepat obati dia!" ucap Hazel pada dr. Dian.
Dr. Dian pun mendekat dan mengobati Alyss, ia mulai memberikan antiseptik dan bius pada Alyss, ia tak tau apa yang terjadi, namun yang jelas ia tau adalah Alyss terlihat sangat tertekan. Mata nya nya masih terlihat sembab karna ia baru menangis.
"Sudah selesai, Apa presdir juga ingin di sekalian di obati tangan nya?" tanya wanita paruh baya itu dengan wajah ramahnya.
"Tak perlu, dia yang akan mengobati ku." jawab Hazel sembari melihat ke arah Alyss yang masih terdiam.
"Baik, saya keluar dulu." ucap dr. Dian.
Hazel pun membasuh darah Alyss yang bercampur darahnya di tangannya dan setelah itu menghampiri Alyss.
"Sudah..." ucap Alyss setelah selesai membalut luka di tangan Hazel.
"Ganti baju mu, dengan kemeja ku. Aku akan membawa baju ganti saat kembali." ucap Hazel lembut.
Alyss masih diam dan tak menjawab Hazel sama sekali.
"Aku akan menyuruh semua dokter yang sedang berlibur untuk datang, dan mengurus UGD. Kau tak perlu khawatir. Kau hanya perlu istirahat disini." ucap Hazel lagi sembari mulai melepas jas dokter Alyss yang berlumuran darah itu.
"Sakit?" tanya Hazel lagi sembari menyentuh luka di leher Alyss yang sudah di perban, ketika ia sudah melepaskan jas dokter Alyss.
"Kau mau terus diam? Mau membuatku marah?" tanya Hazel dengan penuh penekanan pada Alyss, saat Alyss tak kunjung menjawab nya.
"Tidak…
Kan sudah di bius tadi..." jawab Alyss lirih.
Hazel pun tersenyum dan mengecup bibir Alyss sekilas, ia pun mengganti kemejanya dan segera melakukan rapat yang sempat tertunda tadi.
"Tetap disini, jangan sampai aku melihat mu keluar dari pintu ini, atau kau akan menanggung akibatnya! Mengerti?!" ucap Hazel sebelum ia pergi keluar dari ruangan nya.
Alyss hanya menganggukkan kepalanya perlahan dan mulai bangun untuk mengganti pakaian nya.
Alysscalla Zalea
Hazel Rai
...****************...
Aduh mbak Alyss nurut ajj napa sama babang Hazel kan jadi ga makin parah luka nya, babang Hazel cuma khawatir tapi penyampaian nya ajj yang lain🤧🤧🤧
Oh iya sebenernya othor mau buat adegan psycho hari ini cuma kepanjangan, jadi bsk ajj yah (Bukan Alyss kok yang kena siksa) wkwkwkwkwk
Jangan lupa, like, komen, rate 5, vote dan dukungan lain yah😉😉😉
Makasih yang udah mampir dan selalu dukung othor 🥰🥰🥰🥰🥰
Happy reading❤️❤️❤️