(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : What's your name?



James melihat ke wajah pucat gadis yang sedang menyandar di bahu nya saat ini, mata nya terpejam dengan bibir membiru, tubuh yang dingin, dan rambut yang basah.


"Tambahkan lagi penghangat nya." ucap James pada supir dan Nick yang duduk di bangku depan.


Sebelum nya saat gadis itu sudah mengeluarkan semua tangis nya, ia mulai kehilangan kesadaran nya. Tubuh nya menggigil dan jatuh dalam pelukan pria yang sedang mendekap nya.


Nick melihat dengan mata tak suka pada tuan dari kaca yang menampilkan ke bagian bangku belakang. Pria tampan itu tak suka jika tuan yang ia sanjung jatuh pada wanita.


......................


Mansion Dachinko.


James pun akhirnya membawa gadis itu ke mansion nya.


Ia membawa dan menggendong gadis itu ke kamar yang sudah ia buat dan mulai mengeringkan tubuh basah habis terkena air yang turun dari langit dengan deras tersebut.


"Kau itu apa sih? Kenapa membuat ku sampai seperti ini?" gumam James saat menyentuh wajah pucat di hadapan nya.


Ia pun keluar setelah mengganti pakaian kering di tubuh gadis itu. Langkah nya berhenti saat melihat salah satu bawahan nya menunggu nya dengan sabar tak jauh dari kamar gadis nakal tersebut.


"Ada apa?" tanya James pada Nick yang menunggu nya di luar.


"Tuan menyukai nya?" tanya pria itu pada tuan nya.


"Tidak! Aku tak menyukai nya, dia hanya terlihat menyenangkan dan tak membosankan. Hanya itu!" jawab James percaya diri.


Entah siapa yang ingin ia bohongi, dirinya sendiri? atau Bawahan nya?


Nick pun kemudian menunduk lega.


"Saya harap tuan tak menyukai siapapun lagi, cinta hanya akan menjadi kelemahan tuan nanti nya." ucap Nick dan meninggalkan tuan nya.


James masih berdiri di tempat nya, ia memikirkan ucapan bawahan nya dan juga dirinya yang tak bisa ia kendalikan.


Cinta? Aku tak mencintai nya! Dia bukan siapapun! Dia hanya sebuah mainan yang menyenangkan.


James menanamkan kata-kata tersebut di kepala nya berulang kali, bagaimana mungkin ia menyukai wanita yang baru di temui nya beberapa bulan saja.


......................


Kediaman Rai.


Louis yang mendapat kabar jika adik nya pergi dan masih belum kembali membuat nya benar-benar khawatir.


Siapa lagi yang memberitau jika bukan pelayan yang ia bayar di vila adik nya untuk terus memberikan informasi pada nya.


Pria tampan itu pun dengan segera pergi ke villa sang adik, namun sebelum itu ia sudah meminta beberapa bawahan nya untuk melacak keberadaan gadis nakal itu.


...


Villa Louise.


Ia mulai masuk ke dalam villa mewah tersebut, kaki nya tanpa sadar naik dan mengarah ke kamar Clara yang di tempatkan adik nya.


Pengawal di villa tersebut dengan sigap menghalangi nya segera untuk masuk seperti perintah nona mereka.


"Dia memerintahkan agar aku tak membawa nya kan? Bukan agar aku tak boleh melihat nya." ucap Louis dan tetap ingin masuk melihat gadis yang beberapa hari ini tak ia temui.


"Maaf tuan...


Kami tetap tak bisa..." jawab pengawal tersebut lirih.


Louis pun mengangguk dan melihat ke arah para pengawal itu lagi.


"Kalau begitu kita adakan pertengkaran saja." ucap Louis tersenyum dan membuat suasana berubah seketika.


"Aku akan panggil pengawal ku juga, dan kalian bisa bertarung sampai mati? Bagaimana?" gertak nya lagi membuat pengawal tersebut bingung harus apa.


"Aku tak akan membawa nya, aku hanya ingin melihat." sambung Louis lagi dengan tatapan dingin dan tajam pada para pengawal tersebut.


Kedua pengawal tersebut akhirnya saling mengangguk setuju dan membiarkan pria itu untuk masuk.


"Anda tak bisa berlama-lama tuan." ucap salah satu pengawal dan membukakan pintu untuk Louis.


Louis pun mulai masuk dan melihat cahaya yang gelap namun gadis duduk di dekat jendela yang mengarah keluar, hanya sinar dari luar ruangan lah yang membuat nya terlihat.



Louis menatap sejenak ia melihat gadis itu duduk tepat di tempat biasa adik nya sukai, kondisi Clara jika dilihat dari fisik sudah mengalami banyak peningkatan.


Ctik...


Dengan satu jentikan jari dan perintah menghidupkan lampu, ruangan tersebut sudah kembali terang. Memang segala mansion, vila ataupun kediaman utama selalu di berikan asisten elektronik. Agar tak perlu lagi berjalan mencari saklar dan memudahkan segala nya.


Clara tersentak saat melihat silau nya cahaya di ruangan kamar nya. Mata nya langsung membulat dan tubuh yang langsung gemetar seketika melihat pria yang menjadi tuan nya.


"Tu-tuan?" gumam nya dengan bibir gemetar.


"Kenapa tak nyalakan lampu nya? Kau tak takut?" tanya Louis dan mendekati gadis itu.


Yang Clara takutkan bukan lah kegelapan melainkan dirinya yang sedang datang mendekat saat itu.


Secara spontan seperti sudah terbiasa gadis itu langsung berposisi dengan bersikap berlutut memohon ampun.


"Maaf...


A-aku tidak kabur...


Aku salah huhuhu..." mohon Clara pada Louis dan langsung berlutut.


Louis masih melihat gadis yang sedang memohon ampun padanya saat ini tanpa memberikan reaksi apapun.


"A-aku masih pakai kalung nya...


Rantai nya juga..." ucap Clara di tengah isak tangis nya sembari memegang leher nya yang tak memakai kalung apapun namun ia tetap memiliki ilusi kalung tersebut.


Louis mengerutkan dahi nya dengan bingung menatap Clara yang masih mengaku memakai kalung kucing dan rantai di kaki nya walau tak ada apapun.


"Apa yang kau bicarakan? Tak ada rantai disini..." ucap Louis sembari berjongkok menyamai tinggi nya dengan wajah gadis itu.


"Ti-tidak...


Rantai nya masih ada..." jawab Clara lirih sembari melihat kaki kanan nya yang dalam pandangan mata nya masih ada rantai yang membelenggu kuat.


"Kau ini kenapa sih? Hey? Sadar dan lihatlah!" ucap Louis yang semakin bingung karna tingkah aneh gadis itu.


Ia memegang lengan Clara dan mengarahkan wajah gadis itu agar melihat ke kaki nya.


"Maaf tuan! Ampun...


Huhuhu..." tangis Clara yang histeris saat Louis menyentuhnya lagi, tubuh nya gemetar dengan hebat dan menatap pria di hadapan nya.


Kau *tak tau dia seperti apa sekarang?!


Seketika ucapan sang adik menggema di telinga nya.


"Cla! Clara!" panggil Louis sembari mencengkram lengan gadis itu dan semakin membuat Clara histeris.


"Ampun! Aku salah! Maaf...


Huhuhu..." tangis gadis itu semakin pecah saat Louis memanggil nya.


"Kau tidak memakai kalung atau rantai! Ada apa dengan mata mu? Hah?!" bentak Louis sembari membuat gadis itu melihat ke arah kaki nya.


"Ampun tuan...


Rantai masih ada...


Kaki ku sakit...


Maaf..." tangis Clara yang semakin menjadi dan membuat Louis melepaskan tangan nya.


"Aku hanya melakukan hal itu pada mu, tapi kenapa bisa jadi begini?" gumam Louis saat melihat gadis di hadapan nya.


"Kaki mu sakit? Kau mau rantai nya terlepas?" tanya Louis pada gadis itu.


Clara tak menjawab dan hanya melihat dengan takut serta tangis yang semakin menjadi. Louis mulai memahami situasi dan melihat ke arah gadis yang ketakutan tersebut.


"Kau tau kan siapa aku?" tanya Louis lirih.


"Ta-tau...


Kau tuan ku..." jawab Clara gusar dan sudah seperti bukan dirinya sendiri.


"Lalu kau? Kau tau siapa diri mu?" tanya Louis lagi, jantung nya berdebar menanti jawaban gadis itu. Ia benar-benar takut jika yang di katakan adik nya benar.


"Ta-tau...


A-aku pelac*r mu..." jawab Clara dengan takut.


Deg...


Seharusnya ia senang karna jawaban gadis itu sudah seperti yang ia inginkan, ia sudah berhasil membuat gadis manis itu sebagai boneka nya.


Tapi sekarang?


Entah kenapa bukan perasaan senang yang ia dapat melainkan perasaan yang menusuk di hati nya.


"Bukan...


Aku tanya nama mu..." ucap Louis lagi dan semakin membuat Clara ketakutan karna tak bisa menjawab dengan benar.


"Nama? Na-nama ku..." gumam gadis itu bingung dengan ketakutan yang terlihat jelas di wajah nya.


"Hm...


Nama mu..." tanya Louis lagi.


"Ja-jalang?" jawab Clara lirih.


"Bukan! Aku tanya nama mu!" bentak Louis dan semakin membuat Clara terkejut dan histeris.


"Maaf...


A-Aku salah...


Maaf..." mohon Clara dengan tangis nya.


Louis terdiam, ia terpaku beberapa saat dan mulai tertawa pahit, mentertawakan dirinya sendiri.


"Clara...


Itu nama mu..." ucap Louis lagi pada gadis itu.


Clara terus saja menautkan jemari nya satu sama lain hingga membuat jari jari lentik itu terluka. Ia menatap takut dan gusar sekaligus dan terus saja mengalirkan bulir bening dari mata sayu nya.


"Clara?" gumam gadis itu lirih.


"Hm...


Clara Olivia...


Itu nama mu, nama mu cantik sama seperti mu..." ucap Louis lirih.


Ia kembali mendekati gadis itu dan mulai, memegang pergelangan kaki yang masih di perban adik nya karna luka akibat belenggu rantai nya.


"Lihat...


Sekarang sudah ku buka, kan? Aku tak mengikat mu lagi..." ucap Louis pada gadis itu.


Tangan nya pun mulai menuju leher Clara dan pura-pura melepaskan kalung yang selama ini sudah tak ada lagi di leher jenjang itu.


"Kalung mu juga sudah ku lepas...


Sekarang kau bebas..." ucap Louis pada gadis itu.


"Bebas?" gumam Clara takut.


"Hm...


Bebas...


Kau tak punya tuan lagi sekarang...


Tidak perlu di rantai ataupun memakai kalung..." ucap Louis lirih.


Clara pun langsung menjauh dan pergi ke sudut ranjang.


"Pergi! Kalau aku sudah bebas...


Pergi...


Jangan dekat...


Sakit..." tangis Clara sembari menyembunyikan diri nya, menutup kedua telinga nya dengan tangan nya dan memejamkan kedua mata nya dengan erat.


Maaf...


Pria itu tak bisa mengatakan satu kata tersebut, lidah nya terasa kelu tak mampu mengucapkan satu kata yang sangat mudah seperti itu.


"Semoga cepat membaik..." ucap Louis lirih dan keluar dari kamar gadis itu.


Sekarang ia tinggal mencari keberadaan adik nya. Walaupun perasaan nya sudah tak menentu karna melihat gadis yang sudah ia rusak namun keberadaan adik nya juga sama penting nya saat ini.


Setiap kali James membawa gadis itu ke mansion nya, semua jejak tentang menuju mansion nya selalu di hilangkan. Maka dari itu tak ada satupun yang bisa menemukan gadis nakal itu.